
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Apa?
Vito terhenyak dan berteriak saat mendengar permintaan mamanya yang sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana bisa mama nya tetap meminta Vito untuk menjadi suami, Bella. Hesti memutuskan agar Vito tidak menceraikan Bella. Hesti tidak mau kabar perceraian Vito dan Bella di konsumsi khalayak ramai dan akan mencoreng nama baiknya. Terlebih di kalangan para teman-teman soaialitanya.
Hesti juga perceraian itu akan berdampak ke perusahaan. Namun, sepertinya Vito keberatan dengan permintaan mamanya itu yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal. Dan sama sekali tidak menghargai perasaan Vito.
"Mama apa mama sudah memikirkan hal itu? Mama fikir Vito ini patung hidup yang tidak mempunyai perasaan?."Tanya Vito dengan kesal.
Bella sudah mencoreng pernikahan nya masih saja mau di pertahankan. Vito bukan boneka yang seenaknya saja mau diperlakukan sesuka hati oleh mamanya.
"Mama mohon sama kamu, Vito. Mama tidak mau teman-teman mama mencela mama. Apa kamu tidak kasihan dengan mama, Vito."Seru Hesti dengan memelas.
"Ma, mau sampai kapan mama seperti ini? Seenaknya saja memperlakukan Vito. Vito ini sudah dewasa, sudah bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk Vito. Vito bisa menentukan kehidupan Vito sendiri."Seru Vito dengan kesal.
"Kamu sudah pintar melawan mama, Vito."Seru Hesti mulai marah.
"Maaf ma, Vito harus ke kantor. Jika mama kesepian di rumah sakit, mama bisa panggil menantu kesayangan mama itu untuk menemani mama. Habiskan waktu kalian berdua, sebelum Vito resmi menceraikan Bella."Ucap Vito lagi.
Selesai bicara seperti itu, Vito langsung keluar dari kamar rawat Hesti. Dia tidak memperdulikan lagi teriakan dari Hesti. Tidak selamanya Hesti selalu ikut campur dan mengatur hidup Vito. Gara-gara mama nya juga kini kehidupannya berantakan, sama sekali tidak ada tanda-tanda kebahagiaan.
Vito mengendarai kuda besinya meninggalkan parkiran rumah sakit. Dia tadi berharap bisa bertemu dengan Nia dirumah sakit. Namun saat dia menanyakan kepada salah satu suster ternyata Nia hari ini tidak ada jadwal praktek.
"Seandainya dulu aku tidak bodoh dan aku mempercayai penjelasan Nia, mungkin saat ini aku sudah bersatu dengan Nia. Sekarang aku seakan menerima kosekuensi dari sikap ku sendiri."Ucap Vito sembari dia mengendarai mobilnya.
Penyesalan terbesar Vito adalah, dulu dia tidak mau mendengar penjelasan Nia terlebih dahulu. Dan justru mau menerima perjodohannya dengan Bella. Bella yang di maksud dari keluarga terpandang namun tak ubahnya dari seorang p3l4cur papa tirinya sendiri.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Vito sudah sampai di kantornya. Jika bukan karena kasihan dengan papanya, Vito tidak mau mengambil alih perusahaan itu. Vito tidak mau hidupnya selalu di atur mamanya terus menerus.
"Papa?." Seru Vito saat melihat keberadaan pak Sigit ada di ruangannya.
"Kamu baru datang? Pasti kerumah sakit dulukan?."Tanya pak Sigit langsung menebak dengan yakin.
"Iya pa. Tadi ke rumah sakit jenguk mama. Kok papa ada di kantor? Ada perlu ya sama Vito?." Tanya Vito sangat penasaran.
Hhuuuufffff
Terdengar helaan nafas panjang pak Sigit, seolah dia sedang mengalami kesulitan yang teramat berat. Pak Sigit meminta Vito untuk duduk si sebelahnya. Vito pun mengangguk dan menuruti perintah papanya.
"Ada apa, Pa?."Tanya Vito serius.
"Apa mama kamu meminta kamu untuk tidak menceraikan, Bella?."Tanya pak Sigit langsung saja pada intinya.
"Papa pasti sudah tahu jawabannya. Tapi, Vito akan tetap menceraikan Bella, Pa. Secepatnya Vito akan mengurus perceraian kami. Tidak perlu menunggu Bella melahirkan. Vito juga yakin jika anak yang di kandung Bella itu anak dari pria tua itu. Pa, apa papa juga akan seperti mama? Melarang Vito untuk menceraikan, Bella?." Tanya Vito terlihat sekali jika dia serius bicara.
"Papa tidak akan memaksamu, Vito. Kamu sudah dewasa dan tahu mana yang terbaik untuk hidupmu."Ucap pak Sigit sambil menepuk pundak Vito.
"Terima kasih pa."Ucap Vito sambil memeluk papanya.
"Iya sama-sama. Papa ingin kamu hidup bahagia dengan wanita pilihan kamu sendiri. Maaf jika dulu papa tidak mendunkung hubungan mu dengan Nia. Papa terlalu takut dengan mama mu, Vito. Tapi sekarang sepertinya papa harus bisa mengambil keputusan dan tidak selalu mengikuti apa maunya."Ucap pak Sigit dengan yakin.
"Soal Nia, aku memang sangat menyesak pa. Tapi sekarang Nia sudah bahagia dengan pasangan nya. Jika aku boleh egois, aku ingin merebutnya dari tangan Tuan David. Tapi, aku tidak akan membuat hal konyol seperti itu."Seru Vito dengan pandangan kosong melihat kearah meja kerjanya.
Hati Vito menangis, namun tidak dengan matanya. Dia mencoba untuk menutupi kesedihannya didepan sang papa. Namun tanpa Vito memberitahu pun pak Sigit sudah tahu jika saat ini Vito hatinya sedang hancur.
******
Selesai pekerjaannya di kantor, Vito diminta mama nya untuk ke rumah sakit. Biarpun dia sedang tidak ingin bertemu dengan mamanya, namun dia tetap juga datang menemui Hesti.
Sesampainya di parkiran Vito segera turun dari mobil dan masuk ke gedung rumah sakit dengan terburu-buru.
__ADS_1
Brruukkkk
Vito menabrak seseorang dokter muda yang hendak keluar dari gedung rumah sakit. Vito menyadari jika dialah yang salah dan dia yang menabrak dokter itu lebih dulu.
"Maaf,maaf saya tadi buru-buru."Ucap Vito meminta maaf.
"Tidak apa-apa. Lain kali kalau jalan itu lihat-lihat dan pelan saja. Jangan seperti orang lari estafet, ingat ini bukan jalanan atau lapangan. Tapi ini itu rumah sakit, banyak orang sakit juga. Jika tadi orang yang kamu tabrak itu orang sakit, bagaimana?." Seru dokter muda itu dengan kesal. Sebab dia merasakan sakit pada lututnya meskipun tidak ada yang lecet.
"Iya maaf. Saya tadikan sudah meminta maaf, masa iya begitu saja harus di perpanjang."Ucap Vito lagi.
"Ya sudahlah, buang-buang waktu saya saja anda ini. Ingat ini rumah sakit, jadi kalau jalan itu harus hati-hati."Ucap Dokter muda itu mengingatkan Vito lagi.
Selesai bicara dengan Vito, dokter muda itu langsung meninggalkan Vito dan menemui temannya yang sudah menunggunya di parkiran. Vito menatap kepergian dokter itu dengan memicingkan mata, sebab dia merasa pernah melihat wanita itu tapi dia bingung bertemu dimana.
*Sepertinya aku pernah melihatnya? Tapi dimana ya? Masih muda sekali dia, sepertinya dia itu dokter magang. Cantik sih tapi kok sewot dan cerewet.*Gumam Vito dalam hatinya.
Vito melangkahkan kakinya menuju kamar rawat mamanya. Dia ingin cepat sampai kamar mamanya agar dia bisa cepat pulang juga. Malam ini Vito memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya saja, sebab dia malas bertemu dengan Bella.
"Kenapa lama sekali kamu datang,Vito?." Tanya Hesti dengan kesal.
"Apa lagi ma?."Seru Vito.
"Mama mau pulang dan malam ini juga mau pulang. Mama sudah tidak betah berada di rumah sakit. Tolong kamu bicara sama dokter untuk mengizinkan mama pulang. Papa mu tadi sudah bicara sama dokter tapi dokter tidak mengizinkannya. Itu karena papa kamu yang bodoh dan tidak becus bicara sama dokter!!."Seru Hesti dengan mata melirik kearah suaminya.
Vito melirik papanya, terlihat papanya diam dengan tangan mengepal. Vito kasihan juga dengan papanya yang selalu menjadi sasaran kesalahan terus menerus.
"Ma, papa sudah menemui dokter jadi untuk apa Vito menemuinya lagi? Kalau dokter bilang tidak pasti dia juga punya alasannya Ma. Karena mama masih sakit, gula mama masih tinggi kan?."Ucap Vito.
"Iya gula mama kamu masih cukup tinggi, jadi dokter masih memintanya dirawat dulu. Mungkin besok siang sudah di izinkan pulang. Lagi pula botol infusnya juga baru 10 menit yang lalu di ganti. Darah mama kamu juga belum stabil."Seru pak Sigit menjelaskan.
"Nah, mama dengar sendirikan penjelasan dari dokter? Sudahlah ma, besok saja kalau mau pulang."Ucap Vito lagi.
Hesti terlihat mendengus dengan kesal, ternyata bicara dengan Vito juga percuma. Sama saja seperti suaminya yang menurutnya tidak bisa di andalkan.
__ADS_1
**********