Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Kabar bahagia dari Nia


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Selesai makan malam, David menyempatkan diri menemani Nada belajar. Nia sendiri juga ikut0 menemani Nada, mereka bertiga belajar di ruang keluarga. David serius memperhatikan Nada yang sedang belajar mewarnai buah mangga dan jeruk.


" Bagus tidak, Pa?." Tanya Nada sambil menunjuk kearah gambar buah mangga yang sudah selesai dia warnai.


" Bagus dong. Anak papa memang pintar, nanti kalau sudah besar mau jadi apa sih?."Tanya David sambil mengusap pucuk kepala Nada.


" Mau jadi dokter dong, sama seperti mama."Jawab Nada dengan cepat.


" Kalau Nada jadi dokter, nanti siapa dong yang jadi pengganti papa di perusahaan?." Tanya David lagi.


" Adiknya Nada dong pa. Nanti Nada kan punya adi cowok, iya kan Ma."Seru Nada meminta persetujuan Nia.


Nia terlihat hanya mengangguk dan tersenyum dengan lembut ke arah Nada.


* Hemm apa aku beritahu Hubby sekarang saja ya. Sepertinya tidak perlu lagi tes ulang, sebab tes peck yang aku pakai semua juga sudah bergaris dua. Baiklah sekarang saja lah, mungkin ini memang sudah waktu yang tepat.*Gumam Nia dalam hatinya.


Nia bangkit dan hendak berjalan ke kamar untuk mengambil kotak yang sudah dia siapkan untuk David. Namun tiba-tiba langkahnya di terhenti karena David menanyakan sesuatu.


" Sayang mau kemana?." Tanya David.


" Oh mau ke kamar sebentar hubby, ada yang mau aku ambil. Sebentar saja kok, nanti aku segera kembali lagi kesini."Ucap Nia.


" Jangan lama-lama ya, sayang." Ucap David sudah mulai mengeluarkan jurus bucinnya.


" Iya hubby." Jawab Nia dengan singkat.


Nia segera menaiki anak tangga dan langsung menuju kamar nya. Sesampainya dikamar Nia dengan segera membuka laci meja riasnya untuk mengambil kotal yang sudah dia siapkan. Tanpa menunggu lama, Nia segera kembali ke ruang keluarga. Bergabung kembali dengan Nada dan David, serta duduk di tempatnya semula.


Nia senyum-senyum sendiri saat membayangkan wajah David jika mengetahui isi dalam kotak yang akan dia berikan itu. David melirik Nia yang semenjak datang lagi selalu senyum-senyum sendiri, dia mengira jika Nia kesambet.


" Sayang kamu kenapa? Kesambet ya?." Tanya David dengan polosnya.


" Kesambet jin iprit kali, hubby. Aneh-aneh saja sih pertanyaan Hubby ini. Emm hubby, aku punya sesuatu untuk hubby. Nih hadiah untuk hubby, jangan dilihat dari besar dan kecilnya tapi lihat saja makna dan artinya."Ucapan Nia berhasil membuat David penasaran.


Bukan hanya David saja yang penasaran, akan tetapi Nada juga ikut penasaran. Bahkan dia menghentikan aktifitas menggambarnya demi untuk melihat hadiah yang diberikan kepada papa nya itu.


" Kok cuma papa yang dikasih hadiah? Nada kok tidak diberikan hadiahnya sih, Ma."Seru Nada protes.

__ADS_1


" Itu juga buat Nada, itu sama-sama untuk kita semua kok." Jawab Nia dengan lembut.


David semakin penasaran dengan hadiah atau isi yang ada didalam kotak kecil itu. Dengan pelan-pelan David pun membuka kotak itu dan mengambil isinya. Tangan David bergetar saat mengambil ke 3 tespek yang ada di dalam kotak itu.


" Sayang ini beneran?." Tanya David dengan senang.


" Iya hubby. Itu seriusan dan beneran, tapi aku memang belum cek up langsung ke dokter. Tapi ke 3 tespek itu sudah membuktikan secara langsung." Jawab Nia.


" Sayang sebentar lagi kamu mau punya adik dan kamu akan menjadi kakak. Didalam perut mama ini sekarang sudah ada adik bayinya." Seru David memberitahu Nada sambil mengusap perut Nia dengan lembut.


" Hore... Hore.. Horeeeee Nada mau punya adik. Nada mau jadi kakak." Seru Nada dengan gembira ria.


David dan Nada secara bersamaan memeluk Nia. Nia terlihat senang melihat Nada dan David antuaius mendengar kabar kehamilannya. Terlihat sekali, Nada yang sangat senang ingin mempunyai adik. Padahal dia sudah was-was khawatir jika Nada akan merasa cemburu dengan kehamilannya.


" Terimakasih, Sayang. Besok kita kedokter sama-sama. Kita pastikan jika anak kita dalam kandungan sini baik-baik saja."Ucap David terus mengusap perut Nia yang masih rata.


David teringat kejadian 5 tahun yang lalu, dimana dulu dia juga sebahagia ini saat Hera mengumumkan kehamilannya. Namun kini Hera sudah bahagia dan tenang di surga.


" Iya hubby." Jawab Nia singkat.


" Nanti adiknya cowok ya ma. Biar adik bisa bantuin papa di perusahaan. Nada tidak mau di perusahaan, buat kepala Nada pusing saja. Nada mau jadi dokter seperti mama dan aunty Miska." Seru Nada sambil tangannya ikut mengusap perut Nia yang masih rata.


" Kita tidak bisa memilih sayang, mau lelaki ataupun perempuan kita harus tetap menyayanginya. Sebab yang menentukan itu semuanya Allah."Ucap Nia menasehati Nada agar tidak terlalu berambisi dan berharap jika adiknya nanti seorang laki-laki.


" Tapi Nada yakin adik Nada ini nanti adik cowok. Tapi kalau adiknya cewek ya tidak apa-apa, nanti biar mama hamil lagi adik cowok. Oh iya ma, bikin adik itu pakai apa sih ma?." Tanya ada dengan mudahnya.


Secara bersamaan David dan Nia tersedak dan batuk-batuk. Anak sekecil Nada belum paham meskipun sudah di jelaskan. Sehingga baik David maupun Nia memilih diam dan mencoba mengalihkan pertanyaan Nada.


Nada pun tidak masalah saat pertanyaannya tidak dijawab oleh mama maupun papanya. Dia sibuk kembali dengan mewarnai yang tadi sempat dia tinggalkan.


" Sayang kekamar yuk." Bisik David di telinga Nia dengan pelan.


" Nanti hubby. Nada masih belum selesai belajarnya, masa iya kita tinggalkan dia sendiria disini." Ucap Nia menolak secara halus.


Nia sudah tahu apa yang dimau oleh suaminya. Apalagi kalau bukan olah raga malam. Tetapi kali ini Nia terasa malas sekali, sehingga dia beralasan Nada masih belajar. Dengan arti saat Nada sudah selesai belajar nanti mereka pasti akan memulai olah raga malamnya.


" Sabar dulu, Hubby. Masih jam 9 juga tuh, sebentar lagi Nada juga masuk kamar." Ucap Nia sambil menunjuk jam dinding yang tergantung.


" Iya sayang. Aku ingin sekali berterimakasih dengan cara ku sendiri, karena kamu sudah mengandung anakku. Tapi tidak disini, karena tidak baik dilihat oleh Nada."Ucap David lagi.


" Ucapan terimakasihnya pasti mau bikin aku capek? Iya kan?."Tanya Nia sambil menarik hidung David dengan kuat.


Hahahaaaaaa


Nada tertawa saat melihat Nia menarik hidung papanya. Menurutnya itu sangatlah lucu, terlebih saat terlepas, hidung papanya terlihat lebih merah.

__ADS_1


" Sayang, sudah malam. Sekarang waktunya untuk tidur, yuk mama temani." Ucap Nia mengajak Nada masuk kamar.


Nia selalu bicara dengan tutur kata yang halus dan lembut. Sebab Nada bukan tipe anak yang suka dengan bicara yang keras. Terlebih Nia sadar diri jika dia hanya ibu tiri, sehingga tidak mau meninggalkan kesan jahat dimata Nada.


" Iya ma. Nada bereskan pewarnanya dulu ya." Jawab Nada dengan patuh.


Melihat Nada patuh begitu membuat David semakin tersenyum senang. Sebab sebentar lagi apa yang dia inginkan akan kesampaian. Davidpun membantu Nada membereskan pewarna dan alat tulis yang lainnya agar Nada cepat selesai dan bisa masuk kamar dan cepat tidur.


* Dasar otak suamiku ini licik sekali ya. Dia tidak pernah yang namanya bantuin Nada membereskan peralatan tulisnya begini. Ini pasti karena dia ada maunya saja, dasar si otak licik.*Gumam Nia dalam hatinya.


*******


Bella pulang di saat sudah malam, dia kaget saat mendapati mobil Vito sudah ada di garasi mobil. Sebab yang dia tahu beberapa hari ini Vito menginap dirumah orang tuanya.


" Baru pulang kamu, Bel? Bagaimana rasanya seharian dengan papa tiri kamu. Jika masih betah kenapa kamu pulang? Tidak menginap saja dirumah papa tirimu itu. Oh lupa, sebentar lagi bukan papa tiri lagi tapi mantan papa tiri kamu." Seru Vito secara tiba-tiba saat Bella baru memasuki ruang tamu.


Bella terhenyak kaget saat melihat Vito yang duduk di sofa dengan tangan bersedekap dan kaki disilangkan. Dengan tatapan mengejek sinis kearah dirinya.


" Sayang, kamu ini bicara apa sih. Aku ini tadi dari rumah temanku, sebab aku bosan dirumah sendirian terus menerus. Apalagi kamu kan beberapa hari ini menginap dirumah orang tua kamu terus. Aku tidak menemui papa kok, suwer deh." Ucap Bella berbohong.


Padahal seharian Bella ada bersama Baskoro bahkan sore tadi mereka baru saja melangsungkan pernikahan secara sirinya. Namun serapat mungkin, Bella akan mrnutupinya dan tidak akan ada yang boleh tahu soal pernikahannya dengan Baskoro terkecuali orang-orang yang tadi sudah ikut menyaksikan.


" Ohh dari rumah teman. Aku kira seharian ini kamu dan orang tua iku bermain sampai lupa diri." Jawab Vito dengan santainya.


" Sayang kamu jangan bicara seperti itu dong. Aku dan papa itu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, kami sudah menyadari kesalahan kami jadi tolong jangan seperti ini. Kamu jangan terus menyudutkan aku, aku mohon sayang maafkan aku." Ucap Bella bicara dengan mengiba agar Vito luluh dengan kata-katanya.


" Bulshit !! Aku sudah tidak peduli lagi dengan ucapanmu dan apapun yang kamu perbuat aku juga sudah tidak peduli. Kamu memang aku izinkan tinggal disini sampai proses cerai kita selesai. Bukan karena aku ingin mempertahankan rumah tangga ini." Ucap Vito dengan tegas.


Bella menggelengkan kepalanya, dia bersikukuh tidak mau bercerai dari Vito. Dia berharap masih bisa bersama terus sampai tua dengan Vito. Pernikahannya dengan Baskoro tidak dia pedulikan, yang penting Vito harus tetap bersamanya. Sebab dia sangat mencintai Vito dan ingin selalu bersama Vito.


" Aku tidak mau bercerai, Vito. Aku sudah meminta maaf dan menyadarinya. Tapi kenapa kamu justru tetap mau menceraikan aku? Atau jangan-jangan kamu masih mencintai mantan pacarmu itu?." Tanya Bella dengan kesal.


" Iya ! Kamu betul sekali. Aku memang masih sangat mencintai Nia dan aku juga masih berharap bisa menikahi dia. Apa salah aku mencintai Nia? Itu semua tidak ada urusannya juga dengan kamu."Ucap Vito dengan memandang Sinis Bella.


" Sudah pasti salah, dia sudah punya suami dan dia itu juga tidak pantas untuk kamu. Dia itu wanita murahan, yang pastinya dia dulu naik ke ranjang Tuan David lebih dulu agar dia dinikahi pria kaya itu. Dasar wanita kampungan, miskin dan mur4h4n !!."Ucap Bella menghina Nia.


Pllaakk


Pllaakk


Vito tidak terima wanita yang dia cintai di hina dan di rendahan oleh Bella. Terlebih Bella adalah wanita yang lebih hina dari Nia. Dua tamparan menjadi hadiah malam itu dari Vito untuk Bella.


" Sekali lagi aku dengar kamu menghina dan merendahkan Nia, aku tidak segan-segan untuk m3rob3k mulut mu itu !!."Ucap Vito mengancam Nia.


Selesai bicara seperti itu, Vito pun meninggalkan Nia dan berjalan menuju kamarnya yang saat ini hanya dia tempati sendiri. Bella dan barang-barangnya sudah dipindahkan di kamar tamu yang dulu pernah dipakai oleh Baskoro setiap kali dia datang.

__ADS_1


*********


__ADS_2