
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Di salah satu restoran, Miska dan Rendi saat ini sedang makan malam bersama. Miska sangat senang akhirnya Rendi bisa meluangkan waktu nya untuk sekedar makan malam dengannya. Miska dan Rendi dalam beberapa bulan ini memang dekat namun di antara mereka belum ada hubungan yang pasti.
Meskipun begitu Miska sangat senang bisa jalan berdua dengan Rendi. Rendi sosok pria dewasa yang di kagumi oleh Miska.
"Kak Rendi tadi bagaimana alasan nya saat meminta untuk tidak lembur? Apakah kak David tidak curiga?." Tanya Miska ingin tahu alasan Rendi saat meminta untuk tidak lembur.
"Aku bilang ada acara dengan keluarga, dan pekerjaan aku bawa pulang. Ya mau tidak mau nanti malam aku kerjakan, demi kamu apapun akan aku lakukan."Seru Rendi membuat Miska semakin tersipu malu-malu.
Miska senyum-senyum sendiri, dia merasa sangat di pedulikan oleh Rendi. Padahal saat ini di antara mereka belum ada hubungan yang pasti.
"Setelah makan malam ini, kamu mau nonton tidak? Ada film romantis yang bagus bange." Tanya Rendi dengan senyum manisnya membuat Miska semakin kagum dengan Rendi.
"Boleh, kak." Jawab Miska malu-malu.
Rendi dan Miska segera menghabiskan makanannya, agar mereka bisa cepat untuk menonton. Apalagi tiket pun belum kebeli, Rendi juga terlihat bersemangat dan bahagia jalan dengan Miska.
Selesai makan, Miska dan Rendi langsung pergi. Mereka harus cepat, sebab film 30 menit lagi akan diputar. Mereka harus segera mendapatkan tiket sebelum film dimulai.
"Maaf ya kita harus buru-buru begini, aku tadinya mau cari tiket dari sore tapi takut kamu tidak mau menonton jadi aku urungkan. Semoga saja masih dapat tiketnya."Ucap Rendi merasa bersalah sudah mengajak Miska serba buru-buru.
"Iya kak tidak apa-apa, asalkan sama kak Rendi mah Miska ke ujung dunia pun pasti mau."Seru Miska.
Jawaban Miska membuat Rendi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia suka dengan kepribadian Miska yang sederhana dan apa adanya. Meskipun anak orang kaya, dia sama sekali tidak mau menunjukan jati dirinya di khalayak ramai. Bahkan untuk berkuliahpun dia mendapatkan beasiswa,tidak mengandalkan uang orang tuanya.
"Kak Rendi beli tiket, biar Miska yang beli popcron sama minumannya. Nonton tanpa popcron tidak afdhol kak."Seru Miska dengan menunjukan senyum manisnya.
*Ya Tuhan, senyum Miska manis sekali. Apa aku salah mencintai gadis seperti Miska ini? Sebab kasta kita sangat jauh, dia anak konglomerat sedangkan aku hanya seorang assisten kakaknya saja. Tuhan, izinkan aku untuk mengutarakan isi hatiku ini. Mau di terima atau tidak itu urusan nanti, yang penting aku sudah mengutarakannya.*Gumam Rendi dengan memandang Miska lekat.
"Kak Rendi, kok bengong. Cepat beli tiketnya, 15 menit lagi loh. Aku beli makanan dan minuman dulu ya."Seru Miska mengagetkan Rendi yang melamun.
"Ahhh.. Iya Miska."Jawab Rendi gugup.
__ADS_1
Merekapun menuju ke tujuan nya masing-masing, beruntung sekali dua tiket terakhir bisa dibeli oleh Rendi. Miska datang dengan membawa 2 minuman kaleng dan 1 popcron berukuran sedang.
"Yuk kita masuk."Seru Rendi langsung menggandeng tangan Miska.
Miska dan Rendi masuk ke bioskop secara beriringan dengan tangan Miska tetap dalam gandengan Rendi. Usia Miska dan Rendi terpaut 7 tahun, awalnya Miska sudah menganggap Rendi seperti kakaknya sendiri. Namun lambat laun, rasa itu tumbuh di hati Miska dan Miska sangat berharap Rendi juga mempunyai perasaan yang sama.
*Apa ini yang dinamakan kencan? Tapi aku dan Kak Rendi tidak ada hubungan apa-apa? Aku sangat nyaman ada di dekat kak Rendi, semoga saja rasa ini terbalaskan.*Gumam Miska dalam hatinya.
Tepat jam 9 malam, Miska dan Rendi keluar dari bioskop. Rendi akan langsung mengantar Miska pulang, sebab sudah malam dan Rendi membawa Miska keluar tanpa izin dengan orang tua Miska terlebih dahulu.
*****
Saat sampai di taman kota, Rendi sengaja menghentikan mobilnya. Dia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, sudah menunjukan pukul sembilan lewat 20 menit. Hati Rendi tidak tenang, sehingga dia memutuskan untuk mengajak Miska duduk di taman terlebih dahulu.
"Ada apa kak? Kok berhenti? Mogok ya?."Tanya Miska heran dan mengira jika mobil Rendi mogok.
"Tidak apa-apa. Emm.. Miska, turun sebentar yuk dan kita duduk ditaman. Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu dan ini penting, harus sekarang."Ucap Rendi sedikit memaksa Miska.
Miska mengangguk dan dia pun ikut turun dari mobil lalu duduk di kursi taman yang ada dibawah tiang lampu taman.
"Kak Rendi mau bicara apa? Emm jangan lama-lama ya kak, soalnya jam 10 Miska harus sudah dirumah. Perjalanan kerumah perlu 20 menit lagi loh. Jadi Kak Rendi ada waktu kurang lebih 15 menit saja."Ucap Miska memberi penjelasan.
"Miska, aku tahu mungkin ini terlalu cepat dan terlalu terburu-buru untuk aku bicara seperti ini. Miska, aku jatuh cinta dengan mu dan aku mencintaimu. Aku tidak tahu kapan rasa ini hadir, tapi yang pasti aku mencintaimu dengan tulus. Aku terlalu lancang mencintai kamu, Miska."Ucap Rendi akhirnya bicara jujur tentang perasaannya.
Deegghh
Hati Miska dag dig dug tidak karuan, padahal Rendi yang mengutarakan isi hatinya. Akan tetapi justru dia yang dag dig dug. Miska tidak menyangka, jika harapan nya tadi akhirnya nyata juga.
"Miska apa kamu sudah ada jawaban?."Tanya Rendi.
"Emm.. Kak, aku. Aku ..."Seru Miska bicara terbata-bata.
"Jika kamu belum ada jawaban, aku akan memberi kamu waktu."Ucap Rendi.
Rendi sudah pesimis jika Miska belum bisa menjawabnya bahkan bisa saja menolaknya. Rendi tidak berharap banyak, sudah bisa mengungkapkan isi hatinya saja dia sudah sangat lega.
"Aku mau, Kak?."Jawab Miska.
"Hahh.. Mau?" Tanya Rendi masih bingung dengan jawaban Miska.
__ADS_1
"Aku mau menjadi pacar kak, Rendi. Aku mau menerima cinta kak, Rendi. Sebenarnya aku juga punya perasaan yang sama namun aku malu untuk mengungkapkannya. Takut jika kak Rendi sudah punya pacar, dalam keluargaku tidak memandang kaya dan miskin kak. Aku mencari pasangan hidup bukan melihat dari materinya kak tapi dari ketulusannya."Ucap Miska memperjelas jawabannya.
Bagaikan mendapat bonus ratusan milyar, Rendi sangat bahagia. Akhirnya wanita pujaannya menerima pernyataan cintanya. Tanpa sadar Rendi langsung memeluk Miska dengan erat dan Miska hanya diam saja membiarkan Rendi memeluknya.
"Terimakasih, Miska. Tapi bagaimana dengan Tuan David? Aku tahu dia sangat menjaga kamu dan menyayangi kamu. Apa aku bisa mendapatkan restu dari Tuan David. Jika orang tua mu, insya Allah aku bisa bicara secara langsung bahkan malam ini juga aku bisa meminta izin untuk menikahimu. Tapi nyaliku menciut jika berhadapan dengan Tuan David."Ucap Rendi serius.
"Jangan buru-buru kak, kita jalani dulu hubungan kita. Nanti pelan-pelan kita kasih tahu kak David. Jujur, aku memang ingin menikah muda dan aku juga sudah sempat mengutarakan keinginanku kepada kak David. Untuk sementara kita rahasiakan saja hubungan kita, Kak."Ucap Miska.
"Baiklah, jika menurutmu itu terbaik aku akan mengikitnya. Emm, terimakasih sudah menerima cinta ku, Miska. Sekarang kamu aku antar pulang ya, ini sudah hampir jam 10, kurang 20 menit lagi jam 10 malam."Ucap Rendi sambil melirik jam tangannya.
"Sama-sama kak. Iya kita pulang sekarang."Jawab Miska sambil menganggukkan kepalanya.
Rendi dan Miska jalan beriringan dengan tangan bergandengan. Terlihat sekali rona kebahagiaan di wajah mereka berdua, rona bahagia karena cintanya sama-sama terbalaskan.
*******
"Untuk apa kamu datang kerumah ku, Baskoro !." Seru ibu Karti dengan kesal.
Sudah 1 jam lebih Baskoro ada didepan rumah ibu Karti dan terus mengetuk pintu tiada henti. Takut jika Baskoro membuat keributan, akhirnya ibu Karti mau menemui Baskoro.
"Karti aku datang karena aku ingin meminta maaf kepada mu. Aku menyesal sudah meninggalkan kamu dengan anak kita, aku sangat menyesal. Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki hubungan kita. Sembilan belas tahun memang bukan waktu yang singkat, akan tetapi aku sangat menyesali perbuatanku. Aku ingin berkumpul dengan anakku juga, dimana Kurnia, Karti."Seru Baskoro bicara dengan mulut manis tanpa dosanya.
Ibu Karti hanya menggeleng dengan menunjukan senyum sinisnya. Bisa-bisa nya setelah 19 tahun meninggalkan tanpa adanya nafkah untuk Nia, dia datang dan meminta maaf serta meminta untuk kembali. Padahal mereka sudah resmi bercerai.
"Dasar manusia tidak waras kamu, Baskoro ! Kamu kira setelah kamu meminta maaf dan memohon seperti ini aku akan mau menerimamu. Memaafkan mu, aku bisa tapi untuk kembali hidup denganmu aku tidak bisa dan tidak akan pernah mau. Tolong pergi dari rumahku, aku ingin istirahat dan ini juga sudah malam."Usir Ibu Karti secara kasar.
"Jika kamu belum bisa menerimaku, setidaknya tolong beritahu aku di mana keberadaan anak kita. Aku ingin bertemu dengannya, sebab aku juga ingin meminta maaf kepadanya. Aku juga sangat merindukan anak kita, Karti."Ucap Baskoro dengan nada bicara mengiba.
*Apa aku harus memberitahu keberadaan Nia? Cepat atau lambat pasti mereka akan bertemu, dan bagaimanapun Baskoro ayah kandung Nia.*Gumam Leni dalam hatinya.
"Baiklah. Aku beritahu keberadaan Kurnia, tapi jika dia tidak mau bertemu dengan mu, tolong jangan memaksanya. Aku tidak mau anakku bersedih karena kamu. Datanglah ke rumah sakit Cahaya Kasih dan temui dokter umum yang bernama Kurnia."Ucap ibu Karti memberitahu tempat kerja Nia, bukan tempat tinggal Nia.
Sebenarnya tanpa Baskoro sadari, dia sudah sering bertemu dengan anaknya. Bahkan anaknya lah yang sudah menolong memberi pertolongan pertama saat dia kecelakaan. Baskoro terlihat senang dan bersemangat saat sudah mengetahui tempat kerja anaknya.
Dia tidak pernah menyangka jika anaknya saat ini sudah menjadi seorang dokter dan bekerja dirumah sakit paling besar di kota itu. Rumah sakit Cahaya Kasih, merupakan rumah sakit milik keluarga Widjaya dibawah naungan Perusahaan Widjaya Group siapapun pasti akan bangga bekerja di rumah sakit tersebut.
*Ternyata anak ku seorang dokter, hemm pasti dia juga sudah kaya raya.* Gumam Baskoro dalam hati.
**********
__ADS_1