
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Selesai makan malam, David langsung kembali ke kamar dan begitupun dengan Nia. Kali ini Nia akan bicara serius dengan David, apa maksud David mendiamkannya berhari-hari. Bahkan sikap Davidpun dingin dan cuek kepada Nia.
Belum juga Nia memulai pembicaraannya, David melemparkan sebotol obat dan tepat ada dibawah kaki Nia.
Daaaarrrrr
Suara benturan botol dengan lantai. Dengan segera Nia mengambil botol itu dan betapa terkejutnya Nia mendapati pil penunda kehamilan yang biasa dia minum dilemparkan oleh David.
"Apa maksud kamu meminum pil itu?." Seru David dengan kasar.
Terlihat sekali aura amarah David, Nia hanya menundukkan kepalanya sembari memegangi botol obat itu dalam genggamannya.
"Jawab !!!"Bentak David lagi dengan lantang.
"Aku tidak menyangka selama 3 minggu pernikahan kita kamu sudah mengkonsumsi pil penunda kehamilan. Bukannya kamu tahu aku sangat mengharapkan keturunan dari kamu, dan Nada juga sangat mengharapkan seorang adik. Tetapi dengan teganya kamu meminum pil itu tanpa sepengetahuanku! Seharusnya kamu bicarakan dulu dengan ku, apa karena kamu seorang dokter sehingga kamu merasa pintar dan bisa memutuskan sendiri. Atau jangan-jangan kamu itu masih mencintai mantan pacarmu, Vito!"Teriak David dengan kesal.
Deggghhhh
Nia langsung mendongakkan kepalanya dan memandang kearah David. Selama ini Nia belum pernah bercerita soal mantan pacarnya kepada, David. Yang lebih membuat Nia heran, justru David tahu nama Vito.
"Kenapa diam? Apa benar kamu masih mencintai mantan pacarmu itu dan berharap bisa kembali dengannya. Kalau kamu masih mencintai mantan pacarmu itu, kenapa kamu mu menikah denganku? Seharusnya kamu menolaknya, Nia. Aku memang bodoh, saat itu aku memang yang memaksamu untuk menerima lamaranku. Aku salah mencintaimu, aku salah melabuhkan hati ini. Ternyata istriku masih mencintai mantan pacarnya."Seru David lalu tertawa sendiri.
"Aku tidak seperti itu, Hubby. Kamu salah jika menganggap aku masih mencintai dia, seujung kukupun aku sudah tidak ada rasa untuk dia. Jadi semua tuduhan kamu itu salah. Aku mengaku salah karena sudah meminum pil itu tanpa sepengetahuan kamu. Tapi aku punya alasan lain kenapa aku meminum pil itu."Jawab Nia dengan takut-takut. Nia benar-benar takut melihat wajah David yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
Braaakkk
David memukul nakas yang ada disamping ranjang, beruntung gelas yang ada diatas nakas tidak jatuh dan pecah.
"Lantas apa alasan kamu? Heeehhh... !! Apa karena profesi mu dan pekerjaanmu yang membuat kamu tidak mau hamil. Atau jangan-jangan kamu memang tidak mau memiliki anak dariku? Karena aku seorang duda dan usia kita juga beda jauh? Jika kamu membicarakan dulu hal ini kepadaku, mungkin aku tidak semarah inu. Jika seperti ini, kamu seperti tidak menganggapku sebagai suamu kamu!."Seru David masih saja bicara dengan emosi.
*Ya Allah. Aku harus bagaimana? Apa aku harus mengatakan karena aku masih meragukan rasa cinta nya? Padahal aku sendiri yang sampai detik ini belum mengutarakan isi hatiku. Apa aku ini egois sudah memutuskan menunda kehamilan tanpa memberitahu David.*Gumam Nia dalam batinnya.
__ADS_1
"Aku.. Aku masih ragu dengan mu." Ucap Nia terbata-bata.
Jdddeeeerrrrr
David langsun terdiam, wajahnya terasa panas dan semakin panas saat mendengar pengakuan Nia. Alasan Nia menunda kehamilannya sangat membuat David syok. Bagaimana bisa istrinya sendiri masih meragukan dirinya. David, tipe pria yang susah sekali jatuh cinta namun saat sudah jatuh cinta dia akan serius dan setia dengan pasangannya. Namun istrinya sendiri justru meragukan itu semua.
"Jadi itu alasan kamu yang membuat kamu sampai tidak mau hamil?." Seru David lagi.
"Bukan tidak mau hamil, tetapi aku menunda kehamilanku. Maaf."Seru Nia dengan memandang lekat wajah David.
"Lantas untuk apa kita berumah tangga kalau kamu tidak percaya dengan suami kamu sendiri? Justru aku yang meragukan cintamu, apa pernah kamu menyatakan sayang dan cinta kepada ku? Kapan kamu pernah menyatakan perasaan mu? Tidak pernah, tidak pernah Nia! Aku memang bodoh mencintai wanita yang sampai detik ini masih saja meragukan perasaan ku. Baiklah, aku tidak akan melarang kamu. Anggap saja pernikahan ini hanya sebagai formalitas saja, anggap saja hanya demi Nada."Ucap David dengan ketus.
Selesai bicara seperti itu David keluar dari kamarnya, dia menuju ruang kerjanya dan mulai malam ini dia memutuskan pisah ranjang dengan Nia. Dia membiarkan Nia berbuat sesuai kemauan dia sendiri. David beranggapan jika hanya dia sendiri yang mempunyai perasaan kepada Nia dan tidak dengan Nia.
Didalam kamarnya, Nia merenungkan segala kesalahannya. Ternyata keputusannya menunda kehamilan adalah sebuah kesalahan, terlebih dia melakukannya tanpa sepengetahuan David.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak menyangka jika semuanya akan menjadi runyam begini? Apa salah aku yang memang meragukan cintanya David, sebab perkenalan kamipun cukup singkat."Seru Nia pada dirinya sendiri.
Aarrrgggghhhh
Nia menjerit namun dia tutup wajahnya dengan bantal. Pernikahan yang belum genap 1 bulan sudah di bumbui dengan pertengkaran. Bahkan David sekarang tidak memperdulikannya lagi.
Nia merenungkan semua kesalahannya, dia duduk dipinggir ranjangnya sembari menatap langit-langit kamar dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Cukup lama Nia merenungi kesalahannya, dia melirik jam yang tergantung didinding sudah jam 10 malam namun Nia belum bisa tidur.
*Aku harus melakukan sesuatu agar David mau memaafkanku. Mulai sekarang aku tidak akan meminum pil penunda kehamilan itu, aku siap jika harus mengandung anak dari David. Semoga caraku ini bisa meluluhkan bongkahan es batu, dan amarah David.*Gumam Nia dalam batinnya.
Nia masuk kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Selesai urusan dikamar mandi, Nia beralih kekamar ganti dan membongkar kopernya yang memang belum sempat dia bongkar. Dia mencari sesuatu yang sempat dia beli saat diluar kota, dan akan memakainya.
"Nah ini dia ketemu."Seru Nia menemukan kain tipis dan transparan warna merah maroon itu.
Meskipun merasa aneh dan malu, Nia akhirnya memakai pakaian itu. Nia berkaca, dan dia malu melihat tubuhnya yang terlihat seperti tidak memakai baju.
"Haahhh... Apa David nanti akan mengira aku ini akan menggodanya? Semoga saja dia tidak menyebutku sebagai wanita murahan."Ucap Nia pada dirinya sendiri.
Nia mengambil piyama kimono dan memakainya, dengan yakin Nia berjalan keluar kamar menuju ruang kerja David yang ada di ujung lantai dua. Suasana sudah semakin sepi, sepertinya memang penghuni rumah yang lainnya sudah istirahat.
"Pintu kira-kira terkunci tidak ya? Aku harus menyelesaikan semua nya malam ini agar rumah tanggaku dengan David bisa terselamatkan."Ucap Nia.
Ceklekkkk
__ADS_1
Pintu ruang kerja David tidak terkunci, mendengar pintu ruang kerjanya terbuka David langsung mengalihkan pandangannya dan dilihatnya Nia berjalan mendekati kearah meja kerjanya.
"Mau apa kamu masuk keruang kerjaku? Siapa yang menyuruhmu masuk?."Tanya David dengan ketus.
"Aku hanya ingin melihat keadaan suamiku, kenapa suamiku sampai tidak mau masuk kamar lagi. Hubby, maafkan aku yang sudah meragukan perasaan mu. Maafkan aku Hubby, mau kan memaafkan aku?."Seru Nia yang kini sudah berada tepat disamping David dengan tangan dikalungkan di leher David.
Dengan berani Nia melepaskan kimono yang menutupi tubuhnya, dan hanya menyisakan lingerie merah maroon yang melekat ditubuhnya. Mata David terbelalak melihat pemandangan indah yang ada didepannya. David terus menelan salivanya sendiri, David masih berusaha untuk bersikap cuek dan masa bodoh.
"Maaf ya, Hubby. Aku menyesal sudah membuat kamu marah. Aku sudah tidak akan lagi meminum pil itu, Hubby."Seru Nia kini sudah duduk dipangkuan David.
Meskipun badannya gemetaran dan dia masih canggung dengan kelakuannya itu. Nia mencoba untuk menutupinya, dia ingat betul apa yang dia dengar saat sedang bersantai bersama rekan sejawatnya. Dia mendengar jika suami mereka sedang marah dan ngambek, para istri harus bisa merayu dan mengambil hati suaminya, salah satunya dengan cara yang saat ini dipraktekan oleh Nia.
"Hemmm... Hubby sayang. Apa kamu tidak kangen denganku?."Seru Nia menggoda David.
Nia sebenarnya malu, terlebih saat ini dia sudah seperti wanita penggoda. Tapi tidak masalah, sama suami sahnya sendiri kan?.
"Ohhh jadi kamu merayuku?."Seru David dengan suara yang sudah mulai serak.
"Emmm Hubby, aku merindukanmu."Seru Nia berbisik ditelinga David dengan manja.
David sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, Davidpun mengendong Nia ala bridal style dan segera dia rebahkan diatas kasur yang ada di ruang kerjanya.
"Kamu yang sudah membangunkannya, Sayang. Jadi kamu harus bertanggung jawab membuat dia puas dan sampai kembali tertidur."Seru David mulai menyusuri tubuh Nia.
"Iya hubby."Seru Nia yang kini juga dipenuhi kabut gairah.
Tidak menunggu lama lagi, David dan Nia sudah dalam keadaan sama-sama polos. Akhirnya usaha Nia untuk menaklukkan hati David berjalan sesuai dengan yang dia inginkan. Mulai malam ini Nia juga suda membebaskan dirinya dari pil penunda kehamilan yang selama 3 minggu ini dia konsumsi.
Malam ini Nia mulai berani mengambil alih permainan, dan hal itu membuat David tercengang. Ternyata istri manisnya sudah pandai memberikan pelayanan yang terbaik untuk suaminya.
"Kamu ada kemajua, Sayang. Kamu belajar darimana permainan ini?."Seru David justru membuat Nia tersipu malu-malu.
"Hubby, jangan bicara seperti itu aku malu."Seru Nia menghentikan aktifitasnya diatas sana.
"Heemmm.. Dasar istri manisku. Lanjutkan permainanmu, jika kamu lelah nanti aku yang akan ambil alih lagi. Pokonya malam ini aku menghukummu sampai pagi dan tanpa ampun. Salah siapa kamu sudah membuat aku marah, bahkan sampai aku bekerjapun tidak konsentrasi."Seru David.
Nia menelan salivanya sendiri, bagaimana bisa bermain sampai pagi. Mau jadi apa dia, padahal besok pagi juga harus ke rumah sakit. Kira-kira bakalan bisa jalan atau tidak?
**************
__ADS_1