
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Ibu Karti dan wanita itu saling beradu pandangan, mereka tidak menyangka akan bertemu lagi. Ibu Karti terlihat menatap tajam kearah wanita yang saat ini tepat ada dihadapannya. Wajah wanita itu terlihat datar dan tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Karti ."Seru wanita itu lagi menyebut nama ibu Karti dengan sangat jelas.
Ibu Karti masih saja tidak bergeming, pandangannya lurus kearah wanita yang ada di hadapannya. Dia ingat betul bagaimana waktu itu wanita itu menghinanya dan merendahkannya. Bahkan tanpa ada rasa kasihannya dengan Nia kecil wanita itu sudah merebut dan membawa suaminya menjauh dari Nia.
Wanita yang saat ini ada dihadapan Ibu Karti adalah Leni, seorang wanita yang sudah berhasil merebut suaminya dan membuat hidupnya dan hidup Nia kecil menderita. Ibu Karti tidak akan pernah lupa dengan wanita yang bernama, Leni.
Plaakk Plaaakk
Tanpa berbasa-basi ibu Karti langsung menampar Leni dengan keras. Leni yang tidak tahu jika ibu Karti akan menamparnya sama sekali tidak bisa menghindar. Dua tamparan itu sama sekali tidak membuat ibu Karti puas. Ingin rasanya dia menghajar dan menghancurkan Leni, rasa sakit hatinya masih membekas sampai saat ini.
Ibu Karti ingat betul kejadian 19 tahun yang lalu, dimana saat ini Nia kecil meminta papanya untuk tidak pergi namun dengan kasarnya, Leni mendorong Nia sampai Nia tersungkur dan lututnya berdarah-darah. Hal itu yang sampai saat ini sulit untuk ibu Karti lupakan.
"Dasar wanita gila, kenapa kamu menamparku."Seru Leni dengan penuh penekanan.
"Seharusnya aku dari dulu menamparmu, dasar wanita tidak punya hati. Wanita pelakor !."Ucap ibu Karti tidak kalah ketus dengan Leni.
"Hahaaa... Pantas saja mas Baskoro meninggalkanmu dan memilih hidup denganku. Kamu terlalu arogan dan tidak punya sopan santun begini. Sudah miskin saja belagu, hehh ternyata belum bisa move on ya. Kasihan banget sih kamu."Cibir Leni dengan senyum mengecek.
Dengan sigap ibu Karti mencengkram lengan kiri Leni dengan kuat sampai Leni meringis kesakitan. Dia mencoba untuk melepaskan cengkraman dari ibu Karti namun nihil, hasilnya sia-sia saja. Justru membuat ibu Karti semakin mengeratkan cengkramannya.
"Aku tidak peduli kamu merebut Baskoro dari hidupku, tapi aku tidak pernah ikhlas dan tidak pernah ikhlas kamu menyakiti anakku. Ingatkah kamu dimana saat itu kamu menyakiti anakku sampai lututnys berdarah dan hampir seminggu anakku susah untuk berjalan karena luka di kedua lututnya. Wanita tidak punya hati, sadar kamu Len. Suatu saat nanti kamu akan merasakan apa yang dulu aku rasakan, rasa sakit mu justru akan lebih parah dari apa yang aku rasakan."Seru ibu Karti dengan penuh penekanan.
Hahaaaa Haaaaaa.
Leni justru tertawa dengan cukup keras saat mendengar apa yang diucapkan oleh ibu Karti. Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ibu Karti. Menurutnya itu adalah sebuah lelucon yang keluar dari mulut ibu Karti. Leni percaya dan yakin jika suaminya, Baskoro. Tidak akan pernah mengkhianatinya apalagi dia sudah merubah hidup Baskoro, Baskoro mendapat pekerjaan bagus juga karena campur tangannya.
" Mas Baskoro itu sangat mencintaiku dan menyayangi anakku seperti anak kandungnya sendiri. Jadi tidak mungkin dia akan berkhianat. Sekarang hidup mas Baskoro itu sudah sukses dan itu semua berkat aku !!."Seru Leni dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi.
"Lihat saja suatu saat nanti kamu akan menangis darah, Leni. Doaku saat itu pasti akan terkabul, kapan saat nya nantu pasti akan terjadi. Doa wanita yang teraniayai insya Allah terkabulkan. Camkan itu, Leni !!."Ucap Ibu Karti dengan tegas.
Saat mereka berdua sedang berdebat, tiba-tiba Wati datang menghampiri ibu Karti sehingga perdebatan itupun terhenti sesaat. Namun, Leni mengira jika Wati itu adalah anak ibu Karti yang dulu pernah dia dorong sampai lututnya terkena batu-batu kecil.
"Bu, lebih baik sekarang kita bayar barang belanjaan kita. Sudah ya jangan ribut lagi, malu jadi tontonan para pengunjung. Nanti ibu bakalan kena tegur sama pengelola supermarketnya."Ucap Wati sedikit berbisik di telinga ibu Karti.
"Iya Wati. Maaf ibu tadi tidak bisa mengontrol emosi ibu."Seru ibu Karti merasa tidak enak dengan Wati.
"Ohh jadi ini anak kamu ? Kampungan sekali sih dandanannya, wajarlah memang tinggal di kota tapi daerah pinggiran mana bisa merawat diri. Untuk makan saja pasti sulit, huhh jauh beda denganku dong. Sudah kaya,cantik dan punya salon kecantikan yang besar. Dan tentunya anakku juga cantik dan berkelas dong, tidak seperti anak kamu. Kampungan.. Hahaaa"Ucap Leni tertawa dengan tanpa malu.
__ADS_1
Wati sama sekali tidak mau membalas perkataan Leni, sebab dia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri. Apalagi saat ini arah pandangan pengunjung supermarket kearah mereka semua. Tentunya Wati lebih memilih diam daripada diladenin yang ada dia dan ibu Karti akan malu sendiri dengan kelakuan Leni.
"Kenapa kalian diam? Malu?." Tanya Leni lagi.
"Maaf ya bu. Kita ini saat ini ada ditempat umum dan jadi tontonan para pengunjung supermarket. Kalau ibu memang orang kaya, orang berpendidikan dan orang berkelas. Tentunya ibu tidak akan seperti ini, karena dengan ibu bersikap seperti ini sama saja mempermalukan diri ibu sendiri. Tidak ada loh orang kaya dan berkelas yang berkoar-koar seperti ibu tadi sampai di tonton oleh orang-orang."Ucap Wati terpaksa bicara seperti itu untuk menghentikan segala macam pertanyaan dari Leni.
Skak mati !! Leni langsung terperangah setelah mendengar penjelasan dari Wati. Dia langsung memandang kesekitarnya dan benar saja, saat ini semua pandangan mata para pengunjung kearahnya. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang berkasak-kusuk dan memandang tajam kearahnya.
*Sial ! Kenapa aku bisa lupa begini. Aku lupa jika saat ini sedang ada di supermarket, aduh mana tadi aku sudah membanggakan diriku karena bisa merebut mas Baskoro dari Karti. Mereka tahu dong kalau aku ini yang merebut Baskoro dari Karti. Hemm lebih baik aku pergi saja dari sini.*Gumam Leni dengan wajah terlihat gugup dan salah tingkah.
"Diam kamu. Lihat saja aku akan membalas perbuatan kalian, kali ini aku akan membiarkan kalian. Ibu sama anak sama saja ."Seru Leni lalu pergi begitu saja , bahkan keranjang belanjaannya dia tinggalkan begitu saja.
Huuuuuu Huuuu
Pelakor.....
Seruan dan cacia dari beberapa pengunjung supermarket mengiringi langkah kaki Leni. Rasanya Leni ingin menghilang saja dari tempat itu.
"Kita ke kasir dulu ya bu. Kita bayar belanjaan kita dulu baru kita pulang."Ucap Wati dengan sopan.
"Iya Wati."Jawab ibu Karti dengan singkat.
***********
Sepulangnya dari Supermarket, Leni tidak langsung pulang kerumahnya. Tetapi dia memilih pergi kerumah Bella dan Vito. Dia ingin menceritakan pertemuannya dengan Karti di supermarket tadi dengan Bella. Bella harus tahu masalah itu sehingga bisa membantunya mencari cara untuk membalas kejadian tadi.
"Bella ada?."Tanya Leni dengan ketus kepada Minah wanita yang bekerja di rumah Bella.
"Aku mamanya Bella. Sudah tidak usah banyak tanya, mana Bella?."Tanya Leni lagi seenaknya.
"Oh Mamanya Non Bella. Emm Nona Bella ada dikamar Bu. Itu kamarnya."Ucap Minah sembari menunjuk kearah kamar Bella.
Tanpa menunggu lama, Leni langsung berjalan menuju kamar Bella. Dia dengan mudah sampai didepan kamar Bella, sebab rumah yang saat ini ditempati Bella dan Vito memang tidak bertingkat namun cukup besar dan luas.
Tok Tok Tok
"Bella, Bell. Buka pintunya ini mama." Seru Leni dari depan kamar Bella.
Ceklek...
Pintu terbuka dan terlihat Bella yang terlihat kusut dan berantakan seperti orang yang baru bangun tidur. Leni kaget melihat penampakan Bella yang seperti orang belum mandi.
"Mama tumben datang kerumah Bella, mana tidak kasih kabar dulu."Ucap Bella.
"Bella, jangan bilang kamu belum mandi ? Lihat kamu kusut dan berantakan sekali Bella. Jangan mentang-mentang hamil kamu harus malas-malasan untuk merawat diri dan berias, Bella. Jangan sampai Vito bosan sama kamu, kalau sampai itu terjadi Vito bisa melirik wanita lain."Ucap Leni menasehati Bella. Leni sangat takut jika Vito akan direbut oleh wanita lain seperti dulu saat dia merebut Baskoro dari tangan Karti.
"Mama masuk saja dulu, kita bicara didalam kamar saja. Soalnya Bella masih mengantuk banget nih."Ucap Bella lalu dia menguap.
__ADS_1
Leni hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bella. Mungkin karen sedang hamil muda jadi Bella terlihat malas merawat dirinya. Namun Leni tidak akan membiarkan Bella terus bermalas-malasan seperti itu, dia khawatir Vito akan melirik wanita lain.
"Ada apa mama datang kesini? Ada yang ingin mama bicarakan, tapi Bella masih mengantuk banget Ma."Ucap Bella sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa yang ada didalam kamarnya.
"Bella kamu pasti belum mandikan? Jorok banget sih sudah siang hari begini belum mandi. Kamu jangan malas merawat diri kamu Bella, apa kamu mau Vito melirik wanita lain dan dia direbut sama pelakor. Asal kamu tahu ya Bel, dulu papa kamu suka sama mama itu karena mama cantik dan terawat. Makanya dia mau meninggalkan istrinya yang dekil dan jelek serta miskin itu. Jadi jangan sampai Vito seperti itu, untuk hari ini kamu masih mama toleransi tapi untuk kamu harus tampil cantik didepan Vito, apalagi saat dia baru pulang kerja."Ucap Leni menasehati Bella.
"Iya ma. Aku juga tidak mau kalau suami ku sampai tergoda apalagi direbut pelakor. Nanti sebelum Vito pulang aku akan mandi dan dandan yang cantik. Oh iya mama tadi datang kesini ada perlu apa?."Tanya Bella yang kini sudah merubah posisinya. Yang tadinya berbsring kini jadi duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.
Huuuffff....
Leni terlihat menghela nafas terlrbih dahulu sebelum dia memulai ceritanya. Bella sendiri justru menjadi penasaran dengan masalah yang ingin di ceritakan oleh mamanya. Dia yang tadinya sangat mengantuk tiba-tiba hilang karena rasa penasarannya lebih besar dari mengantuknya.
"Mama tadi bertemu dengan Karti, mantan istri pertama papa kamu. Mama bertemu di supermarket saat mama mau belanja, tapi gara-gara dia mama tidak jadi belanja."Ucap Leni dengan serius.
"Hahhh... Mama bertemu dengan wanita miskin itu? Terus bagaimana? Apa yang kalian lakukan, pasti ribut dan mamalah pemenangnya. Iyakan?."Tanya Bella yang ternyata tebakannya memang tidak salah.
"Benar mama adu mulut dengannya, sampai akhirya anak wanita itu datang melerai. Oh iya Bell, mantan istri pertama papa kamu itu sekarang lebih cantik dan kulitnya bersih. Jangan sampai papa kamu bertemu dengan wanita itu dan jatuh cinta lagi."Ucap Leni penuh harap dengan rasa khawatir.
*Huhhh sekarang saja papa sudah tergoda dengan wanita lain ma dan wanita lain itu Bella sendiri. Sudah hampir 9 tahun ini papa menduakan mama dengan Bella. Maaf ya, Bella tidak bermaksud untuk membohongi atau menyakiti mama. Awalnya, saat itu Bella hanya ingin tahu bagaimana rasanya seperti video yang Bella tonton tidak tahunya rasa nya sangat nikmat dan bisa membuat Bella seakan terbang. Jadi Bella ketagihan deh sampai sekarang, lagipula dia papa tiriku.*Gumam Bella seakan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Leni terus bercerita ini dan itu tanpa jeda, dan Bella hanya mendengarkan saja dengan serius apa saja yang mamanya ceritakan.
"Mama percaya banget ya sama papa? Kalu misal papa itu selingkuh bagaimana?."Tanya Bella serius.
"Mama percaya dengan papa kamu, kalau sampai dia berselingkuh akan mama potong senjatanya. Mama juga akan menghancurkan hidup wanita yang sudah menjadi selingkuhan papa. Mama akan menghajarnya dan memotaki kepalanya, lalu mama arak dan mama videokan. Biar viral dan dia akan dihujat oleh warga, malu-malulah dia. Mama tidak akan pandang bulu siapapun dia."Ucap Leni penuh semangat.
Gleekkkkk
Bella menelan salivanya sendiri, bahkan tenggorokannya tercekat terasa sulit untuk menelan. Bella tidak bisa membayangkan jika mamanya akan tahu jika selama ini dia sudah menjadi selingkuhan papanya. Bahkan Bella yakin anak yang saat ini dia kandung adalah anak dari hasil perselingkuhannya dengan Baskoro yang tidak lain papa tirinya sendiri.
"Bella yakin papa itu setia kok."Ucap Bella mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Iya mama juga yakin kalau papamu itu setia sama mama. Dia juga sangat menyayangi kamu dan memanjakan kamu, mana mungkin mau menghianati mama."Ucap Leni dengan penuh percaya diri.
"Bella Sayang....!!" Seru seseorang memanggil nama Bella dengan panggilan sayang.
Degghhhh
Jantung Bella saat ini benar-benar tidak aman. Dia tahu betul siapa pemilik suara yang barusan memanggilnya. Bella gugup dan tidak berani memandang kearah mamanya. Sedangkan Leni langsung bangkit dan melihat seseorang yang baru datang itu, dia tahu siapa pria itu sehingga dia segera keluar dari kamar Bella.
"Papa ngapain kesini?."Tanya Leni dari ambang pintu kamar Bella.
"Haahh Mama !!."Ucap Baskoro kaget.
*Kenapa mama ada disini? Kenapa juga Bella tidak memberitahu kalau ada mamanya. Huhh aku harus cari alasan yang pas agar mamanya Bella tidak mencurigaiku.*Gumam Baskoro dalam batinnya.
"Ehh mama ada disini juga ya. Papa datang kesini karena mengantarkan makanam untuk Bella. Katanya tadi dia ingin makan pakai cumi asam manis di resto dekat Widjaya grpup. Sebagai kakek yang baik hati pastinya tidak akan membiarkan cucunya ileran dong, jadi papa sempatkan mengantarkan makanan ini."Ucap Baskoro beralasan.
__ADS_1
Leni terlihat tidak menaruh curiga sedikitpun terhadap Baskoro, dan dia percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Yang Leni tahu, Baskoro dan Bella memang dekat dan Baskoro sangat memanjakan Bella, jadi tidak ada yang patut dicurigai dari Baskoro. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Baskoro adalah hal yang wajar.
*************