
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Leni yang mendapat kabar dari rumah sakit jika suaminya saat ini ada dirumah sakit. Leni yang kebetulan saat itu bersama Bella, langsung bertandang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Baskoro.
Anak dan ibu itu sama-sama mengkhawatirkan keadaan pria yang sama. Sama-sama mengkhawatirkan Baskoro.
"Semoga saja papa tidak apa-apa ya ma. Bella takut jika papa parah, Bella sayang banget sama papa sehingga Bella tidak bisa kehilangan papa."Seru Bella terlihat sangat sedih. Bagaimana dia tidak sedih jika dia saja mempunyai hubungan spesial dengan papa tirinya itu.
Leni sam sekali tidak mencurigai Bella, justru dia mengusak punggung Bella agar bisa mereda kesedihannya. Mereka berdua saat ini sedang berada di koridor rumah sakit menuju ruang perawatan Baskoro.
"Sayang jangan sedih begini dong,mama nanti juga ikut menangis loh. Sudah hapus air mata kamu, jelek menangis seperti itu apalagi kalau dilihat oleh Vito, dia pasti nanti akan datang kesini juga."Ucap Leni meminta Bella untuk tidak menangis.
*Hemm jika Vito datang kerumah sakit juga aku harus terlihat cantik, aku tidak mau terlihat jelek didepan suamiku. Apalagi seharian ini dia sudah capek bekerja, masa iya aku tidak mau dandan untuk menyambutnya.*Gumam Bella dengan terus melangkah menuju kamar perawatan papa tirinya.
Tanpa tersa kini mereka sudah sampai di depan kamar rawat Baskoro. Tadi Baskoro sudah sempat di bawa ke UGD namun tidak lama, sebab saat di tempat kejadian sebelumnya Baskoro sudah diberikan pertolongan pertama oleh dokter Nia.
"Bagaimana keadaan pasien, dokter?." Tanya Leni saat sudah berada didepan kamar rawat Baskoro. Dan kebetulan Dokter baru saja mengejek keadaan Baskoro.
"Ibu ini siapanya pasien?."Tanya dokter Musa, dokter yang menangani Baskoro.
"Saya istrinya dan ini anak saya, Bella. Tolong jelaskan keadaan suami saya, apa ada yang parah dengan luka yang di alami oleh suami saya?."Tanya Leni dengan sangat khawatir.
Dokter Musa hanya sedikit mengulas senyum dan mulai menjelaskan apa yang memang harus dia jelaskan dengan Leni.
"Pasien masih tidur ya bu. Dia sepertinya dalam pengaruh minuman keras sehingga dia kecelakaan. Di tambah dia juga tidak memakai sabuk pengaman saat berkendara. Ada luka memar yang cukup serius di bagian kepala dan pelipisnya juga pecah, tetapi tadi kami sudah menjahitnya. Dan ada juga luka lecet-lecet di tangan. Semoga saja benturan di kepalanya tidak sampai membuat pasien hilang ingatan."Ucap dokter Musa menjelaskan tentang keadaan Baskoro.
Bella dan Leni terlihat serius mendengarkan penjelasan dari dokter Musa. Bella dan mamanya sama-sama mengkhawatirkan keadaan Baskoro sehingga mereka meminta izin ingin masuk melihat keadaan Baskoro.
__ADS_1
"Semoga suami saya tidak sampai separah itu sampai hilang ingatan ya, Dokter?." Seru Leni penuh harap.
"Iya semoga saja tidak. Oh, iya beruntung saat di tempat kejadian kecelakaan ada seorang dokter yang tidak sengaja lewat sehingga dia yang memberikan pertolongan pertama kepada suami ibu. Dokter itu juga bekerja disini, besok saat dia masuk praktek ibu bisa menemui dia dan mengucapkan terimakasih. "Ucap dokter Musa.
"Hemm iya dokter. Apa sekarang kami bisa masuk untuk menjenguk suami saya?."Tanya Leni dengan ramah dan masih bersikap sopan. Tidak seperti Bella yang sedari tadi terlihat sombong dan angkuh. Bahkan tidak menunggu jawaban dokter Musa, Bella sudah menerobos masuk lebih dulu.
Dokter Musa hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan heran. Tidak lama dari itu Leni juga menyusul Bella masuk, dan dokter Musa pun memilih meninggalkan rusng perawatan Baskoro.
"Papa bangun dong pa, jangan seperti ini. Bella tidak mau melihat papa dalam keadaan seperti ini."Seru Bella menangis dengan memeluk papanya yang memang masih tertidur.
Akibat obat yang diberikan oleh dokter saat melakukuan penjahitan di area pelipis, membuat Baskoro belum terbangun juga.
"Sayang kamu duduk saja. Kasihan bayi dalam kandungan kamu, pasti dia itu juga ikut lelah. Mana seharian ini kita shoppingkan, jadi lebih baik kamu duduk biar perut kamu tidak kram."Ucap Leni terlihat mengkhawatirkan kandungan Bella.
"Iya ma. Tapi Bella masih ingin ada di dekat papa."Seru Bella sembari mengusap air matanya.
"Sudah biar mama saja yang duduk dekat papa, kamu duduk di sofa saja sana. Disini mama loh yang istrinya bukan kamu."Seru Leni agak kesal dengan Bella yang keras kepala.
"Papa kenapa bisa sampai seperti ini sih? Lihat nih gara-gara minuman papa jadi kecelakaan seperti ini. Beruntung masih bisa selamat, meskipun dengan luka yang lumayan. Ini tangan kamu pasti juga sakit dan dalam beberapa hari tidak bisa untuk aktifitas."Ucap Leni merasa kesal dengan suaminya yang tidak pernah mau meninggalkan minuman keras.
Baskoro jika sedang ada masalah ataupun sedang jenuh pasti dia akan lari ke minuman keras. Leni sudah tahu betul bagaimana watak suaminya, meskipun bukan peminum berat namun hampir setiap kali ada masalah lari diminuman itu.
Cekllekkkk
Pintu ruangan itupun terbuka dan masuklah Vito yang langsung mendekat ke arah papa mertuanya yang saat ini sedang berbaring.
"Mas kamu sudah datang?." Tanya Bella menghampiri Vito.
"Hemm.. Bagaimana keadaan papa, Ma?."Tanya Vito acuh terhadap Bella.
"Seperti yang kamu lihat, Vito. Ini pelipisnya sampai dijahit karena ada luka robek. Kepalanya ini sampai bengkak, beruntung tidak sampai berdarah. Papa kamu ini memang cari masalah saja, kalau begini pasti mama juga yang akan repot mengurus nya. Mana mama juga kan sibuk dengan pekerjaan mama."Seru Leni dengan kesal memengeluarkan unek-uneknya.
Bella terlihat tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh mamanya. Dia ingin memprotesnya namun khawatir jika mamanya akan mencurigainya. Akhirnya dia hanya diam saja, dan membiarkan mamanya mengeluarkan keluh kesahnya.
__ADS_1
"Yang sabar ya ma, semoga saja papa cepat sembuh."Ucap Vito tidak mau mama mertuanya semakin mrepet jauh.
"Mas, tadi kamu dari kantor apa dari rumah?."Tanya Bella yang kini sudah berdiri disamping Vito dan melingkarkan tangannya di lengan kokoh milik Vito.
"Dari kantor langsung kesini, tidak sempat pulang. Kamu nanti ikut pulang denganku, jangan bermalam dirumah sakit. Ingat kamu itu sedang hamil jadi harus banyak istirahat."Ucap Vito tumben sekali dia peduli dengan Bella.
Sebenarnya bukan Bella yang dia pedulikan, akan tetapi anak yang saat ini ada didalam kandungan Bella lah yang dia pedulikan. Vito sadar jika anak dalam kandungan Bella tidak salah, dia ada juga karena dirinya. Biarpun membenci Bella namun tidak untuk membenci calon anaknya.
"Bella... Bella.. Bella... Sayang."Lirih suara Baskoro dengan pelan menyerukan nama Bella dengan posisi mata masih tetap terpejam.
Deegghhhh
Semua orang yang ada di ruangan itu langsung terdiam dan menoleh kearah Baskoro semua. Justru Bella terlihat gugup dan tidak nyaman, papanya bisa saja menghancurkan semuanya saat ini juga.
"Papa sudah siuman? Tapi kenapa justru nama Bella yang dipanggil?."Tanya Bella pura-pura tidak tahu apa-apa
"Iya nih kok papa memanggil kamu, Bel? Bukannya mama yang seharusnya papa panggil." Seru Vito dengan wajah keheranan.
"Sudah biasa Vito. Papa nya Bella memang sangat dekat dengan Bella, dan dia itu sayang sekali dengan Bella. Jadi mama sudah tidak kaget lagi."Ucap Leni menjelaskan.
Vito hanya mengangguk pelan, namun dia masih merasa ada sesuatu yang tidak wajar. Apalagi Baskoro hanya ayah sambung sehingga kedekatannya tidak lazim. Terlebih Baskoro juga sering datang kerumahnya di saat dia tidak ada dirumah.
"Papa, apa kamu bisa mendengar suara mama? Papa pasti sudah siuman kan? Yuk pa, buka matanya."Seru Leni sembari mengusap lengan Baskoro.
"Bella sayang."Seru Baskoro tetap nama Bella yang dia panggil.
Bella sangat-sangat ketakutan, sehingga dia memilih mundur dan duduk di sofa. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.
*Bodoh ! Kenapa papa malah terus memanggil nama ku,kalau mama dan Vito curiga bagaimana?.*Gumam Bella dalam hati.
************
Maaf ya kak baru bisa up 🙏🙏 Soalnya baru bisa buka akun, Hp yang biasa Author pakai hilang. Tapi alhamdulillah akun bisa kebuka di Hp yang ini, seharian mengutak - atik akhirnya bisa juga.
__ADS_1