
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Kelly datang ke kantor untuk meminta pekerjaan dengan David, David malas menanggapi adik sepupunya itu sehingga dia meminta Rendi untuk mengurusnya. Bukan David tidak tahu tentang perasaan Kelly kepadanya, namun David tidak mau memberi harapan untuk Kelly. Terlebih David sudah menikah dengan Nia, jika belum menikahpun dia tidak akan mau dengan Kelly.
"Kak David, aku datang kesini itu karena aku ingin bertemu juga dengan kak David kenapa malah suruh si Rendi sih."Seru Kelly dengan bahasa manjanya.
"Rendi cepat kamu urus dia dan tempatkan dia di posisi yang masih kosong. Kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan, ingat jangan mentang-mentang dia adik sepupuku kamu segan dengan dia."Ucap David dengan bahasa yang cukup tegas.
"Baik Tuan."Jawab Rendi dengan patuh.
"Mari nona Kelly ikut dengan saya, saya akan mengantatkan anda ke ruang kerja anda. Jika anda serius untuk bekerja apapun posisi yang kami berikan, saya harap anda tidak protes."Seru Rendi dengan tegas.
"Heehhh kamu ini cuma bawahan kak David !! Jangan macam-macam dan seenaknya kamu, aku bisa meminta kak David untuk memecatmu sekarang juga."Seru Kelly dengan sombongnya.
"Kelly !!! Jaga mulut kamu !! Jika kamu mau seenaknya di perusahaan ku lebih baik kamu pergi dari sini. Aku tidak sudi memperkerjakan orang tidak berkompeten dan tidak tahu adab sepertimu. Jangan mentang-mentang kamu itu adik sepupuku kamu mau seenaknya ? Oh tidak bisa begitu, meskipun kamu sepupuku kamu harus bersikap seperti karyawan pada umumnya dan kamu harus patuh serta hormat kepadaku dan Rendi. Paham !!!."Teriak David dengan lantang.
David kesal dan geram dengan tingkah adik sepupunya itu, bisa-bisanya dia bersikap arogant dan kurang ajar. Miska yang adik kandungnya saja tidak pernah membanggakan harta yang mereka miliki. Justru Miska menyembunyikan jati dirinya dari khalayak ramai.
Wajah Kelly langsung memucat ketakutan, selama ini dia memang selalu bersikap seenaknya dan manja dengan David. Dan baru kali ini David memarahinya sampai membentaknya, ada Rendi juga dihadapan mereka.
"Iya paham kak."Jawab Kelly takut-takut.
Rendi mengajak Kelly keluar dari ruangan David menuju meja kerja yang akan di tempati oleh Kelly. Saat menuju meja kerjanya, Kelly berjalan dengan sangat angkuhnya dan itu bisa dilihat oleh Rendi. Rendi hanya melirik sekilas dengan senyum acuh tak acuhnya.
"Ini mejs kerja kamu, jangan protes ! Jika kamu memang niat bekerja kamu bekerjalah dengan baik. Jika kamu hanya ingin main-main dan menganggu tuan David atau mencari perhatian dari Tuan David lebih baik kamu pulang saja."Ucap Rendi serius.
"Apa-apaan sih kamu ini? Kenapa aku di tempatkan sebagai staff biasa seperti ini? Aku ini kekuarga dari pemilik perusahaan, jadi jangan sembarangan kamu. Aku akan protes dengan kak David biar kamu dimarah karena sudah kurangajar !."Seru Kelly tidak terima dengan pekerjaan yang diberikan oleh Rendi.
__ADS_1
Rendi menempatkan Kelly di Devisi keuangan, sebagai salah satu staff keuangan. Saat ini hanya bagian itu saja yang kosong. Itupun karena staff nya sedang cuti melahirkan sehingga untuk sementara waktu Kelly yang menggantikan.
"Oh silahkan, kamu kira aku takut dengan ancaman mu itu? Apa kamu lupa apa yang tadi Tuan David katakan dengan mu saat diruangannya. Jika kamu menolak posisi ini lebih baik kamu pergi saja."Ucap Rendi dengan ketus.
"Perhatian semuanya. Ini Kelly, dia adalah staff baru di devisi keuangan. Kalian ajari dia sampai dia bisa, jika dia berulah atau tidak mau kerja kalian langsung laporkan kepadaku. Jangan takut dan sungkan untuk menegurnya jika dia salah. "Seru Rendi.
"Siap Tuan."Ucap semua karyawan devisi keuangan dengan serentak.
Setelah bicara seperti itu Rendi meninggalkan ruangan devisi keuangan. Kelly masih tetap berdiri di samping meja kerjanya, dan tidak ada keinginan untuk duduk dan langsung bekerja.
*Ini suatu penghinaan untuk ku. Bisa-bisanya aku dipekerjakan sebagai karyawan biasa. Padahal aku sudah berharap ingin menjadi salah satu menejer di perusahaab ini tapi kenapa justru semuanya kacau begini.*Gumam Kelly dalan batinnya.
************
Siang hari ini adalah arisan pertama kali yang diikuti Nia bersama para wali murid sekolah Nada. Ada sekitar 28 wali murid saja yang ikut, memang pada dasarnya 1 kelas Nada hanya berjumlah 28 siswa. Setelah jam prakteknya selesai, Nia segera melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah dijanjikan.
"Huhh katanya acara arisannya setiap dua minggu sekali mengambil di weekend tapi kenapa ini di hari kerja sih? Hemm ya sudah aku datang begini saja tanpa mengganti bajuku."Seru Nia bermonolog pada dirinya sendiri.
"Haii Mamanya Nada, sini."Seru ibu Jelita memanggil Nia.
Nia mengangguk lalu dengan cepat dia berjalan menuju perkumpulan para ibu-ibu yang sudah ramai. Disana ada beberapa ibu-ibu yang membawa serta anaknya, bahkan masih memakai pakaian sekolah. Bisa jadi mereka memang dari jemput sekolah langsung ke Restoran.
"Maaf ya ibu-ibu semuanya saya terlambat. Soalnya jam praktek saya baru selesai jam 12 tadi, lagipula kenapa jadwalnya dirubah? Bukannya seharusnya masih dua hari lagi ya jadwal kita arisannya?."Tanya Nia dengan wajah heran.
"Maaf ya mamanya Nada. Ini memang acaranya dadakan, soalnya Jeng Sulis hari ini ulang tahun jadi dia meminta arisannya di majukan sekalian merayakan ulang tahunnya."Seru ibu Hani menjelaskan.
"Oh begitu. Beruntung sekali hari ini saya praktek sampai siang saja, sebab setiap kamis saya memang sampai jam 12 saja."Ucap Nia lagi.
"Maaf ya mamanya Nada, tadi aku memang yang meminta acaranya di adakan sekarang. Mana dadakan lagi."Seru ibu Sulis merasa tidak enak.
"Iya bu tidak apa-apa. Lagian saya juga sudah free kok siang ini, cuma belum sempat ambil uang saja jadi saya transfer saja ya uang arisannya."Seru Nia memang tidak membawa uang Kas dengan banyak.
Di dompet Nia hanya ada 2 juta saja, dan arisan 10 juta sudah pasti itu kurang. Ibu Jelita senyum-senyum, sepertinya dia ada cara untuk menyombongkan diri didepan para ibu-ibu yang lain.
__ADS_1
"Hemm bagaimana ya, soalnya arisan ini sistem kocokan jadi kita belum tahu siapa yang dapat kan. Kalau mamanya Nada transfernya nanti berarti mamanya Nada belum bayar dong? Jadi kalau misal namanya keluar ya batal dapatnya? Kalau di transfer juga bingung mau transfer ke siapa? Emm.. Begini mbak Nia, ehh kami panggil mbak saja ya soalnya mbak kan masih muda banget. Ini saya ada uang Kas kok, mbak Nia pakai ini saja nanti mbak Nia tinggal transfer sama saya."Seru ibu Jelita dengan senyum sombongnya.
Secara tidak langsung dia menunjukan kepada ibu-ibu yang lain jika dia banyak uang. Dan menunjukan jika dia orang yang benar-benar kaya.
"Di transfer ke Bandar nya juga bisa loh Jeng Jelita. Bandarnya kan Jeng Hani, nanti nanti siapa yang dapat tinggal jeng Hani yang transfer."Seru ibu Sulis.
"Sudah saya pinjam uang kas nya ibu Jelita saja, setelah itu langsung saya transfer."Ucap Nia tidak mau ribet.
"Transfer besok-besok juga tidak apa-apa kok mbak, Nia. Siapa tahu mbak Nia lagi butuh uang itu, jadi tidak apa-apa pakai saja uang saya."Seru ibu Jelita menganggap Nia remeh.
Mereka tidak ada yang tahu siapa Nia, jika mereka tahu Nia yang sesungguhnya apa berani di antara mereka menyombongkan diri dihadapan Nia. Namun Nia tidak mau membuka jati dirinya, lagi pula dia memang tidak gila dihormati. Dia lebih nyaman dengan pertemanannya yang sekarang ini.
"Lagi pula suami saya sekarangkan sudah di angkat menjadi menejer, jadi gajinya sekarang lebih besar. Uang 10 juta gampang bagi saya, Perusahaan Widjaya Group kan gajinya memang besar."Ucap ibu Jelita sombong dan memamerkan pekerjaan suaminya.
"Tidak bisa begitu dong bu, saya ada kok uangnya jadi saya langsung transfer saja ya bu. Ibu sebutin saja nomor rekeningnya langsung saya transfer."Ucap Nia dengan ramah dan sopan.
Sebenarnya bisa saja Nia mengambil uang di ATM yang ada tidak jauh dari restoran itu. Namun Nia tidak mau ribet dan lebih mencari yang cepat saja.
Akhirnya ibu Jelita menyebutkan nomor rekeningnya dan Nia mengetiknya. Setelah urusan pembayaran arisan selesai, mereka semua mulai makan siang terlebih dahulu sebelum arisan di kocok. Untuk hari ini ibu Sulis yang mentraktir ibu-ibu itu, makanan yang dipesan oleh ibu-ibu yang lainnya harganya cukup fantastis bahkan ada yang 1 porsi dengan harga 350 ribu. Nia hanya memesan nasi goreng dan jus mangga saja yang di bandrol seharga 95 ribu.
*Duh kasihan ibu Sulis nih, dia sepertinya terlihat was-was. Pasti mikir tagihan makanan yang pasti akan habis setara dengan uang arisan nya. Aku yakin pasti ini yang milih tempat ibu Jelita dan Ibu Hani. Biasanya arisan seperti ini lebih cocok dan nyaman di rumah makan saung, yang pondokan dan duduknya lesehan. Duduk lesehan lebih nyaman dan lebih praktis.*Gumam Nia dalam batinnya.
"Mbak Nia kenapa cuma pesan nasi goreng sama jus mangga saja. Kenapa tidak pesan makanan yang lainnya, ada steak, ada sop iga dan ada makanan barat yang lainnya. Pesan saja mbak, mumpung gratis alias dibayarin sama jeng Sulis."Ucap ibu Hani yang memang aji mumpung.
"Tidak bu, ini saja sudah cukup dan sudah kenyang. Apalagi saya memang tidak begitu suka makan, makanan darat. Untuk sefod pun saya tidak bisa makan, karena alergi."Seru Nia menolak secara halus.
Nia cukup tahu diri dan sadar diri, dia tidak mungkin akan menggunakan kesempatan itu sebagai aji mumpung seperti ibu-ibu yang lainnya. Ada juga sih di antara mereka yang memesan menu dengan harga standar, belum juga ada 12 anak-anak yang ikut makan.
*Kasihan ibu Sulis. Hemm sepertinya kali ini biar aku saja yang traktir mereka sebagai tanda perkenalan ku dengan mereka semua. Kasihan kalau semua di tanggung ibu Sulis. Sepertinya ibu Sulis ini orangnya baik dan tidak suka pamer.*Gumam Nia dalam batinnya.
Mereka semua sedang menghabiskan makanan yang mereka pesan secara masing-masing. Ada yang sudah selesai dan ada juga yang belum selesai. Nia sendiri saat ini sudah selesai makan dan meminum jus mangganya. Selesai makan nasi goreng tidak afdhol jika tidak minum air putih terlebih dahulu. Nia memanggil pelayan untuk meminta 1 botol air mineral.
*************
__ADS_1