
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Dua bulan berlalu
Kemarin lusa, Miska sudah wisuda dan mulai hari ini dia resmi menyandang sebagai direktur rumah sakit menggantikan Pak Irawan. Sampai saat ini pun belum ada yang tahu jika Miska adalah anak ke dua dari Pak Widjaya. Banyak kasak kusuk para dokter dan perawat, mereka setengah tidak setuju jika Miska menggantikan Pak Irawan.
" Ada apa dokter Sari?."Tanya Pak Irawan.
Dokter Sari adalah dokter yang menginginkan jabatan direktur di rumah sakit itu. Menurutnya dia lebih berhak sebab dia adalah anak dokter senior di rumah sakit itu yang mana keluarganya juga punya peran penting di rumah sakit itu.
" Pak Irawan kenapa memberikan jabatan direktur kepada anak baru itu? Padahal aku di rumah sakit ini sudah 5 tahun, dan papaku juga dokter senior di rumah sakit ini yang sudah mengabdikan setengah hidupnya di rumah sakit ini. Meskipun saat ini papa sudah pensiun, tapi beliau punya peran penting di runah sakit ini."Seru dokter Sari memprotes keputusan pak Irawan.
" Semua ini bukan keputusan saya, dokter Sari. Semua ini sudah menjadi keputusan bersama antara saya dan pemilik rumah sakit ini. Jika dokter Sari ingin protes, dokter bisa sampaikan langsung kepada Tuan David atau Tuan Widjaya. Hemm.. Lagipula di rumah sakit ini ada dokter Nia, istri dari Tuan David. Seharusnya dia yang lebih berhak, tapi karena dokter Nia tidak mau jadi kami limpahkan kepada Miska. Dia lebih berhak dan lebih pantas daripada dokter Sari." Ucap pak Irawan memberikan pengertian kepada dokter Sari.
Dokter Sari tetap saja tidak terima, sebab yang dia tahu Miska adalah anak magang yang memang dari dulu sudah dekat dengan pak Irawan. Dokter Sari berfikir buruk, dia mengira Miska adalah simpanan dokter Irawan yang sengaja mendekati dokter Irawan untuk mendapat apa yang dia mau.
" Papa ku punya saham disini, meskipun hanya 15 persen. Papa itu teman dari Tuan Widjaya dan papa ku juga punya peran penting di rumah sakit ini. Dia ikut berdedikasi di rumah sakit ini dari awal rumah sakit ini berdiri. Kenapa bisa dokter magang itu yang bisa menjadi direktur?.""Seru dokter Sari membanggakan papanya.
Papa dari dokter Sari adalah teman dari Pak Widjaya, yang sudah bekerja di rumah sakit dari awal rumah sakit berdiri. Dan hampir setengah dari umurnya sekarang, beliau mengabdi di rumah sakit. Dan saat pensiun 7 tahun yang lalu, pak Widjaya memberikan saham sebesar 15 persen sebagai bentuk terimakasih dari pak Widjaya.
__ADS_1
" Miska lebih berhak daripada anda dokter Sari."Ucap pak Irawan dengan tegas.
" Apa karena anda dan Miska ada main? Hemm aku tahu pasti ini akal-akalan anda saja."Ucap dokter Sari bicara dengan tersenyum sinis.
" Lancang sekali mulut anda dokter Sari !! Jika anda tahu siapa Miska anda akan menyesal !! Untuk saham 15 persen Ayah anda, bisa kami ambil alih kapan saja. Ingat, anda itu seorang dokter dan anda sudah disumpah. Jadi sekarang lebih baik anda kembalilah bekerja dan jangan mengusik apa yang sudah kami tentukan."Seru pak Irawan tetap bersikap tegas kepada dokter Sari.
Dokter Sari tidak bisa menjawab lagi, dia pun meninggalkan ruangan dokter irawan dengan perasaan kesal. Menjadi pimpinan rumah sakit adalah keinginannya dari dulu, namun siapa sangka jika keinginannya itu pupus karena kehadiran Miska.
Sementara itu di ruangannya, pak Irawan masih tersulut amarah karena tuduhan dari dokter Sari tadi.
" Bisa-bisanya dia menuduhku ada main dengan Miska. Apa dia tidak tahu jika Miska itu anak dari kakak ku, Karmila istri Tuan Widjaya. Hemm Miska, Miska ini semua karena kamu menyembunyikan jati diri kamu makanya ada beberapa orang yang tidak mengetahui identitas kamu."Ucap pak Irawan.
Pak Irawan kembali membereskan barang-barangnya, karena besok ruangan itu sudah mempunyai penghuni barunya, yaitu Miska.
Selama 13 tahun menjadi pemimpin rumah sakit, bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal yang sudah pak Irawan lalui. Menjadi dokter spesialis jantung sekaligus direktur rumah sakit. Genap 22 tahun pak Irawan mendedikasikan dirinya di rumah sakit itu dan hari ini dia sudah menyerahkan kembali rumah sakit kepada yang berhak.
********
Nia dan Miska saat ini sedang makan siang si cafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Meskipun sudah resmi menjabat direktur rumah sakit, Miska hari ini hanya pengesahan saja. Besok dia akan mulai masuk sebagai dokter dan direktur rumah sakit.
" Kenapa masih saja identitas kamu di tutupi Miska, jika mereka tahu. Pasti mereka tidak akan berfikir negatif tentang kamu. Kelihatan nya tadi ada beberapa dokter yang kurang suka sama jabatan kamu."Ucap Nia sambil mengunyah nasi gorengnya.
" Salah satunya dokter Sari. Kalau dia itu memang sins terus dari aku masih magang dulu. Kak Nia pasti sudah tahu alasanku, aku paling tidak suka dengan orang-orang yang munafik kak. Dengan mereka tidak tahu aku begini, kita bisa melihat mana yang tulus dan mana yang hanya modus sama kita."Ucap Miska dan semua itu juga dibenarkan oleh Nia.
" Kamu memang benar sih. Emm jadi mulai besok kamu sudah bertugas di rumah sakit? Kamu kuat-kuatkan hati dan mental, pasti ada saja orang yang nantinya akan bicara buruk. Mereka sengaja ingin menjatuhkan kamu, tapi jika nanti ada yang sudah keterlaluan. Aku tidak akan segan-segan untuk memberitahu mereka siapa kamu yang sebenarnya."Ucap Nia yang ingin melindungi adik iparnya yang cantik dan imut itu.
__ADS_1
Miska mengangguk dengan cepat, Miska bersyukur mempunyai kakak ipar yang baik dan pengertian. Terlebih mereka juga satu profesi, membua Miska semakin menyayangi kakak iparnya itu.
Di tempat lain, Vito berusaha menemui Rindi. Semenjak pertemuannya 2 bulan yang lalu dimana Vito yang mengakui Rindi sebagai pacarnya didepan Bella dan Leni, Vito sering mengajak Rindi untuk makan siang namun selalu Rindi tolak.
" Mau apa lagi sih kamu datang kesini? Aku sudah bilang jangan datang lagi ketempat kerjaku karena aku tidak nyaman dengan kehadiranmu. Kamu ini paham tidak sih apa yang aku katakan?." Tanya Rindi dengan kesal.
" Rindi !! Aku hanya ingin mengajak mu makan siang saja. Maaf kalau kedatanganku sudah mengganggu kamu. "Seru Vito.
Rindi nampak berfikir sejenak, sepertinya tidak ada salahnya jika kali ini dia menerima ajakan Vito untuk makan siang. Mungkin setelah ini juga Rindi sudah tidak mau lagi bertemu ataupun makan bareng Vito. Dia tidak mau membuat hatinya semakin tidak menentu.
" Baiklah, aku ikut kamu makan siang. Kebetulan siang ini aku memang hanya sampai jam makan siang saja. Kita makan di cafe XX saja, kamu bawa mobil kamu dan aku bawa mobil ku sendiri. Mobilku memang tidak semewah mobil kamu, jadi kalau kamu malu lebih baik batalkan saja."Seru Rindi melirik kearah mobil yang baru dia beli 3 bulan yang lalu.
" Oh tidak, aku tidak malu."Seru Vito dengan cepat.
" Kirain kamu malu. Ya sudah sana kamu duluan saja,aku ikuti mobil kamu dari belakang."Seru Rindi.
Vito hanya mengangguk dengan cepat, baginya yang penting Rindi mau menerima ajakan makan siangnya. Dengan cepat Vito masuk mobilnya dan melaju menuju cafe yang sudah mereka sepakati tadi.
" Aku kenapa ya akhir-akhir ini selalu memikirkan Rindi dan jantung ini juga selalu berdesir saat aku mengingatnya. Apa aku sudah jatuh cinta dengan Rindi? Oh Tuhan, apa yang sebenarnya yang terjadi dengan hatiku?." Ucap Vito bermonolog sendiri.
Tanpa terasa mobil yang dia kendarai sudah sampai di cafe yang dia tuju. Rindi nampak turun dari mibilnya lebih dulu,dia ingin cepat masuk ke cafe karena ingin ke toilet lebih dulu.
" Kamu cari meja saja dulu, aku mau ke toilet."Ucap Rindi lalu dia berjalan cepat meninggalkan Vito.
***********
__ADS_1