
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Hesti dan Bella hanya bisa menunduk ketakutan, mereka berdua benar-benar tidak menyangka jika Vito bisa mengetahui rahasianya secepat itu. Tidak ada yang bisa dia sembunyikan lagi, Vito sudah terlanjur tahu dan tidak bisa mengelak lagi.
"Jadi kejadian di hotel dan kecelakaan ibu Karti itu ulah mama dan Bella?." Seru Vito lagi.
"Maafkan mama, Vito. Mama melakukan itu karena terpaksa dan mama tidak mau mempunyai menantu miskin seperti Nia. Mama malu mempunyai menantu seperti dia."Jawab Hesti dengan terpaksa dia mengakui kesalahannya.
Brraakkkk Praanggg
Vito kembali membanting barang-barang yang ada di atas rak dekat pintu kamar kerjanya. Vito tidak terima dengan apa yang sudah dilakukan oleh mama nya. Seandainya mamanya tidak menjebak Nia, sudah pasti saat ini dia dan Nia sudah menikah dan hidup bahagia. Namun justru kini dia menikah dengan Bella, wanita yang sama sekali tidak dia cintai.
"Soal penjebakan di hotel itu aku tidak tahu, Sayang. Aku dikasih tahu mama sehari setelah penjebakan itu. Tapi kalau yang kecelakaan itu memang kami berdua yang merencanakannya. Maafkan aku sayang, aku menyesal. Aku juga melakukan itu karena kesal, wanita masih saja kamu fikirkan."Ucap Bella mencoba membela diri.
Mendengar pembelaan Bella, Vito terlihat semakin kesal. Sudah salah masih saja membela diri dan tidak mau disalahkan. Vito mendekati Bella dan mencengkram lengan Bella dengan kuat sampai Bella meringis kesakitan. Melihat menantu tersayangnya di sakiti membuat Hesti langsung bertindak dengan memarahi dan mengancam Vito.
"Vito !! Jangan sakiti Bella ! Dia itu istri kamu dan sedang hamil anak kamu. Anak yang dikandung Bella itu yang akan menjadi pewaris di keluarga kita. Jika kamu masih saja menyakiti Bella, lebih baik mama mati saja !."Sentak Hesti mengancam Vito.
Aarrggghhhhh
Vito berteriak sembari melepaskan lengan Bella, lengan Bella memerah dan masih terasa sakit. Vito tidak akan tinggal diam dan tidak akan mau terus-terusan diperalat dan dikendalikan oleh mamanya.
"Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikanmu !!."Bentak Vito sembari menunjuk ke arah Bella.
Deegghhhhh
Jantung Bella tidak aman, dia tidak mau sampai Vito menceraikannya. Dia sangat mencintai Vito dan tidak mau berpisah dengan Vito.
"Tidak !! Aku tidak mau kita bercerai, Vito. Apa kamu tidak kasihan dengan anak kita? Dia membutuhkan sosok orang tua yang lengkap, pokoknya aku tidak akan pernah mau bercerai."Ucap Bella tidak setuju dengan keputusan dari Vito.
"Kamu jangan takut, aku tetap akan menafkahi anak itu meskipun anak itu anakku atau bukan."Seru Vito tersenyum sinis kearah Bella.
Plaakk Plaakk
Dua tamparan mendarat di pipi Vito, meskipun Bella yakin jika anak yang dia kandung adalah anak Baskoro. Namun, Bella tetap mempertahankannya sebagai anak Vito. Bella tidak terima saat Vito mengatakan anak itu anaknya atau bukan.
"Vito !! Mama tidak pernah mengajarkan mu untuk kurangajar seperti ini. Bella itu istri kamu dan sudah pasti anak yang dia kandung anak kamu. Mama tidak menyangka ya jika kamu akan sepicik ini, dengan meragukan anak kandungmu sendiri."Ucap Hesti dengan menatap tajam Vito.
"Haaa Haaaaa. Aku seperti ini juga karena mama, mama juga yang mengajarkan aku untuk licik dan pijik. Oh iya asal mama tahu, saat aku menikah dengan Bella, Bella itu sudah tidak perawan lagi alias sudah super longgar."Seru Vito melirik tajam Bella yang sedang bersandiwara menangis.
"Jaga mulut kamu, Vito ! Saat menikah memang aku sudah tidak perawan lagi dan itu juga karena kamu ! Kamu yang sudah mengambilnya saat kamu mabuk malam itu. Jadi jangan pura-pura bodoh kamu, Vito."Ucap Bella membela diri.
"Oh ya? Aku memang menidurimu saat aku mabuk, tapi aku bukan mati rasa. Aku masih bisa membedakan mana yang bersegel dan mana yang tidak. Bella, Bella sudahlah jangan lagi berkelak untuk membela diri. Semakin kamu mengelak, semakin kamu kelihatan bohongnya."Ucap Vito dengan intonasi bicara yang terdengar menakutkan.
Hesti baru tahu jika sebelum menikah Vito pernah meniduri Bella. Bahkan dalam keadaan mabuk, Hesti tidak menyangka jika Vito pernah mabuk-mabukan. Selama ini Hesti tahu jika Vito tidak pernah menyentuh minuman beralkohol.
"Jadi kamu pernah mabuk dan meniduri, Bella? Atau jangan-jangan ini memang ajaran dari mantan pacarmu yang miskin itu? Kamu juga pasti sudah tidur dengan wanita itu, jadi tidak salah dong dia menyandang predikat wanita murahan. Atau kemungkinan dia wanita simpanan Om-om itu juga benar?."Seru Hesti justru masih saja beranggapan Nia itu buruk.
Vito hampir saja menampar mamanya, dia sudah mengangkat tangannya untuk menampar sang mama. Namun seketika itu dia urungkan, karena dia teringat wanita yang akan dia tampar adalah mama nya sendiri.
__ADS_1
"Tampar !! Ayo tampar mama, Vito. Jangan kira mama takut sama kamu ! Mama peringatkan sama kamu, jika kamu sampai menceraikan Bella ! Kamu yang akan melihat mayat mama tergeletak, mama lebih baik mati daripada mama kehilangan cucu dan menantu kesayangan mama. Camkan itu, Vito !!."Ucap Hesti mengancam Vito.
Dalam hati Bella, saat ini dia sedang berbangga hati karena mama mertuanya membela nya. Sudah dapat dipastikan jika Vito tidak akan meninggalkannya.
Vito meninggalkan mamanya dan Bella, dia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan sangat kuat.
Brrrraaaakkkk
Hesti dan Bella sampai berjingkrak kaget, dengan ulah Vito. Tidak lama dari itu Vito keluar kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Bella penasaran ingin kemana perginya sang suaminya.
"Sayang kamu mau kemana?."Tanya Bella dengan suara yang sangat mesra namun membuat Vito semakin muak.
"Bukan urusan kamu."Jawab Vito dengan ketus.
"Jangan bicara seperti itu Vito, Bella itu istri sah kamu dan saat ini sedang hamil. Kamu tidak semestinya marah dan pergi begitu saja, jika ada masalah itu dibicarakan baik-baik. Tidak dengan pergi serta menghindar seperti ini."Ucap Hesti mencoba menasehati Vito.
"Bagaimana aku tidak pergi menghindar jika sumber masalahnya itu dari kalian berdua. Jadi jangan salahkan Vito. Saat ini aku ingin menenangkan diri dan jangan mengangguku."Ucap Vito sangat tegas.
Vito melangkah menjauh keluar rumah mengampiri mobilnya yang ada di depan rumah. Padahal dia ingin menggunakan hari liburnya dengan menyelesaikan pekerjaan kantor yang cukup menumpuk. Namun bukannya konsentrasi yang dia dapat, akan tetapi justru kenyataan dan fakta baru yang dia dapatkan.
"Ma, bagaimana kalau Vito benar-benar menceraikanku. Aku tidak mau jika anakku ini tanpa Ayah."Seru Bella dengan perasaan yang sudah tidak karuan.
"Kamu tenang saja, Bella sayang. Vito tidak akan menceraikanmu, kamu percaya saja sama mama. Untuk saat ini kita biarkan dulu Vito menenangkan dirinya. Lebih baik sekarang kita kerumah sakit untuk menjenguk papa kamu. Sudah 3 hari dirawat di rumah sakit, mama sama sekali belum menjenguk papa kamu."Seru Hesti mencoba menenangkan Bella.
"Hemm iya ma. Ya sudah Bella siap-siap dulu ya ma. Nanti pakai mobil sendiri-sendiri saja ya ma, nanti Bella tinggal dirumah sakit dulu. Kalau dirumah malah Bella kefikiran masalah ini jadi lebih baik Bella menemani papa saja dirumah sakit."Ucap Bella beralasan, padahal dia ingin berduaan dengan papanya. Mamanya pasti akan datang saat sore hari.
"Iya sudah. Sana kamu siap-siap, mama tunggu di depan ya."Ucap Hesti.
Bella mengangguk lalu dia bangkit dan masuk kekamarnya untuk mengganti pakaiannya. Setelah 5 menit Bella sudah keluar kamar dan menghampiri mama mertuanya yang sudah menunggu di depan.
Saat ini Vito sedang ada di perjalanan menuju rumah ibu Karti. Dia ingin meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh mamanya, serta dia juga ingin meminta maaf jika selama ini dia sudah berburuk sangka terhadap Nia.
"Aku tidak peduli jika ibu akan marah dan menolak permintaan maafku. Aku hanya ingin meluruskan kesalah pahaman ku selama ini. Ternyata Nia tidak seburuk yang aku kira. Pantas saja hati kecilku selalu berkata jika Nia wanita yang tepat untuk aku jadikan istri. Seandainya Nia belum menikah, aku pasti akan bisa menyakinkan hatinya lagi."Ucap Vito terus bermonolog pada dirinya sendiri.
Vito menyesali semua perbuatannya dan semua tuduhannya terhadap Nia. Bahkan dia sempat menampar Nia, semua yang dia tuduhkan tidaklah benar. Semua hanya rekayasa dari mamanya sendiri.
Mobil Vito sampai di depan rumah ibu Karti, Vito turun dari mobil dan berjalan mendekati pintu gerbang. Pintu terkunci sudah dipastikan tidak ada orang didalam rumah.
"Cari siapa mas?."Tanya seorang perempuan menegur Vito.
"Ehhh.. Mbak Tari. Ini mbak aku mencari ibu Karti, kira-kira dia ada atau tidak ya? Tapi pintu gerbangnya terkunci."Ucap Vito yang ternyata mengenali wanita yang menghampirinya itu.
"Oh Vito , mbak kira tadi siapa. Ibu Karti tidak ada dirumah, dia kemarin kerumah Nia dan menginap disana. Mungkin saat ini dia juga masig disana. Memangnya ada apa kamu mencari ibu Karti?."Tanya Tari sedikit heran dengan Vito.
"Tidak ada apa-apa mbak. Hanya ingin main serta silahturahmi saja. Ya sudah kalau memang ibu tidak ada, Vito akan pulang saja mbak. Mungkin besok-besok saat ibu sudah pulang aku akan datang lagi."Ucap Vito ramah.
"Iya."Jawab Tari singkat.
Vito masuk ke mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah ibu Karti. Dia tidak akan pulang, dia masih ingin kesuatu tempat untuk menenangkan diri. Saat ini untuk sementara dia akan menghindari mamanya serta Bella.
Vito menuju salah satu penginapan yang ada di daerah danau hijau. Di danau itu dulu dia dan Nia sering menghabiskan waktu saat weekend. Di daerah danau hijau itu juga ada penginapan jadi untuk sementara Vito akan menginap disana untuk beberapa hari.
Sementara itu saat ini Bella dan mama mertuanya sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk Baskoro. Baskoro sangat senang akhirnya Bella datang menemuinya meskipun dia datang dengan mertuanya.
"Katanya kamu tidak bisa datang kesini, Sayang?."Tanya Baskoro sedikit berbisik.
__ADS_1
"Sudah diam dulu jangan banyak bertanya. Nanti mama Hesti akan menaruh curiga."Ucap Bella penuh penekanan.
Hesti tidak tahu apa yang dibicarakan antara Bella dan papanya sebab saat ini dia sedang duduk di sofa sembari membalas pesan dari salah satu teman arisannya.
"Em.. Bella sayang. Sepertinya mama tidak bisa lama-lama nih. Ini teman mama baru saja kasih kabar kalau mereka sedang kumpul disalah satu restoran, mama mau kesana dulu ya. "Ucap Hesti dan disambut senang oleh Baskoro.
Dengan Hesti pergi, berarti dia bisa berduaan dengan Bella. Hal itu yang sedari tadi di tunggu-tunggu oleh Baskoro, sebab ada sesuatu hal yang membuat dia sudah tidak tahan.
"Iya ma tidak apa-apa. Terimakasih sudah mau jengukin papa dan bawain buah dan makanan untuk papa."Ucap Bella.
"Terimakasih Bu Hesti."Ucap Baskoro juga ikut mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama Bella, pak Baskoro. Semoga pak Baskoro cepat sembuh ya, ya sudah kalau begitu saya permisi duluan."Ucap Hesti lalu berpamitan.
Hesti cepat-cepat keluar kamar rawat Baskoro dan dia akan langsung menghampiri teman-temanya di restoran yang tidak jauh dari rumah sakit. Hanya butuh waktu 10 menit saja Hesti akan sampai di restoran itu.
Kini di dalam kamar rawat Baskoro, tinggallah Baskoro dan Bella saja. Baskoro senyum-senyum sendiri sembari memandang penuh hasrat ke arah Bella.
"Bella sayang tolong kunci pintu nya."Ucap Baskoro.
"Kenapa di kunci pa? Nanti kalau ada suster atau dokter datang bagaimana?."Tanya Bella dengan wajah keheranan.
"Tidak akan. Tadi dokterkan sudah datang, dia akan datang lagi nanti sore sekitar jam 5. Oh iya katanya 2 hari lagi papa sudah boleh pulang, sekarang cepat kamu kunci pintunya. Papa sudah tidak tahan lagi ini, Bella."Ucap Baskoro dengan suara tegas.
Bella pun mengikuti apa mau papanya, dia berjalan mendekati pintu dan menguncinya. Setelah itu dia kembali duduk di kursi yang ada didekat ranjang papanya.
"Bella sudah berhari-hari papa tidak mendapatkan hak papa baik dari kamu maupun dari mama kamu. Papa sekarang sangat menginginkannya Bella."Ucap Baskoro dengan wajah memelas.
"Papa jangan gila !! Ini dirumah sakit. Nanti kalau ada yang melihatnya bagaimana? Lagipula papa juga sedang sakit, luka-luka papa juga belum sembuh. Lihat tuh masih ada selang infus juga di tangan."Seru Bella agak kesal dengan papanya.
"Tidak akan ada yang tahu Bella, ini aman. Pintu juga sudah tertutup kan? Ayolah Bell, bantu papa agar papa tidak stress. Jujur papa bisa stress kalau tidak melepaskan ini, bantu papa ya sayang? Bella kan anak yang pintar dan pandai, serta pintar memuaskan papa dan senjata papa. Terserah kamu mau bagaimana, yang penting bisa keluar agar tidak papa tahan-tahan lagi."Ucap Baskoro memaksa Bella.
Bella sudah tahu maksud papanya, apalagi kalau bukan servise senjatanya saja. Tidak berlama-lama, Bella akhirnya mengiyakan permintaan papanya.
"Baiklah, tapi cukup keluar sekali saja ya pa."Ucap Bella tidak bisa lagi menolak permintaan papanya.
"Iya sayang. Tapi tetap kamu tanggalkan baju mu."Jawab Baskoro dengan senang.
"Iya."Jawab Bella dengan singkat.
Bella pun mulai melepas dress yang melekat di tubuhnya. Kini dia sudah benar-benar polos, Bella mendekati Baskoro dan mulai naik ke ranjang yang lumayan besar itu. Tangan Bella mulai bergerilya dan akhirnya terpampang dengan sempurna senjata yang sudah siap tempur. Melihat itu, Bella juga tidak bisa mengendalikan hasratnya. Dia berkali-kali menelan salivanya sendiri.
"Tunggu Bella, kesini sebentar. Papa ingin itu."Ucap Baskoro menunjuk kearah bagian depan Bella.
Bella tahu apa yang diinginkan papanya, dengan senang hati Bella memberikannya. Baskoro melahap nya dengan cukup rakus, buah itu seakan ingin Baskoro telan habis-habis.
" Sssttt... Jangan di gigit pa. Gigi papa itu tajam-tajam."Seru Bella sambil meringis keenakan.
"Hemmmm..."Ucap Baskoro hanya berdehem saja.
Hanya 10 menit Baskoro melahap nya, kini dia kembali meminta Bella langsung pada tujuan permainannya. Yang awalnya Bella hanya menservise senjata saja, kini sudah berubah. Tanpa ragu Bella naik dan memegang kendali secara pelan-pelan sebab Baskoro masih terluka.
Baskoro begitu senang dan bahagia dengan apa yang dilakukan oleh Bella. Bella benar-benar tunduk dengannya.
*Padahal tadi aku hanya minta servise dengan tangan atau mulut saja, tidak menyangka Bella justru Bella melakukannya seperti ini. Hemm mana dia kuat saat melihat senjata ku yang sudah siap tempur. Bagus Bella sayang, setelah ini kamu istirahatlah. Yang penting kita sama-sama sudah puas.*Gumam Baskoro dengan senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
**********