
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Vito dan Bella saat ini sudah menempati rumah pribadi Vito. Rumah yang sengaja Vito beli saat masih berpacaran dengan Nia, rumah yang dia gadang-gadang untuk tempat tinggalnya bersama Nia. Namun semua itu sudah pupus sudah, mereka sudah memiliki kehidupan sendiri-sendiri.
"Kenapa rumahnya kecil sih, Sayang? Mana tidak bertingkat?."Tanya Bella memprotes.
"Jika kamu tidak mau tinggal disini ya sudah. Bukannya dulu kamu mau tinggal dimanapun asal bersamaku. Oh iya ini itu rumah yang aku bangun sesuai dengan keinginan Nia, bisa dibilang ini rumah impian ku dan Nia."Ucap Vito seenaknya tanpa memperdulikan perasaan Bella.
Bella terlihat mencebikkan bibirnya, dia tidak suka dengan apa yang barusan dikatakan oleh Vito. Terlebih ternyata rumah yang saat ini mereka tempati adalah rumah yang diinginkan Nia. Bella tidak bisa menerimanya, dia meminta pindah dari rumah itu.
"Aku tidak mau tinggal dirumah ini ! Kamu jahat Vito, kenapa kamu mengajakku tinggal dirumah ini. Rumah yang ternyata kamu siapkan untuk mantan pacar kamu itu."Seru Bella menolak dengan tegas.
"Terserah kamu. Sudahlah aku capek mau istirahat, oh iya dirumah ini hanya ada pembantu yang datang pagi dan pulang malam. Jadi, jika saat kamu ingin makan sesuatu atau membutuhkan sesuatu pembantu belum datang atau sudah pulang kamu harus menyiapkannya sendiri. Dan satu lagi, semua kebutuhanku harus kamu yang menyiapkannya."Seru Vito sambil menyeringai dengan sinis.
Deggghhhh
Bella langsung menatap tajam Vito, bagaimana bisa Vito memperlakukan Bella semaunya seperti itu. Bagi Bella itu sama saja Vito sudah menjadikannya pembantu, namun menurut Vito itu hal yang wajar seorang istri menyiapkan segala keperluan sang suami.
"Aku bukan pembantu kamu, Sayang."Seru Bella masih dengan suara manjanya.
"Yang bilang kamu pembantu itu siapa? Kamu itukam sudah menjadi istriku jadi tidak ada salahnya dong kamu itu mengurus dan menyiapkan segala keperluan ku. Lagipula kamu tidak memasak, tidak beberes rumah, tidak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ada pembantu yang akan mengerjakan semuanya, kamu hanya menyiapkan pakain kerjaku, semir sepatuku dan layani aku saat makan. Aku masih cukup baik memperlakukan kamu, kalau aku sudah nenyuruhmu memasak apa kamu mau?." Tanya Vito dengan kesal.
Niatnya sampai rumah dia ingin beristirahat namun justru harus berdebat dengan Bella. Menurur Vito rumah ini tidaklah kecil, memang hanya satu lantai tetapi dia mempunyai 3 kamar yang besar, ruang tamu, ruang kelurga, ruang kerja Vito, dapur, gudang dan ada kolam renang nya juga meakipun tidak besar. Halaman belakang memang luas, sengaja Vito buat halaman belakang luas. Sebab Nia dan ibunya suka berkebun, namun semua hanya tinggal cerita saja.
Vito masuk ke kamar utama dengan menarik kopernya dan diikuti oleh Bella. Kamar utama memang ukurannya lebih besar, disana ada dua lemari besar satu untuk pakaian serta barang-barang pribadi Vito dan satu lagi untuk Bella dan juga ada meja rias,serta nakas disamping kanan dan kiri ranjang.
"Dari luar kelihatannya kecil, tapi kalau sudah didalam kamar besar juga ya."Seru Bella tanpa malu mengakui kamar utama besar.
"Sudah aku mau istirahat, kamu jangan mengganggu ku. Gara-gara ulahmu semalam aku tidak bisa tidur, dan gara-gara kebodohan kamu dan teman-teman kamu aku dipecat dari Widjaya Group."Seru Vito masih kesal dengan kelakuan Bella.
"Kenapa aku yang disalahkan? Lagipula apa sih bagusnya wanita itu, wajah pas-pasan dan miskin juga. Seperti itu kok dinikahi sama pria setajir tuan David. Masih cantikan juga aku kemana-mana, mungkin saja wanita itu sudah lebih dulu naik keranjang Tuan David dan Tuan David tergoda dengan bujuk rayunya."Seru Bella tanpa berkaca dengan dirinya sendiri.
Vito terlihat mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali dia menampar mulut kurangajar Bella namun dia urungkan. Vito juga merasa aneh kenapa pria setajir dan sekaya David bisa menikah dengan Nia. Padahal wanita yang mengejar David itu rata-rata orang kaya, tetapi kenapa Nia yang dia jadikan istri.
"Jangan bahas hal yang tidak penting !!."Seru Vito dengan kasar.
"Ya sudah terserah kamu saja. Aku mau beresin pakaian ku dulu, lemariku yang mana?."Tanya Bella.
"Yang sebelah kiri. Sekalian barang-barangku kamu susun dalam lemari juga."Seru Vito memerintah Bella.
__ADS_1
Bella tidak menjawab tetapi hanya mendengus dengan kesal saja sembari melirik kesal kearah Vito. Dengan mudahnya Vito menyuruh Bella untuk membereskan barang-barangnya yang banyak sendirian, belum barang punya Bella sendiri.
"Sayang, bantuin dong biar cepat selesai dan kita bisa main. Masa iya pengantin baru dari semalam di anggurin saja. Kan bosen tau."Seru Bella dengan nada manjanya.
"Kerjakan saja apa yang aku suruh, Bella. Jangan banyak tingkah !! Aku capek, lelah dan aku ingin istirahat !!"Seru Vito dengan kesal.
"Menyebalkan."Gerutu Bella.
Vito sudah tidak mau menanggapi perkataan Bella lagi, dia lebih memilih memejamkan matanya meskipun sangatlah susah. Bayangan Nia masih terus terbayang-bayang di matanya. Bayangan Nia yang diperlakukan dengan manis dan lembut oleh David saat malam pesta pernikahannya waktu itu belum bisa Vito lupakan.
*Nia, ternyata setelah lepas dari ku kamu mendapatkan yang lebih dari ku. Tetapi justru aku mendapatkan penggantimu yang jauh dari kata baik.*Gumam Vito dalam batinnya.
*********
Sepulangnya dari rumah sakit Miska langsung bertandang kerumah David. Disana ada Nia dan mama Karmila yang sedang bersantai di ruang televisi dan dikarpet ada Nada yang fokus dengan gambar jerapahnya.
"Assalamualaikum, mama dan kakak iparku yang cantik."Seru Miska mengagetkan mereka.
"Waalaikumsalam. Kenapa salam nya teriak seperti itu sih Miska? Bikin kaget saja loh, beruntung kami ini tidak ada yang jantungan."Tegur mama Karmila.
"Heheee maaf ma. "Jawab Miska sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aunty lupa ya sama Nada? Kok Nada tadi tidak di sapa?."Tanya Nada dengan mulut mengerucut.
Plaaakkkk
Miska mendekati Nada yang sedang duduk di karpet sambil cemberut itu. Miskapun memeluk Nada sembari menciumi pipi Nada, dan hal itu berhasil membuat Nada kembali tertawa.
"Haa haaa aunty sudah, geli aunty. Jangan cium Nada terus."Seru Nada sambil tertawa.
"Loh katanya tadi aunty tidak menyapa Nada, makanya sekarang Aunty cium-cium Nada sebagai gantinya."Seru Miska terus menciumi sang keponakan.
"Sudah Aunty."Seru Nada sambil kegelian.
Miskapun menghentikan aksinya dan kini sudah melepaskan Nada. Nada mengusap-usap pipinya dengan kedua telapak tangannya dengan mulut manyun. Miska semakin gemas dengan tingkah menggemaskan Nada. Nia dan mama Karmila hanya tertawa melihat interaksi antara Miska dan Nada.
Nada dari dulu memang dekat dengan Miska, dari zaman Hera masih hidup Nada sering jalan bersama Miska dan Hera sehingga saat itu Miska sudah seperti mama kedua untuk Nada.
"Kak David belum pulang kak?."Tanya Miska yang kini sudah duduk di samping Nia.
"Belum. Tadi barusan telepon katanya sih sebentar lagi pulang. Oh iya bagaimana magang kamu? Apa semuanya berjalan dengan lancar?."Tanya Nia ingin tahu cerita magang adiknya.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar kak. Kak Nia tadi kenapa tidak masuk? Pasti karena kak David yang melarang kak Nia kerumah sakit, karena gara-gara kejadian semalam. Takut benar sih itu kak David, begitulah kalau sudah bucin sama kak Nia. Dulu saja pakai pura-pura menolak saat disuruh menikah dengan kak Nia. Giliran sekarang saja bucin akut dia, dasar kak David."Seru Miska bicara panjang lebar tentang David.
Ehhemm Eheeemm
__ADS_1
David sengaja berdehem agar Miska tidak semakin banyak bicara lagi tentang dirinya. Miska langsung nencari sumber suara, dan ternyata orang itu adalah David dan dibelakang David ada Rendi yang seperti sedang menahan tawanya.
"Ehhh kak David."Seru Miska sembari tersipu malu melihat kearah David.
"Kok berhenti, Mis?."Tanya David berjalan mendekati Mamanya dan Sang istri.
"Emm apaan sih kak. Memang nyatanya kakak bucin kan sama kak Nia?." Seru Miska ternyata tidak takut dengan David.
"Dasar bocah kurangajar."Seru David kesal.
Miska hanya diam sambil tersipu malu-malu apalagi ada Rendi juga diruangan itu. Rendi mengulas senyum kearah Miska dan Miska membalasnya dengan senyum manisnya. Kelakuan Rendi dan Miska tidak luput dari pandangan Nia, sehingga Nia beranggapan jika ada sesuatu antara Rendi dan Miska.
*Sepertinya ada sesuatu antara Miska dan Rendi? Atau jangan-jangan mereka memang ada hubungan, seperti pacaran begitu.*Gumam Nia dalam batinnya.
"Hubby mau langsung mandi?."Tanya Nia dengan lembut.
"Iya sayang."Jawab David singkat.
"Sayang papa mandi dulu ya, nanti kalau papa sudah mandi papa turun dan menemani anak papa yang cantik ini."Ucap David sembari megusap pucuk kepala Nada dengan lembut.
"Siap papa."Jawab Nada sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
David dan Nia menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Mama Karmila juga kini beranjak ke dapur untuk membantu pelayan memasak, meskipun seorang Nyonya kaya, mama Karmila masih turun langsunh kedapur untuk memasak.
Sekarang diruangan itu hanya tinggal Nada, Miska dan Rendi. Rendi duduk dikursi yang berseberangan dengan Miska.
"Kak Rendi mau menginap disini?." Tanya Miska dengan lembut.
"Belum tahu, Miska. Ini memang ada pekerjaan yang harus kami selesaikan. Kemungkinan ya menginap, oh iua kamu sudah magang ya?." Tanya balik Rendi.
"Iya kak. "Jawab Miska sedikit canggung.
Jantung Miska setiap kali bertemu dengan Rendi pasti selalu berdebar-debar. Dia tidak memungkiri jika dirinua sudah 2 tahun ini menaruh hati dengan Rendi namun dia berusaha untuk menutupinya. Sebagai seorang wanita tidak mau menunjukan perasaannya lebih dulu.
*Ternyata Miska ini cantik juga ya, duhh kenapa aku jadu grogi begini sih berhadapan dengan Miska. Bukannya memang sudah biasa aku bertemu dan mengobrol dengan Miska.*Gumam Rendi dalam batinnya.
" Om Rendi sama Aunty kenapa sih senyum-senyum?." Tanya Nada mengagetkan Rendi dan Miska secara bersamaan.
"Eh tidak kok. Aunty lagi lihatin gambarnya Nada bagus banget, Nada pintar ya mewarnai Ayamnya."Seru Miska asal-asalan saja bicaranya.
"Aunty ini bagaimana sih, ini bukan ayam tapi jerapah."Protes Nada dengan kesal.
*Aduh kenapa juga aku bilang itu ayam, padahal sudah nyata itu Jerapah. Huuhh dasar otak Miska ini sudah mulai error sepertinya.*Gumam Miska dalam batinnya.
"Aunty Miska sepertinya lapar itu, makanya dia salah sebut."Seru Rendi sambil terkekeh.
__ADS_1
Nada dan Rendi akhirnya menertawakan kekeliruan Miska. Miska hanya bisa tersenyum sembari menggaruk kepalanya semdiri yang sama sekali tidak gatal.
************