Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Dia istri sah ku


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Nia di nobatkan sebagai salah satu dokter teladan dan terbaik. Semua pencapaian Nia tidak luput dari doa sang ibu dan dukungan suaminya yang selalu mendukung karier nya.


"Selamat ya kak, semoga kelak Miska bisa menjadi dokter ter the best seperti kak Nia."Seru Miska menghampiri Nia yang baru saja turun dari panggung untuk menerima penghargaan.


"Terimakasih adik ipar ku sayang. Kamu pasti bisa menjadi dokter yang jauh lebih baik dari kak Nia."Ucap Nia.


"Selamat ya, Nia. "Ucap Dokter Irawan memberi selamat untuk Nia sambil mengulurkan tangannya.


"Terimakasih pak Irawan. " Sambil menyambut uluran tangan pak Irawan dengan ramah dan sopan.


Semua pasang mata yang ada di Aula rumah sakit memandang serius kearah mereka bertiga. Mereka heran dengan kedekatan Nia, Miska dan Dokter Irawan. Terlebih Miska, dia seorang anak magang tetapi bisa dekat juga dengan dokter Irawan.


"Ada hubungan apa ya antara anak magang itu dengan dokter Irawan? Lagian kenapa juga dia ada di sini, sedangkan dia hanya mahasiswa yang magang saja. Seharusnya dia itu stand by di tempatnya, untuk berjaga-jaga jika ada pasien yang butuh bantuan."Ucap dokter Saras.


"Husstt.. Dokter Saras jangan bicara seperti itu. Kalau didengar dokter Irawan bisa gawat, kita diam saja. Ingat jika kita di pecat dari rumah sakit ini, jangan harap ada rumah sakit lain yang mau menerima kita bekerja. Kita pasti akan di blacklist di rumah sakit manapun."Ucap Dokter Jesika.


Dokter Saras terlihat mendengus dengan kesal. Sebenarnya dia sangat iri dengan pencapaian Nia. Nia termasuk dokter baru namun sudah bisa menjadi dokter teladan, sehingga menimbulkan fikiran negatif terhadap Nia.


*Sebenarnya yang punya hubungan dengan dokter Irawan itu anak magang itu atau dokter Nia sih? Keduanya sama-sama dekat dengan dokter Irawan, atau jangan-jangan mereka berdua memang sugar babby nya dokter Irawan. Tapi bukannya dokter Nia sudah menikah?.*Gumam Saras dalam hatinya.


Tak tak tak tak


Suara langkah kaki yang memakai sepatu memasuki area aula rumah sakit. Semua pasang mata tertuju ke arah pintu masuk. Mata mereka terbelalak saat mendapati ada sesosok pria tampan yang sangat rupawan, siapa lagi kalau bukan David.


Sebagian dokter memang sudah banyak yang tahu sosok, David. Tapi masih ada beberapa juga yang belum tahu siapa itu David. Tentunya para dokter-dokter baru yang belum tahu.


"Wahh tuan, David? Semakin tampan dan berkariama."Seru Saras mengagumi ketampanan David.


"Kamu benar, dokter Saras. Semakin hari tuan David memang semakin tampan. Ducchhh sudah lama Tuan David tidak datang kerumah sakit ini, akhirnya dia datang juga."Ucap dokter Jesika yang juga mengagumi ketampanan David.

__ADS_1


David terus melangkah dan mendekati Nia yang masih diam terpaku di di depan panggung. Bahkan Nia belum sempat duduk di tempatnya semula.


"Saya datang terlambat. Maaf atas keterlambatan saya, sebab ada meeting yang tidak bisa saya tinggalkan. Saya ucapkan selamat atas prestasi para dokter semuanya. Harapan saya semoga penghargaan yang kalian dapat semakin memacu semangat kalian dan semakin disiplin bekerja. Dokter Nia, selamat juga untuk anda."Ucap David yang saat ini sudah berdiri tepat di samping kiri Nia.


Seharusnya David naik kepanggung untuk menyampaikan pesan-pesannya. Namun dia lebih memilih berada dan berdiri di samping sang istri tercintanya. David bangga atas pencapaiannya yang didapat oleh sang istri. Semua itu murni atas kerja keras Nia sendiri tanpa ada campur tangannya.


Rumah sakit setiap tahunnya memang selalu mengadakan sebuah event penghargaan untuk masing-masing dokter dan perawat. Kinerja dokter dan perawat akan dinilai langsung oleh pasien yang datang.


"Terimakasih Hubb.. Emm Tuan David." Seru Nia terbata-bata. Dia hampir saja keceplosan memanggil David dengan panggilan,Hubby.


"Sama-sam, Sayang."Seru David sengaja memanggil Nia sayang sehingga membuat Nia hampir saja tersedak.


Sedangkan orang-orang yang berada di aula Rumah Sakit mulai berbisik-bisik dan berkasak-kusuk membicarakan soal Nia dan David. Mereka belum ada yang tahu jika David adalah suami saah dari dokter Nia. Hanya dokter Irawan, Miska dan Kesa saja yang tahu. Setahu mereka semua, Nia memang sudah menikah tetapi tidak tahu jika menikah dengan David.


"Hahhh Sayang? Tuan David memanggil dokter Nia Sayang? Apa aku tidak salah dengar." Seru dokter Saras dengan penasaran dan heran.


"Tidak salah. Apa yang dokter Saras dengar itu benar, akupun juga mendengar seperti itu. Hemm sepertinya memang ada hubungan terlarang antara dokter Nia dan Tuan David. Apalagi setahu ku, dokter Nia itu sudah menikah."Seru dokter Jesika.


Semua orang penasaran ada hubungan apa antara David dan Nia. Mereka menunggu penjelasan dari David. David memeluk pundak Nia, Nia terlihat pasrah begitu saja saat David memeluk pundaknya dan membawa tubuhnya ke dalam pelukannya. Dan hal itu semakin membuat semua orang yang berada di aula rumah sakit semakin penasaran.


" Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku memperlakukan Dokter Nia seperti ini? Jika ada di antara kalian yang sudah berpikir negatif terhadap Dokter Nia. Aku pastikan kalian akan angkat kaki dari rumah sakit ini hari ini juga dan tidak akan ada rumah sakit yang akan menerima kalian lagi untuk bekerja." Ucap David dengan mengancam. Sehingga mereka semua pun ketakutan.


" Hari ini, dan di sini aku ingin memberitahukan kepada kalian semua, bahwa dokter yang saat ini ada di sampingku ini, kalian pasti mengenalnya dengan panggilan dokter Nia. Dokter Nia ini adalah istriku !! dia adalah istri sah ku ! seorang wanita yang aku nikahi 6 bulan yang lalu. Jadi siapapun diantara kalian yang berpikir negatif, jangan harap kalian masih bisa bertahan di rumah sakit ini."Seru David tetap pada ancamannya.


Haaahhh?


Istri? Dokter Nia istri dari Tuan David?


Semua orang yang ada di aula rumah sakit itupun terkejut dan syok dengan pengakuan David. Mereka semua tidak menyangka jika Nia adalah istri sah dari sang pemilik rumah sakit. Pantas saja Nia terlihat akrab dengan dokter Irawan. Akhirnya rasa penasaran mereka terjawab sudah, mereka sudah tidak berfikir negatif lagi terhada Nia. Lantas bagaimana dengan Miska?


"Jadi pangeran tampan ku suami dari dokter, Nia? Haahh aku kalah cepat."Seru dokter Saras pelan namun masih terdengar oleh dokter yang lainnya termasuk dokter Jesika.


"Jangan mimpi ketinggian dokter Saras, nah di saat jatuh sakit kan? Saya salut dengan dokter Nia bisa meluluhkan tuan arogan itu. Saya memang mengagumi tuan David tapi bermimpi untuk memilikinya tidak pernah. Karena aku cukup sadar diri, jika hal itu yang tidak akan mungkin terjadi."Ucap dokter Jesika.


Setelah memberikan pengumuman soal Nia adalah istrinya. David langsung membawa Nia meninggalkan Aula rumah sakit. Diikuti oleh dokter Irawan dan beberapa dokter senior yang lainnya. Miska sendiri tidak mengikutinya, sebab tidak mau identitasnya dibuka juga oleh David.


"Kak Kesa sudah tahu ya kalau dokter Nia itu istri dari pemilik rumah sakit ini?." Tanya Miska saat berjalan beriringan dengan Kesa keluar dari Aula rumah sakit.

__ADS_1


"Kok kamu bisa tahu?." Tanya Kesa penasaran.


"Soalnya tadi kak Kesa sama sekali tidak kaget saat Kak David mengumumkan jika kak Nia itu istri sahnya."Jawab Miska. Miska lupa menyebut Nia dan David dengan panggilan kak.


" Hah Kak? Kamu memanggil tuan David dengan panggilan kak? Kalau Nia si oke-oke aja kamu panggil kak, tapi masa iya pemilik rumah sakit ini kamu panggil kak. Atau jangan-jangan kamu itu masih keluarga dari Tuan David ya?." Seru Kesa menghentikan langkah kakinya.


Miska hanya bisa nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tadi benar-benar lupa menyebut panggilan untuk David. Miska belum mau jika identitasnya ada yang mengetahui, dia ingin merasakan dunia kerja yang sesungguhnya tanpa adanya orang-orang yang cari muka karena tahu jika Miska anak dari keluarga Widjaya.


********


"Aku tidak mau bercerai dengan mu, Ma. Tolong cabut gugatan cerai ini, kita masih bisa membicarakan masalah ini secara baik-baik."Ucap Baskoro tidak mau bercerai dengan Leni.


Surat panggilan sidang pertama sudah ada di tangan Baskoro. Sehingga Baskoro langsung menemui Leni di klinik kecantikan. Surat panggilan sidang itu, dikirimkan ke alamat rumah Baskoro. Rumah yang memang Baskoro beli 5 tahun yang lalu, rumah yang tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil. Rumah yang jauh dari pusat keramaian, yang di gadang-gadang akan menjadi rumah masa tua mereka nanti.


Namun Leni tidak yakin, rumah itu pasti sering dipakai Baskoro dan Bella untuk bertemu dan menyalurkan hasrat mereka berdua. Padahal DP rumah itu menggunakan uang Leni dengan dalih Baskoro meminjamnya. Akan tetapi sampai sekarang uang itu tidak kunjung di kembalikan.


"Rumah tangga kita sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini dan jangan pernah datang kesini lagi. Dalam 3 hari lagi kita akan bertemu di persidangan."Ucap Leni tetap bersikukuh untuk bercerai dari Baskoro.


"Ma,tolong jangan seperti ini. Mama jangan mengambil keputusan disaat marah seperti ini. Ma, aku dan Bella sudah mengakhiri hubungan kami. Sekarang kita sama-sama perbaiki hubungan kita."Ucap Baskoro tetap memohon kepada Leni.


Belum juga masalah Baskoro selesai, tiba-tiba Bella datang dan langsung masuk begitu saja ke ruangan Leni. Leni terlihat kesal dengan kelakuan Bella.


"Mama, kenapa mama memberitahu Vito dan mama Hesti soal hubungan ku dengan papa? Mama jahat, mama sudah merusak kebahagiaan rumah tangga Bella !!."Seru Bella datang dan langsung memarahi mamanya tanpa punya sopan dan santun.


Plaakk


Plaakk


Leni tidak berucap apa-apa, akan tetapi tangannya lah yang sudah berbicara dan memberi jawaban. Melihat Leni menampar Bella, membuat Baskoro merasa kasihan dengan Bella. Ingin sekali dia berlari dan memeluk serta melindungi Bella. Akan tetapi dia tidak mau membuat Leni semakin marah dan murka.


"Anak tidak tahu diri !! Kamu yang sudah menghancurkan rumah tanggamu sendiri tetapi justru menyalahkan ku ! Dasar anak tidak tahu rasa terimakasih, tidak punya sopan dan santun."Bentak Leni dengan lantang.


"Mama jangan menyalahkan Bella sepenuhnya. Jika bukan karena mulut mama, Vito dan mamanya tidak akan tahu masalah ini. Oh iya, bukannya mama dulu mendapatkan papa juga dari hasil merebut suami orang kan? Jadi jangan salahkan Bella jika Bella juga ikut merebut suami orang."Ucap Bella.


"Lancang mulut kamu, Bella. Masih banyak pria di luaran sana, tapi bukan suami mama kamu sendiri yang kamu embat."Seru Leni dengan kesal.


Baskoro hanya diam saja, seakan dia justru berbangga diri melihat Leni dan Bella seolah memperebutkannya.

__ADS_1


*Anak dan mama saling merebutkan ku? Pesona ku memang tidak di ragukan lagi. Hemm sepertinya aku akan mendekati Karti lagi, siapa tahu dia masih mau aku ajak untuk rujuk. Jika Leni sudah menggugatku cerai ya sudahlah, ada Karti yang pasti masih mau dengan ku.*Gumam Baskoro dengan percaya dirinya yang tinggi.


***********


__ADS_2