
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sore ini Nia dan David pulang dari luar kota, mereka pulang dengan pesawat yang sama. Namun dengan tempat duduk yang berbeda, Nia satu tempat duduk dengan dokter Rachel sedangkan David duduk kursi yang ada di depan mereka.
"Nia, sepertinya yang di depan itu Tuan David."Ucap Rachel memberitahu Nia.
"Hemm sepertinya iya kak. Sudah biarkan saja kak, mungkin dia juga habis perjalanan bisnis."Jawab Nia pura-pura tidak tahu dengan keberadaan David.
"Kok kamu tahu kalau Tuan David habis dari perjalan bisnis?." Tanya Rachel sambil menautkan kedua alisnya.
"Emmm... Hanya menebak saja kok kak. Biasanya kan begitu kak."Jawab Nia lagi.
Rachel mengangguk paham, Rachel memilih diam lalu memejamkan matanya. Dia beristirahat, dan memilih untuk memejamkan matanya.
Namun berbeda dengan Nia, Nia masih memperhatikan David yang duduk di depannya. Mau memanggil David takut ketahuan dokter Rachel. Mau berkirim pesan ponsel juga masih di matikan, sebab pesawat sedang mengudara.
Tidak ada pilihan lain selain juga ikut dokter Rachel memejamkan matanya. Meskipun penerbangan tidaklah lama, tidur adalah pilihan yang lebih baik daripada bengong sendirian.
David melihat kearah belakang nya, dan dilihatnya Nia dan dokter Rachel sama-sama sudah memejamkan matanya.
" Dasar para wanita bisanya molor saja. Apa mereka tidak takut jika ada yang mengganggunya. Bagaimana kalau saat sudah sampai bandara tujuan mereka masih tidur? Ehhh tapi ini pesawat bukan angkot, pasti mereka tidur pun aman."Seru David sambil menepuk keningnya sendiri.
__ADS_1
*******
"Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit seperti ini, Bella? Dan kenapa justru Mama kamu bersantai di rumah, dan hanya papa kamu saja yang menemani kamu di rumah sakit?."Tanya Hesti saat menjenguk Bella di rumah sakit.
Setelah mengetahui Bella dirawat di rumah sakit, Hesti segera berangkat menuju rumah sakit untuk mengetahui keadaan menantunya dan calon cucu yang masih ada dalam kandungan Bella. Hesti sudah sempat mengajak Leni untuk menjenguk Bella, namun Leni beralasan dia akan menyusul sebab masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.
" Mama Leni tadi sibuk ma, jadi hanya papa Baskoro saja yang menemani Bella. Tapi mama tadi sudah janji jika dia akan datang saat pekerjaannya sudah selesai."Jawab Bella sengaja berbohong. Padahal mamanya tidak mau datang lantaran memang ada masalah yang tidak mungkin dia ceritakan kepada Hesti.
" Iya tadi Mama kamu memang sudah bilang seperti itu. Sebelumnya Mama sudah mengajak Leni, tapi dia sedang sibuk."Ucap Hesti membenarkan apa yang dikatakan oleh Bella.
" Pak Baskoro, sekarang memang sudah tidak bekerja di perusahaan Widjaya group lagi? Kok sampai bisa menemani Bella seperti ini?."Tanya Hesti merasa heran sebab besannya itu lebih memilih menemani Bella daripada masuk bekerja.
" Saya sudah resign Jeng, sebab semenjak habis kecelakaan kemarin, saya masih sering merasakan sakit dan lemas. Jadi mau tidak mau saya memilih resign saja daripada pekerjaan saya di sana juga terganggu dan terbengkalai."Jawab Baskoro beralasan, tidak mungkin dia bicara jujur jika dia dipecat lantaran David juga mengetahui hubungannya dengan Bella juga.
Hesti merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Baskoro, namun dia tidak mau berseuzon atau menaruh curiga terlebih dahulu. Padahal jika memang dia masih ada niat untuk bekerja, tidak harus resign namun bisa mengajukan cuti terlebih dahulu.
" Bella udah agak mendingan ma, rasa sakit perutnya juga sudah hilang. Tadi tiba-tiba perut Bella kram dan kata dokter itu hal yang wajar. Namun sebisa mungkin harus dihindari pekerjaan yang berat dan jangan banyak fikiran agar tidak stress."Jawab Bella jujur menceritakan apa yang tadi dijelaskan oleh dokter.
" Memang kamu bekerja berat apa dan stress karena apa? Apa kamu dan Vito ada masalah? Dan apa Vito tidak memperlakukan kamu dengan baik ?Apa dia menyuruh kamu mengerjakan pekerjaan yang berat?."Tanya Hesti secara beruntun dan merasa heran dengan jawaban Bella.
Bella langsung menggelengkan kepalanya. Dia dan Vito sama sekali tidak punya masalah, Vito juga sama sekali tidak memberikan pekerjaan yang berat dan tidak membuat dia stress. Perut dia kram lantaran seringnya dia melakukan olahraga dan tadi sempat terjatuh juga akibat dorongan dari Leni.
" Tidak ma, Vito tidak pernah memberikan pekerjaan yang berat. Mungkin karena memang bawaan kehamilan saja, soalnya akhir-akhir ini Bella susah sekali makan. Suka tiba-tiba mual." Jawab Bella tidak masuk akal sama sekali.
Bodohnya Hesti, dia selalu percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Bella. Sama sekali tidak menaruh curiga, padahal dia bisa saja curiga sebab Baskoro sedari tadi ada di dekat Bella dan menggenggam tangan Bella.
" Kamu sudah kasih tahu Vito jika kamu masuk rumah sakit?." Tanya Hesti.
__ADS_1
"Belum ma. Bella lupa bawa ponsel, begitupun dengan papa juga tidak bawa ponsel."Seru Bella lagi.
"Ohhh nanti mama saja yang memberitahu, Vito. Oh iya Bel, papa kamu sepertinya sangat menyayangi kamu dan takut terjadi sesuatu dengan mu. Sedari tadi mama perhatikan pak Baskoro selalu menggenggam tangan kamu."Ucap Hesti sambil mengulas senyum dan sedikit melirik Baskoro.
Baskoro dengan cepat melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Bella. Dia sampai lupa diri, seharusnya dia tidak melakukan itu didepan besannya.
*Kenapa aku bisa lupa seperti ini ? Jeng Hesti jelas tidak tahu aku dan Bella ada hubungan. Jika dia sudah tahu, pasti dia akan mengamuk dan memarahiku seperti Leni tadi. Heem sepertinya Leni memang belum memberitahu Jeng Hesti soal hubungan ku dan Bella.*Gumam Baskoro dalam hatinya.
"Oh papa memang sangat menyayangi Bella ma. Meskipun hanya papa tiri, namun kasih sayang dan perhatiannya seperti papa kandung sendiri. Aku sangat beruntung mendapatkan papa tiri sebaik papa, Baskoro."Dengan bangga Bella membanggakan papanya di depan mama mertuanya.
"Baguslah kalau begitu. Tapi kalau bisa saar berhadapan dengan Vito, papa kamu jangan seperti ini. Kamu itu sudah bersuami dan harus bisa menjaga perasaan dan nama baik suami kamu. Apalagi pak Baskoro ini hanya papa tiri kamu loh, jadi sebisa mungkin kamu jangan seperti ini."Ucap Hesti tidak suka dengan kedekatan Bella dengan papa tirinya yang menurutnya terlalu dan tidak pantas.
"Iya ma. Papa hanya takut Bella kesakitan saja, jadi tadi hanya menguatkan Bella saja."Ucap Bella beralasan.
"Pak Baskoro lebih baik anda pulang saja, biar saya yang menemani Bella."Ucap Hesti meminta Baskoro untuk pulang saja.
Baskoro hanya mengangguk pelan, sebenarnya dia memang sudah ingin pulang dari tadi untuk menemui Leni. Namun rasa khawatirnya terhadap Bella dan kandungannya mengalahkan segalanya. Dia juga takut untuk menemui Leni, terlebih dia selama ini bisa dibilang juga menumpang hidup dengan Leni. Baskoro takut Leni menggugat cerai dan menceritakan semuanya kepada Vito, lalu Vito juga menceraikan Bella.
Hal itu jangan sampai terjadi, sebab Bella sudah mengancam jika Vito menceraikannya, Bella akan mengakhiri hidupnya. Bella terlalu cinta mati dengan Vito.
"Iya jeng, Hesti. Papa pulang dulu ya, Bel. Nanti papa akan datang lagi bareng sama mama."Seru Baskoro pamit pulang lebih dulu.
"Iya pa. Terimakasih tadi sudah menemani Bella."Seru Bella merasa lega saat papanya berpamitan pulang.
Setelah pamit, Baskoro pun segera keluar dari kamar rawat Bella
***********
__ADS_1