Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Tidak tahu salah apa


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Meskipun David sudah menunjukan kepeduliannya dan perhatiannya kepada Nia, namun tak jarang dia juga bersikap acuh dan cuek serta dingin kepada Nia. Seperti pagi ini, tiba-tiba saja David terlihat sangat dingin padahal Nia merasa tidak mempunyai masalah apa-apa. David bahkan tidak mau sarapan bersama Nia dan Nada dengan alasan ada meeting pagi dan akan sarapan di kantor.


"Emm Hubby aku bawakan bekal untuk dimakan dikantor saja ya."Seru Nia.


"Tidak perlu !".Jawab David sembari berjalan menuju mobilnya yang sudah disiapkan oleh sopir pribadinya.


"Nanti sakit loh kalau kamu tidak sarapan."Seru Nia kembali bicara dengan lembut.


"Bukan urusan kamu."Seru David lagi.


*Sebenarnya kenapa lagi dengan suami arogan ku ini. Apa aku ada melakukan salah ? Padahal semalam saja baik-baik saja, lantas kenapa pagi bisa berubah begini. Terserah kamu saja David, aku pusing mikirin sikap san sifat kamu yang berubah-ubah seperti bunglon.*Gumam Nia dalam batinnya.


Hhhuuuufffff


Nia sudah tidak tahu harus bicara bagaimana lagi dengan David. Sedari bangun tidur tadi David sudah cuek dan sikapnya juga sudah berubah menjadi dingin, Nia sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Setelah David berangkat ke kantor, seperti biasa rutinitas Nia mengantar Nada kesekolahan sebelum dia kerumah sakit.


Nia masih memakai jasa sopir, sebab dia belum berani mengendarai mobil sendiri. Hari ini genap dua minggu dia menikak dengan David. Dan selama dua minggu ini dia belum menemui ibunya, hanya lewat panggilan video call saja. Rencana nya siang ini Nia akan datang kerumah ibunya setelah jam prakteknya habis. Nia sudah memberitahu kepada Assistennya, Kesa. Jika hanya bisa praktek sampai jak 12 siang saja.


"Mama nanti kata mbak Nur mau kerumah nenek ya?."Tanya Nada.


"Iya sayang. Nanti Nada saat pulang sekolah langsung kerumah nenek ya sama mbak Nur, nanti kalau mama sudah selesai di rumah sakit mama langsung susul kerumah nenek. Nada jangan kerumah sakit ya, soalnya rumah sakit tidak baik untuk anak-anak kecuali memang ada kepentingan seperti berobat atau rawat inap."Seru Nia menjelaskan dengan pelan agar Nada mengerti.


"Iya Ma. Kata Misa Ana juga rumah sakit bukan tempat untuk anak-anak kecil seperti Nada. Kalau mau main tidak boleh dirumah sakit,takut ada virus."Seru Nada yang ternyata sudah mendapat edukasi dari sekolahnya.


"Itu betul sayang."Seru Nia sembari mengusap kepala Nada dengam lembut.


Mobil yang dikendarai sopir sudah sampai didepan gedung sekolah Nada. Dengan segera Nia dan Nada turun dari mobil, Nia mengantarkan Nada sampai halaman sekolahan sebab sudah ada para Miss nya yang menyambut anak-anak.


Nia melihat ada dua ibu-ibu yang pernah berkenalan dengannya juga baru datang. Tidak mau pagi-pagi mendengar gosip dan berghibah, akhirnya Nia segera ke mobil agar tidak diajak ghibah.


"Jalan ya pak."Seru Nia dengan ramah dan sopan.


"Baik Non."Jawab sopir.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Nia melakukan panggilan telepon kepada ibunya. Tidak menunggu lama, ibu Karti langsung mengangkat sambungan telepon dari Nia.


[Hallo assalamualaikum Nia.] Seru ibu Karti dengan lembut dari seberang sana.


[Waalaikumsalam bu. Ibu lagi apa? Sudah sarapan?.] Tanya Nia dengan lembut.


Mana mungkin jam segini ibunya belum sarapan, pasti sudah. Terlebih ada Wati yang gesit dan pasti akan bersikap tegas jika ibu malas makan. Semua orang yang bekerja dengan David pasti akan bersikap tegas.


[Sudah Nak, kalau jam segini ibu belum sarapan pasti Wati akan memarahi ibu.]


[Heheee... Mbak Wati memang tegas ya bu. Oh iya bu, Nia kangen sayur asem sama sambal terasi buatan ibu. Nanti siang sama Nada mau kerumah ibu, boleh kan Nia minta tolong masakan sayur asem sama sambal terasinya bu.]


[ Kamu mau kesini, Nia? Baiklah nanti ibu masak sayur asam spesial untuk kamu, ibu juga kangen sama kamu.]


[ Terimakasih bu. Nanti kita makan siang sama-sama ya bu. Maaf bu, teleponnya Nia tutup ya bu. Ini Nia sudah mau sampai rumah sakit. Assalamualaikum bu.]


[ Iya nak. Waalaikumsalam.]


Klik


Nia mematikan sambungan teleponnya dan memasukan ponsel kedalam tas. Nia sudah tidak sabar untuk segera cepat siang agar bisa cepat bertemu dengan ibunya. Sudah dua minggu tidak bertemu langsung dengan ibunya, rasa rindunya sudah menumpuk.


Sementara itu, David yang sedang dalam perjalan ke perusahaanya sedari tadi hanya diam saja dan wajahnya tergambar sekali aura kemarahannya. Hal itu membuat sang sopir pribadi berinisiatif mengirim pesan kepada Rendi sang assisten David.


Pesan singkat itu pak sopir kirimkan kepada Rendi, sehingga Rendi bisa memahami keadaan David. Pak sopir dan Rendi memang bekerja sama, jika David dalam keadaan marah pasti sopir akan memberitahu Rendi.


Sedangkan di kantor, Rendi yang memang sudah datang lebih awal langsung menginfokan kepada para karyawan untuk bekerja dengan baik dan jangan ada yang menegur David saat David masuk kegedung perusahaan. David paling tidak suka ada yang berbasa-basi saat moodnya sedang tidak baik.


"Ingat kamu jangan lupa tunjukan senyum terbaikmu, cukup kamu saja yang menyapa Tuan David dengan sapaan selamat pagi. Yang lainnya diam dan ada ditempat kerjanya masing-masing jangan ada yanv bercanda ataupun mengeluarkan suara saat Tuan David memeriksa kinerja kalian."Seru Rendi memberi intruksi kepada resepsionis dan para karyawan.


Kebiasaan David setiap pagi sebelum masuk keruang kerjanya, dia selalu berkeliling memeriksa para karyawan nya.


"Baik Pak."Jawab semuanya.


Rendi sendiri langsung stand by di lobby perusahaan untuk menyambut kedatangan David. Setelah menunggu 5 menit mobil David sampai didepan gedung perusahaan, dengan segera Rendi membukakan pintu mobil untuk David.


"Selamat pagi Tuan David."Seru Rendi sembari menundukkan kepalanya.


" Heemmm.. Pak Andi langsung pulang saja."Seru David singkat.


"Baik Tuan."Jawab sang sopir dengan singkat.

__ADS_1


David masuk ke gedung perusahaan dan diikuti Rendi dari belakang. Rendi memberikan isyarat kepada Receptionis untuk menyapa David, kalau receptionis tidak menyapa bisa tambah panas suasana. Sebab mereka diharuskan ramah dan menyapa siapa saja yang masuk ke gedung perusahaan.


"Selamat pagi Tuan David."Seru receptionis dengan ramah dan sopan.


David hanya mengangguk saja tanpa mau menjawab ataupun tersenyum. Rendi terus mengikuti David dari belakang, David menuju ke ruangan setiap devisi. Dengan langkah tegap dan auranya yang dingin, David menyusuri setiap ruangan untuk memeriksa kinerja karyawannya.


*Semoga tidak ada yang salah dimata Tuan David.*Gumam Rendi dalam hatinya.


"Siapa nama kamu?."Tanya David dengan tegas.


"Emmm.. Rumi, Tuan."Seru Rumi dengan takut-takut.


"Kenapa kamu seperti tidak konsentrasi bekerja? Apa kamu sudah tidak mau bekerja lagi?."Tanya David dengan memandang tajam kearah wanita yang bernama Rumi tadi.


Rumi gemetaran dan ketakutan, dia benar-benar takut mendapat amarah dari David. Rendi sendiri juga mulai takut jika amarah David akan meluap kepada Karyawan yang lainnya juga.


"Jawab!."Seru David dengan tegas.


"Maaf Tuan, semalaman saya kurang tidur sebab harus menunggui anak saya dirumah sakit. Anak saya sedang dirawat dirumah sakit dan saat ini hanya ditunggu oleh ibu saya."Seru Rumi dengan takut-takut.


"Suami kamu mana? Dan berapa tahun umur anak kamu?."Seru David.


"Suami saya sudah menikah lagi dengan wanita yang lebih mempunyai banyak uang. Anak saya berusia 5 tahun Tuan, dia terkena DBD."Seru Rumi menjelaskan secara detail.


David diam sesaat, sepertinya dia memikirkan sesuatu. Sedangkan Rendi dan karyawan yang lainnya sedang ketar-ketir takut jika David murka.


"Sekarang kamu pulang dan temani anak kamu di rumah sakit. Akh berikan kamu cuti selama seminggu."Seru David.


Semua orang yang ada disana langsung mendongak dan memandang kearah David. Seolah mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh David. Tidak seperti biasanya David akan memberikan libur karyawan tanpa diminta terlebih dahulu.


*Benarkah ini Tuan David yang arogan dan gila kerja itu? Kenapa dia jadi sebijak ini, Istrinya memang luar biasa bisa merubah Boss yang arogan menjadi Boss yang bijaksana.*Gumam Rendi dalam batinnya.


"Iya Tuan, terimakasih."Seru Rumi mengucapkan terimakasih kepada David.


"Pergilah."Seru David dengan pelan.


Rumi segera membereskan barang-barangnya dan segera keluar dari gedung perusahaan. Dia sangat bersyukur sang Boss memberikan kebijakan libur yang lumayan lama.


"Lanjutkan pekerjaan kalian jangan bengong saja !."Seru David lalu keluar dari ruangan para karyawan.


David berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju ruangannya yang ada dilantai paling atas. Rendi masih saja mengikuti langkah kaki David, sebab ruangan diajuga ada dilantai yang sama dengan David.

__ADS_1


*************


__ADS_2