Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Rencana Sabita


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Rumah tangga Nia dan David jauh dari kata tidak romantis. Di kehamilan Nia yang memasuki usia kandungan 3 bulan, David semakin menunjukan perhatiannya dengan selalu mengantar dan menjemput Nia ke rumah sakit. David suda tidak mengizinkan Nia untuk mengendarai mobil sendiri. Jika David benar-benar tidak bisa menjemput Nia, dia baru akan meminta sopir untuk menjemput sang istri.


Untuk arisan dengan ibu-ibu wali muridpun kini Nia sudah jarang sekali datang. Dia hanya mentransfer uangnya langsung kepada bendahara yang memegang uang arisan. Nia tidak mau berkumpul dengan orang-orang yang banyak gaya dan menyombongkan diri.


Tringg


Tringg


Ponsel Nia ada notifikasi pesan masuk. Dari nada nya dia tahu betul jika itu pesan dari sang suami, sebab dia sudah menyetting nada khusus untuk nomor ponsel David.


" Mbak, Kesa duluan saja makan siangnya nanti aku menyusul. Aku balas pesan dari suamiku dulu."Ucap Nia sambil mengambil ponsel di dalam tasnya.


" Iya. Aku tunggu di kantin ya, mau di pesankan makanan sekalian tidak?."Tanya Kesa sang assistennya yang baik hati.


" Hemm boleh mbak. Tolong pesankan aku soto ayam kampung tanpa nasi sama minumnya jeruk hangat saja, sama air mineral ya mbak. Maaf ya sudah merepotkan."Ucap Nia selalu bersikap ramah dengan siapapun dengan selalu mengucap kata tolong saat meminta bantuan orang lain.


" Ok deh, aku duluan ya."Jawab Kesa sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.


Setelah Kesa keluar dari ruangan praktik, Nia membuka pesan dari suaminya.


[ Sayang jangan lupa makan siang ya. Ingat kalau sudah lelah segera istirahat, jangan sampai kamu kelelahan terus sakit. Kalau hal itu sampai terjadi aku akan melarangmu untuk bekerja lagi.] Pesan penuh ancaman David kirimkan.


[ Sore ini aku tidak bisa jemput ya, karena aku ada kerjaan di luar kota mendadak. Nanti ada pak sopir yang menjemput mu, oh iya aku pulang malam ya. Jangan menungguku pulang, kalau kamu balas chatt ini tidak aku balas berarti aku sedang meeting. Aku sudah di kota X dari 2 jam yang lalu dan ini baru selesai makan siang.] Pesan itu dikirim David disertai dengan foto selfienya disebuah restoran.


Pesan yang cukup panjang itu di baca Nia dengan senyum-senyum. Pasalnya akhir-akhir ini David memang suka lebay, dikit-dikit selalu mengirim foto selfienya.


[ Iya hubby. Ini juga lagi mau makan siang, hubby hati-hati ya kerjanya dan yang semangat.] Nia membalasnya dengan kalimat penuh semangat untuk suaminya.


Pesan Nia ceklis dua abu-abu yang menandakan pesan sudah diterima tapi belum dibaca. Setelah membalas pesan David, Nia memasukkan ponselnya kedalam kantong jasnya dan segera beranjak menyusul Kesa ke kantin rumah sakit.


" Ini pesanan Nona bos, baru datang juga kok ini. Jadi masih panas."Ucap Kesa saat Nia sudah duduk du kursi yang ada di depannya.


" Terima kasih ya mbak Kesa yang baik."Jawab Nia dengan lembut.

__ADS_1


" Iya sama-sama Nona bos."Seru Kesa sambil terkekeh pelan.


" Mulai nih, aku paling tidak suka kalau di panggil seperti itu. Awas saja kalau sampai mbak Kesa memanggil aku seperti itu terus aku akan meminta suamiku untuk memecat atau memutasi mbak Kesa ketempat yang jauh dan terpencil."Ucap Nia mengancam.


" Idihhh berani nya main mengancam seperti itu ya. Iya deh, iya tidak akan panggil Nona boss lagi tapi panggil dokter Nia atau Nia saja. Nah bukankah seperti itu Nona bos?." Tanya Kesa meminta persetujuan Nia.


Nia mengacungkan jempol tangan kirinya sebab mulutnya saat ini sudah mulai memakan soto ayam pesanannya. Para dokter dan perawat serta petugas yang lainnya sudah tahu siapa Nia. Awalnya mereka semua memperlakukan Nia dengan spesial dan selalu menunduk saat bertemu ataupun berpapasan dengan Nia. Hal itu sama sekali tidak membuat Nia nyaman, sehingga Nia meminta kepada dokter Irawan untuk memberitahu semua dokter, perawat dan yang lainnya yang ada di dalam rumah sakit untuk bersikap biasa saja terhadap Nia.


" Mbak Kesa kapan-kapan yuk kita jalan bareng, kebetulan dua teman ku saat ini ada di kota ini juga. Nanti mbak Kesa bisa aku kenalkan sama mereka? Bagaimana mau tidak?." Tanya Nia dengan serius.


" Seriusan nih mau ngajak aku jalan bareng? Tapi tidak sama tuan David kan? Nanti tidak tahunya aku cuma mau dijadiin obat nyamuk saja. "Seru Kesa sambil terkekeh.


" Seriusan dong mbak, nanti sama kedua temanku saja. Suamiku tidak ikut, kalau dia ikut juga tidak seru. Yang ada aku tidak bisa bebas sama teman-teman ku. Mbak Kesa tenang saja, dua temanku ini baik banget yah memang kadang juga ngeselin sih."Ucap Nia lagi.


" Ok deh, hari minggu saja kita jalan barengnya. Cepat habiskan makanan kamu, 35 menit lagi jam praktek kita mau dimulai. Mana belum sholat dzuhur juga nih."Ucap Kesa mengingatkan Nia.


Nia dan Kesa segera menghabisan makan siang mereka masing-masing. Setelah selesai makan, mereka pun membayarnya secara masing-masing. Kesa jarang mau jika Nia membayarkan makanannya, meskipun harga makanan tidak seberapa tetap dia mau membayarnya sendiri.


*********


Sabita sedang berada di salah satu cafe untuk menemui seseorang. Sabita membayar orang untuk mencelakai Nia, sebab dia dendam dengan Nia. Sabita menganggap Nia lah yang sudah membuat perusahaan papanya merugi besar.


" Terserah kalian mau kalian apakan wanita itu. Yang penting jangan sampai kalian habisi, kalian siksa dan buat dia menderita. Atau setelah kalian puas menyiksa nya kalian minta saja tebusan kepada suaminya. Yang aku tahu dia itu punya suami kaya raya."Ucap Sabita sengaja tidak menyebutkan siapa suami dari Nia agar dua orang suruhannya tidak takut di awal.


Jika mereka tahu orang yang akan mereka hadapi sudah pasti mereka akan mundur. Di kota ini siapa sih yang tidak tahu David sang Ceo Arogan dan menakutkan. Bagi Sabita yang penting dua orang itu sudah memberikan Nia pelajaran dan siksaan, dengan begitu sakit hati dan dendamnya sedikit terobati.


" Apa kami boleh mencicipinya?."Tanya pria yang berambut gondrong.


" Aku meminta kalian untuk menyiksanya, bukan untuk mencicipinya. Lagipula dia itu sedang hamil muda, aku tidak mau sampai bayi dalam kandungannya kenapa-kenapa. Karena aku yakin kalian pasti akan menggilirnya secara paksa. Tapi jika kalian mau, lakukan dengan pelan dan buat dia tidak sadarkan diri dulu baru kalian cicipi dia."Ucap Sabita dengan senyuman liciknya menghiasi bibir nya yang merona.


" Bukan ide yang buruk. Kalau begitu mana foto wanita itu dan hari ini juga kami akan beraksi agar semuanya cepat selesai. Tapi seperti biasa, setengah bayaran harus kamu bayar dulu."Ucap si gondrong sambil memainkan matanya.


" Itu soal mudah, ini 25 juta dulu. Sisanya akan aku bayar saat pekerjaan kalian sudah selesai. Dan ini foto wanita itu, kalian sudah tahukan dia bekerja di rumah sakit mana. Pokoknya kalian berdua harus bekerja secara bersih, tanpa menyeret namaku. Aku tidak mau orang tuaku tahu apa yang sudah aku lakukan, jika mereka tahu bayaran kalian sisanya tidak akan aku bayarkan. Ingat jangan sampai salah orang, wanita itu bernama Kurnia atau Nia."Seru Sabita dengan nada ketus.


Dua orang suruhan Sabita setuju dengan semua yang dikatakan Sabita. Setelah urusannya dengan dua preman itu selesai, Sabita meninggalkan cafe dan begitupu dua preman suruhan Sabita.


Kedua preman itu pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Nia bekerja. Sebelumnya Sabita sudah mencari tahu jadwal praktek Nia di rumah sakit, Sabita perpura-pura akan berobat sehingga bagian informasi memberitahu jadwal Nia praktek.


" M4mpus kamu, Nia. Kamu belum tahu jika Sabita bisa melakukan apa saja untuk bisa membalaskan rasa sakit hati dan dendamnya. Aku tidak tahu, jika dua preman itu sudah mencicipimu apa suami mu yang kaya raya itu masih mau menerima mu menjadi istrinya. Kamu sudah kotor dan rusak, Nia. Hahahaaa."Sabita mengendarai mobilnya sambil tertawa dengan keras dan menyetel musik cukup memekakkan telinga.


Mobil yang di kendarai Sabita sudah sampai didepan gerbang rumahnya. Namun dia heran kenapa pintu gerbang itu terbuka, biasanya juga selalu tertutup. Sabita menyangka jika barusan ada mobil yang masuk sebelum mobilnya. Namun, saat sudah memasuki halaman rumah Sabita kaget yang melihat kedua orang tuanya ada di luar rumah dengan mamanya menangis dan papanya berdebat dengan seseorang.

__ADS_1


" Papa, mama ini ada apa? Dan ini kenapa diluar banyak sekali koper dan barang-barang? Memangnya kita mau pindah? Tapi mau pindah kemana, pa? Sabita sudah senang tinggal di sini, pokoknya Sabita tidak mau pindah!."Seru Sabita marah dengan kaki yanng dia hentak-hentakan.


" Sabita !! Jaga sikap kamu !! Jangan buat kepala papa tambah pusing, sudah dewasa tapi masih saja seperti anak kecil !!."Seru pak Wahab marah.


" Pa, sudah jangan marah-marah. Kita bicarakan sama Sabita dulu pa, jangan seperti ini."Ucap mama Sabita dengan lembut.


" Sabita, kita harus pindah dari sini nak. Rumah kita ini harus di sita bank, karena papa kamu punya pinjaman dan tidak sanggup membayar cicilannya. Ternyata kerugian yang dialami perusahaan papa lebih dari 300 milyar. Banyak klien yang membatalkan kerja samanya secara sepihak. Jadi hampir semua aset kita di sita, terutama rumah ini, mobil mama dan papa. Tapi mobil kamu aman kok, kemungkinan papa juga akan menjual perusahaan."Ucap mama Sabita menjelaskan dengan pelan kepada Sabita si anak manja itu.


Sabita mengepalkan kedua tangannya, dia semakin membenci Nia. Semua ini terjadi karena Sabita berfikir berawal dari Nia, dan akhirnya merambat kemana-mana.


* Tunggu saja Nia, aku pastikan kamu akan menyesal sudah membuat hidupku seperti ini. Jika aku menderita, kamu harus lebih dari kata menderita. Tidak akan kubiarkan kamu hidup bahagia, kamu sudah merebut kebahagiaanku. Aku juga yang akan merebut kebahagisaanmu.*Gumam Sabita dalam hatinya.


Sabita bersama orang tuanya, memasukkan koper ke mobil Sabita. Total ada 5 koper besar yang ada di dalam mobil. Untuk barang yang lainnya akan mereka ambil nanti. Mereka tidak tahu akan tinggal dimana, sebab memang belum menyiapkan hunian baru.


" Bu, barang-barang berharga Sabita apa sudah dibereskan?." Tanya Sabita sebelum dia menjalankan mobil.


" Sudah, ada di koper yang warna biru. Koper biru dan dua yang warna hitam itu barang-barang kamu semua. Papa dan mama hanya dua koper ini saja, perhiasan mama yang bisa mama bawa juga cuma 2 set yang lainnya masih di kamar. Mana koleksi tas mama juga belum ada yang kebawa."Ucap mama Sabita bersedih.


" Kalian tidak perlu membicarakan soal perhiasan,tas ataupun yang lainnya. Apapun yang tertinggal disana akan di lelang atau disita dan hasilnya diakumulasikan untuk bayar hutang. Jadi diam dulu kalian itu !."Seru pak Wahab emosi.


Mendengar pak Wahab marah, membuat Sabita dan mamanya langsung diam. Sabita fokus dengan setir mobilnya, dia tahu bagaimana papanya saat marah. Tamparan pasti akan main tangan.


Dua preman suruhan Sabita kini sudah standby di dekat rumah sakit. Menurut informasi Sabita, hari ini Nia pulang jam 4 sore. Kedua preman terus memperhatikan orang yang keluar masuk di rumah sakit itu, berharap orang yang dia tunggu-tunggu segera keluar.


Pucuk di cinta ulam pun tiba, akhirnya Nia keluar dari lobby rumah sakit dan berdiri di dekat parkiran untuk menunggu jemputan yang dikirimkan David.


" Broo itu target kita. Apa kita langsung sergap saja?"Tanya si gondrong.


" Tunggu dulu, kita lihat situasi dulu. Jangan gegabah yang ada kita nanti yang babak belur di hakimi warga . Kamu lihat, sepertinya dia sedang menunggu jemputan "Ucap si pria bertato naga.


Mobil jemputan Nia tak kunjung datang, Nia sudah menunggu selama 10 menit. Nia pun memutuskan untuk memesan taksi onlinne saja. Dia sudah cukup lelah untuk terus menunggu mobil jemputan nya.


Sambil menunggu taksi online, Nia memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa bosannya. Setelah 5 menit menunggu, tiba-tiba ada mobil berhenti tepat di depannya .


" Dengan mbak Nia." Seru pria bertopi itu dengan ramah.


" Iya pak."Jawab Nia lalu segera masuk ke mobil.


Tanpa Nia sadari, di bagian kursi belakangnya ada seorang pria yang senyum-senyum. Begitupun dengan sopir itu, dia senyum-senyum sendiri membuat Nia sedikit merasa aneh.


*********

__ADS_1


__ADS_2