Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Mantan suami tidak tahu malu


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Tok Tok Tok


"Bu, sepertinya ada tamu? Biar Wati lihat dulu ya bu, siapa tahu itu orang jahat."Ucap Wati mengantisipasi keadaan.


Wati bukan sekedar ART biasa, tetapi Wati adalah salah satu anak buah David yang cukup bisa di andalkan. Bela dirinya juga hebat, pada dasarnya Wati adalah seorang bodyguard yang merangkap sebagai ART untuk melayani ibu Karti.


"Anda ngapain datang kesini?."Tanya Wati saat tahu siapa orang yang datang kerumah ibu Karti saat malam hari.


Saat ini Baskoro sudah berdiri didepan pintu rumah Ibu Karti. Padahal saat ini sudah jam 9 malam, waktunya orang untuk beristirahat namun justru Baskoro datang dengan tidak tahu malunya.


"Aku datang kesini untuk bertemu dengan Karti. Mana Karti suruh dia keluar, aku ingin bicara dengannya empat mata."Ucap Baskoro seenaknya.


"Tidak ! Saya tidak akan mengizinkan anda bertemu dengan ibu Karti. Lebih baik anda sekarang pergi dari sini sebelum aku melakukan kekerasan."Seru Wati mengusir Baskoro dengan tegas.


"Jangan lancang kamu !! Kamu itu cuma pembantu dirumah ini jadi jangan berlagak sok sebagai pemilik rumah ini."Seru Baskoro dengan memandang sinis kearah Wati.


Wati mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali dia menghajar pria paruh baya yang saat ini ada dihadapannya. Meskipun Baskoro badannya lebih besar darinya, Wati sama sekali tidak takut. Jangan kan Baskoro, menghadapi sekelompok peman saja Wati tidak akan takut.


"Tidak perlu banyak b@cot kamu orang tua. Lebih baik sekarang anda pergi sebelum aku memukulmu. !!."Bentak Wati lagi dengan kesal.


"Dasar bocah ingusan. Dikasih tahu malah membantah."Ucap Baskoro dengan ketus.


Buugghhh

__ADS_1


Buugghhh


Wati sudah tidak bisa lagi mengondisikan emosinya, tanpa menunggu lama dia menghajar Baskoro tanpa ampun. Ternyata badan besar Baskoro tidak sekuat yang Wati bayangkan, Baskoro tersungkur dengan satu kali pukulan dibagian wajahnya dan dua kali di bagian perutnya.


Ibu Karti yang menunggu Wati tidak balik-balikpun akhirnya menyusul Wati kedepan. Tepat saat ibu Karti datang Wati sedang menghajar Baskoro.


"Wati hentikan !! Jangan kamu kotori tanganmu dengan cara menghajar pria pendosa itu."Seru ibu Karti menghentikan aksi Wati.


"Dia sudah mengatai ku bocah ingusan bu. Tetapi apa di tumbang juga dengan dua kali tendangan dan pukulan bocah ingusan ini."Seru Wati dengan kesal.


Ibu Karti memandang jengah Baskoro, tidak habis fikir untuk apa pria itu datang lagi menemuinya disaat malam hari. Ibu Karti mendekati Baskoro dan memba tunya berdiri. Baskoro sudah merasa senang sebab ibu Karti peduli dengan nya.


"Sekarang kamu pergi dari sini sebelum para warga datang untuk menghajarmu. Jika kamu datang untuk mencari tahu Kurnia, sampai kapanpun aku tidak akan memberitahu dimana keberadaannya. Jika kamu mau, kamu cari tahu sendiri tanpa harus bertanya kepada ku !!."Bentak ibu Karti dengan tegas.


Senyum yang sempat terukir di bibir Baskoro secara tiba-tiba menghilang dan memudar. Dia mengira dengan mantan istrinya membantu dia berdiri, sang mantan istri sudah berubah dan mau untuk memberitahu keberadaan Anaknya.


"Karti, aku datang kesini untuk menanyakan keberadaan Kurnia anak kita. Dan aku juga ingin bersilahturahmi dengan mu, Karti. Meskipun kita sudah berpisah, aku harap hubungan baik dintar kita bisa terus terjaga dengan baik."Ucap Baskoro seenaknya tanpa memikirkan perasaan ibu Karti.


Dulu dengan mudahnya dia meninggalkan Nia dan ibu Karti, bahkan tidak memperdulikan tangisan Nia kecil yang sangat pilu. Dan bahkan tabungan hasil dari ibu Karti menjadi buruh cuci gosok yang akan dipergunakan untuk sekolah Nia pun tak luput dibawa oleh Baskoro. Sehingga ibu Karti dan Nia hidup serba kekurangan dan harus kembali mengumpulkan uang untuk Nia masuk sekolah.


"Jangan berani kamu memukulku lagi ! Kamu belum tahu siapa aku kan? Aku ini orang kaya dan salah satu petinggi di perusahaan Widjaya Group. Jika kamu macam-macam aku tidak segan-segan untuk membawamu ke polisi. Kamu tahukan bagaimana besarnya perusahaan Widjaya Group dan berkuasanya pimpinan Widjaya Group. Sampai kamu menyakiti salah satu petingginya sudah pasti kamu juga yang akan hancur."Seru Baskoro mengancam dengan bualan yang tidak ada faedahnya sam sekali.


Haaaa haaaa haaaa.


Bukannya takut dengan ancaman Baskoro, Wati justru tertawa dengan lebar. Sedikitpun dia tidak takut dengan ancaman Baskoro, sebab Wati sudah tahu siapa Baskoro yang sebenarnya.


"Membual itu jangan tanggung-tanggung. Kenapa tidak sekalian anda bilang kalau anda itu Ceo atau wakil Ceo perusahaan Widjaya Group? "Ucap Wati tanpa rasa takut terus memojokkan Baskoro.


Orang seperti Baskoro menang harus di beri pelajaran agar tidak semakin seenaknya dan terus membual. Padahal dirinya bukan apa-apanya di Widjaya group, dia hanya staff biasa itupun atas kemurahan hati David sehingga dia masih tetap bisa bekerja disana. Dan tentunya memang ada seseuatu yang ingin David selidiki lagi dari Baskoro, David juga ingin menghancurkan hidup Baskoro.


"Pilih pergi dari sini atau aku hajar lagi?." Seru Wati dengan tegas.

__ADS_1


Belum sempat Baskoro menjawab, tiba-tiba datang sekelompok bapak-bapak yang berjumlah sekitar 5 orang. Mereka datang bersama pak Rt ingin tahu ada keributan apa dirumah ibu Karti, tentunya para tetangga sangat peduli dengan ibu Karti. Sebab jalan tempat tinggal mereka bagus dan mulus semua itu berkat David. Meskipun begitu, pada dasarnya para warga memang dari dulu baik dengan ibu Karti.


"Ada apa ini, bu Karti?." Tanya pak Rt menghampiri rumah ibu Karti.


"Iya ada apa ini bu? Dan bapak ini siapa? Dan untuk apa malam-malam bertamu di rumah seorang wanita dan membuat keributan?."Tanya salah satu warga.


"Ehh tapi ini bukannnya mantan suami ibu Karti? Si Baskoro yang tidak tahu diri dan tidak punya hati itu?." Seru salah satu warga yang memang masih mengenali Baskoro dengan baik.


Baskoro hanya diam saja, nyalinya menciut mendengar segala pertanyaan dari warga tadi. Dia takut juga dihajar oleh warga, apalagi dia memang sendirian.


"Pak Rt, tolong usir dia dari rumah ku. Aku tidak mau dia ada dirumah ku. Apalagi saat ini juga sudah malam, waktunya untuk istirahat. Tadi Wati sudah memberinya pelajaran tapi dia masih saja tidak mau pergi. Terserah pak Rt dan warga saja mau pakai cara apa mengusir dia !"Seru ibu Karti


"Tidak perlu mengusirku secara ramai-ramai, aku bisa pergi sendiri !!."Seru Baskoro dengan ketus.


"Tapi ingat aku pasti datang untuk menanyakan soal keberadaan ku anakku, Kurnia. Aku ini ayah kandungnya jadi berhak juga atas dia, aku tahu Kurnia itu sudah sukses buktinya rumah kamu sudah sebagus ini."Ucap Baskoro tidak tahu malu.


"Huhhh dasar ayah tidak ada gunanya, tidak betanggung jawab. Dulu saat masih kecil anak disia-siakan sekaran justru menuntut. Sebelum banyak menuntut perbaiki diri dulu pak dan berkacalah dari kesalahan-kesalahan kamu."Ucap warga yang bernama Marno.


"Diam kamu !! Dasar orang miskin !! Kalian tidak perlu ikut campur, ini masalah antara aku dan mantan istri dan anakku. Kalian tahu apa ? Bisanya cuma menjilat saja."Seru Baskoro dengan ketus dan tidak terima atas hinaan dari pak Marno.


Buggghhhhh


Pak Marno memanas sehingga dengan cepat dia memukul Baskoro tepat di hidungnya. Sehingga hidung Baskoro mengeluarkan darah segar.


"Pak Baskoro lebih baik sekarang anda pergi sebelum para warga semakin marah."Seru Pak Rt menengahi keributan.


Tanpa menjawab, Baskoro akhirnya pergi dari rumah ibu Karti dengan perasaan kesal. Malam ini sepertinya malam sialnya beberapa kali dia mendapat pukulan. Tanpa satupun dia bisa membalasnya.


Setelah Baskoro pergi, pak Rt dan para bapak-bapak tadi pun kembali kerumahnya masing-masing. Tanpa Baskoro ketahui sedari tadi ternyata Leni sudah mengintai kedatangannya di rumah Ibu Karti. Leni mengikuti mobil suaminya saat keluar dari rumah, dia memang curiga jika ada sesuatu dengan Suaminya. Ternyata tebakannya tidak meleset, suaminya menemui sang mantan istrinya.


"Kurangajar kamu, Pa ! Diam-diam kamu datang menemui mantan istri kamu yang miskin itu, tapi sekarang sepertinya mantan istri kamu itu sudah hidup dengan enak. Atau jangan-jangan semua itu dari pemberian kamu? Kalau sampai itu iya, aku tidak akan tinggal diam pa. Enak saja mantan istri kamu nfkahi sedangkan selama ini aku memang tidak menuntut banyak dari kamu. Sebab aku punya penghasilan yang lebih banyak dari kamu. Tapi kenapa tadi ada keributa ? Sebenarnya apa yang terjadi."Ucap Leni terus bermonolog pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Leni melajukan mobilnya meninggalkan jalanan dekat rumah ibu Karti. Kini dia ingin langsung pulang dan menemui suaminya, dia ingin tahi kira-kira alasan apa yang ingin disampaikan oleh suaminya dengan wajahnya yang sudah pasti lebam.


*************


__ADS_2