
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Rindi datang ke rumah Nia, kebetulan dia sudah membuat janji dengan Nia. Rindi datang lebih cepat dari waktu yang dia janjikan.
" Tumben kamu datang kesini ? Biasanya kamu selalu sibuk dengan pekerjaan kamu? Sepertinya ada yang sangat penting ya?."Tanya Nia sambil terkekeh kecil.
" Kamu tahu sendiri bagaimana bekerja di Bank. Hemm biasanya jika akhir bulan gini selalu ada lemburan, tapi hari ini aku tidak ada lemburan. Pekerjaanku sudah selesai dari kemarin. Aku datang kesini memang ada yang ingin aku sampaikan sama kamu."Ucap Rindi mencoba memulai pembicaraan.
" Sepertinya serius nih? Mau bicara apa sih? Bumil penasaran loh."Ucap Nia menimpali.
Hhhuuuufff
Rindi menghela nafas dengan kasar, dia mencoba menetralisir rasa gugupnya. Nia dibuat makin penasaran saat melihat sikap Rindi yang sepertinya memang ingin bicara serius.
" Nia, besok aku mau dilamar oleh seseorang."Seru Rindi.
" Wahh ternyata kamu sudah mau sold out juga ya? Siapa kah pria yang berhasil meluluhkan hati sahabatku ini?." Tanya Nia sangat heboh.
" Vito. Vito yang akan melamarku, sudah 1 bulan ini aku dan Vito menjalin hubungan. Kamu tidak marah kan dengan ku?."Tanya Rindi takut jika Nia akan tersinggung.
Nia mengerutkan keningnya, untuk apa dia marah? Dia dan Vito sudah tidak ada hubungan apa-apa, semua itu sudah masalalu. Nia justru ikut senang jika Rindi bahagia. Pada dasarnya Vito itu orang yang baik, Nia percaya Vito bisa menjadi imam yang baik untuk Rindi.
" Rindi, aku dan Vito itu hanya masalalu. Aku sama sekali tidak marah dengan hubungan kalian berdua. Aku ikut bahagia jika kamu bahagia, jujur Vito itu orang yang baik. Mungkin dulu memang kami belum di takdirkan untuk berjodoh sehingga kami dihalangi oleh mamanya."Ucap Nia menjelaskan semuanya agar Rindi tidak merasa bersalah.
" Terima kasih Nia. Aku sangat bahagia dan beruntung memiliki teman seperti kamu. Masalah mamanya Vito, alhamdulillah dia baik dan menerima aku dengan baik. Sepertinya mama nya sudah sadar atas kesalahannya."Ucap Rindi lagi.
" Alhamdulillah. Oh iya, Apa Berta sudah tahu soal ini?."Tanya Nia ingat dengan satu temannya lagi yang saat ini ada di luar negeri.
Rindi menggelengkan kepalanya dengam cepat. Dia memang belum memberitahu Berta. Dia belum berani memberitahu Berta, karena dia belum menyiapkan mental yang kuat. Jika Berta tahu pasti Berta akan menertawakan Rindi dan menggoda Rindi terus menerus.
__ADS_1
" Kenapa?." Tanya Nia ingin tahu.
" Aku belum siap. Aku takut si mulut ember itu terus mebertawakan aku. Soalnya aku pernah bilang sama dia kalau aku tidak mungkin mau sama Vito. Tapi ternyata aku justru sekarang pacaran sama Vito. Tidak tahu bagaimana jika anak itu tahu."Ucap Rindi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Huuhh... Kamu juga sih sok bergaya bicara seperti itu. Tapi tidak apa-apa juga sih, tapi ngomong-ngomong kok bisa Vito itu suka sama kamu ? Padahal dulu kalian ini cuma kenal-kenal gitu doang. Apa sebelumnya kalian ini sering bertemu ya?." Tanya Nia yang kepo dengan hubungan Rindi dan Vito.
Rindi nampak menceritakan bagaimana dia dan Vito bertemu dan sampai Vito mengakuinya sebagai pacar di depan mantan istrinya dan mantan mertuanya. Dan semenjak itu mereka sering komunikasi.
" Semoga hubungan kalian langgeng sampai kakek, nenek ya. Aamiin."Seru Nia penuh harap.
" Aamiin. "Seru Rindi mengaminkan ucapan sang sahabat.
" Ini sudah berapa bulan? Sudah tidak sabar pengen lihat keponakan ini segera launching."Ucap Rindi sambil mengusap-usap perut buncit Nia.
" Insya Allah 2 bulan lagi si babby akan lahir ke dunia ini."Ucap Nia dengan senyum mengembang.
Haripun semakin siang, Nia mengajak Rindi untuk makan siang bersama. Rindi tadinya menolak, karena Nia memaksa dan mengancam akan marah akhirnya Rindi mau. Di meja makan hanya ada Nia, Rindi dan Nada saja. David masih disibukkan dengan pekerjaannya di kantor.
" Tante Rindi ini teman mama ya?." Tanya Nada saat mereka sedang makan.
" Aku juga kalau sudah besar nanti mau punya best friend juga lah."Seru Nada lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Iya dong, punya best friend itu enak."Jawab Rindi lagi.
Selesai makan siang, Rindi pun berpamitan pulang. Baru juga dia keluar dari pintu gerbang, mobil Vito sudah menghampirinya. Dia kaget, sebab dia tidak meminta Vito untuk menjemputnya.
" Kok kamu bisa menjemputku?."Tanya Rindi penasaran.
" Kamu kemarin kan bilang mau kerumah Nia, dan sudah pasti tidak bawa mobil. Sebenarnya sudah dari 15 menit yang lalu aku menunggu di pinggir jalan sana. Aku mau masuk ke rumah Nia, sungkan dan takut mengganggu kalian berdua."Jawab Vito menjelaskan alasannya.
" Oh begitu. Ya sudah sekarang kita langsung pulang saja, tadi aku sudah janji sama ibu klo akan pulang sebelum jam makan siang. Tapi siapa sangka Nia memaksa untuk makan siang dulu, kalau aku tidak mau dia akan marah."Ucap Rindi sambil terkekeh.
Vito hanya menanggapi dengan senyuman, dia tidak mau membicarakan apapun soal Nia. Dia menjaga perasaan sang kekasih.
*********
__ADS_1
" Apa benar kamu memecat salah satu dokter di rumah sakit? Anaknya pak Lukas?." Tanya Pak Widjaya kepada Miska.
Miska hanya menjawab dengan anggukan karena dia sibuk dengan labtop yang ada di depannya. Pak Widjaya dan istrinya hanya bisa saling pandang, merasa heran dengan sikap Miska yang secara mudah memecat seorang dokter.
" Kenapa?." Tanya pak Widjaya.
" Karena dia memang pantas untuk dipecat. Attitude seorang dokter tidak seperti dia itu, terlalu arogan dan berambisi. "Jawab Miska masih tidak di mengerti oleh mama dan papanya.
Miska memandang papa dan mamanya secara bergantian, terlihat wajah mama dan papanya yang masih kebingungan.
Miska pun menceritakan semua yang terjadi di rumah sakit dan semua tingkah buruk dokter Sari. Setelah mendengar cerita Miska papa dan mamanya pun paham dan mengerti kejadian yang sesungguhnya.
" Kalau seperti itu sih mama dan papa setuju, seorang dokter tidak pantas seperti itu. Apalagi berniat mempermalukan kamu di tempat umum dan di lingkungan rumah sakit juga. Terus sekarang dia sudah tidak bekerja di rumah sakit lagi?."Tanya mama Karmila ingin tahu lebis pasti lagi.
" Iya ma. Hari itu juga Miska langsung memecat dia, dan besoknya dia tidak datang kerumah sakit. Kalau saja tidak di lingkungan rumah sakit, mumgkin aku sudah cabein itu mulut dia."Seru Miska lalu dia menutup laptopnya.
" Jangan terlalu bar-bar juga Miska. Nanti kalau Rendi ilfeel sama kamu bagaimana? Oh iya, ngomong-ngomong kemana Rendi sudah atau 3 hari ini mama lihat tidak datang menjemput ataupun mengantar kamu pulang?."Tanya mama Karmila.
Iiisshhhh
Miska berdercih kesal, bukan kesal dengan mamanya tapi dia kesal dengan David. Gara-gara David memberikan banyak pekerjaan di kantor, Rendi jadi jarang menemui Miska. Pekerjaannya itu mengharuskan untuk dia lembur.
" Itu kak David. Masa iya kak Rendi dikasih pekerjaan banyak dan sampai lembur terus. Mama marahin saja kak David, awas saja kalau calon suamiku sakit."Seru Miska dengan wajah di tekuk.
" Kakak mu itu memang gila kerja, jadi Rendi sebagai assistennya pasti juga sudah paham dan sudah menjadi hal biasa bagi Rendi."Ucap Mama Karmila menanggapi cerita anak gadisnya.
Pak Widjaya hanya menyimak saja, membiarkan dua wanita beda usia itu saling bercerita. David juga pasti memang sengaja memberikan pekerjaan itu untuk Rendi, hanya untuk membuat Rendi sibuk saja.
" Ma, papa kekamar duluan ya."Ucap pak Widjaya berpamitan.
" Iya pa. 10 menit lagi nanti mama nyusul papa."Jawab Karmila dengan lembut.
* Mama dan papa semakin tua semakin romantis saja. Apa nanti aku dan kak Rendi bisa seromantis mereka juga ya?*Gumam Miska dalam hatinya.
**********
__ADS_1