
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Perdebatan Miska dan Bella masih saja berlanjut, sampai pemilik butik menghampiri mereka. Ibu Lidia terkejut saat mengetahui wanita yang diajak ribut Bella adalah Miska.
"Bella ! Tolong jangan buat keributan di butik ku, lebih baik sekarang kamu cepat tinggalkan butik ini sebelum aku mengusirmu dengan kasar."Seru Ibu Lidia memilih mengusir Bella agar keributan tidak semakin panjang.
Mendengar pengusiran dari sang pemilik butik membuat Bella tidak terima. Bagaimana bisa seorang Bella yang sudah menjadi pelanggan dibutik itu diusir oleh pemilik butik. Sorot mata amarah Bella terpancar membara, dia tidak terima dengan pengusiran yang dilakukan oleh ibu Lidia.
"Ibu Lidia mengusir saya? Apa anda lupa, jika saya ini pelanggan tetap butik anda. Bahkan tadi saya dan calon suami saya baru saja fitting baju di butik anda. Seenaknya saja anda mengusir saya."Seru Bella memandang tajam kearah Ibu Lidia dengan tangan bersedekap di depan.
"Maaf aku tidak bermaksud untuk bersikap kasar, tetapi aku harus bersikap tegas kepada pengunjung yang membuat keributan dibutik ku. Iya, aku memang mengusir kamu agar tidak terjadi keributan yang lebih parah lagi. Jadi lebih baik kamu pergi saja ya, Bella."Seru ibu Lidia dengan sopan.
"Kurangajar anda !! Anda tahu siapa saya kan? Aku seorang model, Mama ku pemilik salon terbesar di kota ini dan papa ku seorang menejer di perusahaan besar. Tentunya anda tahu kan? Apalagi aku ini pelanggan tetap dibutik ini, kenapa justru aku yang di usir? Seharusnya dia wanita kampungan dan norak ini yang ibu usir."Seru Bella sambil menunjuk kearah Miska.
Keributan itu menjadi pusat perhatian para pengunjung butik dan hal itu membuat Ibu Lidia merasa tidak enak dengan para pelanggannya. Dia sudah tahu bagaimana Bella, biarpun kaya kalau sombong juga tidak akan membuat ibu Lidia menaruh hormat kepada Bella.
"Saya tahu, kamu anaknya Pak Baskoro seorang menejer HRD di perusahaan Widjaya Group. Tetapi meskipun kamu anak dari seorang menejer, jika kamu salah aku tetap akan menegur kamu, Bella."Seru ibu Lidia dengan pelan.
"Oh jadi dia ini anak dari salah satu menejer di Widjaya Group ya, Tante?. Cuma jadi anak menejer saja bangga, aku yang anak dari pemilik perusahaannya saja biasa saja, tidak sombong seperti kamu."Seru Miska sepertinya dia keceplosan bicara seperti itu.
*Uppsshhh kenapa aku kasih tahu siapa diriku yang sebenarnya. Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa sesekali aku menyombongkan diri juga.*Gumam Miska dalam batinnya.
Haaahaaaaa Haaaaa
Bella tertawa dengan lantang, dia menganggap Miska wanita gila dengan beraninya mengatakan dia sebagai anak dari pemilik perusahaan Widjaya Group. Bella sama sekali tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Miska.
"Jangan mimpi !!! wanita kampungan dan norak seperti kamu anak dari pemilik perusahaan Widjaya group?."Seru Bella masih saja menertawakan Miska.
"Tidak percaya ya sudah. Sudahlah aku malas ribut, oh iya tante, aku datang untuk mengambil baju pesanan mama. Apakah sudah disiapkan? Pasti mama belum membayarnya kan? Berapa total pesanan mama, Tante?."Tanya Miska sengaja menanyakan total yang harus dibayar agar Bella syok, sesekali sombong tidak apa-apa ya, Miska.
"Sudah siap semua kok. Totalnya 85 juta, kamu langsung bayar ke kasir saja."Seru ibu Lidia.
Benar saja, Bella benar-benar syok dengan total baju yang dibeli oleh Miska. Lebih tepatnya baku pesanan mama Miska, baju itu adalah baju yang sengaja Karmila pesan untuk Nia, 5 gaun-gaun yang cantik dan mewah untuk Nia sebagai hadiah pernikahan yang sedikit terlambat.
__ADS_1
*Baju pengantin ku saja cuma 40 juta sudah sama bajunya Vito, dia pesan baju sampai 85 juta itu berapa baju? Aku saja kalau belanja disini, paling banyak hanis 15 juta sampai 25 juta saja, lah dia sampai 85 juta *Gumam Bella dalam batinnya.
Tanpa berkata-kata Bella langsung meninggalkan butik begitu saja, namun dia tetap tidak percaya jika wanita yang tadi ribut dengannya adalah anak dari pemilik Widjaya Group.
"Yuk keruangan, Tante."Seru ibu Lidia.
"Iya tante."Jawab Miska.
Ibu Lidia dan Miska berjalan menuju ruangannya, mereka sudah melupakan keributan yang baru saja terjadi akibat ulah Bella.
***********
Malampun tiba, Nia dan Nada sudah pulang dari sore sebelum David pulang dari kantor. Kini Nia sedang menunggu David masuk kekamar, sebab sedari selesai makan malam David langsung masuk ke ruang kerjanya.
"Sebenarnya ada apa dengan David? Kenapa seharian ini dia terlihat cuek dan dingin, aku merasa tidak melakukan kesalahan."Ucap Nia dalam batinnya.
Cukup lama Nia menunggu David masuk kamar, dan setelah 2 jam menunggu David akhirnya masuk kamar. David langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan membelakangi Nia. Nia sudah tidak tahan lagi untuk menanyakan apa salahnya kepada David, sampai David mendiamkannya seharian.
"Tua... Hubby."Seru Nia hampir saja dia salah memanggil dengan panggilan Tuan.
Tidak ada sahutan dari David, justru David pura-pura memejamkan matanya. Namun Nia tetap saja mengajak David bicara.
"Jika aku ada salah, aku minta maaf. Tapi sepertinya aku tidak ada salah sedikitpun sama kamu."Ucap Nia lagi.
" Jangan ganggu aku. Aku lelah dan mengantuk, lebih baik kamu segera tidur. Bukannya kamu besok harus ikut seminar kedokteran keluar kota."Seru David tanpa memandang kearah Nia.
Nia hampir saja melupakan seminarnya, padahal sudah dari dua hari yang lalu pihak rumah sakit memberitahu. Nia sama sekali belum mengemas pakaian yang akan dia bawa keluar kota, Nia akan mengikuti seminar selama 3 hari.
"Hubby apa kamu marah karena aku ikut seminar ini?."Tanya Nia mengira jika David marah karena keikut sertaanya dirinya dalam seminar yang diadakan diluar kota selama 3 hari.
"Tidak ! Aku tidak akan pernah marah kamu melakukan hal yang positif, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan kamu. Dokter itu cita-cita kamu dan aku akan mendukungmu. Sudah jangan ganggu aku, aku mau istirahat."Seru David ketus.
Nia sudah tidak tahu lagi apa yang harus ingin dia sampaikan kepada David. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa David bisa bersikap acuh seperti itu kepada dirinya. Nia turun dari ranjang dan menuju keruang sebelah untuk menyiapkan barang yang akan dia bawa besok pagi.
*Aku memang mencintaimu, Nia. Tetapi apa kamu juga mencintaiku? Sampai detik ini aku tidak pernah mendengar kamu mengucapkan kata sayang dan cinta kepadaku. Tetapi bukan berarti kamu membohongiku seperti ini. Kamu tahu jika Nada sangat mengharapkan seorang adik, begitipun aku yang sangat mengharapkan anak laki-laki. Tetapi kenapa kamu justru menunda kehamilan kamu. Apa kamu tidak percaya dengan ku, atau karena kamu masih mencintai mantan pacarmu.* Gumam David dalam batinnya.
Ternyata David sudah tahu jika Nia menunda kehamilannya, sebab malam itu David pernah memergoki Nia meminum sesuatu. David mengira jika itu hanya vitamin, namun saat Nia sudah terlelap David mengambil obat yang ada didalam laci dan ternyata obat itu adalah pil penunda kehamilan.
Diruangan sebelah, Nia menyiapkan pakaian dan keperluan yang lainnya untuk dia bawa keluar kota. Namun Nia masih saja terus kefikiran dan bertanya-tanya dalam hatinya ada apakah dengan suaminya sehingga dia acuh dan cuek dengannya.
__ADS_1
" Kalau soal pekerjaan ku memang sudah pasti bukan. Sebab saat sebelum menikah kami sudah membicarakan masalah ini, David tidak masalah aku bekerja. Justru dia mendukung dengan profesiku yang menjadi seorang dokter. Yang penting aku tidak melupakan tanggung jawabku sebagai seorang istri dan ibu." Ucap Nia terus bermonolog pada dirinya sendiri.
Setelah 30 menit, Nia sudah selesai berkemas. Nia kembali menghampiri ranjangnya, tidak lupa dia mengeluarkan sesuatu dari laci nakas samping nya dan meminumnya. Meskipun David tidak melihat apa yang dilakukan Nia, David sudah tahu jika Nia barusaja meminum pil penunda kehamilannya.
Keesokan harinya, saat Nia bangun tidur dia melihat David sudah tidak ada di sampingnya. Padahal saat subuh tadi David masih ada, namun saat ini David sudah tidak ada padahal masih jam 6 pagi.
"Kenapa aku bisa kesiangan begini sih? Akibat semalam yang susah tidur, sehabis sholat subuh kok malah enak banget tidurnya. Tapi kemana David? Tumben dia jam segini sudah keluar kamar, pintu balkon juga tertutup. Heemm mungkin saja dia sudah turun, baiklah aku harus segera turun. Beruntung sekali berangkatnya jam 10 pagi jadi aku masih punya waktu yang lumayan banyak."Ucap Nia bermonolog sendiri.
Nia turun dari ranjang lalu keluar kamar menuruni anak tangga dan langsung menuju dapur. Didapur sudah ada mbok Jum yang sedang menyiapkan sarapan.
" Maaf ya mbok, gara-gara aku yang kesiangan. Mbok Jum harus siapin sarapan sendirian, tadi sehabis sholat subuh aku ketiduran mbok."Ucap Nia merasa tidak enak dengan mbok Jum.
"Tidak apa-apa Non, tadi ada Nur yang bantuin."Jawab mbok Jum dengan sopan.
"Oh iya Non. Tadi pagi-pagi sekali Tuan sudah berangkat keluar kota. Katanya tidak tega membangunkan Non Nia , jadi Tuan titip pesan sama mbok."Ucap mbok Jum.
Haaaaah?
Jadi David keluar kota? Nia benar-benar tidak tahu jika David mau keluar kota juga. Sebab David sama sekali tidak memberitahu Nia, Nia merasa sepertinya David benar-benar sedang marah dengannya.
"Emmm iya mbok. Semalam suami saya juga sudah bilang kok kalau dia mau keluar kota, tapi aku tidak tahu berapa lama dia diluar kota."Jawab Nia sudah pasti berbohong.
"Satu minggu Non, soalnya kemarin siang Tuan telepon untuk menyiapkan pakaiannya yang akan dibawa keluar kota selama seminggu."Ucap mbok Jum semakin membuat Nia merasa aneh dengan sikap David.
Nia melupakan soal David sejenak, dia melangkahkan kakinya menuju kamar Nada. Saat dia masuk kekamar Nada, Nada baru saja mandi dan sedang memakai baju dengan mbak Nur. Nia langsung mengambil alih tugas mbak Nur.
"Mama nanti mau keluar kota ya?." Tanya Nada.
"Iya sayang. Maaf ya, mama harus keluar kota selama 3 hari. Tapi kok Nada tahu kalau mama mau keluar kota, padahal mama belum kasih tahu loh." Seru Nia sembari mengancingkan baju Nada.
"Kata papa tadi malam. Papa juga keluar kota, jadi Nada menginap dirumah Oma saja. "Ucap Nada membuat Nia langsung memandang kearah Nada.
"Maafkan mama ya sayang. Mama janji, jika urusannya sudah selesai. Mama akan cepat pulang, agar bisa bertemu lagi dengan anak mama yang cantik dan manis ini."Seru Nia sambil memeluk Nada.
Nia tidak bisa memilih salah satu antara rumah tangga apa pekerjaan. Sebab dokter adalah cita-citanya sejak kecil, dan dia harus berjuang untuk bisa mendapatkan beasiswa agar bisa berkuliah.
"Tidak apa-apa Ma. Kata papa dokter itu pekerjaan yang mulia, makanya Aunti juga mau jadi dokter. Dan Nada juga nanti kalau sudah besar mau jadi dokter juga. "Ucap Nada antusius.
Sepertinya Nada tahu dan bisa memahami pekerjaan Nia. Nada sudah siap untuk berangkat sekolah, namun kini Nada sarapan terlebih dahulu ditemani oleh mbak Nur. Sedangkan Nia bersiap-siap dikamarnya, untuk mengantar Nada kesekolah dan langsung menuju Bandara.
__ADS_1
**************