
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
" Tuan " Seru Nia tidak percaya dengan apa yang dikatakan David.
Bagaimana bisa David bilang mencintainya sedangkan dia saja sering memaki dan memarahi dirinya. Nia tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh David.
" Iya aku mencintaimu, aku memang jatuh cinta sama kamu. Tapi selama ini aku mencoba untuk menutupinya, karena aku malu mengakui lebih dulu perasaan ini."Seru David menjelaskan agar dia lebih yakin.
" Aku mau menikahi kamu bukan karena semata-mata hanya untuk menjadi mama untuk Nada saja. Akan tetapi karena aku juga mencintai kamu. Aku harap kamu mau menerima lamaranku ini, Nia."Seru David sembari memegang bahu Nia. Kini mata mereka saling beradu pandang dan Nia melihat keseriusan di mata David.
Nia mencoba meyakinkan dirinya untuk bisa menerima lamaran David. Pada dasarnya dia sendiri juga mencintai David. Tidak ada salahnya menerima lamaran David, mungkin memang sudah ditakdirkan dia menikah dengan seorang duda. Biar duda tapi bukan sembarang duda, duda yang tampan dan kaya raya serta duda yang digandrungi oleh para wanita diluaran sana.
" Aku akan jawab semuanya di dalam. Mari kita masuk Tuan."Seru Nia berlalu lebih dulu masuk ke rumah dan kembali duduk di samping ibunya.
Saat Nia duduk di samping ibunya dia baru menyadari jika sudah terhidang teh yang masih panas. Sepertinya ibunya tadi sempat membuatkan minuman terlebih dahulu untuk ketiga tamunya. Nia sendiri justru sampai melupakan itu, sebab dia tadi sangat kaget saat Tuan Widjaya mengatakan ingin melamarnya.
" Bagaimana sudah selesai bicaranya."Tanya ibu Karti dengan lembut.
" Sudah bu." Jawab Nia dengan singkat.
" Lalu apa jawaban kamu?" Tanya ibu Karti lagi ingin segera tahu jawaban dari anaknya.
Semua pasang mata memandang kearah Nia, mereka semua menanti jawaban Nia dengan harap - harap cemas. Terutama David, dia tadi sudah sampai merendahkan dirinya dengan mengakui perasaannya terlebih dahulu kepada Nia. Jika Nia menolak lamarannya tenrunya dia akan sangat malu.
__ADS_1
" Bagaimana Nia?" Tanya Karmila yang sudah tidak sabar.
" Sebelumnya saya ingin bertanya kepada Tuan dan Nyonya. Apa Tuan dan Nyonya tidak malu mempunyai menantu orang miskin seperti saya? Anda bisa melihat sendiri perbedaan keluarga kita seperti bumi dan langit." Ucap Nia ingin lebih menyakinkan kedua orangtua David dan juga David agar mereka tidak menyesal dikemudian hari.
" Kami tidak memandang kamu siapa dan kamu kaya atau tidak. Dulu saya juga bukan siapa - siapa, jadi bagi kami semuanya sama saja. Jadi sekarang bagaimana dengan jawaban kamu?."Tanya mama David semakin penasaran.
Hhhuuuuufff
Nia mencoba menghela nafas dengan panjang terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban. David terlihat gusar menantikan jawaban dari Nia. Nia sudah berhasil mengobrak - abrik hati David.
" Aku menerima lamaran Tuan David." Jawab Nia dengan yakin.
" Alhamdulillah." Seru kedua orang tua David secara bersamaan.
" Terimakasih Nia." Seru David langsung mengucapkan rasa terimakasihnya. Baru kali ini Nia mendapat ucapan terimakasih yang benar - benar tulus dari David.
Nia mengangguk sembari mengulas senyum, hati Nia juga terasa lega sebab cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Meskipun dia belum mengakui perasaannya secara langsung, Nia tetap mencoba menyakinkan dirinya jika David adalah pilihan terakhirnya.
" Haahhh ? Tanggal pernikahan? Apa tidak terlalu buru-buru Nyonya?."Tanya ibu Karti kaget.
" Duh bu tolong jangan panggil nyonya dong. Kita ini calon besan loh masa iya masih panggil nyonya. Untuk pernikahannya kalau satu minggu lagi bagaimana? Lebih cepat lebih baik." Ucap Mama David terlihat sekali kebahagiaanya.
Haaahhhhh ? Seminggu lagi?
Kini bukan hanya ibu Karti yang kaget, tetapi Nia dan David juga ikut kaget. Bagaimana bisa Mama nya David menentukan 1 minggu lagi mereka menikah, apalagi menikah itu juga butuh persiapan yang matang.
" Apa tidak terlalu cepat,Ma?" Tanya David mencoba protes.
" Tidak ! Nia mau bikin pesta yang bagaimana? Bilang saja nanti mama semua yang atur. Kalian berdua cukup diam dan menunggu hasil kerja mama." Ucap Mama David lagi.
__ADS_1
" Nia tidak mau ada pesta. Yang penting sah dimata hukum negara dan agama. Dan Nia juga tidak mau ada wartawan, pokonya Nia mau pernikahan yang sederhana. Cukup keluarga saja yang hadir." Seru Nia meminta pernikahan tanpa ada pesta.
Tentunya Nia punya alasan tersendiri dengan tidak maunya mengadakan pesta. Nia tidak mau orang - orang menganggap Nia wanita matrealiatis dan ajimumpung. Nia juga tidak mau orang mendekatinya hanya karena dia istri dari David.
" Berarti kamu setuju dengan pernikahan yang seminggu lagi, Nia?." Tanya ibu Karti.
" Iya bu. " Jawab Nia singkat.
David dan orang tuanya setuju dengan permintaan Nia. Mereka menghargai apapun yang sudah menjadi keputusan Nia. Setelah lamarannya diterima dan tanggal pernikahan sudah ditentukan, David dan kedua orang tuanyapun izin pamit pulang.
" Sepertinya David akan menjadi suami yang baik,Nia." Ucap ibu Karti dengan pelan. Dalam matanya menyimpan gurat kesedihan yang mendalam dan Nia bisa merasakan itu semua.
" Ibu kenapa?."Tanya Nia sembari memeluk ibunya dari samping.
" Ibu hanya teringat ayahmu, Nia. Seandainya sekarang dia masih sama kita tentunya dia akan bahagia melihat putri kecilnya yang akan segera menikah. Tetapi dia justru lebih memilih hidup dengan janda kaya raya itu, Nia." Ucap ibu Karti dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ini kesempatan Nia untuk membahas soal ayahnya, sebab ibunya sendiri yang sudah memulai membahas masalalunya. Dengan pelan - pelan Nia mencoba memberanikan diri untuk membahas soal ayahnya.
" Bu, seandainya kita tahu keberadaan ayah, apa ibu akan menerima kedatangan ayah?." Tanya Nia dengan pelan.
" Tidak ! Ibu tidak mau lagi bertemu dengan ayahmu bagi ibu dia sudah mati dan tidak akan pernah kembali lagi. Sudah jangan kamu bahas lagi soal ayahmu, mungkin saat ini dia sudah hidup bahagia dengan keluarga barunya yang kaya raya itu."Ucap Ibu Karti terlihat begitu kesal.
Sepertinya memang belum saatnya Nia memberitahu ibunya tentang keberadaan ayahnya. Nia sendiri sudah tahu di mana saat ini ayahnya berada, tetapi dia lebih memilih untuk bungkam daripada mengorek luka lama sang ibu Tetapi bagaimana di saat dia akan menikah nanti? Siapakah yang akan menjadi wali untuk dirinya? Bukannya jika masih ada ayah, lebih bagus ayahlah yang menikahkan anaknya. Nia semakin bingung dengan fikirannya sendiri.
" Tapi Nia mau menikah, Bu. Siapa yang akan menikahkan Nia jika bukan Ayah? Sedangkan ayah Nia masih hidup, apa Nia tidak boleh mencari keberadaan ayah?."Seru Nia mencoba bertanya dengan pelan.
" Ada paman Kasim yang akan menikahkan kamu. Dia itu bisa dan sah menjadi wali kamu, sebab dia kakak kandung ayahmu. Biar dia yang akan menikahkan kamu, Nia. Tolong Nia jangan kamu bahas lagi soal ayahmu, ibu tidak mau membahasnya lagi. Biarpun dia masih hidup tetapi bagi ibu dia sudah mati. Sudah malam Ibu mau istirahat. Jangan lupa kamu juga cepat tidur bukannya besok kamu harus bekerja."Ucap Ibu Karti dengan tegas dan baru kali ini Nia melihat ibunya bicara dengan tegas begitu.
Ibu Kartini bangkit, lalu meninggalkan Nia sendirian diruang tamu. Dia lebih memilih segera masuk ke kamarnya, daripada membahas soal suaminya yang tidak tahu dimana keberadaanya, dia memang sengaja tidak mencari tahu dimana suaminya berada.
__ADS_1
*********