Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Mencoba tidak peduli


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


"Mama, Papa...!." Seru Nada menyambut bahagia kepulangan papa dan mamanya.


Setelah Nia dan David turun dari mobil, Nada berlari dan langsung menghambur kedalam pelukan Nia. Bukan David lebih dulu yang dia peluk, akan tetapi justru Nia yang dia peluk lebih dulu.


"Kok papa tidak di peluk? Tanya David pura-pura merajuk karena Nada tidak melepaskan juga pelukannya dari Nia.


"Ihh papa sudah besar kok merajuk. Tidak boleh loh pa, tidak malu sama Nada. Nada yang masih kecil saja tidak merajuk. Didalam rumah ada Oma sama Opa, papa jangan cemberut lagi sini Nada peluk papa."Ucap Nada segera melepaskan pelukannya dari Nia.


David dengan senang merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang buah hatinya yang sangat dia sayangi dan dia rindukan. Nada menghambur dalam pelukan David dan meminta gendong David juga.


"Wahhh anak papa sudah besar masih minta gendong?." Tanya David sambil mencubit pelan hidung Nada.


"Nada masih kecil. Nanti kalau Nada sudah punya adik, berarti Nada sudah besar. Kapan dong Nada punya adiknya?." Tanya Nada dengan wajah polosnya.


Uhhuukkk Uhhukkk


Tiba-tiba Nia batuk-batuk setelah mendengar pertanyaan dari Nada. David sendiri justru hanya tersenyum sambil tersenyum mengkode Nia yang terlihat salah tingkah.


"Mama kok batuk? Mama sakit?." Tanya Nada khawatir.


"Tidak sayang, tadi tenggorokan mama hanya kering saja, sehingga perlu minum dulu. Ya sudah yuk kita lansung masuk saja, kasihan Opa dan Oma yang kelamaan menunggu di dalam."Ucap Nia mengajak masuk terlebih dahulu.


"Iya ma, tapi Nada mau di gendong sampai dalam rumah."Ucap Nada dengan manja sambil memeluk leher David.


"Iya sayang. Inikan sudah papa gendong."Ucap David dengan mencium pipi Nada.


Mereka bertigapun masuk ke rumah, disana sudah ada Tuan Widjaya dan Nyony Karmila yang sudah menunggu anak dan menantunya.


*********


Di perusahaan Widjaya Group, Rendi sedang memarahi Kelly karena dia tidak bekerja dengan baik. Dia bekerja semaunya dan seenaknya sendiri, seoalah-olah dia mempunyai jabatan yang tinggi di perusahaan.

__ADS_1


Hanya karena dia adik sepupu David, dia bersikap seenaknya saja. Rendi sudah sering kali menegur Kelly, namun sama sekali tidak di indahkan oleh Kelly.


"Kalau kamu tidak mau bekerja dengan baik, lebih baik kamu keluar saja dari perusahaan ini. Disini tempatnya orang-orang yang serius bekerja, bukan orang yang main-main seperti kamu !!."Ucap Rendi dengan menunjuk wajah Kelly.


"Kamu itu hanya seorang assisten saja jadi jangan belagu. Jangan berani-berani kamu memarahiku, dasar miskin. Aku akan mengadukan perlakuan mu ini sama kak David."Seru Kelly dengan beraninya.


Kelly sama sekali tidak takut dengan Rendi, dia beranggapan jika Rendi hanya assisten David saja. Berbeda dengannya, yang masih ada hubungan keluarga dengan David. Dia merasa jika dirinya berhak berkuasa di perusahaan Widjaya Group.


"Jika Kelly masih bersikap semaunya seperti ini, kalian jangan takut untuk menegurnya. Dia memang keluarga tuan David, tapi tuan David tidak pernah mau tahu siapapun yang bekerja dengannya. Baginya saudara atau bukan tetaplah bekerja pada peraturan yang ada."Ucap Rendi memberitahu semua karyawan yang ada satu devisi dengan Kelly.


"Baik Tuan, Rendi."Seru para karyawan dengan bersamaan.


Setelah bicara seperti itu, Rendi meninggalkan ruangan. Terlihat Kelly memendam amarahnya, dia merasa di permalukan oleh Rendi.


*Kurangajar !! Padahal dia hanya orang miskin, sebagai assisten saja sombong dan sok berkuasa. Lihat saja, aku akan mengadukan semua perlakuannya ini. Biar dia di pecat oleh Kak David.*Gumam Kelly dalam hatinya.


Kelly memandang sinis para karyawan yang saat ini juga memandang aneh kearahnya.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Apa kalian berani denganku?." Tanya Kelly dengan angkuh.


"Memangnya siapa kamu dan kenapa kami harus takut? Kamu dan kami itu sama saja, jadi untuk apa kami takut dengan kamu. Meskipun kamu sepupu dari Tuan David, kami tidak akan takut dengan mu."Jawab salah satu karyawan.


Kelly memilih untuk pergi dari perusahaan, dia sudah benar-benar malas berada di perusahaan. Sebab para karyawan tidak ada yang mau mengikuti apa kata-katanya.


*********


"Kenapa kamu bisa masuk rumah sakit seperti ini?."Tanya Vito saat datang menjenguk Bella di rumah sakit.


Vito sebenarnya malas datang ke rumah sakit untuk menemui Bella, sebab banyak sekali pekerjaan dia yang harus dia kerjakan. Namun mamanya selalu memaksa untuk segera datang ke rumah sakit menemani Bela. Sebab mamanya akan pulang, mau tidak mau Vito datang kerumah sakit.


"Bella itu sedang sakit, jadi jangan banyak tanya. Lebih baik kamu duduk disini temani, Bella. Mama mau pulang, besok mama akan datang lagi. Oh iya, mama ini heran kok sampai sekarang mama kamu kok belum datang ya, Bel."Ucap Hesti merasa aneh dengan mamanya Bella yang sampai sudah mau magrib begini belum datang juga.


"Mungkin mama masih sibuk, Ma."Jawab Bella berbohong.


Dia tidak mungkin akan bicara jujur kenapa mamanya belum datang juga menjenguknya. Bella, yakin jika mamanya tidak akan datang ke rumah sakit. Justru jika Mamanya datang ke rumah sakit, Bella akan merasa canggung dan bingung.


"Ya sudahlah mama mau pulang dulu. Vito kamu jaga Bella. Bel, mama pulang dulu ya. Besok mama datang lagi."Ucap Hesti berpamitan.


"Iya ma."Jawab Bella.

__ADS_1


Setelah Hesti pulang, Vito duduk di sofa yang ada di kamar rawat Bella. Bella terlihat lebih diam, tidak seperti biasanya. Vito tidak ambil pusing dengan sikap Bella, dia lebih memilih membuka laptopnya dan menyelesaikan pekerjaan nya yang belum selesai.


* Kenapa Vito justru mengerjakan pekerjaan kantornya? Bukannya duduk di sampingku sini dan memanjakanku, karena saat ini aku sedang sakit. Bagaimana jika Vito tahu yang sebenarnya? Sudah pasti saat itu juga dia akan mentalak ku.*Gumam Bella dalam batinnya.


Cekllekkkk


Pintu ruangan Bella di rawat terbuka secara sempurna. Terlihat Leni datang tanpa permisi dan langsung membuka pintu. Bella terlihat gugup dan takut saat mendapati mamanya mengunjunginya. Dia khawatir, jika mamanya akan membongkar semua berselingkuhannya dengan Baskoro kepada Vito.


"Oh ada Vito. Mama kira hanya ada Bella seorang diri."Seru Leni sambil melirik sinis kearah Bella yang terlihat ketakutan.


"Mama, iya ma ini Vito banyak pekerjaan juga jadi Vito sambil mengerjakan pekerjaan kantor. Seharusnya sih Vito lembur, tapi mau bagaimana lagi Bella tidak ada temannya."Jawab Vito dengan jujur.


"Kalau kamu mau lembur, ya lembur saja Vito. Kamu juga ini belum mandi kan? Sekarang lebih baik kamu pulang, mandi dan kerjakan pekerjaan kamu dirumah. Soal Bella jangan khawatir, nanti juga dia ada orang yang menungguinya. Orang yang bisa mengurusnya dengan benar dan penuh perhatian."Ucap Leni sengaja bicara seperti itu agar Bella lebih ketar-ketir.


Vito sebenarnya heran dengan apa yang dikatakan oleh mama mertuanya. Dia ingin menanyakan lebih jelas namun dia tidak mau berlama-lama di rumah sakit. Sehingga dia lebih memilih segera membereskan pekerjaannya untuk dibawa pulang.


"Ma, kalau Vito pulang Bella sama siapa? Vito itu suami, Bella. Bella tidak mau di tunggu oleh orang lain ma."Ucap Bella mencoba memprotes keputusan Mamanya.


"Kamu itu tidak membutuhkan, Vito. Jadi biar saja dia pulang. Vito, pulanglah."Seru Leni dengan cepat meminta Vito untuk pulang.


"Iya ma. Ini sudah siap, Vito pulang dulu ya ma."Ucap Vito berpamitan dengan mama mertuanya tanpa mau berpamitan dengan Bella terlebih dahulu.


Setelah Vito benar-benar sudah keluar dari kamar rawat Bella, Leni mendekati Bella dengan tatapan sinis. Terlihat sekali di wajahnya jika dia sedang memendam amarah dan kebenciannya terhadap Bella yang tidak lain adalah anak kandungnya sendiri.


"Kenapa kamu,Bella? Takut ? Tenang saja mama tidak akan membongkar semuanya sekarang. Karena belum saatnya, tunggu waktu yang tepat boom itu akan meledak dan hidupmu akan hancur."Seru Leni penuh keseriusan di wajahnya.


"Mama tega dengan Bella. Bella ini anak kandung mama, seharusnya mama membiarkan Bella bahagia tanpa merusak kebahagiaan, Bella."Ucap Bella tidak berkaca dengan dirinya sendiri.


Pllaaakk


Pllaaakk


Dua tamparan dari tangan Leni mendarat di pipi Bella dengan keras sampai pipi Bella terlihat memerah. Leni muak, seandainya membunuh tidak berdosa mungkin dia tidak segan-segan untuk menghabisi anaknya sendiri.


"Jangan buat aku semakin kasar, Bella. Jika kamu mau bicara seharusnya kamu berkaca terlebih dahulu dengan dirimu sendiri. Apa pantas kamu seorang anak berselingkuh dengan suami mama mu sendiri? Bisa melihat kesalahan orang lain, tapi tidak bisa menilai kesalahanmu sendiri !!."Ucap Leni dengan lantang sampai suaranya menggelegar di ruang kamar rawat Bella.


"Ma, maaf kan Bella. Bella menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi. Bella tidak akan mengganggu rumah tangga mama dan Bella akan menjauhi papa. Tapi Bella mohon sama mama, jangan memberitahu Vito dan keluarganya soal apa yang sudah mama ketahui hari ini."Ucap Bella dengan memohon agar mamanya mau menutupi aibnya.


Leni memandang sinis, seenak hati nya Bella meminta maaf. Sembilan tahun dia di bohongi dan selama 9 tahun juga Bella sering tidur dengan papa tirinya sendiri. Hati Leni sakit membayangkan Bella dan Baskoro bergumul dengan mesra.

__ADS_1


************


__ADS_2