
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Pagi hari Nia memulai aktifitas seperti biasa, dia mengantarkan Nada terlebih dahulu sebelum dia berangkat ke rumah sakit. Nia sekarang lebih suka mengendarai mobilnya seorang diri, tanpa bantuan sopir. Meskipun begitu, David tetap meminta seseorang untuk terus mengawasi Nia, dan memastikan Nia selamat sampai tempat tujuan.
"Hai mamanya Nada apa kabar?." Tanya wanita yang bernama Hani menyapa Nia.
Nia hafal betul dengan wanita itu, datang menghampiri Nia pasti hanya untuk pamer dan menyombongkan diri. Disamping Hani juga ada Jelita yang dandanannya sama cetarnya dengan Hani. Nia terkadang heran dengan dua ibu-ibu itu, mengantarkan anaknya sekolah tapi dengan dandanan yang waahh seperti mau ke kondangan sosialita.
"Ehh bu Hani, kabar saya baik bu. Kabarnya bu Hani dan bu Jelita baik juga kan?."Tanya Nia balik dengan ramah dan bersikap biasa saja.
"Kalau kami berdua selalu baik dong. Yang tidak baik itu pasti ibu-ibu yang dompetnya tipis, kalau kami bukannya tipis tapi tebal terus. Hahahaa."Ucap ibu Jelita lalu tertawa dan diikitu oleh ibu Hani.
Nia hanya mengangguk sembari mengulas senyum saja. Tidak mau terlalu banyak menanggapi apa yang dikatakan oleh dua ibu-ibu yang sombong itu. Nia ingin segera meninggalkan sekolahan apalahi 10 menit lagi memang jam sekolah sudah akan dimulai, biasanya Nia akan langsung pergi tapi kali ini dua ibu-ibu itu terus mengajaknya berbincang.
"Bu, Nia ikutan arisam yuk sama kita-kita. Yang kemarin sudah habis dan ini buat arisan baru lagi. Bagaimana mau ikut kan? Arisannya dimulai minggu depan, setiap dua minggu sekali kita kocokan. Kecil kok cuma 10 juta setiap dua minggunya. Dapatnya 200 juta, bagaimana tertarikkan. Situ kan seorang dokter tentunya punya dong uang segitu?."Tanya Ibu Jelita dengan gaya sombongnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang full dengan cincin dan gelang.
*Ini orang kok sombong banget sih, tidak takut apa ya kalau emas-emas nya itu di rampok orang. Sudah seperti toko emas berjalan saja, mungkin aku ikut arisan itu boleh juga ya. Bukan untuk pamer juga sih, aku ingin membungkam mulut-mulut kedua wanita sombong itu.*Gumam Nia dalam batinnya.
"Boleh, 10 juta kan bu? Semoga saja saya ada uang terus ya untuk membayar arisan nya."Seru Nia merendah.
"Memangnya papanya Nada kerja dimana sih bu, Nia. Pasti dokter juga ya seperti Bu Nia? Gaji dokter memang tidak terlalu besar sih, tapi kalau papanya Nada juga bekerja pasti bisalah bayar arisan. Oh iya, Bu Nia saya perhatikan kok mobilnya sudah ganti lagi ya? Atau mungkin memang mobil sewaan jadi bisa sering-sering ganti?."Tanya ibu Jelita lagi.
Ibu Jelita memang yang lebih banyak bicara ketimbang ibu Hani. Namun mereka berdua sama-sama sombong dan tukang pamer harta. Bahkan perhiasan yang mereka kenakan belum tentu itu asli semua.
__ADS_1
"Suami saya bukan dokter, tapi suami saya bekerja di salah satu perusahaan yang ada di kota ini. Dan soal mobil saya tidak tahu itu mobil siapa, saya tinggal pakai saja. Soal mobil itu urusan suami saya.",Jawab Nia dengan mengulas senyum dengan ramah.
"Oh mungkin mobil kantor itu jeng."Ucap ibu Hani ikut berkomentar.
"Bisa jadi."Ucap Ibu Jelita setuju dengan apa yang dikatakan oleh tenannya, Hani.
Nia melirik jam tangannya, sudah menunjukan pukul delapan pagi dan kelas Nada juga sudah mulai belajar. Nia bersiap untuk kerumah sakit namun ibu Hani dan ibu Jelita terus mengajaknya bicara.
"Maaf ya bu, sepertinya saya harus segera kerumah sakit sebab jam praktek saya sebentar lagi akan dimulai. Maaf bukan berarti saya tidak mau mengobrol dengan ibu-ibu tapi memang ini sudah mau masuk jam praktek saya."Seru Nia dengan sopan.
"Oh begitu. Tapi saya minta nomor ponselnya mbak Nia dong, nanti biar kita masukan group arisan agar tidak ketinggalan info."Seru ibu Hani.
"Oh iya boleh. Ini mana ponsel ibu biar saya ketik nomor ponsel saya."Seru Nia sambil mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel ibu Jelita atau ponsel ibu Hani.
Ibu Jelita sebagai ketua arisan dengan cepat mengulurkan ponselnya kepada Nia, apalagi ponsel dia adalah ponsel mahal dengan logo apel separo yang baru dia beli minggu lalu. Nia menerima ponsel itu dan segera mengetikkan nomornya diponsel ibu Jelita.
"Ini nomor ponsel saya bu, silahkan jika ingin dimasukkan ke group arisan. Tapi maaf kalau saya jarang untuk ikut balas chatt di group, soalnya saat saya kerja ponsel saya mode diam."Ucap Nia memberitahu terlebih dahulu sebelum dibilang sombong.
"Kalau begitu saya permisi ya bu, maaf saya harus kerumah sakit. Jam praktek saya tidak sampai 1 jam lagi sudah harus dimulai."Ucap Nia dengan bersikap sopan terlebih ibu Jelita dan ibu Hani jauh lebih dewasa dari Nia.
Mobil Nia menjauhi pekarangan sekolahan Nada melaju ke arah selatan menuju rumah sakit. Sepeninggalan Nia, ibu Jelita dan ibu Hani kembali bergosip ria dengan ibu-ibu yang lainnya. Mereka nongkrong di taman yang ada di sebrang gedung sekolahan anaknya. Saat jam proses belajar mengajar dimulai, para wali murid atau yang lainnya tidak diperbolehkan ada dilingkungan sekolahan kecuali yang ada kepentingan dengan pihak sekolah.
"Jeng Hani. Kira-kira Nia nanti bakalan susah tidak ya bayar arisannya? Kok aku agak ragu ya dengannya, takut saja dia bayarnya macet-macet. Lihat saja kan, penampilan dia sangat sederhana sekali. Pasti uang dia pas-pasan, apalagi sekolah disini juga mahal pasti uang nya habis untuk bayar sekolah."Ucap ibu Jelita khawatir.
"Sudah kalau dia susah untuk bayarnya, nanti kita viralkan saja Jeng. Biar dia malu juga dengan ibu-ibu yang lainnya, salah siapa susah untuk bayar."Ucap ibu Hani.
"Betul juga ya jeng."Ucap ibu Jelita.
Haaa haaaa Haaaaa
__ADS_1
Akhirnya kedua wanita sombong dan sok kaya itu tertawa dengan puas. Mereka belum tahu siapa Nia yang sebenarnya, jika mereka tahu siapa Nia apa mereka masih bisa tertawa lebar seperti itu.
**********
Siang hari di salah satu pusat perbelanjaan, Ibu Karti dan Wati sedang berbelanja stok bulanan sekaligus Wati mengajak ibu Karti untuk jalan-jalan agar tidak sibuk terus menerus dengan tanaman sayurannya terus-menerus.
"Bu, Wati kearah sana ya ambil beberapa bahan pokok. Ibu mau ikut kesana atau ibu mau mau lihat-lihat disini dulu?."Tanya Wati sangat ramah dan sopan.
"Kamu kesana saja tidak apa-apa, Wati. Ibu disini saja mau cari bahan kue saja, kamu nanti cari ibu disini saja ya. Ibu tidak bakalan jauh-jauh kok, lagipula bisa hilang ibu kalau jauh-jauh."Seru ibu Karti dengan tawa khasnya.
"Ibu bisa saja. Ya sudah Wati kesebelah sana dulu ya bu."Ucap Wati sembari mendorong troli nya.
Ibu Karti terus melihat dan memilih-milih bahan kue yang ingin dia beli. Karena asik nya memilih bahan kue, dia sampai lupa jika dia berjalan tanpa melihat kesekelilingnya hingga akhirnya dia menabrak seorang perempuan yang sedang memilih bahan kue juga.
Bbrrukkk.. Aaoouuwww
Wanita itu hampir saja terjatuh, namun dia bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga hanya keranjang belanjaannya saja yang jatuh. Ibu Karti dengan sigap mengambil keranjang itu dan merapikan isi nya kembali dan menyerahkan kepada wanita yang dia tabrak.
"Maaf saya tidak sengaja."Ucap ibu Karti dengan tulus.
"Kalau jalan itu pakai mata dong."Seru wanita itu yang masih mencoba merapikan tasnya yang tadi sempat ikut terjatuh.
Deggghh...
Jantung ibu Karti seakan berhenti berdetak, suara wanita itu sangat familiar di telinganya. Dan ibu Karti hafal dan tahu betul siapa wanita pemilik suara itu. Secara perlahan ibu Karti mendongakkan kepalanya untuk mencari tahu siapakah wanita itu. Apa benar wanita yang sama dan yang ibu Karti kenal.
"Kamu !"
"Karti !!."
__ADS_1
*************