
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Berita Nia melahirkan sudah sampai di telinga Rindi, Rindi dan Vito pun menyempatkan diri untuk menjenguknya di rumah sakit. Mereka ingin mengucapkan selamat atas kelahiran anak Nia. Pernikahan Rindi dan Vito sendiri tinggal satu bulan lagi. Mereka tidak perlu repot-repot mengurus pernikahan, semua sudah di atur oleh orang tua Vito.
" Masih di rumah sakit apa sudah dibawa pulang?."Tanya Vito saat mereka sudah dalam perjalanan.
" Masih di rumah sakit, tadi kan aku sudah kasih tahu. Sudah lupa ya?."Tanya Rindi sambil mengernyitkan keningnya.
" Oh iya lupa. Ini jugakan arah jalan ke rumah sakit. Heheee..."Seru Vito sambil terkekeh.
Buugghhh
Rindi memukul lengan Vito, dia kesal karena Vito sering lupa. Vito mamang senang sekali membuat Rindi kesal, menurutnya Rindi semakin manis dan menggemaskan jika sedang kesal.
Mobil Vito sudah sampai di rumah sakit, Rindi dan Vito turun bersama dan segera mencari kamar rawat Nia. Tidak perlu menunggu lama, Rindi dan Vito sudah menemukan kamar rawat inap Nia.
" Assalamualaikum."Seru Rindi sambil membuka pintu ruang rawat Nia.
" Waalaikumsalam."Jawab semua orang yang ada di dalam.
Ada Nia, David, pak Widjaya dan istrinya juga. Ibu Karti kaget saat melihat Rindi datang dengan Vito, masih teringat bagaimana saat Vito menganggu Nia dan membuat David marah besar sampai menghajar Vito.
" Sudah bu, tidak apa-apa."Ucap Nia bicara dengan ibu Karti.
Rindi dan Vito menyalami mereka satu persatu, namun Vito tidak berani menyalami Nia karena sang pawang lirikannya sudah mengerikan. Hanya Rindi yang mendekati Nia dan memberikan hadiah untuk babby boy.
" Selamat ya Nia, akhirnya lahir juga sang babby boy sultannya. Semoga jadi anak yang berbakti dan sholeh."Seru Rindi sambil memeluk Nia.
" Terima kasih Rindi sayang. Aura calon pengantin memang beda ya, sumringah banget."Ucap Nia sambil menggoda Rindi.
" Siapa yang calon pengantin? Rindi? Kamu mau menikah tidak mengundang ibu nak?." Tanya ibu Karti dengan heran.
" Di undang dong bu, lagi pula masih 1 bulan lagi bu. Mana mungkin aku melupakan ibu dan tidak mengundang ibu. Ibu sudah Rindi anggap sebagai ibu kedua ku jadi sudah pasti Rindi mengundang ibu."Ucap Rindi lalu memeluk hangat ibu Karti.
Pak Widjaya dan Istri pun pamit pulang lebih dulu, tinggal Vito dan David berdua yang duduk di sofa. Mereka hanya saling diam, David tidak punya bahan pembicaraan begitupun dengan Vito. Jadi mereka hanya mendengarkan obrolan antara Nia, Rindi dan ibu Karti.
" Kamu mau menikah dengan Vito, Rin?."Tanya Ibu Karti sedikit berbisik.
" Emm iya bu. Doakan semuanya lancar ya bu, insya Allah Vito pilihan Rindi yang tepat bu. Vito sudah berubah bu, dia sudah menyadari semua kesalahannya."Ucap Rindi yang melihat tatapan ibu Karti kearah Vito terlihat sanngat aneh.
" Vito sebenarnya pria yang baik. Semoga kamu bahagia ya Nak."Ucap ibu Karti dengan lembut.
Sudah cukup lama, Rindi dan Vito menjenguk Nia. Rindi pun berpamitan, mereka masih ada janji dengan butik untuk pembuatan baju pengantin.
" Bu, Vito pamit ya. Maaf jika waktu itu Vito sudah buat keributan di rumah ibu."Ucap Vito meminta maaf.
" Iya tidak apa-apa. Yang lalu biarlah berlalu, kamu jangan sakiti Rindi ya. Rindi itu sudah ibu anggap anak ibu, jika kamu menyakiti Rindi kamu berhadapan sama ibu."Seru ibu Karti.
" Insya Allah tidak bu. Aku akan membahagiakan Rindi dan akan selalu menyayangi Rindi. Nanti saat kami menikah ibu datang ya."Ucap Vito.
" Ibu pasti akan datang."Jawab ibu Karti.
Setelah Rindi dan Vito pulang, Wati pun datang mengantarkan pakaian ganti untuk ibu Karti. Selama di rumah sakit, ibu Karti yang akan menemani Nia.
__ADS_1
***********
Semrntara itu di tempat lain, akhir-akhir ini Leni sering senyum-senyum dan bicara sendiri. Seakan dia sedang berbicara dengan pria yang sangat dia cintai, Vito. Leni tetap berangkat ke tempat usahanya seperti biasa, tetapi hanya diam diri di dalam ruangannya saja.
" Bu, ini laporan keuangan bulan ini."Ucap salah satu karyawan Leni.
Leni tidak menjawab, dia hanya senyum-senyum sambil memainkan pena. Membuat karyawan merasa ada yang aneh dengan Leni, tidak seperti biasanya Leni bersikap aneh.
" Bu, apa ibu ada masalah?."Tanya Heni karyawan Leni.
" Bu, ibu sehatkan?." Tanya Heni lagi.
" Vito, I Love You. Vito aku sangat mencintaimu, aku sangat menyayangimu."Ucap Leni sambil senyum-senyum sendiri.
Hahhhh
Heni pun semakin kaget dan heran dengan kelakuan Leni. Heni buru-buru keluar dari ruangan Leni dan memanggil salah satu teman kerjanya.
" Arin, sini."Seru Heni memanggil Arin.
" Ada apa Hen?."Tanya Arin dengan cepat.
" Itu ibu Leni sepertinya sudah tidak waras lagi. Dia senyum-senyum sendiri, dia bicara sendiri bahkan dia memanggil-manggil nama Vito. Vito I love you katanya, sepertinya sudah gila itu ibu Rin. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa lihat sendiri sana ke ruangan ibu."Seru Heni menceritakan apa yang terjadi dengan Leni.
Arin pun menuruti ucapan Heni untuk melihat Leni di ruangannya. Saat Arin membuka pintu, terlihat Leni sedang berbicara dengan sebuah foto. Arin penasaran, dia pun mendekat dan melihat foto siapa yang sedang di pegang oleh Leni.
" Hahh.. Itu bukannya mantan suami mbak Bella? Masa iya Ibu jatuh cinta sama mantan menantunya sendiri? Wah ini sudah tidak beres, sepertinya ibu juga semakin bertingkah aneh. Pantas saja dia sekarang sering berdandan dan berpakaian style anak muda, ternyata dua sedang puber."Seru Arin bicara pada dirinya sendiri.
" Vito , apa kurangnya aku sampai kamu menolak cintaku dan lebih memilih wanita itu. Aku bisa memberikan apapun yang kamu mau Vito, Vito I love you. Aku sangat mencintaimu Vito, kapan aku bisa memeluk mu dan mencium mu lagi."Ucap Leni dengan menciumi foto Vito.
" Bu." Panggil Arin dengan pelan.
Mata Leni langsung memandang Arin dengan tajam. Sorot matanya terasa sangat mengerikan, Arin tiba-tiba merasa ketakutan.
Hahahaaaa Hahahhaaaaa
Leni tertawa dengan lantang, dia semakin terlihat menakutkan. Arin dengan cepat keluar dari ruangan Leni dan menemui Heni.
" Hen, kamu benar. Ibu sudah gila, dia gila karena cintanya tidak sampai. Dan anehnya pria yang dia cintai adalah mantan suami mbak Bella. Bagaimana ini Hen, jika kita biarkan ibu Leni akan semakin parah. Tapi kita ini hanya orang luar, kita bisa apa."Ucap Arin dengan khawatir.
" Bagaimana kalau kita hubungi mbak Bella saja. Hanya mbak Bella yang bisa mengambil keputusan, Rin."Ucap Heni mengusulkan untuk menghubungi Bella.
Arin setuju dengan usul Heni, dengan cepat dia mengambil ponselnya dan menghubungi Bella. Memang hanya Arin yang mempunyai nomor ponsel Bella, sebab Bella memang sengaja memberikan nomor ponselnya kepada Arin agar jika ada sesuatu dia bisa segera mengabari Bella.
Sampai panggilan ke 3 kalinya baru Bella mengangkat telepon dari Arin.
[ Hallo Arin, ada apa?] Tanya Bella dari seberang telepon sana.
[ Hallo mbak, mbak bisa tidak mbak Bella segera pulang. Bila perlu hari ini juga mbak Bella terbang ke Indonesia. Ibu mbak, Ibu Leni sepertinya sudah mulai tidak waras lagi.] Ucap Arin.
[ Maksud kamu bagaimana, Rin? Apa yang terjadi dengan mama ku?] Tanya Bella dengan rasa khawatir.
Arin pun menceritakan apa yang terjadi dengan Leni tanpa ada yang dia kurangi dan dia lebih-lebihkan. Bella sangat syok mendengar kabar dari Arin. Sebegitu cintanya sang mama dengan Vito sampai dia tertekan saat tahu Vito akan menikah dengan wanita lain.
[ Baik, aku akan segera cari tiket untuk penerbangan nya. Tapi aku tidak janji bisa terbang hari ini juga, kemungkinan besoj aku baru bisa terbang nya]
[ Iya mbak. Jangan di tunda terlalu lama ya mbak, kami disini bingung harus bertindak bagaimana?]
[ Tolong kamu dan Heni temani mama, jangan sampai mama menyakiti dirinya sendiri. Bila perlu kalian panggil dokter, atau psikiater.]
__ADS_1
[ Mbak yakin mau panggil psikiater?]
[ Yakin. Lakukan saja apa yang terbaik, sebelum aku pulang aku percayakan mama sama kalian.]
[ Iya mbak]
Klik
Arin mematikan sambungan teleponnya dan dia mengajak Heni untuk melihat keadaan Leni. Leni masih saja tertawa sendiri dan kali ini dia duduk bersimpuh di lantai.
Keadaan Leni semakin aneh dan semakin memprihatinkan. Arin dan Heni menyingkirkan barang-barang yang menurut mereka berbahaya. Barang yang bisa melukai Leni, Leni sendiri tidak perduli dengan aktifitas dua karyawannya yang saat ini ada di ruangannya.
" Vito , Vito jangan menikah Sayang. Aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku. Bagaimana jika aku membutuhkanmu? Vito aku tidak rela kamu menikah dengan wanita lain, kamu harus menikah dengan ku." Ucap Leni meracau tidak karuan.
" Sudah gila dia Hen."Ucap Arin sambil menggelengkan kepalanya.
" Iya, kasihan Rin."Jawab Heni dengan pelan.
Arin dan Heni masih saja memperhatikan gerak-gerik Leni yang justru sekarang malah tiduran di lantai.
******
Nia dan bayinya sudah di bawa pulang, Nada menyambut bahagia kepulangan adiknya yang memang sudah dia tunggu dari pagi.
" Mama, Nada boleh gendong adik bayinya tidak?."Tanya Nada sangat ingin sekali menggendong adiknya.
" Jangan dulu ya sayang, soalnya adiknya baru saja bobok. Nanti kalau dia sudah bangun kak Nada boleh gendong. Sekarang adeknya masih bobok dulu ya."Jawab Nia lemah lembut sehingga Nada tidak tersinggung.
" Horre Nada sudah jadi kakak. Jadi sekarang Nada di panggil kak Nada ya ma? Terus nama adek bayinya siapa ma?." Tanya Nada sangat ingin tahu siapa nama adiknya.
Nia sendiri justru belum menyiapkan nama untuk sang buah hati. Nia melihat kearah David, dan David pun mendekati Nada sambil mengusap pucuk kepala anak pertamanya itu, lalu membawa Nada duduk dalam pangkuannya.
" Nada adiknya Sultan Putra Widjaya. Tapi ini rahasia, jangan kasih tahu yang lainnya dulu ya."Ucap david berbisik di telinga Nada.
" Siip pa. Nama adiknya bagus, Nada suka."Jawab Nada sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
" Masih rahasia ya."Ucap Nia terlihat kesal sambil melirik Nada dan David.
Ssstttt....
Nada menempelkan jarinya di depan bibir mungilnya meminta sang mama untuk diam. Nada pun akhirnya turun dari pangkuan David dan mendekati Nia yang sedang berbaring di kasur.
" Ini rahasia ya ma, kata papa nama adiknya Sultan Putra Widjaya. Mama jangan kasih tahu Aunty dan yang lainnya ya, ini rahasia kita bertiga."Seru Nada berbisik di telinga Nia.
Nia tertawa mendengar suara Nada yang menggelikan telinganya. Anak kecil itu ternyata bisa di ajak kompromi juga, bisa-bisanya dia berbisik-bisik seperti yang dilakukan papanya tadi.
" Mama paham kan?." Tanya Nada.
" Iya sayang, mama paham."Jawab Nia sambil tersenyum.
" Apaan sih kok pakai bisik-bisik segala? Aunty mau dong di bisikin juga. Apaan sih Nada?."Tanya Miska yang tiba-tiba sudah ada di kamar Nia.
" Apaan sih Aunty ini. Kan rahasia, jadi Aunty ya belum boleh tahu."Jawab Nada sambil bersedekap tangan.
Miska mencubit pipi Nada yang mengembang seperti adonan donat. Nada sekarang sudah tidak mau di cubit-cubit pipinya lagi. Sekarang dia sudah punya adik dan sekarang juga dia sudah menjadi kakak, jadi dia berfikir jika dia sudah besar tidak mau lagi diperlakukan seperti anak kecil.
" Aunty aku ini sudah besar, jangan cubit-cubit pipi Nada lagi dong Aunty. Malu sama dedek bayi, masa kakak sudah besar di cubit-cubit seperti anak kecil?."Ucap Nada dengan wajah yang cemberut.
" Dasar bocah aneh."Ucap Miska sambil kembali mencubit pipi Nada.
__ADS_1
Auntyy..........
*********