
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Jam 6 sore Nia dan team dokter yang lainnya baru pulang dari posko. Keadaan sudah mulai stabil, sudah ada beberapa warga yang pulang dan menempati rumahnya. Bagi mereka yang rumahnya rusak parah, memilih untuk tinggal di pengungsian terlebih dahulu sambil menunggu rumahnya selesai di perbaiki.
" Jadi besok lusa kita sudah bisa pulang?."Tanya Nia antusius.
Nia sudah sangat merindukan anaknya, Nada. Dan juga merindukan sang ibu tercinta.
" Iya Dokter, Nia. Besok lusa kita sudah bisa pulang dan besok siang akan diadakan perpisahan atau acara pamitan dengan warga. Itu semua atas permintaan warga dan pak Lurah menyetujuinya."Jawab dokter Anton dengan serius.
" Alhamdulillah. Iya sih, kita datang waktu itu baik-baik dan pulangpun harus baik-baik. Ternyata kita hanya 2 minggu saja disini, lebih cepat dari prediksi kita."Seru Nia dengan senang.
Tok
Tok
Tok
Suara pintu di ketuk dari luar, siapa yang kira-kira datang di jam yang sudah mendekati maghrib begini. Rachel bangkit dari duduknya dan membukakan pintu untuk sang tamu.
Cekleekkk
" Assalamualaikum."Seru wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu.
" Waalaikumsalam. Ehh bu Salamah, mari masuk bu."Seru Rachel dengan ramah.
" Tidak usah dokter Rachel, saya cuma mau mengantar lauk makan saja untuk para dokter. Ini tadi saya baru masak udang saus manis sama udang crispy. Semoga para dokter semuanya suka dengan masakan ibu. Dokter Nia juga makan yang banyak biar sehat."Seru ibu Salamah yang melihat Nia ada di belakanv Rachel.
Nia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saja. Meskipun dia tidak bisa makan udang dan yang lainnya, Nia tetap bersikap biasa saja. Tidak mau mematahkan kebaikan Ibu Salamah dengan mengatakan dia tidak bisa makan udang.
" Emm. Sepertinya Dokter Nia tidak bisa memakannya bu. Soalnya dokter Nia alergi udang, cumi, kerang dan sejenisnya seperti makanan olahan laut dia tidak bisa memakannya. Kalau ikan air tawar dia masih bisa makan, begitukan dokter Nia?."Tanya Rachel meminta persetujuan Nia.
" Eh iya bu, maaf saya lupa kalau saya alergi udang. Tapi terima kasih sudah mau memasak untuk kita semua."Jawab Nia agak canggung.
Haahhhh
Wajah ibu Salamah seketika berubah menjadi masam. Padahal sia sengaja masak udang untuk Nia, ibu Salamah mencoba mencari perhatian dari Nia. Dia berharap jika Nia bisa dekat dengan anaknya yang bergelar seorang lurah muda dan tampan itu.
" Ohhh dokter Nia tidak makan udang? Hemm ya sudah kalau begitu nanti saya masakkan yang lain saja ya. Kalau begitu ibu pulang dulu, assalamualaikum."Seru ibu Salamah langsung pamit pulang begitu saja.
" Waalaikumsalam."Jawab Rachel dan Nia secar bersamaan.
__ADS_1
Nia dan Rachel heran dengan tingkah ibu Salamah barusan. Namun mereka tidak ambil pusing, Nia dan Rachel sudah tahu maksud dari ibu Salamah tadi. Apalagi kalau bukan ingin lebih dekat dengan Nia.
" Apa ibu Salamah belum tahu ya kalau kamu itu sudah menikah? Masa iya pak Lurah Adrian itu tidak memberitahu ibunya?."Tanya Rachel.
" Mana aku tahu kak. Sudah ah jangan bahas itu lagi, sekarang kita siap-siap sholat magrib sebentar lagi sudah masuk maghrib."Ucap Nia yang memang tidak mau membahas soal ibu Salamah maupun lurah Adrian.
Rachel meletakkan makanan tadi di atas meja makan, lalu dia berlalu ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Mereka bersama-sama melaksanakan sholat magrib berjamaah di ruang tamu.
" Nia kamu sudah kasih tahu suami kamu kalau lusa kita pulang?."Tanya Lita saat mereka sudah selesai sholat.
" Belum kak Lita, nanti malam saja saya kasih tahunya. Jaringan telepon juga kan sudah normal jadi bisa kapan saja menghubunginya. Oh iya kak Lit, aku mau minta tolong boleh?."Tanya Nia sedikit ragu.
" Hemm minta tolong apa dulu nih?."Tanya Lita balik sambil terkekeh.
" Emm itu kak, aku pengen makan mie goreng buatan kak Lita. Apa kak Lita mau memasak nya untuk aku? Maaf ya kak sudah merepotkan."Seru Nia merasa tidak enak sudah merepotkan Lita.
" Wahh Nona Nia sedang ngidam mie goreng nih ceritanya. Baiklah, demi anak dari sang pewaris Widjaya Group aku akan memasakkannya untuk mu. Tapi ingat ya, nanti bilang sama anak kamu ini kalau Aunti Lita ini pernah masakin saat ibunya ngidam. Hahaaaa."Seru Lita tertawa dengan lepas.
Bugghhhh
Rachel memukul Lita menggunakan sajadah yang baru selesai dia lipat. Lita kalau sudah tertawa memang bisa menggemparkan seisi rumah.
Lita mendengus kesal sambil mencebikkan bibirnya ke arah Rachel. Nia hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dua dokter hebat yang ada di depannya itu.
" Kalau mau masak ya masakin saja, tidak perlu pakai bicara seperti itu. Sok iyes bener deh, kebagusan tau di panggil aunti. Panggil saja bude atau bulek itu cocok untuk kamu."Seru Rachel.
" Sudah dong jangan ribut, terus kapan ini masaknya. Masalah panggilan itu soal mudah, sudah jangan ribut lagi malu tuh dilihatin sama para pak dokter."Seru Nia menengahi perdebatan Lita dan Rachel.
Lita dan Rachel pun berhenti berdebat, mereka bertiga menuju dapur. Lita segera mengeksekusi bahan-bahan yang akan di gunakan untuk memasak mie goreng. Sedangkan yang lainnya sudah makan lebih dulu dengan lauk yang tadi di antar oleh ibu Salamah.
" Assalamualaikum."Seru ibu Salamah dari luar rumah.
" Kenapa ibu Salamah datang lagi itu? Apa masih ada yang mau dia antar lagi."Seru Rachel.
Rachel meminta Nia saja yang membukakan pintu untuk ibu Salamah. Nia mengiyakan saja, sebab Rachel juga sedang makan.
" Waalaikumsalam, ada apa ya bu?."Tanya Nia dengan ramah.
" Oh ini ibu mengantarkan ayam rica-rica untuk dokter Nia. Yang udang tadikan dokter tidak bisa makan jadi ibu masak ayam rica-rica untuk dokter Nia. Ini juga makanan kesukaan Adrian."Ucap ibu Salamah.
" Oh iya bu, terima kasih. Kami juga lagi pada makan, ibu mau sekalian makan sama kami?."Tanya Nia dengan ramah.
" Tidak usah, ibu pulang saja. Itu Adrian juga baru mau makan. Ibu pulang dulu ya."Seru Ibu Salamah.
Ibu Salamah pun pamit, Nia kembali ke dapur dan bergabung dengan yang lainnya. Nia, meletakkan rantang yang berisi ayam rica-rica di atas meja.
" Ini dari ibu Salamah?."Tanya dokter Anton.
__ADS_1
" Iya, ini kalian makan saja. Aku makan mie goreng, aku lagi tidak selera makan yang lain."Ucap Nia yang kini sudah duduk di kursi yang biasa dia tempati.
Sepiring mie goreng sudah terhidang di depannya. Dengan lahap Nia menyantap mie goreng itu, tak sedikitpun dia menyentuh makanan dari ibu Salamah.
Sementara itu di tempat lain, malam ini Bella terpaksa harus memasak. Baskoro meminta Bella memasak nasi goreng, Bella terpaksa memaksa karena Baskoro mengancam tidak akan memberi Bella uang bulanan.
" Bodo amatlah, mau enak atau tidak yang penting sudah jadi. Lagipula tadi aku juga sudah lihat panduan masaknya lewat video."Seru Bella terus menggerutu sambil menuangkan nasi goreng ke atas piring.
Bella membawa sepiring nasi goreng lengkap dengan telor ceplok yang warnanya sudah cokelat, mendekati gosong. Dengan terus menggerutu dia menghidangkan nasi goreng itu di hadapan Baskoro.
" Sudah makan nih, habiskan. Awas saja kalau tidak dihabiskan !! Aku sudah susah payah masak ini."Seru Bella cemberut.
" Dari penampilannya sih oke, tapi tidak tahu bagaimana dengan rasanya. Tapi ini telornya kok mendekati gosong?."Tanya Baskoro sambil membolak balik telor ceplok itu.
" Makan tinggal makan saja kok protes sih."Seru Bella dengan kesal.
Hhhuuuffff
Baskoro membuang nafas dengan kasar, dia pun mulai menyendokkan nasi goreng dan di suapkannya kemulutnya.
Byuurrrrrr
Baskoro pun langsung menyemburkan nasi goreng yang baru saja dia kunyah dan mengenai Bella.
" Aggrrhhh jijik banget sih. Kenapa papa menyembur ke arah ku?."Tanya Bella sambil berteriak.
" Ini nasi goreng apa, Bella? Kenapa rasanya asin banget begini?."Tanya Baskoro.
Bella membelalakkan matanya, dia tidak percaya jika nasi gorengnya itu asin. Dia ingat betul hanya memberi garam 1 sendok teh saja. Bella mencoba nasi goreng buatannya dan memang rasanya sangat asin.
Hoekk Hoeekk
" Iya ini asin banget. Tapi tadi aku hanya kasih garam 1 sendok teh saja, kenapa bisa asin?."Seru Bella binggung.
" Nah mana saya tahu? Kamu kan yang masak, apa kamu sengaja mau buat aku darah tinggi."Ucap Baskoro kesal.
Bella bangkit dan dia kembali ke dapur untuk melihat bahan-bahan yang tadi dia pakai. Dia penasaran bahan apa yang salah dia masukkan sampai nasi gorengnya asin tidak karuan begitu.
" Haahhh kecap asin? Jadi yang aku tuang banyak-banyak tadi kecap asin? Pantas saja rasanya asin banget."Seru Bella sambil memegangi botol kecap asin.
" Kenapa?."Tanya Baskoro menghampiri Bella.
" Ternyata kecap yang aku pakai itu kecap asin, sayang. Bagaimana ini, aku sudah capek kalau harus masak lagi. Bagaimana kalau kita pesan online saja." Seru Bella.
" Ya mau bagaimana lagi? Daripada aku makan nasi goreng asin itu ya lebih baik pesan online. Tapi ingat, besok kamu harus masak lagi dan jangan lupa urus rumah juga."Seru Baskoro yang saat ini sudah mulai tegas dengan Bella agar Bella tidak semaunya saja.
Bella tidak menjawab, dia terlihat kesal dengan peraturan baru yang di buat suaminya itu. Baskoro meninggalkan dapur dan duduk di ruang tamu sambil memesan makanan, meskipun harus menunggu lama sebab tempat tinggalnya lumayan jauh dari perkotaan.
__ADS_1
***************