Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Hujan deras


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Bukan hanya David saja, bahkan Vito juga sudah menonton video yang saat ini sedang Viral itu. Sepertinya video itu memang sedang menjadi tranding topik di sosial media. Vito sama sekali tidak menyalahkan Nia, justru dia juga mendukung apa yang di lakukan Nia.


" Dasar Bella bodoh !! Memang nya dia siapa berani bicara seperti itu sama Nia. Dia tidak ingat apa siapa orang di belakang, Nia. Bodoh kok di pelihara, sudah tahu apa yang dikatakan Nia itu sebuah kebenaran masih saja tidak tahu malu. Mungkin rasa malunya sudah hilang, terbukti selama 9 tahun dia mau sama suami mamanya sendiri."Ucap Vito menyalahkan kebodohan Bella.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Vito tadi memang iseng-iseng membuka sosial media. Tak disangka dan tak di duga justru dia melihat video yang sedang viral. Dikolom komentar sudah ratusan ribu komentar buruk, tentunya komentar berupa hujatan dan cacian untuk Bella. Video itupun sudah dibagikan sampai 300 ribu kali.


" Beruntung sekali aku mengetahui kebusukan Bella dari sekarang, dan semua ini juga berkat mama mertua ku. Jika dia tidak bicara jujur dengan ku, sudah pasti sampai saat ini aku masih saja terus di bohongi oleh Bella dan pria tua itu. Pasti mama Leni sakit hati sekali menerima semua pengkhianatan anak dan suaminya. Sampai-sampai dia membongkar aib mereka dengan ku, aku harus berterima kasih dengan mama Leni."Ucap Vito sambil memutar-mutar ponsel di tangannya.


Vito pun mencoba menghubungi calon mantan mama mertuanya itu. Sampai panggilan kedua, telepon Vito belum juga di angkat. Tersambung tapi tidak ada jawaban.


" Mungkin mama Leni sedang sibuk, hemm lebih baik nanti aku hubungi lagi saja. Sudah jam 5 sore, saatnya aku pulang."Ucap Vito sambil melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.


Vito merapikan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya, setelah selesai dia pun keluar dari ruangan kerjanya. Terlihat sang sekertaris Caca juga sudah bersiap-siap untuk pulang.


Mobil yang di kendarai Vito terus membelah jalanan yang sudah mulai padat. Biasa ibu kota jika pagi dan sore hari pasti akan macet. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh 45 menit kini harus ditempuh sampai 60 menit lebih.


" Akhirnya sampai rumah juga."Seru Vito sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa ruang tamu.


Vito mengistirahatkan tubuhnya dengan berbaring di sofa yang ada di ruang tamu. Hari ino dia benar-benar lelah dan penat. Banyak pekerjaan yang hari ini dia selesaikan, itu semua karena selama seminggu dia tidak masuk kantor akibat wajahnya yang bonyok karena di hajar David. Sehingga Vito malu untuk bertemu dengan banyak orang.


Tok Tok Tok


Baru juga Vito memejamkan matanya, pintu rumah ada yang mengetuk dari luar. Jam dinding sudah menunjukan pukul 7 malam.


" Siapa ya yang datang? Hemm padahal baru juga mau istirahat tapi sudah di ganggu saja. Aku juga belum mandi, ya sudahlah aku lihat dulu siapa yang datang."Seru Vito pada dirinya sendiri.


Cekklleeekkk


Pintu pun terbuka dan terlihat Leni berdiri di depan pintu.


" Mama, Vito kira tadi siapa? Masuk ma."Seru Vito menyambut kedatangan Leni dengan ramah.


" Kamu tidak apa-apa, Vito? Maaf tadi saat kamu telepon ponsel mama ada di ruang kerja dan mama sedang mengontrol karyawan. Mama balik telepon kamu tapi tidak aktif, mama khawatir jika ada sesuatu yang penting jadi mama memutuskan datang kerumah kamu." Ucap Leni panjang lebar.


" Kita bicara di dalam saja ma, tidak baik jika di lihat orang bicara sambil berdiri di depan pintu begini." Ucap Vito lagi.


Leni mengangguk, kini Leni dan Vito sudah duduk di sofa ruang tamu. Leni melihat ada tas dan sepatu kerja Vito di situ, sehingga Leni pun tahu jika Vito pasti baru pulang dari kantor.


" Kamu baru pulang dari kantor?." Tanya Leni sambil melirik sepatu dan tas kerja Vito.


" Iya ma, tapi sudah lumayan lama sih. Oh iya, mama mau minum apa? Maaf ya ma, dirumah tidak ada makanan padahal ini sudah waktunya makan malam. Minah lagi izin, jadi dia tidak masuk."Ucap Vito merasa tidak enak dengan Leni, karena dirumahnya tidak ada apapun.


" Sudah tidak perlu repot-repot. Oh iya tadi kamu menelepon mama ada apa? Apa ada hal yang penting yang ingin kamu sampaikan sama mama?."Tanya Leni langsung pada tujuan utamanya dia datang.


Vito garuk-garuk kepala dan badannya yang terasa sangat gatal sekali. Bahkan cuaca malam ini juga terasa sangat panas sehingga membuat Vito tidak nyaman.


" Kamu kegerahan? Kamu pasti belum mandi ya? Ya sudah kamu mandi saja dulu, mama akan menunggu kamu disini. Lagi pula mama juga tidak ada acara lagi, setelah dari sini mama juga akan pulang."Ucap Leni yang memang menganggap Vito tetap seperti anaknya sendiri.


Leni juga ada hal yang ingin dia bicarakan dengan Vito. Vito mengangguk dan segera bangkit masuk ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


Sambil menunggu Vito yang sedang mandi, Leni memainkan ponselnya dan dia pun melihat video yang sedang viral itu. Bibirnya melengkung tipis, dia sama sekali tidak kasihan melihat Bella yang di permalukan seperti di dalam video. Justru Leni juga setuju dengan Nia, biar Bella tidak bersikap semaunya saja.


" Huhhh bodoh kamu, Bella. Melihat video kamu ini justru aku jadi lapar, Bell. Heem lebih baik aku pesan makanan saja, kebetulan Vito juga belum makan. Pesan yang tidak jauh dari daerah sini saja lah, biar cepat sampai."Ucap Leni mulai mencari-cari makanan yang akan dia pesan.


Vito lumayan lama juga mandinya, sudah 40 menit belum juga keluar dari kamarnya. Bahkan makanan yang di pesan Leni saja sudah tersusun rapi di meja makan. Setelah 50 menit, Vito pun keluar dari kamar dengan wajah yang lebih fresh.


" Loh mama, ini semua mama yang pesan. Maaf ya ma, Vito mandinya kelamaan jadi mama menunggunya sampai lapar."Ucap Vito merasa tidak enak hati.


" Sudah tidak apa-apa. Lebih baik sekarang kita makan saja ya, maaf mama tadi pesan makanan yang dekat-dekat sini saja jadi ya cuma ini aja yang ada."Ucap Leni.


" Tidak apa-apa,Ma. Ini juga sudah enak kok, Vito makan tidak pilih-pilih ma." Jawab Vito.


Kini Vito dan Leni makan malam bersama dan hanya berdua saja. Saat mereka sedang makan, tiba-tiba ada suara petir yang menggelegar.


Jjjddderrrr


Jjjddderrrr


Suara petir bergemuruh dan bersahut-sahutan membuat Leni merinding dan takut mendengar suaranya.


" Sepertinya mau hujan, Ma."Ucap Vito sambil mengunyah makanannya.


" Iya nih, suara petirnya menakutkan. Jujur mama paling takut sama suara petir, apalagi bergemuruh seperti ini. Sama seperti Bella, dia juga paling takut sama suara petir." Ucap Leni tanpa sengaja membicarakan Bella.


Vito menanggapinya hanya mengangguk saja, lalu dia fokus dengan makanannya. Mereka kembali fokus dengan makanannya masing-masing, dan hujan deras disertai petirpun mulai turun.


Mereka sudah selesai makan dan kini mereka duduk di ruang keluarga.


" Mama, terimakasih ya sudah memberitahu apapun yang terjadi dengan Bella dan Baskoro sama Vito. Seandainya mama tetap merahasiakan semua ini, tentunya sampai sekarang aku masih dibohongi terus menerus sama Bella. Tidak mudah menjadi wanita seperti mama, bahkan tidak semua wanita mampu menjadi seperti mama. Sekali lagi terimakasih ma."Ucap Vito bicara dengan serius.


" Sudah menjadi kewajiban mama meluruskan semua masalah yang ada. Mama tidak mau Bella semakin semaunya sendiri, jadi mama memberitahu semua ini sama kamu. Hati mama sakit dan perih dengan penghianatan mereka berdua ini. Tapi mama harus kuat dan tegar, mama juga mengambil keputusan untuk berpisah. Mungkin ini hukum karma untuk mama , karena mama dulu sudah merebut suami orang."Ucap Leni sambil terisak.


Jddderrrr


Jdddeerr


Suara petir kembali bergemuruh, Leni kaget dan reflek langsung memeluk Vito. Vito tidak bisa berbuat banyak, tangannya tetap diam tanpa membalas pelukan mama mertuanya. Itu.


" Maaf."Seru Leni langsung melepaskan pelukannya.


" Iya ma. Mama jangan menangis lagi ya, semua masalalu biarlah berlalu. Jika memang mama merasa bersalah, mama lebih baik meminta maaf kepada wanita yang sudah mama rebut suaminya itu. Vito yakin, wanita itu juga akan memaafkan mama. Mama coba saja dulu meminta maaf." Ucap Vito mencoba memberikan saran untuk Leni.


" Iya Vito, mama memang berniat untuk meminta maaf."Jawab Leni.


Suara petir semakin bergemuruh dan hujan pun semakin lebat. Leni hendak pulang namun dia takut dengan petir, Vito sendiri merasa tidak tega jika membiarkan Leni pulang.


" Tunggu sampai hujan nya reda dulu saja, ma."Seru Vito.


" Tapi ini sudah malam, Vito. Tidak baik kita berduan didalam rumah seperti ini."Jawab Leni yang memang takut ada setan yang merasuki mereka sehingga akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


" Sudah tidak apa-apa ma. Tidak akan ada yang perlu kita takutkan, mama bisa istirahat saja dulu di kamar tamu sambil menunggu hujannya reda."Seru Vito sambil menunjuk kearah kamar tamu.


" Beneran tidak apa-apa? Nanti kalau ada warga yang datang bagaimana? Mama tidak mau kalau sampai viral seperti video Bella?." Tanya Leni khawatir.


Hahahahaaaa


Vito justru tertawa dengan lebar, bisa-bisanya calon mantan mama mertuanya punya fikiran seperti itu. Sampai disamakan dengan video Bella yang viral itu.

__ADS_1


" Mama , tidak perlu khawatir. Ini hujan lebat ma, para warga juga kedinginan di rumahnya masing-masing. Siapa juga yang mau keluar rumah, Ma. Sudah yuk Vito antar ke kamar, denger tuh hujan semakin deras dan petir saling bersahut-sahutan." Ucap Vito bangkit dan berjalan lebih dulu ke kamar tamu.


Vito membuka pintu kamar tamu itu dan meminta Leni untuk masuk dan beristirahat lebih dulu.


" Kalau hujan dan petirnya tidak reda juga bagaimana, Vito? Tapi mama kan pakai mobil juga sih, jadi tidak akan kehujanan. Akan tetapi mama hanya takut dengan suara petirnya saja."Ucap Leni tampak kebingungan jika hujan dan petirnya tidak reda.


" Sudah mama menginap saja di rumah Vito, lagi pula ini juga sudah terlalu malam untuk Mama pulang sendirian. Vito tidak akan mengizinkan Mama untuk pulang sendiri."Ucap Vito meminta Reni menginap di rumahnya.


Leni tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran Vito untuk menginap di rumahnya, daripada terjadi sesuatu di jalan Jika dia pulang tengah malam. Hujan dan petir pun tidak kunjung reda, Leni semakin ketakutan mendengar suara petir yang bergemuruh saling bersahut-sahutan. Bahkan seakan-akan suara petir itu ada di dalam kamar yang ditempati Leni.


Aaahhhhhhhh


Leni menjerit ketakutan saat suara petir menggelegar. Vito yang memang masih berada di ruang tengah pun langsung berlari masuk ke kamar tamu yang ditempati oleh Leni, untuk memastikan apa yang terjadi dengan Leni.


" Ahhh Vito mama takut, mama tidak berani tidur sendirian. Kilatnya sampai kamar dan suaranya sangat menakutkan, tolong jangan jauh-jauh dari mama Vito." Ucap Leni yang langsung memeluk Vito dengan erat.


" Mama jangan takut, Vito ada disini dan akan menemani mama. Mama tidur saja, Vito akan tetap ada dikamar ini." Ucap Vito yang kasihan melihat Leni ketakutan bahkan tubuh Leni sampai gemetaran.


Leni mengangguk, dan dia pun kembali berbaring di atas kasur. Dengan Vito yang duduk di pinggir ranjang. Malam semakin larut, jam dinding di kamar sudah menunjukan pukul setengah 12 malam.


Vito juga mulai mengantuk, dia terus - terusan menguap. Tanpa ragu dia berbaring di samping Leni, sebab di kamar itu tidak ada sofa sehingga Vito berbaring di samping Leni.


" Maaf ya ma, Vito sangat mengantuk." Seru Vito.


" Iya tidak apa-apa." Ucap Leni tanpa ragu.


Vito dan Leni saling bertatap-tatapan, mereka seakan lupa jika mereka adalah mertua dan menantu yang sebentar lagi menjadi mantan mertua dan mantan menantu.


Tidak tahu siapa yang memulainya duluan, kini Vito dan Leni sudah saling berbagi saliva. Mereka saling mem4nggut sampai bunyi kecapan saling bersahut-sahutan. Tanpa mereka sadari, jika saat ini mereka sudah melakukan sebuah dosa besar.


" Ma...


" Vito....


Mereka saling memanggil, apa yang mereka lakukanpun kini meminta dan menuntut lebih. Sesuatu di bawah sana sudah semakin memberontak dan mencari lawan mainnya.


" Ma, Vito... Vito tidak bisa menahannya lagi." Seru Vito yang kini sudah berada di atas.


Leni sama sekali tidak berbuat banyak dan tidak bisa berbuat apa-apa. Leni membiarkan Vito melepas pakaiannya meskipun terkesan kasar, sebab Vito sudah tidak tahan lagi.


Kini mereka sudah sama-sama dalam keadaan polos. Vito mulai membenamkan sesuatu yang sudah sewajarnya terbenam, malam itu disertai hujan lebat dan suara gemuruh petir menjadi saksi bisu penyatuan antara Leni dan Vito. Mereka sudah di rasuki kabut hitam yang saat ini hanya kenikmatan saja yang mereka rasakan.


Ahhh... Emm...


Uhhhhhh....


Suara des4h4n mereka berdua menggema di dalam kamar itu mengalahkan suara gemuruh petir diluaran sana. Vito dan Leni sangat menikmati permainan mereka berdua, bahkan Leni sendiri kuat sampai lama. Tidak tahu apa yang diperbuat Vito, nyata nya 1 jam dia masih saja bersemangat. Padahal saat bersama Baskoro dia tidak tahan sampai berlama-lama.


Arrrgggghhhhhh


Vito dan Leni sama-sama sampai pada puncak permainan. Vito pun ambruk di samping Leni dengan nafas tersengal-sengal. Begitupun dengan Leni, nafasnya sudah tidak beraturan lagi.


" Maafkan Vito, Ma. Ini yang pertama dan yang terakhir, semua ini tidak akan terluang lagi." Seru Vito merasa tidak enak dengan apa yang baru saja terjadi diantara mereka.


" Iya Vito, mama juga minta maaf. Kalau mama tidak kerumahmu, semua ini tidak akan terjadi. Mama janji ini akan hanya menjadi rahasia kita berdua saja, kamu tenang saja. Mama tidak akan hamil, sebab mama sudah tidak akan mungkin bisa hamil lagi." Ucap Leni sambil mengusap wajah Vito yang kelelahan.


Vito mengangguk lalu dia memeluk Leni, mereka berdua menyelesaikan permainan 1 jam setengah. Kini mereka tetap tidur dalam keadaan polos dengan saling berpelukan satu sama lain. Sama sekali tidak ada rasa menyesal ataupun bersalah sudah tidur dan bahkan berolah raga bersama.

__ADS_1


************


__ADS_2