Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Acara sekolah Nada


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu oleh Nada datang juga. Nada dan Nia beserta ibu Karti datang secara bersama-sama kesekolahan, kebetulan ibu Karti semalam menginap sehingga bisa ikut ke sekolah Nada. Wajah Nada terlihat cemberut sebab David sampai hari ini belum juga pulang. Kemarin pagi David berangkat keluar kota dan sudah janji pulang malam hari, namun nyatanya sampai pagi ini belum juga pulang.


"Nada kenapa kok bersedih? Apa ada teman yang nakalin Nad?."Tanya ibu Arini selaku kepala sekolah tempat Nada bersekolah.


Nada hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan dengan wajah yang masih ditekuk karena kecewa papa belum juga datang. Nia sedari tadi mencoba menghubungi David namun ponsel David tidak bisa dihubungi. Mencoba menghubungi Rendi juga percuma, saat ini Rendi sedang ada kunjungan kerja di Bali dan baru semalam Rendi berangkat.


"Nada lagi ngambek karena papanya belum datang juga bu."Ucap Nia sedikit berbisik di telinga ibu Arini.


"Oh begitu. Semalam pak David sudah menginfokan kemungkinan dia datang nya terlambat, jadi jika ibu Nia tidak bersedia memberikan sambutan dari pemilik yayasan tidak apa-apa. Akan di wakilkan oleh staff dari yayasan saja, kebetulan Tuan dan Nyonya wijaya juga masih ada di luar kota juga."Ucap ibu Arini dengan ramah dan sopan.


Nia hanya mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh ibu Arini. Nia melirik Nada yang duduk di pangkuan ibu Karti dengan wajah yang masih saja cemberut.


"Sayang, disini kan ada nenek sama mama. Jadi jangan bersedih dong, nenek sengaja loh menginap dirumah Nada agar bisa ikut dan melihat Nada pentas. Yuk semangat, Nada harus tampil dengan maksimal."Ucap ibu Karti memberikan semangat untuk Nada.


"Nenek benar, Nada harus semangat. Tidak boleh bersedih, papa kan lagi kerja. Iya kan ma?."Seru Nada meminta persetujuan sang mama tercinta.


"Iya sayang."Jawab Nia singkat sambil mengusap lembut kepala Nada.


Para ibu-ibu dan murit yang lainnya juga pada berdatangan. Ibu Hani dan ibu Jelita juga sudah datang dan duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh panitia. Nada kini sudah bergabung dengan teman-teman yang lainnya beserta ibu guru juga.


"Ini siapa mbak?."Tanya ibu Jelita yang selalu kepo dengan urusan orang lain.


"Oh ini ibu saya bu. Sengaja ikut datang kesini untuk melihat Nada tampil."Jawab Nia dengan ramah dan sopan. Meskipun Ibu jelita dan ibu Hani orangnya kepo dan suka membuat onar, Nia masih tetap menghargainya sebab mereka lebih tua dari Nia.


"Wahh ini mamanya mbak Nia ya? Cantik dan masih terlihat muda, kalau boleh tahu ibu ini umur berapa sih?." Tanya ibu Hani tanpa ada rasa sungkan.


"Saya sudah tua bu, sudah umur 45 tahun. Sudah tidak muda lagikan?."Jawab ibu Karti dengan mengulas senyum ramah dan manis.


"Wah 45 tahun masih cantik dan awet muda ya bu. Kami kira tadi itu kakaknya mbak Nia loh, kami ini 32 tahun bu. Tapi memang cantik dan masih muda kan?." Ucap ibu Jelita dengan percaya dirinya yang penuh.


"Oh iya ibu memang masih cantik."Jawab ibu Karti.


Tanpa terasa acara pun kini sudah dimulai. Sambutan demi sambutan sudah saling bergantian, dan benar saja sambutan dari pemilik yayasan di sampaikan oleh perwakilan dari staff yayasan. Sebenarnya Nia sedikit kecewa dengan David, seharusnya dia bisa meluangkan sedikit waktunya untuk Nada. Tidak harus pekerjaan terus menerus, namun tidak dapat di salahkan juga, Indra yang sedang cuti mengharuskan David yang mengurus sendiri.


Kini giliran anak-anak yang pentas seni, dimulai dari yang menari, menyanyi dan ada juga cerita rakyat malin kundang yang diperankan oleh anak-anak yang lebih besar atau kelompok Nol besar. Nada sendiri masih nol kecil atau kelompok A.


"Wahhh anak-anak pada hebat ya, Nia. Mereka juga pandai berakting."Ucap ibu Karti dengan bangga.

__ADS_1


"Iya bu. Mereka memang anak-anak cerdas."Jawab Nia dengan ikut berbangga diri.


Kini tiba giliran Nada maju untuk membacakan puisi yang bertemakan tentang ibu. Sama persis dengan tema pentas seni yang memang di dedikasikan untuk para ibu-ibu bertepatan dengan hari ibu.


"Nada pasti bisa."Ucap Nia pelan namun masih terdengar oleh ibu Karti.


Mata Nada memindai satu-persatu manusia yang duduk di kursi tamu. Namun pandangannya tiba-tiba terfokus dengan seorang pria yang baru saja datang dan masih berdiri di barisan paling belakang.


*Papa ! Papa akhirnya datang. Nada jadi tambah semangat karena ada papa.*Gumam Nada pada dirinya sendiri.


Nada tersenyum dengan penuh kebahagiaan, dia juga memandang kearah mama dan neneknya dan ternyata di samping neneknya sudah ada Miska yang juga ikut hadir.


Ini adalah pengalaman pertama kali Nada tampil di depan banyak orang dengan membaca puisi yang cukup sulit. Nada harus bisa menghayati dan meresapi isi dari puisi yang dia baca.


Nada pun mulai membaca puisinya, sesuai dengan apa yang di ajari oleh Nia. Pada saat belajar, Nada kurang serius dan tidak memahami makna puisi yang dia baca..


Ibu... Sembilan bulan engkau mengandungku


Cintamu seperti cahaya bulan


Mengubah hal-hal yang kejam menjadi sebuah keindahan.


..........


Semua orang terhanyut dalam isi puisi Nada, ada yang menangis terharu ada juga yang senyum-senyum. Ada juga yang hanya diam saja, sebab dia tidak tahu makna dari puisi itu.


"Miska tidak menyangka jika Nada bisa menghipnotis semua para tamu undangan Kak. Nada benar-benar menghayati isi puisinya, Kak."Ucap Miska yang bangga dengan Nada.


"Kak Nia saja tidak menyangka jika Nada akan sehebat ini, Miska. Sebab saat belajar dia kurang serius dan tidak hafal teksnya, namun saat di panggung Nada sangat luar biasa. "Seru Nia yang kagum dengan Nada.


"Darah kak David mengalir kental pada diri Nada. Kak David juga seperti itu, saat belajar memang tidak pernah serius namun hasilnya selalu maksimal."Ucap Miska.


Plokk Plokk Plokkk


Suara tepuk tangan berasal dari David. David berjalan mendekati Nada dan tidak memperdulikan pandangan dari para wali murid yang lainnya.


"Hubby?."Seru Nia dengan pelan.


David menggandeng tangan Nia, Nia yang sedang duduk reflek langsung berdiri. David mengajak Nia menghampiri Nada ke atas panggung. Para pasang mata semakin penasaran dengan sosok David, sebab saat ini David mengenakan masker.


"Anak papa hebat."Seru David memeluk Nada dengan penuh rasa bangga.


"Anak papa memang anak yang hebat, kuat dan pintar. Papa sama Mama Nia bangga sama Nada. Semuanya bangga sama Nada."Ucap David mengusap pucuk kepala Nada dan menciumnya.


"Terimakasih ya sayang, kamu sudah menampilkan yang terbaik. Mama sangat bangga sama Nada, i love you Nada."Ucap Nia ikut memeluk Nada.

__ADS_1


David melepas maskernya dan mengajak Nada dan Nia untuk turun dari panggung. Semua para wali murid perempuan takjub dengan ketampanan David. Tidak ada yang tahu jika David adalah Ceo dari perusahaan Widjaya Group serta pemilik Yayasan Sinar Kasih. Selama ini David memang paling tidak suka dan tidak mau di ekspose di media.


"Wah papanya Nada ganteng banget? Persis banget dengan opa-opa korea itu loh. Sudah tampan, putih, dan hidungnya juga mancung. Duh tampannya tidak tertandingi."Ucap ibu Hani dengan rasa kagumnya.


"Sssttt jangan berisik. Malu kalau sampai di dengar mbak Nia. Ya kali kamu mengagumi suami orang."Ucap ibu Jelita.


Para ibu-ibu yang lain pun terdiam, mereka hanya bisa mengagumi dalam hati mereka saja. Di antara mereka ada yang merasa tidak asing dengan Suami Nia. Namun mereka lupa bertemu dimana, beruntungnya para karyawan pria yang bekerja di Widjaya Group tidak ada yang datang. Hanya para istrinya saja yang datang sehingga tidak mengenali siapa David.


Saat kepala sekolah meminta David untuk duduk di kursi utama yang sudah disiapkan, David menolaknya dan memilih duduk dengan keluarganya.


********


Sementara itu saat ini, Hesti sedang berkunjung di rumah Vito. Kebetulan Bella juga ada dirumah, tidak kerumah sakit sebab Vito juga ada dirumah. Jadi tidak mungkin Bella akan pergi kerumah sakit dan membiarkan Vito dirumah.


"Bagaimana hubungan mu dengan Vito, Bella? Apa Vito sudah lebih perhatian atau mencintai kamu?."Tanya Hesti.


"Ya begitulah ma. Vito masih saja acuh dan cuek, padahal saat ini aku sedang hamil tapi dia sama sekali tidak ada pedulinya. Coba di tanya aku ingin makan apa atau ngidam apa gitu, sama sekali tidak pernah."Seru Bella dengan kesal.


Bella juga kesal jika Vito itu masih saja memikirkan mantan pacarnya yang sudah menikah dengan duda kaya raya. Rasa cintanya untuk sang mantan pacar tetap belum bisa luntur.


"Sabar ya Bella sayang, Vito pasti akan bisa menerima kamu sepenuh hatinya. Apalagi saat ini kamu juga sedang hamil anaknya, kalau dia masih saja memikirkan mantan pacarnya itu. Nanti mama yang akan bicara dengan Vito. Pasti wanita itu sudah main pelet sampai Vito dan Tuan David tergila-gila begini."Ucap Hesti berprasangka buruk dengan Nia.


"Bisa jadi ma. Masa iya pria kaya raya itu mau sama Nia yang hanya wanita miskin. Mana anak dari seorang janda, oh iya bagaimana kalau kita beri pelajaran lagi itu ibu dari wanita sombong dan miskin itu."Seru Bella dengan mata yang berbinar.


"Wahhh ide bagus tuh. Salah siapa anaknya main pelet, kalau dia tidak mau membuat peletnya kepada Vito kita harus buat perhitungan. Bila perlu kita celakai lagi ibunya seperti dulu kita mencelakainya. Lagi pula mama heran juga deh, Bell. Padahal Vito itu sudah tahu kalau Nia wanita murahan tapi masih saja dia mencintai wanita itu."Ucap Hesti terlihat bingung.


"Mama ini lupa atau bagaimana sih? Lagipula yang Vito lihat itu belum sampai permainan ranjang, jadi bisa saja Vito beranggapan jika Nia belum sampai diranjang. Lagian orang suruhan mama juga yang bodoh, kenapa saat itu tidak langsung menarik dan mengajak Nia masuk kamar dan berakhir diranjang. Sudah dibayar mahal tapi kerjanya tidak maksimal."Gerutu Bella sedikit kesal dengan mama mertuanya.


"Apa? Jadi dua kejadian itu karena ulah mama dan Bella?."Tanya Vito dengan lantang.


Degggghhh


Bella dan Hesti langsung memandang kearah Vito, yang saat ini berdiri di ambang pintu ruang kerjanya sembari membawa gelas kosong di tangan kanannya. Bella dan Hesti tidak menyangka jika Vito akan keluar dari ruang kerjanya.


"Jawab !!."Bentak Vito dengan lantang sampai Hesti dan Bella tersentak kaget.


Pprraaannggggg


Vito sudah hilang kesabaran, sehingga dia membanting gelas kosong yang saat itu dia pegang di tangan kanannya.


Niat nya keluar untuk mengambil air minum didapur, namun dia justru terkejut dengan kenyataan baru yang baru saja dia ketahui.


Vito sangat bersyukur sekali air minum dalam galon ruang kerjanya habis. Sehingga dia keluar untuk mengambil minum, namun siapa sangka dia mendapatkan dua kebenaran yang selama ini di rahasikan oleh mama nya dan sang istri.


************

__ADS_1


__ADS_2