
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Sudah 1 minggu masalah Bella berlalu, namun Baskoro belum juga ditemukan atau di tangkap polisi. Bella sudah mulai membantu mamanya mengurus salon dan klinik kecantikan milik mamanya. Meskipun usaha itu tidak seramai dulu, namun Bella tetap melakukan pekerjaannya dengan baik dan dengan senang hati.
Bella hari ini menemui Nia di rumah sakit dimana Nia bekerja. Bella datang seorang diri, sebab mamanya tidak bisa ikut. Da pekerjaan yang tidak bisa dia wakilkan.
" Maaf sus, apa prakteknya dokter Nia sudah selesai?." Tanya Bella kepada Kesa saat Kesa keluar dari ruang praktek Nia.
" Untuk sekarang waktunya istirahat mbak, jam dua nanti akan di lanjutkan. Dokter Nia nya lagi mau istirahat."Jawab Kesa dengan ramah.
" Emm.. Iya mbak. Saya ada urusan yang ingin saya bicarakan dengan dokter Nia. Apakah saya bisa bertemu dengan dokter Nia?." Tanya Bella tetap bersikap dengan ramah.
Ceklekkk
Pintu ruangan praktek Nia terbuka, dan terlihat Nia keluar hendak istirahat. Namun dia tersentak kaget saat melihat Bella ada di depan ruangannya dan sedang berbicara dengan Kesa.
" Bella."Seru Nia dengan pelan.
" Oh kebetulan dokter Nia keluar, mbak ini ingin bertemu dengan dokter Nia."Ucap Kesa memberitahu.
" Nia, aku ingin bicara dengan mu. Apakah kamu ada waktu?." Tanya Bella dengan ramah.
Hhhuuuuffff
Nia menghela nafas dengan pelan, sepertinya kali ini Bella datang dengan maksud baik-baik. Nia pun mengangguk pertanda dia mengizinkan Bella masuk ke ruangannya.
Nia tidak jadi ke kantin, dia kembali keruangannya dan diikuti Bella di belakangnya. Kini mereka sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
" Ada apa, Bell?."Tanya Nia dengan ramah.
Selagi Bella datang dengan maksud yang baik dan tidak bikin ulah, Nia pun akan menyambut kedatangan Bella dengan baik.
" Nia, kamu tidak marah aku datang menemui kamu?." Tanya Bella sedikit ragu-ragu.
" Marah? Untuk apa aku marah? Kamu datang baik-baik kan? Tidak untuk membuat aku marah dan tidak membuat onar?"Tanya Nia balik.
" Oh tidak, aku datang kesini tidak akan membuat onar atau membuat masalah. Aku, aku datang untuk meminta maaf kepada kamu, Nia. Apakah kamu mau memaafkan aku?." Tanya Bella dengan penuh harap.
__ADS_1
Nia terdiam, dia masih tidak percaya Bella datang untuk meminta maaf. Cara bicara Bella juga baik, tidak arogan ataupun sombong. Nia yakin jika kali ini Bella pasti serius meminta maaf dan sepertinya memang sudah berubah.
" Kamu serius kamu meminta maaf?."Tanya Nia.
" Aku serius Nia. Aku benar-benar meminta maaf, aku banyak salah sama kamu. Dan sekarang Allah sudah membalas semua kesalahanku dimasalalu. Apakah kamu mau memaafkan aku, Nia? Aku juga sudah menemui ibu kamu, dan meminta maaf kepada beliau."Ucap Bella bicara dengan serius apa adanya tanpa ada rasa malu.
" Aku sudah memaafkan kamu, Bella. Jauh daei sebelum kamu meminta maaf aku sudah memaafkan kamu."Jawab Nia membuat Bella tersenyum bahagia.
" Terima kasih, Nia. Kamu memang wanita yang baik, pantas saja kamu selalu mendapatkan kebahagiaan. Aku tidak tahu lagi jika aku yang jadi kamu, mungkin aku tidak akan bisa setegar dan sebaik kamu."Seru Bella.
" Sama-sama Bella, semoga setelah ini kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Oh iya, kamu sudah melahirkan? Laki-laki apa perempuan, selamat ya atas kelahirannya anaknya. Aku juga sekarang sedang hamil, baru 4 bulan sih."Seru Nia menanyakan tentang bayi Bella.
Nia sama sekali tidak tahu jika anak Bella sudah meninggal 1 bulan yang lalu. Nia juga tidak tahu tentang rumah tangga Bella dengan Ayahnya. Sebab Nia memang menutup kabar dan berita apapun tentang Ayahnya, dia tidak mau tahu dengan segala hal yang berhubungan dengan Baskoro.
" Anak ku sudah meninggal, Nia." Jawab Bella dengan wajah sedih.
Bella pun menceritakan segala kejadian yang selama ini dia alami sampai pada akhirnya bayi dalam kandungannya meninggal. Apa pun perlakuan Baskoro juga dia ceritakan semua kepada Nia. Nia benar-benar tidak menyangka jika Ayahnya bisa berubah menjadi pria psikopat seperti itu.
Rasa kasihan Nia timbul begitu saja, Nia membawa Bella kedalam pelukannya. Dan untuk pertama kalinya Bella menangis dalam pelukan Nia.
" Maaf, aku tidak tahu jika kamu mengalami masalah yang sangat berat seperti ini. Meskipun dia itu Ayah kandungku, aku tetap tidak membenarkan perbuatannya. Semoga pihak kepolisian bisa segera menangkapnya dan memberikan hukuman dengan adil."Seru Nia sambil mengusap punggung Bella dengan lembut.
" Terima kasih Nia. Mungkin ini semua memang karma untukku. Sekali lagi maaf dan terima kasih. Mau kah kamu menjadi temanku?."Seru Bella melepaskan pelukannya lalu mengusap air matanya.
Bella benar-benar senang dan bahagia bisa menjadi teman Nia. Bella akan banyak belajar dari Nia, tentang kebaikan dan kesabaran serta bagaimana menghargai orang lain.
" Emm.. Maaf aku sudah mengganggu istirahat makan siangmu."Ucap Bella merasa tidak enak dengan Nia.
" Sudah tidak masalah. Ini juga jam praktekku masih 45 menit lagi kok mulainya, masih afa waktu untuk makan siang dan sholat."Ucap Nia sambil melirik jam tangan mewah di tangan kirinya.
Bella pun mengangguk, setelah urusannya dengan Nia selesai, Bella pun izin pamit pulang. Dia tidak enak berlama-lama mengganggu Nia, apalagi Nia harus kembali praktek. Bella bangga dengan Nia, biarpun dalam keadaan hamil dan suaminya orang kaya, masih saja dia mau bekerja dan mengemban tugasnya sebagai seorang dokter.
Bbrruukk
Saat di parkiran Bella yang berjalan sambil memainkan ponselnya tiba-tiba menabrak seseorang. Bella hampir saja jatuh namun orang itu dengan sigap menahan Bella dengan tanggannya.
" Maaf, maaf mas saya tidak sengaja."Seru Bella dengan cepat meminta maaf lebih dulu sebelum orang itu memarahinya lebih dulu.
Bella merasa jika memang dia yang bersalah, jalan tidak melihat jalan tapi malah fokus dengan ponselnya.
" Bella."Seru seseorang kaget.
" Hahh.. Vito."Seru Bella tidak kalah kaget.
__ADS_1
Bella dan Vito saling pandang, Bella seolah tidak percaya jika dia bisa bertemu dengan Vito di rumah sakit. Sedangkan Vito tidak menyangka,Bella yang dulunya arogan dan sombong bisa bersikap baik dan sopan. Bahkan penampilan Bella juga jauh dari kata s3ksi.
" Kamu ngapain disini? Siapa yang sakit?." Tanya Bella lebih dulu membuka percakapan.
" Ohh papa yang sakit. Baru tadi pagi papa masuk rumah sakit, biasa sih papa hanya kelelahan saja tapi mama minta untuk di rawat. Kamu sendiri ngapain disini? Oh kamu sudah melahirkan?." Tanya balik Vito sambil melirik perut Bella yang sudah kempes.
" Emm iya aku sudah melahirkan. Tadi ada urusan sama dokter, aku duluan ya. Salam untuk Om sigit, semoga cepat sembuh."Seru Bella buru-buru menuju ke mobilnya.
Hati Bella tidak sanggup berlama-lama dekat dengan Vito. Cintanya untuk Vito saat ini masih ada dan semakin besar. Dari dulu Bella memang sangat mencintai Vito, namun rasa cintanya itu tertutup nafsu sesaatnya. Sehingga semua nya hancur dan rumah tangganya pun tidak bisa di pertahankannya lagi.
" Kenapa jantung ini selalu berdetak kencang saat bertemu dengan Vito. Jangankan bertemu langsung, mendengar namanya saja jantung ini jedag jedug. Huuhhh apakah masih bisa aku menggapai cintanya Vito. Pasti saat ini Vito sudah mempunyai kekasih yang jauh lebih baik dariku."Ucap Bella bicara pada dirinya sendiri.
Bella menghidupkan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran rumah sakit. Dari kejauhan Vito masih melihat kepergian Bella dengan mobilnya.
"Bella terlihat lebih sopan dan dewasa. Tumben tadi dia bisa bicara dengan sopan, biasanya salah sedikit saja dia sudah arogan dan marah-marah tidak tahu tempat. Kira-kira kesambet apa ya dia, atau memang dia sudah berubah. Tapi kalau misal dia sudah berubah yabaguslah. Berarti hidup dia ada perubahan dan kemajuan."Seru Vito bicara pada dirinya sendiri.
Vito melangkahkan kakinya memasuki gedung rumah sakit dan menuju kamar rawat papanya. Di sana papanya hanya seorang diri, sebab mamanya sedang ada arisan.Vito sendiri merasa heran dengan mamanya, dia yang ngeyel untuk papanya di rawat tapi dia juga yang tidak punya waktu untuk menemani suaminya.
" Pa, bagaimana keadaan papa? Apakah sudah lebih baik?." Tanya Vito saat sudah sampai di kamar rawat papanya.
" Papa ini baik-baik saja Vito, papa tidak sakit. Hanya kelelahan bermain golf saja, tapi mama kamu saja yang berlebihan. Tapi kamu lihat sendirikan justru mama kamu tidak ada disini, dia sibuk dengan urusannya sendiri. Kamu urus kepulangan papa saja, baru juga setengah hari papa sudah jenuh-jenuh banget."Seru pak Sigit yang sudah merasa bosan ada di rumah sakit.
" Sudahlah ikuti saja apa kata mama. Mama mungkin tidak mau papa kelelahan makanya disuruh istirahat di rumah sakit. Ada Vito yang akan menemani papa. Kebetulan Vito memang sudah tidak sibuk, pekerjaan sudah ada yang handel."Seru Vito lagi.
" Vito, apa kamu tidak ada niat untuk berumah tangga lagi? Papa ini sudah tua dan semakin tua, Vito. Segeralah menikah dan berikan papa cucu, papa juga ingin bermain dengan cucu seperti teman-teman papa. Ada yang kalau main golf itu cucu nya di ajak, nah itu yang bikin papa senang main golf karena ada beberapa teman papa yang membawa cucunya ikut serta."Ucap pak Sigit.
Vito belum kefikiran untuk menikah lagi, untuk dekat dengan wanita pun belum ada keinginan. Pernah membuka hati tapi ternyata wanita itu sudah punya tambatan hati.
" Pa, jangan bicara soal itu dulu ya. Vito belum ada niat untuk menikah, Vito mau memajukan perusahaan dulu. Lagi pula, Vito juga tidak ada waktu pa untuk mencari pendamping hidup. Nanti kalau memang sudah ketemu dengan jodohnya pasti Vito akan menikah juga, Pa."Seru Vito dengan suara yang terdengar lesu.
" Terserah kamu, Vito. Papa hanya mau gendong cucu dan bermain dengan cucu, sebelum papa meninggal."Ucap pak Sigit.
Ucapan pak Sigit membuat Vito jadi sedih, papanya ternyata sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu. Mungkin itu semua juga karena papa nya sering kesepian, sang istri yang sibuk dengan urusannya sendiri. Di tambah Vito yang memang jarang kerumah, dia lebih banyak di rumahnya sendiri dan jika sangat sibuk pun dia sampai menginap di kantor.
" Papa, istirahat saja ya. Vito temani papa disini, nanti Vito temui dokter apa papa boleh pulang sore ini."Seru Vito mencoba mengalihkan pembicaraan lain dan meminta papanya untuk istirahat.
" Hemmm... "Jawab pak Sigit hanya berdehem saja.
Vito memilih berbaring di sofa yang ada di ruang rawat pak Sigit. Dia memikirkan kata-kata papanya tadi, banyak sekali yang saat ini dia fikirkan. Tentang pekerjaan, mamanya yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, tentang teman hidup dan cucu serta tentang pertemuannya dengan Bella tadi yang tidak di sengaja.
* Siapa kira-kira wanita yang akan menjadi pendamping hidupku nanti? Apa masih tetap harus sesuai dengan kriteria mama? Selama ini mama selalu ikut campur dengan kehidupanku, sampai jodoh saja di aturnya.Aargghh.. Pusing aku mikirin jodoh.*Gumam Vito dalam hatinya.
*************
__ADS_1