
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Lima hari kemudian
Ibu Karti heran melihat Nia yang terlihat murung, apalagi sudah 2 hari Nia tidak masuk kerja dengan alasan ingin beristirahat atau cuti. Sebagai seorang ibu, ibu Karti dapat merasakan jika anaknya saat ini sedang ada masalah. Ibu Karti mendekati Nia yang sedang ikut menanam sawi di belakang rumahnya.
" Nia, kamu sebenarnya ada apa ? Ibu perhatikan dari kemarin kamu itu murung terus. Pasti kamu ada masalah kan?" Tanya ibu Karti yang sudah berada disamping Nia.
" Tidak ada apa - apa bu. Nia baik - baik saja kok bu." Ucap Nia dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
" Ya sudah kalau memang tidak apa- apa , tapi kalau ada masalah tolong cerita sama ibu. Sekarang ini kamu ini hanya punya ibu dan ibulah orang yang paling sakit dan sedih jika kamu ada masalah. Tetlebih ada orang yang menyakiti kamu. Oh iya, kok Nak Vito sudah hampir 1 bulan ini tidak pernah berkunjung kerumah? Kalian baik - baik saja kan?." Tanya ibu Karti semakin membuat Nia bersalah sebab sampai sekarang belum memberitahu ibunya tentang hubungannya dengan Vito.
Hhhhaaaahhhh
Helaan nafas berat keluar dari saluran pernafasan Nia, mungkin tidak ada salahnya jika Nia bicara jujur kepada ibunya agar ibunya tahu yang sesungguhnya apa yang terjadi antara dia dan Vito. Tidak mungkin selamanya dia akan menyembumyikan tentang hubungannya yang sudah kandas.
* Lebih baik aku jujur saja soal hubunganku dengan kak Vito. Agar ibu tidak terus bertanya tentang dia.* Gumam Nia dalam batinnya.
" Bu, maafkan Nia jika selama ini Nia tidak jujur sama ibu. Sebenarnya hubungan Nia dan kak Vito sudah kandas dari bulan lalu. Maaf Nia tidak jujur sama ibu, sebab Nia tidak sanggup melihat ibu bersedih.* Ucap Nia akhirnya bicara terus terang.
Ibu Karti terlihat kaget dengan apa yang barusan dikatakan oleh Nia. Ternyata apa yang dia takutkan selama ini benar terjadi. Ibu Karti membawa Nia dalam pelukannya untuk menguatkan anak gadisnya itu.
" Sabar ya Nak. Semoga kelak kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Nak Vito, mungkin dia memag bukan jodoh kamu. Tapi meskipun kalian sudah tidak ada hubungan lagi tetaplah jaga silaturahmi ya Nia." Ucap ibu Karti menasehati Nia.
" Iya bu. Insya Allah " Jawab Nia ragu.
Bukan dia tidak mau menjalin silaturahmi dengan Vito, namun sampai detik ini Nia belum bisa melupakan hinaan dari Vito. Cukup menyakiti hati hinaan yang sudah Vito lontarkan kepada Nia, sehingga rasa sakit itu seakan sudah mendarah daging.
" Kamu bukannya hari ini seharusnya ada jadwal kerumah Tuan David? Dua kali jadwal kerumah Tuan David kamu tidak datang juga. Apa kamu juga libur?" Tanya Ibu Karti mengalihkan topik pembicaraan, sebab ibu Karti tahu jika saat ini membahas Vito raut wajah Nia langsung berganti sedih.
" Libur juga bu." Jawa Nia singkat.
* Sedang apa ya Nada sekarang, apa dia masih sekolah. Sudah lima hari ini tidak tahu kabar Nada dan tidak tahu kabar sang Tuan arogan itu. Kenapa aku merindukan mereka ?. Ada apa dengan ku ?* Gumam Nia dalam batinnya.
" Bu, Nia masuk duluan ya. Ini juga bibitnya sudah tertanam semua. " Seru Nia sembari menunujukan ember yang sudah kosong.
" Ya sudah sana kamu mandi saja dulu, nanti ibu saja yang membereskan ini semua." Ucap ibu Karti dengan lembut.
" Iya bu" Jawab Nia singkat.
Nia mencuci tangan dan kakinya di kran samping rumahnya. Setelah itu dia masuk rumah melalui pintu dapur, dan segera mengambil handuk yang ada dibelakang pintu kamarnya.
Tidak perlu waktu lama Nia sudah menyelesaikan mandinya dan melaksanakan sholat Ashar. Nia duduk termenung di pinggir ranjang sembari menatap kearah luar jendela kamarnya. Tidak dapat dipungkiri jika dia sangat merindukan sosok Nada yang periang, rindu celotehan Nada yang sangat menghiburnya.
" Aku sangat menyayangi Nada. Aku menyesal sudah membuatnya bersedih dan menangis, seharusnya aku tidak bicara seperti itu. Apakah aku bisa bertemu dengan Nada dan Tuan David lagi ? Aku merindukan mereka berdua. Apa benar kata Rindi, jika aku tidak boleh terlalu benci dengan tuan David sebab bisa saja aku jatuh cinta dengannya. " Nia bermonolog pada dirinya sendiri.
Tidak tahu kenapa Nia juga merindukan sosok David, padahal dia sangat membenci David. Didunia ini memang tidak ada yang tidak mungkin, yang tadinya benci saja bisa mencintai dan yang tadinya mencintai bisa saling membenci.
* Apa aku ini sudah jatuh cinta dengan Tuan David ? Oh tidak mungkin, aku tidak mungkin jatuh cinta dengan pria Arogan itu.* Gumam Nia dalam batinnya.
Sementara saat ini David yang baru saja pulang dari kantor langsung menuju kamar Nada, dimana Nada memang sudah 3 hari ini sakit. Namun dokter tidak menyimpulkan jika Nada sakit parah, namun hanya demam karena kangen seseorang saja. Dokter sudah menyarankan agar David memanggil Nia. Namun karena keegoisannya, David tidak mengindahkan perintah dari dokter Rian.
" Apa demamnya sudah turun ma?" Tanya David mendekati Nada yang sedang tertidur.
__ADS_1
" Demamnya naik turun David, tapi dia terus mengigau dan memanggil - manggil Nia. Mama khawati Nada akan semakin parah dan tertekan dengan rasa ingin bertemunya dengan Nia. Apa kamu tidak bisa memanggil Nia agar dia mau datang kesini." Seru Karmila menyarankan agar David mau memanggil Nia
" Aku tidak mau wanita itu menemui Nada ma. Wanita itu yang sudah membuat Nada seperti ini." Seru David tetap menolak dengan tegas.
" David, kasihan Nada. Kamu jangan egois yang hanya mementingkan diri kamu sendiri. Nia itu tidak salah, mama saja sangat menyesal kemarin sudah bicara ketus dengannya. Sebelum anak kamu semakin drop kamu panggil dan jemput Nia untuk segera datang kerumah." Ucap Karmila bicara dengan tegas,dia tidak mau cucu kesayangannya kenapa - kenapa.
Miska masuk kamar Nada dan ingin melihat keadaan keponakan cantiknya. Bahkan Miska sama sekali tidak menyapa David dan itu membuat David heran.Tidak biasanya Miska mengacuhkannya seperti itu.
" Miska, kamu tidak menyapa ku ? Apa kamu tidak bisa melihat ku?" Tanya David saat Miska sudah ada diatas kasur Nada.
" Oh ada kakak ya ? Maaf kak aku tadi tidak melihatnya. Tadi aku kira kakak itu gapura perumahan, soalnya gapura itukan keras dan kokoh sama seperti cara berfikir kakak yang egois dan keras kepala." Jawab Miska tanpa memandang kearah David.
Rasanya ingin sekali David menyumpal mulut adiknya yang sudah mengatainya itu, namun dia urungkan sebab Nada terbangun dari tidurnya.
" Nada sayang kamu sudah bangun ? Aunty ada disini nih ? Maaf ya sayang Aunty baru pulang jadi baru bisa jagain Nada. Nada mau apa, coba bicara sama Aunty?" Tanya Miska dengan lembut.
" Nada mau bertemu mama Nia, Aunty." Jawab Nada dengan pelan.
Terlihat sekali rasa kerinduan yang mendalam untuk Nia pada diri Nada. David sendiri hanya berpura - pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Nada. Dia tetap dalam keegoisannya, tidak peduli dengan anaknya. Miska melirik David namun yang di lirik hanya cuek dan acuh.
" Baiklah, sekarang Nada makan dulu ya biar tidak lemas. Aunty janji setelah Nada makan dan minum obat, Aunty akan jemput Mama Nia. Kalau papa tidak mau menjemputnya biar Aunty yang jemput. " Ucap Miska bicara dengan lembut dan mencoba merayu Nada.
" Beneran ya Aunty?" Seru Nada penuh semangat.
" Iya sayang. Sekarang kamu makan disuapin Oma apa mbak Nur saja ya. Aunty mau jemput mama Nia sekarang mumpung masih sore." Seru Miska semakin membuat Nada senang.
" Suap Oma saja. Beneran ya Aunty jemput mama Nia ? Terimakasih Aunty, coba Aunty pulang nya dari kemarin. Nada pasti senang bisa ketemu Aunty sama mama Nia." Seru Nads penuh semangat.
Karmila dan Miska senang melihat Nada yang sudah kembali lagi ceria. Namun tidak dengan David, justru melirik tajam kearah Miska. David tidak suka Miska menjanjikan akan menjemput Nia,sebab dia tidak mau Nia kembali datang kerumahnya.
Miska turun dari ranjang lalu keluar dari kamar Nada, David mengikuti Miska sampai di ruang keluarga. Saat Miska hendak keluar rumah, tiba-tiba David mencengkel tangan Miska sehingga Miska langsung menghentikan langkah kakinya. Miska memandang ke arah David yang wajahnya kini sudah memerah.
" Aku tidak akan melepaskan tangan ini kalau kamu tetap ingin menjemput dokter itu. Sudah aku katakan aku tidak mau dokter itu ada di rumah ini. Nada sakit seperti itu karena ulah dokter sialan itu." Ucap David tetap tidak menyetujui jika Miska menjemput Nia.
" Kamu ini egois kak, kamu mementingkan kepentingan diri kamu sendiri daripada kesehatan anakmu. Apakah kamu tidak kasihan melihat Nada yang demam serta mengigau memanggil nama Kak Nia? Kalau aku tahu dari kemarin Nada seperti ini, sudah pasti aku pulang dari kemarin-kemarin dan aku jemput Kak Nia. Kamu itu terlalu sombong kak, bahkan terlalu arogan. Kenapa juga kakak memecat Kak Nia fari rumah sakit? Jangan bawa-bawa masalah pribadi ke ranah pekerjaan kak. Kamu tidak profesional Kak ."Ucap Miska dengan kesel berani membantah apa kata David.
Baru kali ini Miska berani membantah kakaknya. Sebab dia sudah tidak tahan dengan sifat egois dari sang kakak. Terlebih masalah ini juga menyangkut Nada, setuju atau tidak Miska akan tetap menjemput Nia.
" Jangan terlalu membenci kak, benci itu bisa menjadi cinta. Atau jangan-jangan sekarang pun kak David sudah jatuh cinta sama kak Nia? Tapi kak David menutupinya , sebab kak David malu untuk mengakui perasaan Kakak sendiri ." Cibir Miska dengan tersenyum sinis ke arah David.
" Jangan ngelunjak kamu Miska! Siapa juga yang jatuh cinta dengan wanita itu ? Wanita yang biasanya cuma membuat anakku sakit, tidak usah sok tahu kamu." Jawab David sedikit gugup.
Miska kembali melangkahkan kakinya untuk menuju mobilnya yang ada di depan. Namun tetap saja David menghalanginya dan meminta Miska untuk kembali ke dalam rumah.
" Diam Kak! Aku mau menjemput kak Nia, itu juga untuk Nada. Jadi kamu jangan menghalanginya."Ucap Miscka menolak.
" Sudah sana kamu masuk saja biar aku yang menjemput dokter itu. Temani Nada saja, bilang sama Nada jangan lupa habiskan makannya karena aku tidak mau nada semakin sakit." Seru David bicara tidak mau menatap wajah Miska.
Miska mengerutkan keningnya melihat tingkah David seperti ada sesuatu yang memang David tutup-tutupi. Sepertinya apa yang dikatakannya tadi benar-benar terjadi dengan David. Miska hanya bisa menahan tawanya, dia tahu jika kakaknya saat ini sudah mulai menyukai dan jatuh cinta dengan dokter Nia.
* Sepertinya kak David mulai menyukai kak Nia. Jika memang itu benar, berarti Nada akan memiliki pengganti kak Hera yang tepat. Kak Nia memang cocok dengan kak David, apalagi dia sangat menyayangi Nada dengan tulus.* Gumam Miska dalam batinnya.
" Baiklah aku akan menemani Nada, tapi ingat sampai kakak bohong tidak menjemput Kak Nia, aku pastikan aku sendiri yang akan datang ke rumah kak Nia dan membawa kak Nia ke sini. Bila perlu Nada aku bawa sekalian ke rumah kak Nia." Miska mengancam tidak mau jika David membohonginya.
" Kapan aku pernah berbohong sama kamu? Sekarang juga aku akan jemput dokter itu." Seru David lalu berjalan menuju mobilnya yang masih ada di halaman rumah.
David benar melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya. Miska hanya berharap semoga saja David benar-benar menjemput Nia seperti yang sudah dia janjikan tadi.
Miska pun kembali masuk ke rumah dan menuju kamar Nada, untuk memberitahu jika papanya sendiri yang menjemput Dokter Nia.
__ADS_1
Sedangkan saat di perjalanan menuju rumah Nia, David menggerutu sendiri dia menyesalkan kenapa tadi menyanggupi untuk menjemput Nia. Padahal dia sendiri yang tidak mau bertemu dengan Nia.
" Sial kenapa aku tadi melarang Miska untuk menjemput dokter itu, dan aku sendiri yang akan menjemputnya. Ini benar-benar gila kenapa aku bisa secepat ini berubahnya, padahal aku sangat membenci dokter itu dan tidak mau bertemu dengannya. Tapi kenapa beberapa hari ini aku kepikiran terus dengan dokter itu, bahkan ada rasa kehilangan saat tidak bertemu dengannya."Ucap David pada dirinya sendiri.
" Tidak mungkin aku jatuh cinta pada dokter itu. Karena dokter itu bukanlah kriteriaku." David kembali bermonolog pada dirinya sendiri.
David terus melajukan mobilnya menuju alamat rumah Nia. Hanya perlu waktu sekitar 45 menit David sudah sampai di depan rumah Nia, namun dia masih saja diam di dalam mobil karena merasa ragu dan malu untuk mendatanginya. Apalagi kedatangannya untuk menjemput Nia agar bisa bertemu dengan anaknya
" Bisa besar kepala wanita itu jika aku datang ke sini untuk menjemputnya. Tapi aku tadi sudah janji dengan Miska jika aku yang akan menjemput wanita itu. Jika aku pulang tanpa dia, pasti Miska lebih marah kepadaku dan dia sendiri yang akan membawa Nada ke rumah Nia."David tetap bermonolog pada dirinya sendiri.
Dengan ragu - ragu David turun dari mobil dan berjalan menghampiri rumah Nia. Rumah Nia nampak sepi bahkan pintu rumahnya juga tertutup rapat. Dengan ragu - ragu David mulai mengetuk rumah Nia.
Tok Tok Tok
Dengan ragu - ragu dan pelan David mulai mengetuk pintu rumah Nia. Pertama kali mengetuk pintu belum ada yang membukakan, David mencobanya sekali lagi dan jika kali ini pintu tidak terbuka Davi memutuskan untuk pulang saja. Dia tidak mau berlama - lama berada di depan rumah Nia apalagi saat ini sudah hampir jam setengah 6 berarti juga sudah mau magrib.
Tok Tok Tok
Sepertinya kali ini pintu akan terbuka sebab terdengar deru langkah kaki dari dalam rumah yang mendekati kearah pintu.
Ceklek..
Pintupun terbuka dan berdirilah Nia dihadapan David. Ternyata Nia sendiri yang membukakan pintu untuk David. Nia dan David sama-sama kaget sehingga mereka hanya bisa saling pandang.
* Kenapa jantungku berdetak lebih kencang begini. Kenapa dia ada dirumah ku ?* Gumam Nia dalam hatinya.
* Ada apa dengan jantungku ? Sepertinya besok aku harus periksakan jantungku. Dengan wajah naturalnya dia terlihat sangat cantik sekali. Hhuuuhh sadar David jangan terperdaya dengan wajah polos dan kecantikannya.* Gumam David dalam batinnya.
" Tuan David ? Ada apa ?" Tanya Nia yang sudah mulai menguasai dirinya.
" Aku datang untuk menjemput mu karena sudah 3 hari ini Nada sakit dan memanggil- manggil nama kamu." Seru David sedikit ketus.
Hhaaahhh ? Nada sakit ?
Nia kaget saat mengetahui Nada sakit, dengan segera dia berlari masuk kekamarnya untuk mengganti pakaiannya. David dibuat heran dengan kelakuan Nia, bukannya menyuruh masuk tetapi justru langsung berlari kekamarnya.
" Loh ada Tuan David ? Masuk dulu Tuan." Seru ibu Karti yang baru saja pulang dari warung membeli minyak makan.
" Iya bu " Jawab David singkat.
Baru juga David mendaratkan bobot tubuhnya diatas kursi kayu yang ada diruang tamu rumah Nia. Tiba -tiba Nia sudah keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi dan ditangannya sudah menenteng tas yang berisi perlengkapan dokternya. Mendengar Nada sakit membuat Nia tidak bisa tenang, jadi tadi dia langsung bersiap agar cepat bisa menemui Nada.
" Loh Nia mau kemana kok sudah rapi begini?" Tanya ibu Karti.
" Anak tuan David sakit bu jadi Nia harus segera kesana. Maaf ya bu malam ini Nia tidak bisa makan malam sama ibu." Seru Nia dengan cepat.
" Iya Nia, kamu segera kerumah tuan David semoga saja anak tuan David segera sembuh. " Seru ibu Karti.
" Iya bu. Ayo sekarang kita berangkat." Seru Nia dengan cepat sehingga tanpa sadar dia menarik tangan David untuk segera keluar menuju mobil.
Saat sampai didekat mobil Nia baru sadar jika sedari tadi dia menarik dan memegang tangan David. Tidak tahu kenapa David juga tidak menolak saat Nia tadi menarik tangannya.
" Maaf ruan Tuan." Seru Nia langsung melepaskan tangan David sambil menunduk malu.
" Lain kali kamu tidak akan aku maafkan. Oh iya jangan besar kepala dulu kamu, aku datang kesini lantaran permintaan anakku untuk menjemputnya jadi bukan berarti aku sudah memaafkan kesalahanmu yang kemarin. Paham!!" Seru David dengan wajah garangnya.
" Iya. Aku mau ikut anda karena aku menghkawatirkan Nada,sebab aku menyayangi Nada dengan tulus. " Jawab Nia.
Mereka akhirnya masuk kemobil, Nia sengaja duduk dibelakang agar tidak terintimidasi oleh sikap David yang arogan. Sepanjang perjalanan menuju rumah David, mereka sama sekali tidak mengobrol hanya saling diam dan mengunci mulutnya rapat - rapat. Setelah 45 menit mobil sudah sampai dedapan rumah megah David.
__ADS_1
*************