Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Boss Arogan


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Ibu " Seru Nia saat mendapati ibunya sudah siuman. Nia terbangun karena mendengar suara orang mengaji dari masjid yang tidak jauh dari rumah sakit


Nia langsung turun dari ranjang, namun tiba - tiba dia teringat jika semalam dia tidur di sofa kenapa bisa berpindah di atas ranjang. Nia mencoba mengabaikan rasa penasarannya sebab dia ingin segera menghampiri ibunya yang saat ini sudah memandang ke arahnya sembari mengulas senyum ke ibunya.


" Ibu sudah bangun dari tadi? Kenapa ibu tidak membangunkan Nia?." Tanya Nia yang kini sudah ada di samping ibunya sembari mengusap lembut tangan ibunya.


" Ibu juga baru bangun Nia. Kamu jangab khawatir ya, ibu sudah tidak apa - apa. Sekarang kamu sholat subuh saja dulu." Seru ibu Karti dengan pelan.


" Iya bu. Nanti tunggu Adzan Nia pasti akan ke mushola. Oh iya ibu mau minum?." Tanya Nia dengan suara lembut, menyiratkan jika dia sangat menyayangi ibunya.


Ibu Ratri tersenyum dan mengangguk pelan. Nia segera mengambil air putih yang ada di atas nakas samping brankar. Dengan segera dia memberikan kepada ibunya dengan pelan, Nia memakaikan sedotan agar ibunya bisa meminum tanpa harus duduk sebab ibunya belum boleh banyak gerak.


Nia melihat botol infus ibunya masih banyak, berarti tadi saat dia masih tertidur sudah ada perawat yang mengganti botol infusnya.


" Bu, jangan pernah tinggalkan Nia ya bu. Hati Nia hancur saat melihat ibu terbaring lemas dirumah sakit." Seru Nia dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


" Kamu jangan bersedih, ibu tidak apa - apa Nia. " Jawab ibu Ratri dengan suara pelan.


Adzan subuh berkumandang, Nia pun bangkit hendak menuju mushola namun dia khawatir meninggalkan ibunya sendirian. Namun ibu Karti menyakinkan jika dia tidak akan apa - apa. Akhirnya Nia pun ke mushola rumaj sakit untuk melaksanakan sholat subuh. Jika saja dia membawa alat sholat sendiri mungkin dia lebih memilih sholat di kamar rawat ibunya.


Selesai dengan sholat subuhnya, Nia langsung kembali lagi ke ruang perawatan sang Ibu. Dia tidak mau berlama-lama meninggalkan ibunya sendirian di kamar. Dia masih sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya yang baru saja operasi.


" Sudah kembali nak." Tanya ibu Karti dengan suara lirihnya.


" Iya bu. Ibu lebih baik tidur saja lagi ya bu, ibu harus banyak istirahat. Biar ibu bisa cepat sembuh."Ucap Nia meminta ibunya untuk beristirahat.


" Ibu tidak mengantuk Nia, lagi pula ini juga ibu cuma berbaring, jadi ibu tidak akan merasa lelah. Oh iya sepertinya ruang perawatan Ibu ini kelas mahal, Nia. Apa kamu mempunyai uang untuk membayar semua ini? Atau lebih baik ibu dibawa pulang saja dan dirawat sama kamu di rumah? Kamu juga kan seorang dokter, pasti tahu bagaimana cara merawat orang yang sakit." Ucap Ibu Karti mengkhawatirkan biaya rumah sakit yang pasti akan membengkak.


Nia juga sedang memikirkan masalah biaya rumah sakit, belum lag biaya operasi semalam dan biaya rawat inap di kelas VIP. Nia akan mencoba menemui David untuk membicarakan masalah biaya rumah sakit, dia akan menangguhkan semuanya sebagai hutang yang kelak pasti akan dia bayar.

__ADS_1


" Ibu tenang saja tidak perlu memikirkan soal biaya rumah sakit. Nia juga kan salah satu dokter di sini, sehingga Nia mempunyai fasilitas atau asuransi kesehatan jadi untuk biaya rumah sakit ibu ini sudah diambil dari situ. Itu asuransi diberikan rumah sakit untuk setiap dokter, perawat dan keluarganya. Jadi ibu tenang saja." jawab Nia sengaja berbohong kepada ibunya jika biaya rumah sakit memakai asuransi kesehatannya. Nyatanya saat ini dia sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit tempat ibunya dirawat.


" Alhamdulillah kalau begitu . Ibu tidak mau menyusahkan kamu, sebab selama ini hidup kamu juga sudah susah nak. Maafkan ibu jika selama ini ibu belum bisa memberikan yang terbaik untuk kamu. Justru sekarang malah Ibu menyusahkan kamu."Seru ibu Karti merasa iba melihat nasib anaknya yang sedari kecil sudah ditinggalkan oleh ayah kandungnya sendiri.


Nia memeluk ibunya penuh kasih sayang, saat ini dia sudah tahu di mana keberadaan Ayah kandungnya. Namun dia masih merahasiakan dari ibunya, sebab tidak mau ibunya merasa bersedih jika mengingat ataupun bertemu dengan ayahnya. Luka yang digoreskan oleh ayahnya masih tetap membekas di hati ibunya.


Pagi menjelang, dokter dan perawat datang untuk melakukan pemeriksaan. Dokter Irawan memeriksa dengan penuh hati- hati sembari terus menyunggingkan senyum ramahnya.


" Padahal tadi malam baru operasi loh ibu ini tetapi pagi ini sudah terlihat lebih segar. Wajar ya yang merawat dokter muda yang cantik, lembut dan baik hati ini." Seru dokter Irawan sedikit bercanda.


" Iya dokter. Terimakasih." Seru Ibu Karti.


" Nia sebenarnya kamu sudah bisa kembali bekerja mulai hari ini. Tetapi karena ibu kamu baru saja terkena musibah jadi kamu besok saja mulai masuk kerjanya. Tuab David sudah memberi mandat jika kamu boleh kembali bekerja dirumah sakit ini lagi." Seru Dokter Irawan memberitahu Nia.


Nia bengong dan hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dokter Irawan. Dia tidak menyangka jika dia bisa kembali lagi bekerja di rumah sakit. Namun justru ibu Karti terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh dokter Irawan.


" Maksudnya bagaimana ini? Apa Nia sudah tidak bekerja lagi dirumah sakit ini?." Tanya ibu Karti dengan wajah keheranan.


Deg


" Emm...bukan begitu bu. Selama beberapa hari ini kan Nia memang cuti dan sebenarnya hari ini sudah mulai masuk. Akan tetapi pihak rumah sakit masih memberikannya keringanan dengan memberi satu hari libur lagi bu. Jadi baru besok Nia bisa kembali bekerja, bukan begitukah maksud dokter Irawan tadi?." Tanya Nia sambil melirik ke arah dokter Irawan.


Nia sangat berharap jika dokter Irawan paham dengan perkataannya, sehingga tidak bicara yang sesungguhnya soal pemecatannya. Dokter Irawan terlihat hanya tersenyum sambil mengangguk ke arah ibu Karti, sehingga membuat hati Nia lega. Dan ibu Karti juga percaya dengan penjelasan yang diberikan oleh Nia tadi.


Setelah urusannya dengan Nia selesai, memeriksa pasiennya juga selesai, dokter Irawan beserta perawatnya meninggalkan ruang perawatan ibu Karti dan segera menuju ke kamar pasien yang lainnya.


" Ibu kira tadi kamu dipecat dari rumah sakit ini Nia. Ibu sudah kaget dan syok, soalnya kamu juga baru beberapa bulan bekerja masa iya sudah dipecat." Seru ibu Karti yang mengkhawatirkan soal pekerjaan anaknya.


Ibu Karti sangat berharap dengan pekerjaan ini Nia tidak akan lagi dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang berusaha menjelekkan dan merendahkannya. Ibu Karti juga berharap dengan Nia menjadi dokter, suatu saat bisa merubah kehidupan Nia dan bisa memberikan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.


" Tidak dong Bu, aku kan di sini tidak pernah membuat kesalahan apa-apa. Jadi tidak mungkin pihak ke rumah sakit memecat secara sepihak seperti itu. Oh iya Bu sekarang ibu sarapan ya setelah itu minum obatnya ya agar bisa cepat sembuh."Seru Nia lalu mengambil piring makanan yang ada di atas nakas samping ranjang Ibu Karti.


Dengan telaten dan penuh kesabaran Nia menyuapi ibunya, dia merasa senang dan merasa bangga bisa menjadi anak dari wanita yang bernama Karti. Wanita yang saat ini ada di hadapannya ialah surganya kelak, seorang wanita yang tangguh, sabar dan penuh kasih sayang Nia ingin merawat dan menjaga ibunya lebih lama lagi, soal Ayah kandungnya yang saat ini ada di kota yang sama, biarlah cara Allah sendiri yang akan mempertemukannya dengan ibunya. Meskipun dia sudah tahu keberadaan ayahnya, Nia tidak mau menemuinya dan tidak mau memberitahu jika dirinya adalah anak kandungnya.


**************


Sementara saat ini di perusahaan Widjaya group, Davi dan para karyawan perusahaan sedang melaksanakan meeting. Vito juga salah satu karyawan yang ikut dalam meeting itu. Suasana ruangan meeting terlihat sangat tegang dan memanas, tidak ada satu orang pun yang berani menjawab perkataan dari David.

__ADS_1


Wajah David terlihat tengang, dingin dan tatapannya tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Semuanya terdiam mendengarkan amukan dan amarah dari David, sebab kali ini pendapatan perusahaan mengalami penurunan sekitar 10 persen dan itu sudah membuat David menjadi murka.


Braaaaakkkkkk


David menggebrak meja tempat meeting Dia terlihat sangat marah dan emosi mendapati kenyataan jika saat ini pendapatan perusahaannya mengalami penurunan yang cukup banyak.


" Percuma aku menggaji kalian semua. Jika pekerjaan kalian Nihil seperti ini !!. Apa saja pekerjaan kalian sampai pendapatan bulan ini bisa menurun hampir 15 persen begini?. Apa ada produk yang gagal ? Apa karena bagian produksi dan pemasaran yang memang bodoh !!!. Lebih baik aku pecat saja kalian semua dan aku cari karyawan yang lebih profesional." Seru David dengan bentakan yang lantang.


Bagian produksi dan pemasaran, marketing sudah pasti mereka ketar-ketir dengan perkataan David. Padahal baru bulan lalu mereka meluncurkan produk baru tetapi saat ini hasilnya tidak sesuai dengan harapan David. Saat awal lounching semua masyarakat antusius namun kenapa pendapat menurun.


" Maaf Tuan. Kami dari team pemasaran dan marketing sudah melakukan tugas kami dengan baik. Tetapi memang inilah hasilnya. " Ucap sang menejer pemasaran mencoba membela diri dan para staff yang ada didevisinya.


" Apa kamu bilang? Sudah baik? Apa seperti ini pekerjaan yang kalian bilang sudah baik. Kalau begini terus perusahaan bisa bangkrut! Atau memang kalian semua sengaja bermalas - malasan. Siapapun yang sudah tidak mau bekerja di perusahaan Widjaya Group kalian semua bisa angkat kaki dari sekarang." Seru David penuh dengan penekanan.


Semua kembali terdiam, tidak ada yang berani menjawab. Daripada menjawab dan hasilnya besok pasti tidak akan bisa lagi untuk datang keperusahaan dengan kata lain dipecat secara tidak hormat.


Perusahaan Widjaya Group selain bergerak dibidang property juga bergerak dibidang kecantikan. Dua bidang itu yang sampai saat ini sudah mendunia dan membawa nama Wudjaya group terkenal sampai luar negeri dan bisa menarik para investor dari berbagai negara.


" Maaf pak, mungkin ada baiknya kita tarik barang yang sudah kita produksi bulan lalu dari pasaran dan kita coba ganti kemasannya dengan yang lebih menarik dan elegant. Dan kita buat iklannya semenarik mungkin. Siapa tahu dengan begitu akan membuat produk itu booming." Seru kepala staff devisi pemasaran.


" Kita harus keluar biaya lagi? Kamu kira semua itu tidak memakan biaya yang tinggi. " Seru David dengan lantang.


Rendi sebagai asisten David mencoba berbicara dan mencari solusi atas masalah yang saat ini dihadapi oleh perusahaan.


" Apa yang dikatakan kepala staff pemasaran tadi sepertinya memang ada benarnya Tuan. Mungkin kita bisa coba cara itu, namun kita harus keluar biaya lagi. Sepertinya kali ini kita harus menggunakan model yang cantiknya secara alami dan elegant. Saya yakin semua itu akan menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat. " Seru Rendi menyetujui dengan saran kepala staff pemasaran.


David diam dan coba memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Rendi. Idenya memang bagus, tetapi untuk menarik barang yang sudah beredar akan memakan waktu yang tidak sedikit.


" Apa menarik barang dipasaran itu bisa dengan kilat?" Seru David mulai memelankan suaranya.


" Itu biar menjadi urusan saya Tuan. " Jawab sang kepala staff pemasaran.


" Ok aku setuju. Dan untuk modelnya aku sendiri yang akan mencarinya. Haaii menejer keuangan kamu hanya diam saja!" Sentak David saat melirik kearah Vito yang hanya diam saja.


Vito langsung duduk dengan tegak , tidak mau mendapat amukan dari srigala yang sedang lapar. Sudah tidak asing lagi bagi para karyawan Widjaya group, jika ada satu masalah pasti semua devisi dapat amarah juga dari David, sang boss yang arogan dan sombong.


*************

__ADS_1


__ADS_2