
.
.
.
💕 HAPPY READING 💕
Baskoro sudah pulang dari rumah sakit, dan saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Leni menyempatkan untuk menjemput Baskoro, padahal di salon dia masih banyak pekerjaan. Tanpa Baskoro tahu, akhir-akhir ini usaha salon milik Leni mengalami penurunan drastis. Dalam kesehariaannya yang biasanya menghasilkan omset 100 sampai 200 juta kini hanya setengahnya saja.
Salon dan klinik kecantikan mulai sepi dalam 1 bulan belakangan ini. Usaha salon dan klinik kecantikan milik Leni cukup besar dan terkenal di kota itu. Namun sepertinya saat ini ada salon kecantikan yang lebih bagus dan memberikan promo-promo serta pelayanan terbaik. Sehingga mempengaruhi penghasilan usaha salon kecantikan milik Leni.
"Ma, terima kasih ya sudah mau menjemput papa. Padahal mama pasti sangat sibuk di salon. Bagaimana perkembangan salon mama, tetap lancar kan?." Tanya Baskoro.
"Usahaku sudah sebulan ini mengalami penurunan, Pa. Mungkin karena adanya salon kecantikan di daerah XX itu. Tempatnya lebih besar dan di sampingnya juga dibangun Cafe sehingga orang tidak akan jenuh untuk menunggu giliran saat pengunjung ramai."Jawab Leni tanpa mengalihkan pandangannya dengan tangan tetap fokus dengan kemudi setir.
"Apa mereka juga termasuk klinik kecantikan juga? Seperti usaha mama?."Tanya Baskoro lagi.
"Iya pa sama saja. Salon serta klinik kecantikan, alat-alat mereka juga baru dan canggih-canggih. Tenaga yang di pekerjakan juga profesional juga, salon ada klinik kecantikannya ada. Lantai bawah khusus untuk salon dan lantai 2 khusus untuk klinik nya."Ucap Leni menceritakan apa yang dia tahu, sebab dia sudah pernah datang sendiri kesana.
Baskoro tidak tahu apa-apa tentang usaha Leni, selama ini Leni memang tidak pernah melibatkan Baskoro dalam usahanya. Obrolan mereka terhenti karena mobil sudah memasuki pekarangan rumah. Pembantu rumah tangga dan satpam membantu membawakan tas milik Baskoro.
"Pa, mama mau ke salon lagi ya. Mama tidak bisa meninggalkan salon lama-lama."Ucap Leni ingin langsung ke salon lagi.
"Iya ma. Oh iya ma, mobil papa apa sudah diperbaiki? Mobil itu kan punya asuransi?."Tanya Baskoro ingat dengan mobil pribadinya.
"Hari ini baru mau dibawa ke bengkel, kemarin-kemarin di tahan polisi. Nanti papa hubungi Bella kasih tahu dia jika papa sudah pulang. Dan minta tolong dia untuk mengurus mobil papa. Mama tidak bisa mengurus semua nya sendiri, sebab mama juga sibuk."Ucap Leni meminta Baskoro untuk menghubungi Bella untuk mengurus mobil.
"Iya ma nanti papa hubungi Bella. Sudah dua hari papa tidak bertemu dengan Bella."Ucap Baskoro dengan senang.
"Hemmm.. Ingat besok papa harus masuk kantor. Sudah bolos hampir 1 minggu kamu pa, kalau dipecat bagaimana? Kalau dulu ya tidak masalah, tapi untuk saat ini keuangan kita juga tidak normal seperti dulu. Biaya rumah sakit papa selama 5 hari dengan kamar Vip habis 120 juta."Ucap Leni memberitahu jumlah uang yang dia keluarkan untuk biaya rumah sakit Baskoro.
Baskoro memang di rawat di kamar Vip sehingga menghabiskan banyak uang. Tentunya uang istrinya, Leni memang terlalu cinta dan bucin sehingga dia dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk Baskoro.
Namun kali ini Leni sudah mulai curiga dengan Baskoro. Curiga Baskoro ada perempuan lain dan akan rujuk dengan mantan istri pertamanya. Dia melupakan sejenak soal kedekatan Bella dan Baskoro, sebab saat ini fikirannya tertuju ke mantan istri pertama Baskoro.
"Terimakasih ya ma, sudah mau membayarkan tagihan rumah sakit papa. Selama ini juga papa tidak pernah meminta uang mama kan? Pernah sih tapi tidak sering, nanti kalau papa susah mulai bekerja lagi pasti uang itu akan papa ganti."Ucap Baskoro dengan kata-kata manisnya.
"Uang 100 juta yang papa pinjam untuk tambahan beli mobil itu juga sudah 1 tahun tidak papa ganti."Ucap Leni dengan kesal.
"Mama kan tahu, uang gaji papa juga sebagian untuk membiayai kuliah Bella dan membiayai permintaan Bella, ini dan itu lah."Seru Baskoro membela diri.
"Iya itu dulu. Sekarang Bella jugakan sudah menikah, dia ada suami kaya yang menafkahinya dan Bella juga 2 tahun ini sudah bekerja sebagai model. Apa papa masih juga menafkahi Bella, dari mama juga Bella sudah dapat loh uang bulanan 25 juta perbulan. Tapi semenjak dia menikah sudah mama stop."Seru Leni terlihat sekali dia kesal dengan suaminya.
Baskoro terlihat gugup dan salah tingkah, dia memang sampai saat ini masih memberikan Bella uang. Setiap bulannya dia memberikan 15 juta itu belum uang yang dia kasih saat Bella selesai main dengannya. Uang tabungan Baskoro juga banyak dia habiskan untuk Bella, untuk menyenangkan Bella. Padahal Bella juga tidak selalu meminta, akan tetapi Baskoro sendiri yang memberinya dengan suka rela sebagai tanda cintanya kepada Bella.
"Sudah lah pa, mama sudah mau ke salon lagi. Ini sebentar lagi ada klien yang mau menanam saham di salon dan klinik kecantikan mama. Mama mau bertemu dengan orangnya, mama pergi dulu."Ucap Leni lalu keluar dan menghampiri mobilnya.
Leni dari dulu memang pekerja keras, jika dia punya keinginan harus cepat terlaksana. Dia juga akan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan keinginannya. Merebut Baskoro dari istri sah nya adalah salah satu ambisi Leni.
***********
"Sayang, besok sore kamu berangkat ke luar kota ya? Kamu sudah izin sama Nada?." Tanya David.
Nia dan David saat ini sedang makan siang di salah satu cafe yang ada tidak jauh dari rumah sakit tempat Nia bekerja. David memang sengaja mengajak Nia untuk makan siang bersama agar hubungan kedua nya semakin dekat. Padahal memang David nya yang tidak bisa jauh-jauh dari Nia, bucinnya sudah akut.
__ADS_1
Ingin membatalkan izinnya, namun dia sudah terlanjur memberikan izin. Dan setiap malam sudah mengajak Nia lembur terus sebagai syarat izin darinya.
"Nada sudah mengizinkannya, Hubby. Dia itu anak yang cerdas, sudah tahu bagaimana resiko menjadi seorang dokter. Anak itu juga kan nanti juga mau jadi dokter, jadi dia sudah tahu tugas mamanya yang berprofesi seorang dokter."Jawab Nia sembari tersenyum.
"Iya juga sih. Emm sepertinya aku harus mempunyai anak laki-laki agar ada yang membantuku di perusahaan. Nada mau jadi dokter, jadi adiknya nanti harus menjadi seorang pembisnis handal."Seru David.
Nia hanya mengangguk saja, sebab mulutnya sedang penuh dengan makanan. Wajahnya bersemu merah saat David mengatakan harus punya anak lagi. Setiap malam sudah lembur, harapan Nia juga segera diberi momongan. Terlebih usia pernikah mereka juga sudah 6 bulan.
"Sayang."Seru David memeluk Nia dari samping.
Mereka saat ini memamg ada di tempat private room sehingga jikapun bermesraan tidak akan ada yang melihatnya. Namun Nia tetap saja risih dan canggung jika harus bermesraan di ruangan itu.
"Hubby, makan nya habiskan. Setengah jam lagi aku harus sudah balik ke rumah sakit."Ucap Nia dengan lembut.
"Sayang, aku merindukanmu."Ucap David.
"Hubby, kita ini setiap hari bertemu loh. Yuk cepat habiskan makanannya, ini makanan ku juga sudah mau habis."Seru Nia lagi.
Cup
David mencium pipi kanan Nia. Wajah Nia bersemu merah, terlihat gugup dan malu-malu. David pun membisikkan sesuatu kepada Nia, dan mata Nia langsung melebar saat tahu apa yang dibisikkan oleh David.
"Hubby, aku harus kembali kerumah sakit."Ucap Nia mencoba menolak dengan halus.
"Kita ke hotel, tidak akan lama."Ucap David sudah tidak dibantah.
Nia tidak bisa menolak keinginan suaminya, akhirnya Nia ikut apa kemauan sang suami. Sebelum nya Nia menghubungi Kesa untuk meminta pasien di alihkan ke dokter lain terlebih dahulu. Nia beralasan ada hal yang harus segera dia selesaikan.
"Hubby, jangan lama-lama ya?." Ucap Nia yang saat ini sudah berada di dalam kamar hotel. Tentunya kamar hotel milik pribadi David.
"Mana bisa begitu?." Tanya Nia dengan heran.
"Sssttt... Kamu diam saja, semuanya akan aku atur. "Seru David menempelkan telunjuknya di bibir Nia.
Nia hanya bisa pasrah saja, dia menyerahkan semuanya kepada suaminya. David membimbing Nia naik ke atas ranjang, dan akhirnya terjadilah sebuah pertempuran panas antara David dan Nia di saat siang hari bolong.
*******
Vito memutuskan untuk pulang, dia tidak bisa terus menghindar dari masalah. Dia sudah memutuskan akan menceraikan Bella saat dia sudah melahirkan anaknya. Vito mau bertahan dengan Bella karena anak yang di kandung Bella. Meskipun ragu, Vito tetap bertanggung jawab atas anak dalam kandungan Bella.
"Sudah 3 hari aku disini, lebih baik aku sekarang pulang saja. Aku bukan pengecut yang lari dari masalah."Ucap Vito pada dirinya sendiri.
Vito berkemas, padahal saat pergi dari rumah dia sama sekali tidak membawa pakaian ganti. Namun dia membelinya secara online dan langsung di antarkan ke penginapan tempatnya menginap.
Vito sudah mengendarai mobilnya menuju rumah pribadinya. Rumah yang dulu sengaja dia bangun untuk tempat tinggalnya bersama Nia, namun kini semua itu tinggal angan-angan saja. Justru rumah itu kini dia tempati bersama Bella, wanita yang sama sekali tidak dia cintai.
Mobil Vito sudah sampai di komplek perumahan tempat tinggalnya. Dan tidak menunggu lama, kini dia sudah sampai di halaman rumah. Nampak mobil Bella ada di garasi, sudah pasti saat ini Bella juga ada dirumah.
"Pak Vito ! Selama 3 hari ini pak Vito kemana?." Tanya bik Minah ART yang bekerja dirumah Vito.
"Aku ada pekerjaan di luar kota bik. Bella ada dirumah kan bik?."Tanya Vito menanyakan keberadaan Bella.
"Ada, tapi sepertinya akan pergi. Barusan bibik dengar ibu dapat telepon dari papanya."Jawab jujur bik Minah.
Vito mengangguk, dia pun menyerahkan tas yang berisi pakaian koto kepada bik Minah. Dia melangkah menuju kamar dan membuka pintu begitu saja. Saat dia masuk ternyata Bella baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk setengah paha.
__ADS_1
Aroma sabun dan shampo harum semerbak, menusuk indra penciuman Vito. Bella kaget melihat Vito yang tiba-tiba sudah pulang dan saat ini berdiri di ambang pintu kamar.
"Vito sayang. Kamu sudah pulang?." Tanya Bella dengan senang.
Bella berjalan mendekati Vito, Vito pun berjalan masuk dengan mata yang tidak lepas memandang tubuh Bella yang seksi. Sebagai pria normal, sudah pasti Vito pun tergoda melihat tubuh Bella.
*Sialan!! Kenapa saat aku masuk, Bella baru selesai mandi begini. Aku susah sekali mengendalikan diri ini*Guman Vito dalam hati.
"Sayang, kamu kemana saja? Aku mencarimu kemana-mana tapi kamu tidak ada juga. Aku takut kamu meninggalkanku, dalam keadaan aku hamil begini."Ucap Bella yang kini sudah memeluk Vito dengan erat.
"Jangan begini, Bella."Ucap Vito mencoba melepaskan pelukan Bella.
Bella tidak mau begitu saja melepaskan pelukannya. Dia justru mempereratnya sehingga dua benda kenyal menempel sempurna di dada bidang Vito. Vito semakin tidak bisa mengontrol dirinya, apalagi sang adik juga sudah terbangun.
Bella yang menyadari hal itu justru tersenyum senang, ternyata sedari tadi Vito sedang menahab dirinya. Bella tersenyum jahil, dia mulai menurunkan handuknya sehingga terpampang nyata tubuhnya yang tanpa baju.
"Maaf ketarik, sayang."Ucap Bella dengan suara yang dibuat semanis mungkin.
*Kenapa aku pulang disaat tidak tepat begini sih? Anggap saja ini rezeki untuk kamu Vito, lagipula sudah cukup lama kamu tidak melakukannya. Bella juga istri sah mu, dan tidak ada salahnya bermain.*Gumam Vito terus bermonolog pada dirinya sendiri.
Tanpa Vito sadark kini Bella sudah jongkok di depannya dan mulai menarik sesuatu yang sudah siap untuk bertempur.
"Bella !! Apa yang kamu lakukan?."Seru Vito kaget saat sesuatu sudah terjadi dengan miliknya.
Bella tidak menyahut, dia hanya menggeleng dengan pelan sembari menikmati mainan milik Vito. Vito sekarang terlihat pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Bella, dia menerima apa saja yang dilakukan Bella.
*Bagus, akhirnya Vito tidak bisa berkutik lagi. Dia pasti menikmati apa yang saat ini aku berikan. Dia pulang disaat yang tepat, jadi aku tidak perlu kerumah mama. Urusan papa itu belakangan, yang penting saat ini aku dan dia saling menikmati.*Gumam Bella dalam hati.
"Bella aku lelah berdiri begini."Seru Vito dengan suara yang serak.
Bella pun melepaskan permen Vito. Kasihan juga jika Vito berdiri terus, dia sendiri juga lelah jongkok.
"Sayang kamu duduk saja di pinggir ranjang, aku akan melakukan tugasku dengan baik."Seru Bella dengan senyum menggoda.
Tidak ada jawaban dari Vito, namun Vito tetap mengikuti apa yang dikatakan oleh Bella. Kini dia sudah duduk dipinggiran ranjang, dan Bella sendiri kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda sebentar.
*Bodoh !! Kenapa kamu selama ini bersikap dingin dengan Bella, Vito. Lihat apa yang saat ini di lakukan oleh Bella. Dia sangat pintar dan lihai memainkannya, bukannya dari dulu kamu menginginkan permainan seperti ini.* Vito terus bicara dengan dirinya sendiri.
"Hahhh... Bella, Bella. Emm hentikan, aku sudah tidak kuat lagi."Seru Vito yang sudah tidak kuat namun dia ragu untuk meledakkannya.
Arrrrgggghhhhhh
Teriakan panjang keluar juga dari mulut Vito. Vito terlihat sangat menikmati permainan yang diberikan oleh Bella. Bella sendiri membersihkannya dengan sangat lihai tanpa ada yang tersisa sedikitpun.
"Apa mau lagi sayang?." Tanya Bella dengan senyum manja.
"Kamu hebat, Bella."Seru Vito mengakui kehebatan Bella.
"Iya dong. Bella gitu loh, kali ini kamu cukup diam dan nikmati saja apa yang aku berikan. Ini sebagai hadiah, untuk menyambut kepulangan kamu. Sekarang permainan yang sesungguhnya akan segera dimulai, kamu mau berapa lama?."Tanya Bella dengan suara setengah berbisik.
"Terserah kamu, Bella."Jawab Vito pasrah.
Tanpa menunggu lama, Bella kembali melanjutkan permainannya. Namun kali ini dia memainkan permainan yang sesungguhnya, sudah bersama dengan Vito dia sampai melupakan Baskoro. Deringan ponsel diatas meja rias sudah tidak lagi Bella hiraukan. Dia sibuk dengan pekerjaanya sendiri.
***********
__ADS_1