
.
.
.
ππ HAPPY READING ππ
Nia sudah sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke kamar rawat Baskoro yang sudah di beritahu oleh David. Didepan kamar rawat ada dua polisi yang berdiri untuk berjaga, dan saat Nia masuk pun masih ada 1 polisi yang ikut berjaga.
Ternyata di dalam juga sudah ada David dan ibu Karti, terlihat Baskoro berbaring dengan tubuhnya yang semakin kurus. Melihat keadaan Ayahnya, tanpa terasa air mata Nia menetes juga.
" Nia, sini mendekatlah. Ayahmu mau bicara." Ucap ibu Karti meminta Nia untuk mendekat.
Nia mendekat dan kini sudah berdiri di samping David. David merangkul pundak Nia, dia tahu saat ini pasti istrinya bersedih.
" Niii.. Niiaa. Ma.. Maafkan ayah nak."Seru Baskoro terbata-bata.
" Ayah."Seru Nia sambil terisak.
Nia tidak bisa berkata-kata, meskipun dia membenci Baskoro. Baskoro tetap ayah kandungnya dan karena Baskoro juga Nia ada di dunia ini.
" Peluk Ayah."Seru Baskoro sangat pelan.
Nia memandang ke arah David untuk meminta izin. David menganggukkan kepalanya, dia tidak melarang Nia untuk memeluk ayahnya. Dengan segera Nia memeluk Baskoro.
" Nia sudah memaafkan ayah."Seru Nia sambil memeluk Baskoro yang berbaring.
" Terima kasih. Tolong jika cucu papa sudah besar, jangan pernah kamu ceritakan keburukan dan kejahatan Ayah. Meskipun cucu Ayah belum pernah bertemu dengan Ayah, tolong ceritakan hal yang baik. Karena Ayah tidak mau, cucu ayah membenci ayah."Ucap Baskoro dengan pelan namun Nia masih bisa mendengarnya.
" Jika ayah sudat tidak ada, tolong perlakukan ayah dengan baik."Seru Baskoro lagi semakin membuat Nia terisak.
Tiba-tiba detak jantung Baskoro melemah dan tubuhnya pun melemas. Pelukan di tubuh Nia pun sudah terlepas, Nia segera meminta David untuk memanggil dokter.
" Hubby cepat panggil dokter."Teriak Nia ketakutan.
Belum sampai David beranjak dokter sudah masuk bersama polisi yang tadi berjaga di dalam. Ternyata polisi itu lebih sigap dan dia tahu apa yang harus dia lakukan.
" Permisi biar saya periksa dulu."Ucap Dokter.
Nia sedikit menjauh dan membiarkan dokter memeriksa keadaan Ayahnya. David membawa Nia dalam pelukannya, Nia menangis sampai tubuhnya bergetar hebat.
" Jantung pasien melemah. Sebaiknya kalian tunggu saja di luar, kami tim dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."Ucap dokter tegas.
" Niii.. Nia."Seru Baskoro memanggil Nia dengan sangat pelan namun masih bisa terdengar oleh Nia.
Nia kembali mendekat Baskoro dan menggenggam tangannya. Ibu Karti pun ikut mendekat dan mengusap tangan Baskoro. Nafas Baskoro semakin tersengal-sengal.
" Nia,tuntun ayahmu."Bisik ibu Karti di telinga Nia.
" Bu."Seru Nia.
" Bukan mau mendahului takdir, sepertinya ini memang sudah waktunya ayahmu kembali kepada RabbNya. Kamu harus ikhlas, inilah takdir. Hidup mati seseorang milik Allah, kita tidak bisa merubahnya."Ucap ibu Karti menguatkan Nia.
Nia mengikuti apa yang dikatakan oleh ibu Karti. Dengan pelan-pelan Nia menuntun Baskoro, dan Baskoro mengikutinya dengan pelan dan terbata-bata.
" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Bu, Ayah sudah tidak ada."Seru Nia sambil memegang tangan Baskoro dan memeriksa denyut nadinya.
" Ikhlskan Nak."Jawab ibu Karti.
David mengurus kepulangan jenazah Baskoro. Atas permintaan ibu Karti, Jenazah Baskoro dibawa pulang kerumah ibu Karti dan akan dimakamkan disana.
Dengan mengendarai ambulance, Baskoro dibawa pulang ke rumah ibu Karti. Para tetangga dan keluarga David juga sudah menunggu di kediaman ibu Karti. Rendi sudah mengatur semua proses pemakaman Baskoro.
******
Dua bulan berlalu
Nia sudah tidak bersedih lagi, Dia sudah melupakan semuanya dan sudah menjalani hidupnya dengan penuh bahagia dan kasih sayang.
Semua keluarga besar berkumpul di rumah utama keluarga Widjaya. Ibu Karti pun juga ikutan bergabung, Kelly dan ibunya juga ikut bergabung dengan mereka. Kini Kelly dan kedua orang tuanya sudah banyak berubah.
" Aku punya kabar baik untuk kalian semua." Seru Miska memulai membuka pembicaraan.
__ADS_1
" Kabar apa sayang? Kamu mau lanjut S2 ?." Tanya Rendi langsung memotong pembicaraan Miska.
Pasalnya, Miska akhir-akhir ini sering membahas S2. Sehingga Rendi mengira jika Miska akan mengambil S2 nya di USA. Jika itu benar terjadi, berarti mereka akan LDR yang cukup lama.
" Issshh.. Siapa juga yang mau ambil S2. Dengerin dulu dong, jangan asal potong pembicaraan saja."Gerutu Miska terlihat sangat kesal dengan Rendi.
" Maaf sayang."Seru Rendi meminta maaf.
Miska dan Rendi sudah tidak malu lagi saling memanggil sayang didepan orang ramai. Menurut mereka panggilan sayang sudah panggilan umum dan tidak perlu malu lagi.
" Kabar bahagianya aku hamil."Seru Miska sambil mengeluarkan kertas hasil pemeriksaan dari dalam tasnya.
" Alhamdulillah."Ucap semuanya secara serentak.
Rendi secara reflek langsung memeluk Miska dan memberondong Miska dengan cium4n. Miska sampai matanya dibuat melotot karena kelakuan suaminya yang sudah diatas nalar rata-rata.
Eheemm ehhemmm
David sengaja berdehem untuk menyadarkan sepasang suami istri yang telah berbahagia itu.
" Ehhh lupa kalau ada yang lainnya."Seru Rendi sambil nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Main nyosor saja kamu Ren."Ucap Nia menimpali ucapan Rendi membuat Rendi semakin malu.
" Namanya juga lagi bahagia kak, jadi rasanya dunia ini milik berdua."Ucap Miska ikut berkomentar.
" Lebay."Seru ibu Karmila sambil ikut tertawa.
Perkumpulan keluarga itu terasa semakin hangat dan bahagia dengan diumumkamnya kabar kehamilan Miska. Bukan hanya Miska dan Rendi saja yang bahagia, akan tetapi semuanya juga ikut bahagia.
*******
Sembilan bulan berlalu
Rumah sakit sedang di hebohkan dengan prosesi melahirkan ibu direktur rumah sakit, Miska. Sudah 15 menit Miska masuk ruang bersalin, dia terus mengeluh sakit sampai sudah berapa kali saja dia memarahi Rendi.
" Sabar ya sayang."Seru Rendi menenangkan Miska.
" Sabar-sabar, ini sakit sayang."Seru Miska sambil mengusap usap perutnya.
* Mulut suamiku ini kok tidak ada filternya ya, apa fikir aku tidak malu dia bicara seperti itu.*Gumam Miska dalam hati.
Dokter Rachel memeriksa pembukaan, dan ternyata pembukaannya sudah lengkap. Rachel meminta Miska untuk bersiap-siap, dan mengikuti aba-aba dan petunjuk nya.
" Tarik nafas, hembuskan.."
" Mengejan sesuai dengan arahan saya ya."Ucap Rachel lagi.
" Ayo sayang pasti kamu bisa."Ucap Rendi memberi semangat Miska sambil menggenggam tangan Miska dan mencium kening Miska dengan lembut.
Miska tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. Dia merasa bahagia bisa melahirkan dengan ditemani suaminya dan diberikan suport. Meskipun suaminya tadi sudah membuat dia kesal, sampai dia harus marah-marah.
Eeeggghhhh....
Oooeeekkk oooeerkk ooeeekkk
Suara tangisan bayi sudah memenuhi ruangan bersalin itu. Rendi ikut menangis haru mendengar tangisan bayinya. Tak henti-hebtinya Rendi mengucapkan rasa syukurnya.
Dan untuk yang pertama kalinya Rendi melihat perjuangan wanita saat melahirkan. Sampai Rendi meneteskan air mata saat prosesi melahirkan tadi.
" Terima kasih sayang, terima kasih kamu sudah mau berjuang untuk melahirkan anak kita."Ucap Rendi memeluk Miska yang masih terlihat lemas.
" Iya mas."Jawab Miska dengan pelan.
Rendi terus menciumi Miska, lalu dia beralih menggendong dan menciumi jagoannya itu. Iya, anak Miska dan Rendi adalah laki-laki.
Setelah proses persalinan yang cukup menegangkan tadi. Kini Miska sudah dipindahkan keruang perawatan khusus keluarga Widjaya, para keluarga juga sudah berada dikamar rawat Miska.
" Selamat ya nak. Kini kamu sudah benar-benar menjadi seorang ibu."Ucap ibu Karmila sambil memeluk Miska.
" Terima kasih ma. Ma, terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan Miska sehingga Miska juga bisa merasakan betapa nikmatnya wanita yang melahirkan. Maaf ma, kalau Miska sering buat mama kesal dan marah."Ucap Miska dengan mata yang berkaca-kaca.
" Sssttt... Jangan seperti ini. Masa sudah punya baby kok nangis? Malu dong sama babby boy nya."Ucap ibu Karmil.
__ADS_1
Nia dan David serta anaknya juga sudah berada di kamar rawat Miska. Ruangan yang ditempati oleh Miska terbilang luas dan sangat luas, untuk 35 pasien pun pasti muat. Maka dari itu semua keluarga bisa masuk.
" Maaf pak ini bayinya dan silahkan di azani dulu."Ucap suster masuk mengantarkan bayi yang sudah bersih dan wangi.
" Terima kasih suster."Jawab Rendi sambil menerima baby boy dari gendongan suster.
Rendi segera mengadzani anaknya, tidak butuh lama Rendi sudah selesai mengazani anaknya. Dan baby boy kini sudah berada dalam gendongan Nia.
" Mama, Nada mau punya adik bayi lagi."Seru Nada secara tiba-tiba.
" Iya sayang, nanti ya kalau dedek Sultan sudah besar. Dedek Sultan loh baru mau 2 tahun, masih terlalu kecil."Jawab Nia lembut.
" Benar begitu ya Pa?." Tanya Nada beralih mamandang papanya.
" Iya Nada."Jawab David singkat.
" Siapa namanya Ren?." Tanya pak Widjaya.
Rendi dan Miska saling pandang, sebenarnya Rendi sudah menyiapkan nama tapi dia kawatir jika keluarga istrinya tidak setuju dengan nama yang akan diberikannya.
" Emm.. Kalau Rendi pakai nama Widjaya dibelakangnya apa papa mengizinkan?." Tanya Rendi meminta persetujuan papa mertuanya.
" Setuju sekali dong."Jawab Pak Widjaya cepat.
" Alhamdulillah.. Kami kasih nama anak kami Raka Adrian Widjaya. Kita bisa panggil dia Raka."Ucap Rendi dengan yakin.
" Nama yang bagus, tidak norak seperti nama papanya."Cibir David sengaja mau bercanda.
" Mulai nih cari masalah. Kalau saja saya tidak habis melahirkan sudah aku hajar habis kamu kak."Seru Miska.
Nia mencubit pinggang David sampai David meringis kesakitan. Nia tidak mau suaminya terus menggoda Rendi dan Miska, bisa-bisanya adiknya baru melahirkan tapi buat marah.
" Maaf sayang."Seru David sambil nyengir kuda.
" Kebiasaan deh Hubby."Seru Nia lagi.
Nia memberikan baby Raka kepada Miska, Miska juga belum menggendong anaknya. Dengan pelan-pelan Nia meletakkan Raka diatas pangkuan Miska.
Seminggu berlalu.
Suasana bahagia kini sedang menyelimuti keluarga besar Widjaya. Kini keluarga Widjaya sudah kedatangan cucu ke tiganya. Acara syukuan dan aqiqah Raka baru saja selesai digelar secara sederhana saja, hanya keluarga besar dan para tetangga saja yang datang.
" Alhamdulillah ya Hubby, kini keluarga Widjaya sudah mempunyai 3 cucu. Satu perempuan dan 2 laki-laki, jadi saat kumpul keluarga Sultan ada teman mainnya, Raka."Seru Nia yang kini duduk sedikit menjauh dari keluarga besar sambil menunggu Sultan yang sedang bermain.
" Kalau Sultan sudah punya teman Raka. Berati Nada belum punya teman dong, bagaimana kalau sekarang kita buat adik cewek untuk Nada dan Sultan." Seru David sambil menggelitik pinggang Nia.
" Ahhh.. Hubby."Seru Nia tanpa sadar berteriak karena kaget.
Semua pasang mata langsung memandang kearah David dan Nia berada. Betapa malunya Nia yang mendapat tatapan mata dari para keluarga besar yang sedang berkumpul. Nia dan David hanya nyengir kuda sambil menahan malu.
ππ TAMAT ππ
**************
Terima kasih banyak untuk para pembaca setia Novel " DOKTER PENAKLUK DUDA AROGANT " yang sudah setia dengan karya Author ππΌππΌ Akhirnya sampai juga di bab terakhir, Author Meengucapkan ribuan terima kasih. Tanpa kakak pembaca semuanya, Author tidak akan sampai dititik ini. β€οΈβ€οΈ
Sekali lagi terima kasih ππΌππΌ
Silahkan mampir di Karya-karya Author yang lainnya.
Mereka tidak tahu aku kaya.
Aku bukan pengantinnya. ( karya terbaru Author ).
__ADS_1