Dokter Penakluk Duda Arogant

Dokter Penakluk Duda Arogant
Seperti disengaja


__ADS_3

.


.


.


💕 HAPPY READING 💕


" Apa pembuatan iklan untuk produk yang ditarik itu sudah ada modelnya?." Tanya Vito kepada salah satu staff pemasaran.


Memang soap iklan bukan urusan Vito, tetapi Vito hanya ingin memastikan saja agar semuanya berjalan lancar agar dia dan yang lainnya tidak terkena imbas amarah dari David. Sebab David jika marah hampir semua karyawan dan staff terkena impasnya.


" Sepertinya sudah pak. Dua hari yanh lalu mereka melakukan syuting pembuatan video iklannya." Jawab Staff itu dengan sopan.


" Oh begitu tapi kenapa tidak ada kabar apapun. Tapi ya sudahlah semoga kali ini bisa membuat produk itu booming dan meledak dipasaran." Ucap Vito lagi.


Dia sedikit heran sih kenapa model tidak diperkenalkan dulu ke publik untuk menarik daya minat masyarakat.


* Apa mungkin karena produk lama iklan baru jadi tidak perlu di adakan konfrensi pers terlebih dahulu. Sudahlah terserah yang punya perusahaan saja. * Gumam Vito dalam batinnya.


Vito kembali keruangannya, kali ini dia mencoba menghubungi Nia namun tidak bisa. Mungkin kontak Vito sudah di blokir oleh Nia sehingga Vito tidak bisa menghubungi Nia. Hari ini Vito sangat merindukan Nia dan ingin sekali bertemu dengan Nia.


* Nomorku sudah di blokir oleh Nia. Sebegitu marahnya kamu kepadaku Nia? Padahal seharusnya akulah yang marah, sebab kamu selama ini sudah membohongiku. Kenapa jadi terbalik gini? Nia, Nia aku tidak menyangka kamu sebegitu renadah dan murahan. Tapi kenapa sampai sekarang rasa cinta ini tidak juga luntur.* Gumam Vito dalam batinnya sembari memutar - mutar ponselnya.


Tok Tok Tok


Ruangan Vito diketuk dari luar, dengan segera Vito berhenti melamunkan Nia. Dia segera meminta oranh yang ada diluar pintu untuk masuk.


" Masuk." Seru Vito.


Ceklek


Pintu terbuka dan terlihat Pak Baskoro, papa dari Bella masuk keruangan Vito. Vito langsung berdiri dan menyambut kedatangan calon bapak mertuanya.


" Ehh Om Baskoro? Ada apa Om kok sampai datang keruangan saya?."Tanya Vito dengan ramah menyapa calon bapak mertuanya.


" Ada yang ingin aku bicarakan kepada kamu Vito. Apa kamu ada waktu senggang."Tanya Baskoro.


" Ada Om, kebetulan memang pekerjaanku sudah selesai. Tetapi apa dulu yang ingin Om bicarakan, kalau soal pekerjaan aku tidak masalah. Tapi kalau soal urusan pribadi, apa pantas dibicarakan di kantor seperti ini? Padahal saat ini masih jam kerja, Om?."Tanya Vito dengan sopan.

__ADS_1


Baskoro pun mengangguk mengerti apa yang dimaksud oleh Vito, memang saat ini yang ingin dia bicarakan adalah soal Bella dan Vito. Bella meminta Baskoro untuk bicara dengan Vito agar mempercepat rencana pernikahan mereka. Sebab Bella tidak mau jika Vito tergoda kembali dengan mantan pacarnya, Nia. Namun sepertinya apa yang dikatakan Vito ada benarnya, tidak bagus membicarakan masalah pribadi di kantor apalagi masih jam kerja.


" Ya sudah kalau begitu, nanti saat jam makan siang saja kita bicara. Kita bertemu di luar saja, agar kita lebih leluasa membahasnya."Ucap Baskoro menyetujui apa yang dikatakan itu


" Oh jadi om mau membicarakan masalah pribadi? Baiklah kalau begitu nanti saat jam istirahat saja kita bertemu di restoran family, yang tidak jauh dari kantor."Jawab Vito mengiyakan ajakan sang calon mertua.


" Iya ini soal hubungan kamu dan Bella."Jawab Baskoro serius.


Karena Vito tidak mau membicarakan masalah pribadi di saat jam kantor, akhirnya Baskoro pun segera meninggalkan ruangan Vito dan akan bertemu kembali nanti saat jam makan siang.


" Apa yang ingin dibicarakan Om Baskoro? Memangnya hubunganku dengan Bella ada masalah? Perasaan kami baik-baik saja dan tidak ada masalah. Atau jangan-jangan Bella meminta papanya untuk membicarakan soal pernikahan? Bukannya pernikahan masih lama, kenapa sudah dari sekarang dibicarakan?.*Gumam Vito dalam batinnya.


Vito kembali duduk di kursi kerjanya dan kembali melihat ponselnya lagi yang masih memasang wallpaper foto Nia. Karena terlalu cintanya dengan Nia, sampai sekarang ponsel Vito saja masih memakai foto Nia. Sepertinya Vito mulai menyesal sudah memutuskan hubungan dengan Nia.


" Kenapa rasa cinta ini tidak hilang juga? Bahkan aku seakan menyesal sudah memutuskan hubungan dengan Nia. Waktu itu mungkin aku memang terlalu emosi, sehingga aku langsung memutuskannya begitu saja. Tetapi apa aku bisa menerima segala kekurangannya, yang saat ini pasti dia sudah tidak perawan lagi. Tetapi aku masih mencintainya." Vito terus bermonolog pada dirinya sendiri.?


Tringg Tringg


Notifikasi pesan singkat masuk ke ponsel Vito, dengan segera Vito membuka aplikasi pesan yang berwarna hijau di ponselnya.


[ Vito sayang, siang ini kita makan siang yuk.] Tulis pesan singkat yang dikirimkan oleh Bella.


[ Maaf Bel, qku tidak bisa karena tadi sudah membuat janji makan siang dengan papa kamu. Ada sesuatu yang ingin di bicarakan oleh papa kamu.] Balas Vito.


[ Oh begitu, ya sudah kamu makan siang saja sama papa. ]


Vito tidak membalas lagi pesan dari Vito, dia memasukan ponsel ke dalam kantong celananya. Tanpa Vito sadari ternyata sudah masuk jam makan siang, Vito bergegas keluar ruangannya dan menuju parkiran mobil.


*************


Siang ini Dokter Irawan sudah memperbolehkan ibu Karti keluar dari rumah sakit. Nia sudah memesan taksi online untuk mengantarkan dia dan ibunya pulang kerumahnya. Hari ini praktek Nia hanya sampai siang saja, sehingga dia bisa mengantar ibunya pulang.


" Nia, nanti seminggu sekali bawa ibu Karti kontrol ya. Agar luka bekas operasi dikepalanya bisa saya periksa, tapi kalau kamu mau kamu bisa kok memeriksa nya sendiri dan nanti resep obat bisa kamu ambil di bagian penebusan obat."Ucap dokter Irawan dengan ramah.


" Iya dokter nanti biar Nia saja, dia pasti bisa kok." Ibu Karti yang menjawab, sebab dia tidak mau membuat Nia sibuk harus bolak - balik mengantarkan dia kontrol.


" Eemm iya dokter." Jawab Nia akhirnya menyetujui apa yang dikatakan oleh Dokter Irawan.


Terpaksa Nia menyetujuinya sebab ibunya sendiri sudah mengiyakan apa yang dikatakan oleh dokter Irawan. Tidak enak jika harus membantah apa yang sudah dikatakan ibunya.

__ADS_1


Kini Nia dan ibu Karti sudah berada didalam mobil taksi yang akan membawa mereka pulang kerumah. Dirumah sudah ada beberapa tetangga yang sudah menunggu kepulangan ibu Karti, para tetangga memang sangat baik terhadap ibu Karti. Terlebih ibu Kartini sendiri memang selalu baik dan menjaga kerukunan terhadap para tetangganya, sehingga saat dia sakit juga banyak tetangga yang peduli dengannya.


Taksi online yang membawa Nia dan ibu Karti sudah sampai di halaman rumahnya. Dilihatnya ada beberapa ibu-ibu yang sedang berdiri di depan rumah Nia menyebut kedatangan mereka.


" Terimakasih mbak semoga ibunya cepat sembuh." Seru sopir taksi online mengucapkan terimakasih.


" Aamiin. Terimakasih atas doanya pak." Ucap Nia dengan ramah.


Para tetangga membantu ibu Karti masuk kerumah dan ada juga yang membawa tas ibu Karti. Nia sangat terharu dengan kebaikan para tetangganya. Nia berjanji suatu saat nanti dia akan membalas kebaikan para tetangganya.


" Terimakasih ibu - ibu sudah membantu ibu saya." Ucap ibu Karti saat sudah berbaring dikasur kamarnya.


" Sama-sama ibu Karti. Sesama tetangga harus saling tolong menolong, siapa tahu esok hari kami juga yang membutuhkan pertolongan." Jawan ibu Lasmi, istri dari pak sopir.


Nia pergi kedapur untuk membuatkan ibu-ibu teh akan tetapi Tami menghampiri Nia dan melarangnya membuat teh.


" Tidak perlu buat teh Nia. Sudah kamu istirahat saja, lagian kamu juga pasti lelahkan." Seru Tami dengan ramah.


" Tapi tidak enak mbak kalau ada tamu tidak disuguhkan minum." Seru Nia merasa tidak enak.


" Sudah tidak apa - apa. Oh iya apa kamu tidak mau tahu kejadian ibu mu saat kecelakaan?" Tanya Tami kepada Nia.


Nia sebenarnya sangat penasaran soal tabrak lari yang terjadi dengan ibunya. Sebab selama Nia tinggal di desa itu, tidak ada yang pernah kecelakaan atau tabrak lari di lingkungan tempat tinggalnya. Terlebih memang jalanan di dekat rumah Nia itu tidak mulus alias banyak lubang, sehingga siapapun yang berkendara pasti akan berhati-hati dan pelan-pelan. Lagi pula kejadiannya saat itu selepas magrib, tentunya kendaraan pun tidak akan berani berjalan dengan cepat.


" Penasaran sih mbak, tetapi Nia belum berani bertanya sama ibu. Apalagi ibu juga kan sehabis operasi, Nia khawtir ibu kembali merasakan sakit pada kepalanya saat Nia bertanya soal kecelakaan itu. Tentunya ibu akan mengingat - ingat kejadian itu terlebih dahulu."Jawab Nia dengan jujur.


" Sudah biar aku saja yang cerita sama kamu, soalnya waktu kejadian aku juga ada di tempat. Kebetulan aku ada di belakang ibu kamu. Saat itu kami yang baru pulang dari salat magrib di masjid, ibu kamu memang jalan tepat di depanku, dan dari arah depan ada motor yang berjalan dengan kecepatan tinggi. Sepertinya dia memang sengaja ingin menabrak ibu kamu, dan akhirnya terjadilah tabrak lari itu. Bahkan orang yang naik motor sama sekali tidak mau turun, dia langsung pergi begitu saja.",Ucap Tami menceritakan kejadian tabrak lari yang dialami ibu Karti.


Nia terdiam memikirkan apa yang baru saja dijelaskan oleh Tami. Dia meragukan cerita tamu, bukan tidak percaya, tetapi masa iya ada orang yang sengaja nencelakai sang ibu. Padahal selama ini Nia maupun ibunya tidak ada musuh. Hubungan dengan para tetanga juga baik - baik saja.


" Masa iya disengaja mbak?" Tanya Nia masih mencoba berfikir positif.


" Kamu ini kalau dikasih tahu kok ngeyel sih Nia, itu motor pasti sengaja. Soalnya dia itu jalan juga sudah dijalur yang salah. Pasti dia sengaja ingin mencelakai ibu kamu. Kamu harus lapor polisi agar polisi membantu menangkap pelakunya." Ucap Tami sangat antusius.


" Lapor juga kalau kita tidak ada bukti susah mbak. Untuk sementara biarkan saja dulu mbak, kalau dia berniat mencelakai ibu maupun aku pasti dia akan datang lagi, nah setelah itu kita bisa tangkap tuh orang." Seru Nia menjelaskan.


Tami mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Nia. Nia tidak jadi membuat teh, tetapi dia mengeluarkan teko air putih dan gelas dibantu oleh Tami.


***********

__ADS_1


__ADS_2