Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Pengorbanan #2


__ADS_3

Sebelum keluar dari mobil Dinka mengatur nafasnya berulang kali agar tidak gugup. Dia memakai dress selutut berwarna biru muda berbahan brukat. Rambut panjangnya yang hampir sepantat di gulung seperti sanggul. Ditambahkan sebuah pita dengan warna yang senada diatasnya. Riasannya dibuat natural.


Dinka terlihat sangat anggun. Membuat Alfan yang menjemputnya sedikit terpesona. Dia susah payah berjalan karena tidak terbiasa mengenakan sepatu hak tinggi. Alfan menawarkan lengannya untuk dipakai Dinka. Agar jalannya tidak susah. "Silahkan" Alfan tersenyum sambil menunjukan lengannya.


Didalam restoran mewah. Alfan membawa Dinka masuk keruang pribadi. Dinka tidak tau menau kenapa dirinya dibawa kesana. 'Kenapa aku dibawa kesini' gumamnya dalam hati.


Terlihat wajahnya yang campur aduk antara gelisah takut dan bingung. "Sebenarnya kenapa saya dibawa kesini?" tanya Dinka lirih pada Alfan.


Alfan hanya tersenyum. Dia mempersilakan Dinka untuk duduk. Pelayan disana menarik salah satu kursi. Dinka menurutinya duduk dikursi.


Selang beberapa menit datang Arya dengan Melvin. Dinka membulatkan matanya dengan sempurna melihat kedatangan mereka. Matanya berkedip dan mendesah. 'Mereka itu kan yang menghadiri penutupan ospek waktu itu' gumam Dinka


Melvin mengenakan kemeja pendek. Dengan celana jeans berwarna hitam. Namun terlihat gagah. Pelayan wanita diruangan tersebut di buatnya takjub.


Dinka juga tidak mengelakkan pemandangan didepannya memang terlihat indah. Dia berdiri menyapa kedatangan Arya dan Melvin. Menyalami tangan Arya selaku orang yang lebih tua darinya.


Melvin langsung duduk dikursi disebelah Dinka. Memasang wajah dinginnya seperti biasa. 'Tampan' gumam Dinka dihati.


Arya langsung membuka pokok pembicaraannya. Dia memang tidak suka basa-basi. "Apa kamu tau kedatangan mu kesini?" suara berat dari Arya membuat Dinka gugup.


"Belum pak" Dinka menjawab dengan suara yang lirih. Melvin kemudian beralih menatap orang disampingnya. Keringat dingin keluar di pelipis Dinka. Dia menelan ludahnya.


Keadaannya saat ini sangat mencekam. Disana Dinka seperti sedang berhadapan dengan guru yang menjaga ujian nasional sewaktu disekolah. Tatapannya sangat menusuk.


"Kamu akan saya lamar, untuk menikah dengan Melvin". Ucapan dari Arya membuat jantung Dinka berdetak sangat cepat. Dia kembali menelan ludahnya.

__ADS_1


"Tapi saya sudah... " ucapannya langsung dipotong oleh Arya. "Saya sudah tau bahwa kamu sudah dilamar orang, saya sudah menyuruh orang untuk menjelaskan pada kedua orangtua mu untuk membatalkan lamarannya"


Dinka hanya bisa terdiam. Dia sangat bingung dengan semua ini. "Kamu tenang saja saya akan memberikan uang sebagai kompensasi untuk keluarga lelaki itu" Arya terus berucap.


Melvin tersenyum sedikit melihat raut wajah Dinka yang bercampur aduk. Dinka terus menatap kebawah. Meremas kedua tangannya sendiri karena gugup.


Melvin mengambil tisu dari kotak. Menawarkan pada Dinka. "Usap keringat itu dengan ini". Dinka terdiam. Melvin mengusap keringat di kening Dinka.


"Besok lusa kami akan datang kerumah mu untuk melamar, pernikahan akan diadakan seminggu setelah lamaran tersebut" Arya menjelaskan.


Detak jantung Dinka semakin tak beraturan. Bagaimana bisa dia menikah dengan pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Dia belum tau bahwa Reta adik angkat dari pria disampingnya ini.


Mungkin ini yang dinamakan mimpi tertimpa durian runtuh. Dirinya yang bukan apa-apa akan menikah dengan keluarga konglomerat seperti Melvin.


Setelah selesai dengan makanan utama di lanjutkan dengan makanan penutup. Padahal perut Dinka sudah terisi penuh. Dia tidak sanggup untuk memakannya. Namun Melvin memaksa Dinka untuk makan hidangan penutup.


+++


Reta menunggu temannya didepan asrama. Sebuah mobil sport berhenti di depan gerbang asrama. Melvin berjalan dengan santainya membukakan pintu mobil untuk Dinka.


Dinka turun dan berkata "terimakasih". Reta segera berlari menghampiri Dinka. "Wah cantiknya si eneng" ledeknya. Dia menarik dress yang dikenakan Dinka. "Apaan sih" gerutu Dinka.


Dia melepaskan sepatu high heels nya. Dan mencangkingnya masuk kedalam asrama. Reta tertawa melihat tingkah lucu Dinka.


"Bagaimana acara makan malamnya". Dinka tidak menggubris pertanyaan Reta. Dia mengganti pakaian nya dengan baju tidur.

__ADS_1


"Aku gak tau harus bagaimana, semuanya diluar dugaan. Kenapa tiba-tiba aku harus menikah dengan si Melvin-melvin itu" keluh Dinka sembari memegang kepala.


"Sebenarnya gue adiknya Melvin ka" ucap Reta cengengesan. Dinka berbalik menghadap Reta. Mulutnya ternganga.


"Maaf" Reta membentuk tangannya memohon. "Jelaskan" ucap Dinka dengan ketus.


"Sebenarnya gue udah tau tentang rencana pernikahan loe dengan kak Melvin. Gue dikasih tau sama kak Alfan. Tadinya gue mau bilang ke loe sebelum acara makan malam tapi gue...." Reta tidak melanjutkan ucapannya.


Dinka sudah memasang wajah untuk berperang. Sudah ada tanduk dikepalanya. Dia mendengus sebal. "Tapi apa?".


Reta sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari kekamar mandi. Pasti Dinka akan mengajak perang.


"Tapi gue emang sengaja gak ngasih tau loe supaya loe bisa jadi kaka ipar gue" Reta berkata sambil berlari kekamar mandi. Pintu kamar mandi segera dikuncinya dari dalam.


"Kenapa kamu gak bilang Retaaaaa" ucap Dinka penuh penekanan diakhir kalimatnya.


Dinka yang masih ingin mengejar mimpinya. Harus kandas karena pernikahan dadakannya itu. Dia gundah gulana karena tidak bisa menikah dengan Abimanyu. Lelaki yang pertama kali membuat hatinya bergetar. Yang membuatnya tau akan sebuah rasa yang indah.


Dia sudah membayangkan hidup bersama dengan Abimanyu. Mempunyai anak yang lucu. Dan membantu pekerjaan suaminya didesa.


Hidup sederhana yang diimpikannya bersama Abimanyu musnah sudah. Tidak tau pernikahan tanpa landasan cinta kasih itu akan sampai mana.


Membayangkannya saja sudah membuat Dinka ngeri. Apalagi setiap hari harus berhadapan dengan Melvin yang berwajah dingin tapi tampan itu. Mungkin banyak wanita diluaran sana yang ingin menjadi istri Melvin. Namun tidak baginya.


Hidup sederhana bersama Abimanyu sudah lebih dari cukup untuknya.

__ADS_1


__ADS_2