
Jam kuliah usai mereka pergi kekantin. Reta mendorong badan Bobby kedepan untuk berjalan lebih dulu.
"Bob loe yang pesen sanah" suruh Reta. Bobby pun melangkahkan kakinya dan memesan makanan.
"Aku ke toilet dulu ya ta, kebelet nih" ucap Dinka. "Mau gue temenin?" tanya Reta. Dinka menggelengkan kepalanya.
Dia pergi ke toilet dekat kantin karena lebih dekat. Setelah selesai Dinka membuka pintu toilet dan tidak sengaja melihat Sinta dan anteknya sedang membicarakannya. Lantas dia langsung menutup pintu toilet lagi. Agar Sinta tidak melihatnya berada di toilet juga.
Dinka merasa gelisah karena adanya Sinta dan anteknya. "Eh sepulang ngampus nanti loe cari Dinka ya bawa dia ke gue" terdengar suara Sinta. "Mau dibawa kemana dia?" terdengar suara Berta bertanya. "Tempat biasa" suara Sinta menjawab.
Dinka mendengarkan perkataan mereka dari dalam toilet. Dia harus bisa lolos dari rencana jahat seniornya itu.
Sekiranya suara senior sudah tidak terdengar Dinka baru melangkah keluar dari toilet. Dia menghampiri temannya dikantin.
Makanan yang dipesan sudah tersedia dimeja. Mereka melahap sampai habis makanannya. "Kayaknya aku gak ikut untuk jam kuliahnya pak Erwin deh" ucap Dinka sambil mengaduk-aduk dengan sedotan diminumannya.
"Kenapa?" tanya Bobby. Dinka tidak memberitahu pada mereka. "Aku nitip absen aja ya" bujuk Dinka memasang wajah memohon pada adik iparnya.
"Oke oke" sahut Reta. "Makasih" ucap Dinka tersenyum. "Gue tau loe mau pergi sama kak Melvin kan" Reta menatap Dinka. Dinka tersenyum dan mengangguk. Sebenarnya itu hanya untuk menghindar dari kawanan Sinta and the genk.
Lebih baik menghindari masalah daripada harus terlibat didalamnya. Sudah cukup Melvin seorang yang membuat bebal hidupnya.
Dinka keluar dari kampus menuju halte bus. Hari ini dia akan pergi kemana pun dia mau. Kemana pun dia suka walau tanpa tujuan yang jelas. Langkah kakinya pun tak tau akan membawanya kemana. Yang penting rasa penat selama ini hilang. Walau hanya satu hari.
__ADS_1
Dinka mengambil nafas dalam-dalam menghirup udara di pinggiran jalan. Bus yang dinanti datang dan Dinka masuk. "Kemana ya enaknya" bicara pada diri sendiri. Setelah memikirkan akan kemana Dinka turun di halte bus yang dekat dengan pusat perbelanjaan.
Kakinya melangkah menyebrangi zebra cross bersama pengguna jalan lainnya. Yah walaupun sendirian tetap saja dinikmati pikirnya.
Dinka masuk kedalam salah satu mall yang terletak dipusat kota. Dia membeli cemilan dan minuman di stand yang berjajar. Seusai menghabiskan makanan yang dibeli dia berniat masuk kedalam mall.
Mata Dinka melihat ke sekitar hanya dia yang sendirian. Namun dia tetap menikmatinya. Langkah kakinya memasuki ke sebuah toko baju dan melihat satu persatu baju.
Sorot matanya tercengang setelah melihat bandrol harga yang tertera. "Buset mahal amat" gumamnya lirih. Salah satu pelayan toko menghampirinya dan menawarkan untuk membantu mencari pakaian.
Dinka hanya cengengesan ketika ditanya oleh pelayan toko. Dia teringat bahwa singa jantannya memberikan kartu kredit no limit padanya. Dia akan membelanjakan sebanyak mungkin. Itu juga tidak akan membuat si singa jantan jatuh miskin.
'Baiklah akan ku gunakan sepuasnya' batin Dinka. Dia kemudian tersenyum pada si pelayan toko dan meminta dicarikan baju seukurannya.
Dinka tertegun sejenak. "Baiklah carikan model apa saja yang cocok" sahut Dinka. Pelayan toko membawa beberapa pakaian yang diminta. Dinka mencoba satu persatu pakaian tersebut.
Asalkan cocok ditubuhnya dia akan memborong semua baju itu. "Sebodoh amat lah dimarahin yang penting hati senang" ucapnya lirih sembari tersenyum. Dinka membolak balikan badan didepan cermin.
Setelah memasuki beberapa toko dia membawa lumayan banyak barang yang dibelinya. Dari kejauhan terdengar suara pria yang memanggilnya.
Dinka menoleh mencari sumber suara yang memanggil namanya. Si pria menghampiri Dinka yang sedikit kerepotan dengan belanjaannya.
"Adinka" sapa Abinyu. "Oh mas Abinyu" jawab Dinka. " Boleh ku bantu?" tanya Abinyu. Dinka manggut-manggut. Kebetulan sekali bertemu mantan calon kaka iparnya disini.
__ADS_1
"Kamu belanja banyak buat apa?" tanya Abinyu tangannya sambil meraih tas kertas yang dipegang Dinka. "Em buang setres aja mas" jawab Dinka tersenyum.
"Di mall ini harga bajunya mahal, duit dari mana kamu bisa beli?" tanya Abinyu penasaran. "Em itu mas... anu... " Dinka bingung menjelaskan.
"Jangan bilang kamu jadi..." ucap Abinyu namun tidak dilanjutkan. "Tidak seperti yang mas kira" sahut Dinka dengan cepat.
"Baiklah mas hanya becanda" ujar Abinyu memperlihatkan barisan giginya. "Mas kenapa disini?" tanya Dinka.
"Mas ada ketemu klien disalah satu cafe dimall ini" jelas Abinyu. "Mas masih kerja di perusahaan itu?" tanya Dinka lagi. "Masih" jawab Abinyu. Sesampainya di depan mall Dinka menyetop taksi dan masuk kedalam.
"Mas minta nomer ponsel kamu Din" ujar Abinyu. Dinka tersenyum seraya berkata "nomer mas aja biar aku simpan". Abinyu mencatat nomernya di ponsel Dinka. "Jangan lupa hubungi mas ya" sahut Abinyu. Adinka mengangguk pelan.
Taksi sampai di depan gerbang utama. Dinka menyuruh masuk kedalam gerbang. Karena gerbang dijaga cukup ketat oleh pengawal keluarga Tama. Alhasil taksi tetap tidak bisa masuk.
Dinka ngedumel sendiri sambil berjalan kaki membawa banyak barang belanjaan. Sampai dirumah utama pelayan yang sedang berada di teras rumah menghampiri majikannya ikut membawakan barang belanjaan.
Dinka memanggil pelayan kembarnya. "Nih untuk kalian" ucap Dinka. Dengan ragu si kembar melihat bungkusan yang diberikan nona nya. "Ini untuk kami nona?" tanya Alini.
"Iya untuk kalian" Dinka manggut-manggut. "Tapi non" sahut Arini. "Kenapa?" tanya Dinka.
"Apa tidak apa-apa kalau kami diberi baju semahal ini?" tanya Arini. Dinka tertawa dan menjawab "siapa yang akan memarahi kalian? Kalian inikan pelayan pribadi ku jadi bebas kan aku memberikan apa saja".
"Terimakasih ya non" ucap sikembar kompak. Dinka masuk kekamarnya dan mencoba bajunya lagi.
__ADS_1