
Melvin tersenyum puas sambil menatap Abimanyu. Berbeda dengan Abimanyu yang sangat marah pada Melvin dan menyimpan dendam padanya. Bagi Melvin, Abimanyu bukan saingan yang berat. Jadi Melvin bersantai ria menanggapi Abimanyu.
Langkahnya kembali menuju kamar rawat sang istri. "Vin kenapa dengan wajahmu?" tanya Dinka panik. "Gak papa sayang, kepentok pintu masuk tadi" jawab Melvin.
"Kok bisa kepentok pintu masuk sampai kaya gitu?" tanya Dinka lagi. "Iya bisa aja sayang" jawab Melvin. "Gak percaya tuh. Habis di pukul sama siapa?" Dinka bertanya terus agar Melvin mau mengaku. "Adik ipar kamu" jawab Melvin lirih. Takut sang ibu mertua mendengarnya. "Kenapa dengan adik iparku, pasti berantem sama dia ya?" tanya Dinka sambil mengelus bibir Melvin.
Melvin mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ibu kamu tidur dari tadi?" tanya Melvin. "Iya" Dinka mengangguk. Tangannya masih sibuk mengelus lembut ujung bibir Melvin yang memar. Melvin menengok kearah sofa. "Lalu adik kamu dimana?" tanya Melvin lagi. "Sedang keluar sama anaknya ke taman rumah sakit, tadi Abel rewel terus minta keluar" jelas Dinka.
Seorang perawat masuk membawakan makanan untuk Dinka. "Ini makanannya bu silahkan" sang perawat meletakkan di nakas. Matanya melirik pada wajah tampan Melvin.
"Kenapa masih di sini?" tanya Melvin pada perawat. Tanpa sadar ketampanan Melvin membuat si perawat menghayal yang tidak-tidak. "Cepat keluar" perintah Melvin. "Iya pak" ucap si perawat sambil tersenyum manis.
Dinka mengambil posisi duduk dan memandangi makanan yang dibawakan oleh perawat tadi. "Kenapa sayang? Ada yang salah dengan makanannya?" tanya Melvin. Dinka memanyunkan bibirnya sambil mengangguk. "Kamu kan tau sendiri aku gak suka makanan rumah sakit" jawab Dinka.
"Harus dimakan dong sayang. Kalau enggak kamu mau makan apa. Ntar malah sakit lho" Melvin menasehati. "Salad buah kayanya enak deh" sahut Dinka. "Emang sudah boleh makan salad?" tanya Melvin. Dinka menggelengkan kepalanya perlahan. "Ya sudah aku tanya dokter Mirna dulu ya" Melvin beranjak pergi untuk menemui sang dokter.
__ADS_1
Setelah beberapa menit menunggu sang suami. Akhirnya Melvin datang dengan membawa salad buah permintaan sang istri. "Nih sayang" Melvin menunjukkan kantong plastik berisi salad. "Asik" jawab Dinka sumringah.
Melvin membukakan dan menyuapi salad buahnya pada Dinka. "Aaaaaaa" ucap Melvin. Dinka membuka mulutnya lebar-lebar untuk menerima suapan dari suaminya. Tapi Melvin malah menyuapi dirinya sendiri. Dinka memasang wajah kesal. "Kenapa malah kamu yang makan" Dinka cemberut.
Melvin tertawa kecil sambil menatap tengil istrinya. "Nih sayang aaaa" ucap Melvin menyuapi Dinka lagi. "Gak mau" Dinka memalingkan mukanya. "Kali ini beneran kok sayang aaaa" Melvin merayu Dinka.
Dinka merebut semangkuk salad buah dari tangan Melvin dan memakannya sendiri. "Kelamaan" gerutu Dinka. Melvin hanya tersenyum puas melihat sang istri.
Mulut Dinka menjadi belepotan karena mayonaise. Melvin menjilat mayonaise dibibir Dinka. Dan melanjutkannya untuk mencium bibir sang istri. Dinka menggigit bibir Melvin yang memar akibat bogeman dari Abimanyu. Sekejap Melvin berteriak mengaduh kesakitan. Dia mencoba melepaskan diri dari Dinka. Tapi Dinka sengaja mengalungkan tangannya pada leher Melvin dengan erat. Agar Melvin tidak bisa melepaskan diri.
Dinka menggigit sang suami sekuat mungkin. Sampai bibir Melvin berdarah. Setelah puas menggigit bibir suaminya, Dinka pun melepaskan tautan bibirnya pada bibir Melvin. Darah segar menetes dari bibir tebal Melvin. "Sayang kamu jahat banget sih gigit bibir aku" gerutu Melvin sambil mengelap darah dengan tisu.
Tapi Siti sengaja diam menyaksikan pemandangan yang sangat jarang ditontonnya. "Ibu sudah bangun ya" ucap Melvin cengengesan. "Tidak apa-apa nak Melvin, ibu juga pernah muda" sahut Siti dengan tersenyum lembut. Dinka menutupi wajahnya karena merasa malu.
Rama panjang lebar menasehati menantunya. Agar mau mencintai dan menerima Bella sebagai istrinya. Karena Rama tau anak bungsunya begitu mencintai Abimanyu. Dia tak ingin rumah tangga anaknya itu hancur. "Abi bapak sudah mempercayakan Bella pada mu. Bapak mohon kamu jaga dan lindungi dia. Jangan buat dia marah dan jangan menyakitinya. Kamu tolong buka hati untuk Bella. Bagaimana pun juga dia istri mu sekaligus ibu dari anak-anakmu. Bapak mohon dengan sangat" ucap Rama panjang lebar.
__ADS_1
Abimanyu diam sejenak sambil berpikir. Dia tak mau membuat ayah mertuanya kecewa. Karena selama ini Rama begitu baik padanya. Tapi di sisi lain dia juga masih sangat mencintai Dinka. Dulu dia memang khilaf sudah menghamili Bella. Karena perbuatannya itulah dia dipecat secara tidak hormat sebagai kepala desa.
"Maaf pak, aku tidak bisa memastikan. Tapi akan aku coba" Abimanyu menatap mertuanya. "Terimakasih banyak nak Abi" Rama begitu senang mendengar ucapan dari Abimanyu. Walaupun tidak membuatnya puas setidaknya ada sedikit harapan.
"Baiklah kita anggap masalah ini selesai. Jangan sampai yang lain tau tentang hal ini" lanjut Rama. Mereka berdua kembali masuk kedalam rumah sakit. Bella mendengar semua ucapan sang ayah dan suaminya itu. Saat dirinya sedang mengajak sang buah hati main ketaman di rumah sakit. Tanpa diketahui Rama dan Abimanyu.
Bella menangis dalam diam. Dirinya sadar telah mencintai orang yang salah. Apalagi itu hasil merebut dari sang kakak.
Dikantor Silma sibuk dengan pekerjaannya. Reta hanya asik-asikan bersantai ria tanpa mengerjakan apapun. Dia pura-pura kerja disaat sang kakak keluar dari ruangan. Setelah Alfan kembali kedalam ruang kerjanya, Reta melemparkan pekerjaannya pada Silma. Sebagai sekretaris, Silma hanya bisa menuruti apa kemauan dan perintah dari adik bosnya. Daripada mendapatkan masalah.
"Gue pengen minum, cepat buatin kopi. Gulanya setengah sendok makan" perintah Reta. Silma beranjak dari duduknya untuk membuatkan kopi. Alfan tiba-tiba keluar dari ruang kerjanya untuk mencari Silma. Reta sedang asik memainkan ponselnya. Kedua kakinya diletakkan di atas meja. Alfan yang melihat kelakuan sang adik hanya geleng-geleng kepala sambil berkacak pinggang.
"Asik banget ya" Alfan mendekati meja kerja Silma yang terdapat Reta di sebelahnya. Sontak Reta terkejut karena suara dari sang kakak. "Eh kakak" Reta memperlihatkan barisan giginya sembari menurunkan kedua kakinya. "Mana Silma?" tanya Alfan. "Gak tau pergi kemana tadi" jawab Reta dengan santai. Tanpa di aba-aba Alfan menarik telinga Reta. "Aduh kak sakit, ampun" Reta memegangi tangan Alfan. "Makanya jangan bandel, kakak suruh kamu kerja disini bukan santai-santai" ucap Alfan.
"Siapa yang bersantai kak, aku juga kerja kali" Reta mengusap telinganya yang di jewer sang kakak. "Kerja apaan, main ponsel kamu bilang kerja" sahut Alfan dengan tegas. Reta memalingkan wajahnya menghadap ke lain tempat.
__ADS_1
Dari kejauhan Silma datang dengan membawa secangkir kopi. Reta memelototi Silma sambil memberi kode agar kopinya di berikan pada Alfan. Namun karena Silma kurang peka, jadi dia memberikan kopi itu pada Reta. "Kopinya mba" Reta hanya cengengesan sambil menatap Alfan.
Alfan menyilangkan kedua tangannya sambil geleng-geleng kepala. "Benar-benar keterlaluan" ucap Alfan.