Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Permintaan #2


__ADS_3

Mobil sudah sampai didepan gedung pencakar langit. Melvin tidak langsung turun dari dalam mobil. Wajah tampannya mendekati wajah sang istri. "Kau bertanya tadi kenapa?" bisik Melvin. Dinka mengangguk dengan pelan. "Kau harus cepat mengandung anak ku bukan. Itu permintaan ayah dan bunda" jelas Melvin masih berbisik.


Tatapan mata Melvin kini jatuh pada bibir ranum istrinya. Dinka memejamkan matanya karena merasa akan dicium oleh Melvin.


"Kau berharap aku mencium mu? Dasar gadis bodoh" ejek Melvin. Kini kemarahan Dinka sudah mencapai ubun-ubun. Dia tidak bisa menahannya lagi.


Dinka meraih tangan Melvin dan menggigitnya dengan sekuat mungkin. "Aaaaahhh apa yang kau lakukan" teriak Melvin. Mereka masih berada didalam mobil. Penjaga pintu masuk seketika menghampiri mobil karena mendengar teriakan bosnya.


Melvin mencoba melepaskan tangannya dari gigitan sang istri. Karena sudah dirasa cukup Dinka pun melepaskannya. Dia segera keluar dari mobil untuk melarikan diri.


Melvin pun ikut keluar setelah kehilangan Dinka. "Cepat kejar dia" tunjuk Melvin sambil berteriak. Dia sangat marah atas perbuatan istrinya. Dia menghela nafasnya dengan kasar dan berjalan menuju pintu lift.


Didalam ruang kerjanya Melvin membuang semua dokumen yang tertata rapih dimejanya. Bekas luka gigitan di tangannya masih nampak jelas. Wajah Melvin terlihat merah karena marah.


Alfan mendengar suara gaduh dari dalam ruang kerja adiknya. Dia menghampiri sang adik yang berada didalam. Dirinya tidak berani bertanya karena ekspresi wajah Melvin terlihat sangat marah. Dan terlihat ruangan Melvin yang berantakan.


Dinka berlari dengan sangat cepat karena dikejar. Dirasa cukup aman dia berhenti ditrotoar jalan. Dan menyetop taksi untuk pergi kekampus. Dia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena berlari.


'Tamat riwayatku kenapa juga harus menggigit tangan Melvin' batinnya. Tangannya mengetuk kening karena menyesali perbuatannya.


Sampai di kampus Dinka berjalan ketaman kampus dan duduk ditaman yang biasa menjadi tempat persembunyian. Sudah lama dia tidak ketempat persembunyian itu. Rumput ilalang yang dulu tinggi kini sudah di potong.


Dinka menenggak air putih satu botol sampai habis. Merebahkan badannya di rerumputan. Matanya memandang langit yang jauh diatas. Airmatanya mulai tumpah membasahi pipi mulusnya.

__ADS_1


Disisi lain Reta dan Bobby menghubungi Dinka namun nomernya tidak aktif. "Apa yang terjadi padanya, kenapa nomernya tidak aktif sih" keluh Reta. Dia khawatir pada Dinka. Bila nomernya tidak aktif pasti ada sesuatu yang terjadi.


+++


Melvin sengaja menyuruh Alfan untuk menemui kliennya. Sedangkan dia akan pergi mencari sang istri karena belum pulang sedari siang.


"Kau kenapa kasar pada istrimu?" tanya Alfan. "Kak Alfan lebih baik cepat pergi" jawab Melvin. "Baiklah aku tidak akan ikut campur urusan rumah tangga mu" sahut Alfan.


Setelah Alfan bertemu dengan klien dia berjalan keluar restoran. Matanya tidak sengaja melihat Serin keluar dari sebuah mobil sport merah.


Alfan benar-benar tercengang melihat pemandangan yang tak jauh didepannya. Terlihat tunangannya itu dicium keningnya oleh seorang lelaki.


Kecurigaannya selama ini benar. Bahwa Serin main serong dibelakangnya dengan pria lain. Karena cukup gelap Alfan tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria yang bersama Serin.


Alfan menyembunyikan diri dibalik tembok. Dia berjalan perlahan kearah mobil untuk mengikuti si pria yang tadi bersama Serin.


Setelah mobil Alfan pergi dari restoran tersebut. Kini mobil mewah Melvin bertengger di parkiran restoran. Serin melambaikan tangan pada Melvin.


"Kenapa menunggu diluar?" tanya Melvin sambil menggandeng tangan Serin. "Ingin saja" jawab Serin. Mereka masuk kedalam ruang pribadi restoran.


"Tangan mu kenapa?" tanya Serin memasang wajah khawatir. Melvin menarik tangannya dari genggaman Serin. "Tidak papa" ucapnya tersenyum.


Setelah menghabiskan waktu berdua Melvin mengantarkan Serin kerumahnya. Melvin menepikan mobilnya di depan gerbang rumah Serin.

__ADS_1


"Mau mampir?" tanya Serin. Melvin menggeleng sambil tersenyum. Serin memanyunkan bibirnya menjadi sok imut.


Serin mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Melvin. Bibirnya perlahan semakin dekat. Melvin membuang mukanya kesamping untuk menghindar ciuman dari Serin. "Maaf aku sedang tidak ingin" ucap Melvin.


Serin cemberut dan keluar dari mobil. Menutup pintu mobil dengan keras. Melvin langsung melajukan mobilnya. "Harusnya kau turun untuk meminta maaf padaku kenapa malah pergi begitu saja" teriak Serin menatap kepergian mobil Melvin.


Sampai dirumah Dinka sudah ditemukan oleh pengawalnya. Melvin menyuruh pak Mimin untuk membuatkan minuman yang dicampurkan dengan suatu obat yang dibelinya tadi sebelum pulang.


"Pak buatkan jus alpukat atau apalah tambahkan ini kedalamnya" pinta Melvin sambil memberikan bungkusan. Pak Mimin membuka kantong plastik dan melihat isinya. "Ini obat.." ucap pak Mimin ragu dan tidak melanjutkan.


Melvin menatap tajam pelayannya. "Cepat buatkan" ucapnya. Dasi nya sedikit dikendurkan dan melipat lengan kemejanya sampai ke siku. Pak Mimin melihat raut wajah yang tidak beres pada anak bosnya itu.


Melvin meminum jus yang dibawakan oleh pak Mimin sampai habis. Dia duduk sebentar di sofa menunggu reaksi obatnya bekerja.


Setelah merasakan obatnya bereaksi Melvin melangkahkan kakinya menuju kamar. Dinka tercengang melihat wajah Melvin yang terlihat gusar tapi tampan.


Dinka menelan ludahnya dalam-dalam. Melvin membuka semua pakaian yang dikenakan Dinka. Meminta haknya ntuk dilayani.


Mereka melakukan olahraga malam hampir satu jam. Melvin sengaja meminum obat penambah kuat. Dinka sampai menangis karena badannya sudah melemah. Namun Melvin masih terus mengajaknya berperang.


Setelah puas dengan aktivitasnya Melvin mencium bibir Dinka. "Ini hukuman bagimu karena sudah menggigit tanganku" ucap Melvin. Tangannya menghapus air mata di pipi sang istri.


"Kau harus cepat hamil, agar penderitaan mu bertambah" sambung Melvin. Dinka yang sudah terlanjur kesal tanpa pikir panjang menampar pipi Melvin.

__ADS_1


Plaakk


Seketika pipi Melvin menjadi merah. Terlihat bekas tamparan dari tangan istrinya. Itu baru pertama kalinya ada seseorang yang berani menamparnya.


__ADS_2