Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Perlawanan


__ADS_3

Dinka mencoba kembali untuk menampar wajah suaminya tapi tangannya dicegah oleh Melvin. Dengan mengumpulkan semua keberaniannya Dinka berteriak pada Melvin. "Kau pikir aku boneka mu, kau pikir aku mesin pencetak bayi!" teriak Dinka didepan sang suami.


Melvin mendekatkan wajahnya dan membisikan sesuatu "Kau memang sudah menjadi boneka ku". Dia menggigit telinga istrinya.


Dinka berteriak karena perlakuan Melvin. Suara teriakannya terdengar sampai lantai bawah. Membuat para pelayan berlarian menuju kamar tuannya. Pak Mimin sebagai kepala pelayan mengetuk pintu kamar yang terkunci. Dan menyuruh pelayan lain untuk mengambil kunci cadangan. Mereka ingin memastikan sesuatu.


Karena pelayan yang lain tidak berani mengganggu majikannya. Jadi pak Mimin yang bertanya.


Mulut Dinka di bungkam dengan bibir Melvin. Dengan buasnya Melvin mencium bibir istrinya dan menggigitnya.


"Maaf mengganggu tuan dan nona apakah ada yang terjadi?" tanya pak Mimin dari luar kamar. Karena tak ada jawaban pak Mimin kembali mengetok pintu kamar. "Tuan apakah nona baik-baik saja?" tanya pak Mimin ingin memastikan.


Alfan menabrak salah satu pelayan yang disuruh mengambil kunci cadangan.


"Ada apa?" tanya Alfan penasaran. "Itu tuan anu... sepertinya non Dinka lagi di siksa oleh tuan Melvin dikamarnya" jelas sang pelayan.


Alfan membulatkan matanya dan berlari menuju kamar Melvin dan Dinka. Alfan merebut kunci cadangan dari tangan pelayannya.


Melvin mendengar suara riuh di luar kamar menggendong Dinka masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi.


Alfan melihat kesekitar kamar dan masuk kedalam. Terlihat ranjang yang berantakan dan baju berserakan dilantai. Alfan menghela nafasnya dalam. Tangan kanannya memegang kening. Dan tangan kirinya berkacak pinggang. Dia benar-benar panik mengingat keadaan Dinka.


Para pelayan tidak ada yang berani masuk kedalam kamar. Mereka menunggu dari balik pintu. Alfan mendesah dan keluar dari kamar.

__ADS_1


"Biarkan saja mereka tindakan Melvin tidak akan sampai sejauh itu" ungkapnya pada pak Mimin.


"Tapi tadi saya mendengar teriakan non Dinka tuan" ucap Alini yang ikut khawatir. Alfan mengangguk paham. "Semuanya kembali lakukan pekerjaan masing-masing" suruh Alfan. Langkah kakinya menuju kekamar yang tidak jauh dari kamar sang adik.


Didalam kamar mandi Melvin mengulangi kegiatan malamnya. Dinka hanya bisa pasrah. Dia benar-benar takut sekarang. Melawan pun percuma.


Ponsel milik Melvin terus bergetar. Panggilan masuk dari Serin. Melvin mematikan ponselnya dan melanjutkan tidur disamping sang istri. Dinka belum bisa tertidur. Dia menemukan sebuah ide briliant.


Dinka menarik selimut secara perlahan agar Melvin tidak terbangun. Selimut itu digunakan untuk menutupi tubuh indahnya. Dia beranjak dari ranjang menuju meja rias diruang sebelah kamar.


Dinka mulai melukis diwajah tampan suaminya dengan berbagai alat make up. Wajah Melvin terlihat seperti badut di sirkus. Dinka menahan tawanya sambil mengambil beberapa jepretan foto.


Foto itu akan dia gunakan sebagai alat pertahanan diri dan alat pengancam bagi Melvin. Bila Melvin melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti sekarang.


Mata Melvin terbuka karena suara bidikan kamera. Dinka segera menyembunyikan ponselnya di belakang tubuhnya. Dia berusaha menahan tawanya tapi tidak berhasil.


Melvin hanya menggendikkan bahu tak tau apa yang dilakukan istrinya. Karena lelah dia kembali terlelap.


+++


Alfan menguap sambil keluar dari kamarnya. Semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan tunangannya yang sudah berselingkuh. Namun Alfan belum tau siapa pria selingkuhan tunangannya.


Melvin bangun dari tidurnya tapi wajah tampannya sudah kembali seperti sedia kala. Dinka sengaja membersihkan wajah Melvin sebelum Melvin bangun.

__ADS_1


Langkah kaki Melvin menuruni anak tangga menuju ruang makan. Setelan jas berwarna merah maroon sudah melekat di tubuh sixpack nya. Dipadukan dengan dasi berwarna senada.


Sudah terlihat Alfan dimeja makan. Dinka baru keluar dari kamarnya. Dia langsung berpamitan karena ada urusan penting.


"Kau tidak sarapan adik ipar?" tanya Alfan. "Tidak" jawab Dinka sambil berjalan keluar rumah.


Melvin menatap kakaknya "sejak kapan kak Alfan jadi perhatian pada Dinka?". Alfan tersenyum dan menatap sang adik. "Sejak kau menikah kau jadi lebih sering memanggilku kaka ya" sahut Alfan.


Melvin tidak menanggapi Alfan. Mulutnya kembali mengunyah makanan. "Harusnya aku memang tidak ikut campur urusan rumah tangga kalian, tapi untuk menghindari hal yang tidak diinginkan sebaiknya harus ada orang yang melewati batas" ucap Alfan panjang lebar.


Melvin tetap terdiam mendengar sang kaka berbicara. "Kau jangan sakiti istrimu, bila ada yang merebutnya kau baru akan merasa kehilangan" nasehat Alfan.


"Tanpa disuruh pun aku juga sudah tau" Melvin tersenyum tipis. Dia membersihkan mulutnya dengan tisu. "Ayo berangkat" ajak Melvin.


Alfan menghela nafasnya. Tangannya merangkul pundak adik angkatnya itu. "Sejak kapan kau jadi dewasa" ucapnya sambil meninju perut Melvin. "Aw" ujar Melvin mengibaskan tangan kakaknya.


Dikampus Reta sudah marah-marah pada Bobby. Karena kebodohan Bobby laptopnya rusak. Padahal banyak data penting dan tugas kampus. Bobby tidak sengaja menjatuhkannya dari atas balkon rumahnya.


Bobby dipukul perutnya oleh Reta. Dinka menyilangkan kedua tangannya. Kepalanya geleng-geleng melihat dua anak manusia yang hobi berantem itu.


"Sudah-sudah kenapa sih sama kalian?" tanya Dinka. Reta menyudahi memukul Bobby. "Laptop gue ancur sama dia" gerutu Reta. "Gue kan udah minta maaf lagian bakal gue ganti kok" ujar Bobby.


"Heh bukan masalah laptopnya tapi banyak data-data penting di laptop itu" ucap Reta dengan suara yang keras. Tangannya mengepal lagi. Dinka menengahi mereka berdua. "Sudah ya jangan dipukul lagi kasian Bobby nya" bela Dinka.

__ADS_1


Bobby mendekat pada Dinka bersembunyi di balik tubuhnya. Kesempatan baginya dekat-dekat dengan Dinka.


"Kita masuk kelas yuk" ajak Dinka meraih lengan Reta. Bobby ikut menggandeng tangan Dinka.


__ADS_2