
Dinka merasakan nyeri pada perutnya. Dia memposisikan tubuhnya senyaman mungkin agar sakit diperutnya hilang. "Huft lumayan enakan nih" ucap nya sendiri. Tidak lama kemudian rasa nyeri nya muncul. Dinka mengambil bantal untuk sandaran perutnya. Tetap saja cara itu tidak berhasil.
Dinka membolak-balikkan badannya diatas ranjang empuknya. Dari posisi terlentang sampai tengkurap tetap saja perutnya sakit. Dinka berlari kedalam kamar mandi karena kebelet.
Matanya tercengang melihat ada bercak kemerahan dicelana dalamnya. "Apa ini" Dinka berucap sendiri. Setelah dari kamar mandi dia mencari bi Nah untuk bertanya. "Bi kenapa ada bercak merah di celana ku ya?" tanya Dinka raut wajahnya sudah panik.
"Bercak merah non, sudah sejak kapan?" tanya bi Nah. "Waktu tadi aku mandi kaya nya belum bi, aku takut kandungan ku kenapa-napa bi" mata Dinka mulai berkaca-kaca.
Diluar rumah terdengar suara mobil sport Melvin. "Itu tuan muda pulang sebaiknya non segera memeriksakan kandungannya" jelas bi Nah yang juga ikut panik.
Dinka berlari keruang tamu menghampiri sang suami. "Jangan berlari non" ucap bi Nah sedikit berteriak.
Dinka menabrak sang suami didepan pintu ruang tamu. "Vin ayo periksa kedokter perut ku sakit" ajak Dinka yang sudah menangis. Melvin jadi ikutan panik. "Ada apa? Kenapa dengan kandungan mu?" Melvin bertanya sambil mengusap perut ramping istrinya.
"Sepertinya ada sedikit pendarahan tuan pada kandungan nona" bi Nah ikut menjelaskan. Wajah dingin Melvin seketika berubah menjadi wajah panik. "Apa pendarahan" Melvin sontak menggendong tubuh istrinya. Padahal Dinka masih bisa jalan sendiri.
Bi Nah merasa heran dengan wajah Melvin. Baru kali ini dirinya melihat wajah majikannya itu terlihat panik. Jarang-jarang Melvin seperti itu.
"Apa yang bibi lakukan ayo masuk" bentak Melvin. Dinka sudah dimasukannya kedalam mobil dan sekarang Melvin mendorong bi Nah masuk kedalam kursi belakang.
__ADS_1
Melvin melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Sampailah di rumah sakit milik keluarganya. Melvin kembali menggendong Dinka membawanya dengan setengah berlari.
"Panggil dokter Mirna cepat" ucapnya pada perawat rumah sakit. Melvin membawa Dinka keruang IGD rumah sakit. Dibaringkannya tubuh sang istri.
Dinka merasa aneh dengan kelakuan suaminya. Yang tadinya khawatir dengan kandungannya malah merasa terhibur dengan raut wajah Melvin yang panik. Bagi Dinka itu terlihat lucu. Dinka tertawa geli tapi tidak disadari oleh Melvin. Dia sibuk kesana kemari menunggu dokter kandungan.
Tidak lama kemudian dokter yang dipanggilnya datang. Sang Dokter memeriksa kandungan Dinka. Dinka pun menjelaskan bahwa dia merasa nyeri di perut bawahnya dan ada tanda bercak merah di celana dalamnya.
Terlihat keringat mengucur deras di kening Melvin. Dia begitu merasa panik dan khawatir pada calon bayinya itu. "Tuan Melvin silahkan ikut saya keruang saya" ucap Dokter.
Dinka pun berdiri dan disuruh ikut keruang sang dokter. "Bagaimana dok tidak terjadi apa-apakan dengan bayinya?" tanya Melvin. Kini mereka sudah berada diruangan sang dokter.
Dinka dan Melvin mengangguk paham. "Apakah kalian masih sering berhubungan badan?" tanya Dokter. Melvin mengangguk sambil menjawab "masih dok".
"Sebaiknya jangan terlalu sering ya karena itu juga tidak baik bagi kandungan yang masih muda. Bila ingin berhubungan boleh seminggu sekali dan boleh sering nanti paling bagusnya kalau kandungan sudah menginjak usia 8 bulan atau 9 bulanan" sahut sang dokter.
Sang dokter tersenyum melihat Melvin. "Gerakan yang terlalu kuat saat berhubungan badan juga bisa membuat pendarahan karena hantaman yang cukup keras pada mulut rahim jadi untuk suami lakukanlah dengan lembut dan hati-hati ya" dokter menasehati.
Pipi Melvin menjadi merah karena ucapan sang dokter. Tidak hanya itu dokter pun terlihat menertawainya. Karena ulahnya memang sudah membahayakan janin yang dikandung sang istri.
__ADS_1
"Baiklah akan saya berikan beberapa suplemen agar sibayi dan ibunya bisa lebih kuat" ucap dokter.
Karena kepolosan Dinka bertanya sesuatu yang memalukan bagi Melvin. "Apa lamanya durasi saat seperti itu juga mempengaruhi dok?" tanya Dinka. Dokter tersenyum seraya berkata "sebaiknya untuk sementara jagan terlalu sering melakukannya ya bu".
Melvin ingin mencari celah untuk kabur karena saking malunya. Bila ada pintu ajaib doraemon mungkin dia sudah pergi dari hadapan sang dokter.
"Itu saja dari saya" ucap Dokter. "Kalau begitu terimakasih dok" sahut Melvin dengan cepat. Dan berdiri melangkahkan kakinya keluar dari ruang dokter. Untung langkah kakinya panjang jadi cepat keluar dari sana.
Bi Nah menunggu dengan cemas diluar ruangan. "Bagaimana tuan?" tanya bi Nah.
Melvin kembali memasang wajah dinginnya. Dia beranjak pergi ke luar rumah sakit tanpa menjawab. "Bagaimana non kandungannya?" tanya bi Nah pada Dinka.
Dinka menggenggam kedua tangan bi Nah. "Gak papa kok bi hanya kelelahan saja" jawab Dinka.
Bi Nah menuntun majikannya keluar dari rumah sakit. Padahal Dinka juga bisa berjalan sendiri. Namun dia menikmatinya karena bi Nah ini sudah dianggap seperti ibu baginya. Bahkan ibu kandungnya pun tidak bakalan memperlakukan dirinya sebaik bi Nah.
Melvin sudah terduduk di balik setir mobil. Dinka dan bi Nah masuk kedalam mobil. Sepanjang jalan pulang sampai dirumah pun Melvin tetap membungkam rapat mulutnya.
Rasa malunya tidak bisa ditahankan. Melvin mandi cukup lama. Selesai mandi Melvin menutup semua tubuhnya dengan selimut tanpa ada celah sedikitpun.
__ADS_1
Dinka jadi bingung dengan kelakuan suaminya. Dirinya jadi merasa bersalah sudah membuat Melvin marah. Padahal yang dirasa Melvin bukan marah melainkan malu. Dinka hanya terbengong sambil duduk diatas ranjang memandangi sang suami.