Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
109. Munculnya salah paham


__ADS_3

Bobby mendengar pertengkaran dari kedua orangtuanya. Dia sama sekali tidak tau apa yang memicu pertengkaran mereka. "Kak Bobby Kanaya takut, papah sama mamah marah-marah" ucap Kanaya adik kedua Bobby dari ayah tirinya. Bobby memeluk adiknya yang masih kecil.


Armand keluar dari kamarnya tanpa sepatah kata. Bobby mengikuti sang ayah tiri dari belakang. Dia ingin memastikan apakah Dinka memang anak kandung ayah tirinya atau bukan. Anak yang selama ini ditinggalkan ayah tirinya. Tapi melihat situasi dan kondisi yang kurang tepat membuatnya mengurungkan niatnya.


Armand mengetahui anak tirinya mengekor dari belakang. "Apa yang ingin kamu tanyakan" ucap Armand. "Apa benar..kalau.. " Bobby tidak melanjutkan ucapannya.


Armand menghela nafasnya. "Dinka memang anak papah yang dulu papah ditinggalkan waktu masih balita" sahut Armand. Bobby mendengarkan perkataan ayah tirinya dengan seksama.


"Ini semua memang salah papah sudah meninggalkan Dinka dan ibunya, ini juga yang membuat papah bertengkar dengan mamah mu" jelas Armand. Bobby sedikit terkejut dan merasa senang. Disisi lain dia merasa senang karena Dinka adalah saudaranya walaupun berbeda orangtua.


Betty keluar dari kamar dan berjalan kearah ruang tamu. Tempat suami dan anaknya mengobrol. "Pantas saja mamah merasa gak asing dengan wajah Dinka yang mirip dengan Kanaya dan Berlin" ungkap Betty dengan suara keras.


"Papah sudah tau kan kenapa papah masih menyembunyikan semuanya dari mamah" lanjut Betty masih dengan suara yang keras. "Sudah berulang kali papah katakan papah sama sekali tidak tau kalau Dinka adalah anak papah yang ditinggalkan dulu mah" jelas Armand. Kanaya mengikuti langkah sang mamah.


Bobby pun mengajak adiknya itu pergi. Agar tidak mendengar pertengkaran kedua orangtuanya. Pertengkaran pun kembali terjadi.


Reta sengaja bolos kuliah untuk menemani Dinka. Dia tau kakak iparnya masih syok setelah mengetahui kebenaran. Bahwa ayah tiri Bobby merupakan ayah kandungnya.

__ADS_1


Disisi lain Dinka juga memikirkan masalah Alfan. Dia menghawatirkan sang suami dan Alfan. "Pasti ayah bakal marah besar sama kak Alfan dan Melvin ta" ucap Dinka dengan wajah sendu. "Yaelah ngapain mikirin kak Alfan sama kak Melvin sih" gerutu Reta.


"Tadi pagi aja Melvin di hajar sama ayah, sewaktu kak Alfan balik juga mukanya udah babak belur" sambung Dinka. Reta menatap Dinka jengah. "Gimana perasaan loe setelah tau bahwa om Armand itu bokap loe yang selama ini loe cari?" tanya Reta. Dinka hanya menatap Reta.


Direbutnya cemilan yang sedang dimakan Reta. "Males bahas itu" ucap Dinka. Tangannya masuk kedalam bungkus cemilan dan mengambil cemilannya. "Ibu hamil dilarang makan snack kaya gini" Reta kembali merebut bungkusan cemilannya. Dinka memanyunkan bibirnya sendiri.


"Muka loe jelek kalo kaya gitu" ledek Reta. Pelayan kembarnya membawakan buah untuk Dinka makan. Si kembar ikut nimbrung dalam obrolan.


"Setelah tau bahwa om Armand itu orangtua kandung ku, aku jadi benci padanya" ucap Dinka. "Kenapa?" tanya Reta dengan cepat. "Aku tau gimana rasanya sakit hati ibu setelah ditinggalkan bapak dulu. Ibu menceritakan semua keluh kesah dan penderitaannya yang dirasakan selama ini" lanjut Dinka dan airmatanya mulai menetes.


Reta ikut menangis mendengar cerita Dinka. "Kata ibu bapak pamit cari kerja ke kota tapi semenjak itu tidak ada kabar lagi dan menghilang, bahkan ibu sama sekali tidak diberi uang. Jadi ibu melampiaskan rasa kecewanya padaku karena marah sama bapak" ucap Dinka. Reta memeluk sang kakak ipar dari samping. Si kembar juga ikut mendengarkan perkataan dari nona nya.


"Aku emang berharap bisa ketemu bapak lagi suatu hari nanti. Tapi sekarang setelah menemukan bapak hati ini malah benci padanya" Dinka menangis sesenggukan.


"Nasib loe buruk amat sih ka setelah jadi bahan pelampiasan ibu loe. Dan loe juga jadi pelampiasannya kak Melvin. Untung aja kak Melvin nyadar" ledek Reta agar Dinka tersenyum.


Dinka memukul bahu Reta tapi tidak keras. "Bukannya menghibur malah menghina" gerutu Dinka. "Uuuuhh sayang sini peluk dulu" ledek Reta lagi. Dinka meraih uluran tangan Reta dan memeluknya. Sikembar juga ikut memeluk Reta dan Dinka. Terlihat seperti kartun teletubies yang saling berpelukan.

__ADS_1


Sarah menghampiri anak gadis dan menantunya. "Tuh ada yang cari kamu ta" ucap Sarah. "Siapa bun?" tanya Reta.


"Kamu lihat sendiri sanah" bujuk Sarah. Dinka mengambil buah yang dihidangkan oleh sikembar. "Kamu ada masalah apa sayang?" tanya Sarah. Dinka menggeleng dan berkata "gak ada apa-apa kok bun".


Sarah melihat mata Dinka yang habis menangis. "Tapi mata kamu memperlihatkan bahwa kamu sedang ada masalah" ucapan lembut dari Sarah membuat Dinka kalut. Mata Dinka kembali berkaca-kaca. Dinka memeluk sang ibunda mertua.


"Banyak yang Dinka rasa bun, tapi udah mendingan kok udah cerita tadi sama Reta" ucap Dinka. Tangan Sarah mengelus rambut menantunya. "Kalau ada masalah yang kamu ingin ceritakan sama bunda cerita saja ya" sahut Sarah. Dinka mengangguk dengan cepat sembari tersenyum.


"Siapa yang datang bun?" Dinka kembali memakan buahnya. "Bobby" jawab Sarah. Mendengar nama Bobby disebut Dinka memasang wajah kakunya.


"Emm aku mau masuk kekamar dulu ya bun" ucap Dinka. Dia belum siap untuk bertemu Bobby. Walaupun Bobby tidak salah apa-apa namun dengan melihat Bobby mengingatkannya pada wajah Armand.


"Ngapain loe kesini?" tanya Reta. Ya Reta ini memang terkadang sengaja membuat Bobby kesal. Padahal dirinya tidak salah apapun pada Reta. "Mau ketemu bidadari tomboi" rayu Bobby. "Kok tau gue disini?" tanya Reta lagi. "Tadi gue ke kampus dan gak ngelihat loe, jadi gue langsung kesini deh" ungkap Bobby.


Alfan melihat Dinka sedang mondar mandir di dekat anak tangga. "Adik ipar kenapa?" tanya Alfan sembari mendekat. Dinka sedikit terkejut mendengar ucapan Alfan. "Gak usah terkejut juga kali" Alfan tersenyum melihat ekspresi wajah Dinka.


"Kak Alfan sejak kapan ada disini" ucap Dinka sembari tangannya mengelus dadanya. "Kamu kenapa mondar mandir?" tanya Alfan. Dinka tidak menjawab dan hanya tersenyum. Langkahnya menuju kedalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2