Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
140. Perhatian sang kekasih


__ADS_3

Bobby bersungut marah sambil berjalan ke arah mobilnya. Pintu mobil ditutup dengan keras. Tangannya memukul setir mobil. "Sialan kenapa jadi begini" gumam Bobby. Sejenak dia memejamkan matanya untuk menenangkan diri.


Dinka menengok dari dalam ruang tamu. Melihat mobil Bobby masih bertengger di halaman rumah Dinka menyuruh Reta untuk menemuinya.


"Ta kamu coba temuin Bobby deh, tuh mobilnya masih di sana" ucap Dinka sambil menunjuk dengan dagunya. Reta menengok kearah yang di maksud kakak iparnya. Reta hanya diam membisu tanpa menanggapi ucapan Dinka. "Udah sana temuin" saran Dinka. "Males ah kak" timpal Reta.


Melvin menghampiri mobil Bobby yang masih terparkir. Tangannya mengetuk jendela kaca mobil Bobby yang tertutup rapat sambil mengamati dari luar jendela kaca mobil. Namun mesin mobil sudah menyala. "Bob, buka pintunya" ucap Melvin. Karena tak ada jawaban dari Bobby, Melvin menggedor lebih keras. "Bobby" panggil Melvin dengan suara keras. Tetap tidak ada tanggapan dari Bobby.


Merasa ada yang aneh, akhirnya Melvin memecahkan kaca mobil milik Bobby. Dan benar saja Bobby sudah pingsan didalam mobil. Melvin memanggil para penjaga untuk membantunya mengeluarkan Bobby dari dalam mobil.


Diangkatlah Bobby dan di masukan kedalam kamar tamu. "Panggil dokter cepat" bentak Melvin pada seorang pelayan. Reta jadi heboh sendiri melihat kekasihnya yang pingsan. "Kak Melvin, Bobby kenapa?" tanya Reta panik.


"Sewaktu kakak memanggilnya dia sudah pingsan" ungkap Melvin. Dinka mencoba menenangkan Reta yang panik. Tidak berselang lama seorang dokter pun datang dan memeriksa Bobby. Reta menangis melihat keadaan Bobby yang pingsan. Sembari dokter memeriksa Melvin menjelaskan kronologisnya.


"Bagaimana dok?" tanya Melvin. "Saya belum bisa memastikan kondisi pasien pak, mungkin karena kekurangan oksigen di dalam mobil jadi dia pingsan" jelas sang dokter. "Tapi alangkah baiknya bila ada pemeriksaan lebih lanjut pada pasien, sebelumnya apa pasien pernah pingsan seperti ini?" tanya si dokter.

__ADS_1


"Belakangan ini Bobby memang mengalami insomnia dok" ungkap Reta. "Apa hanya insomnia?" tanya si dokter lagi. "Iya dok" jawab Reta dengan lugas.


"Saya sudah berikan obat bius, pasien akan tertidur. Besok-besok kalau bisa coba lakukan pemeriksaan lebih lanjut" saran Dokter. "Baik dok terimakasih" ucap Melvin. Reta langsung mendekati dan memegangi tangan Bobby. "Beb, bangun dong. Masa cuma gara-gara berantem kaya gini loe pingsan sih" Reta menekan tangan Bobby dengan halus.


"Beb bangun dong" imbuh Reta. Kini tangannya mencubit pipi Bobby. "Kamu yang bener aja ta masa di cubit kaya gitu mana dia bangun. Mau kamu pukul sama batu pun dia gak akan bangun orang dianya masih pingsan" ucapan konyol dari Dinka membuat sang suami mengerutkan alisnya.


"Sayang kamu istirahat ya, kita kembali ke kamar. Biar Reta yang disini menemani Bobby" Melvin segera meraih pundak sang istri dan membawanya keluar dari kamar. Karena tak ingin mengganggu sang adik, Melvin membawa istrinya pergi. Reta masih menangisi Bobby yang tak kunjung bangun. "Beb, bangun dong" ucap Reta sembari mengusap-usap pipi Bobby.


"Sayang apa tidak apa-apa kita tinggalin Reta sama Bobby berdua di kamar?" tanya Dinka dengan polosnya. "Emang kamu kira mereka mau ngapain?" tanya Melvin balik.


"Ya bukannya gitu kenapa gak kamu aja yang jagain Bobby atau pak Mimin" saran Dinka. "Aku mendingan jagain kamu dari pada harus jagain Bobby semalaman" Melvin mencubit pipi gembil Dinka.


"Ya tapi kalau mereka berbuat macam-macam gimana?" Dinka bersikeras tidak mau mengalah. "Ya mereka kan sudah besar, sudah bisa bedain mana yang baik dan buruk, kenapa malah kamu yang repot sendiri mikirin mereka sih" Melvin gemas pada Dinka tentang cara pola pikirnya.


"Iya aku tau mereka udah dewasa, tapi mereka kan saling cinta apalagi mereka belum nikah. Masa di biarin berduaan didalam kamar. Kamu aja waktu awal nikah gak cinta sama aku tapi menyentuh tubuhku" jelas Dinka panjang lebar.

__ADS_1


"Sayang itu beda lagi, kamu kan udah jadi istri aku ya wajar kalau aku menyentuh tubuh mu" sahut Melvin. "Ya makanya itu mereka belum menikah sayang, gak baik kalau dikamar cuma berduaan" Dinka semakin emosi karena Melvin tidak maksud apa yang di bicarakan Dinka. Disini Dinka tidak mau hal buruk terjadi pada Reta sebelum menikah dengan Bobby. Apalagi jika sampai Reta hamil duluan. Itu yang dipikirkan dan maksud pembicaraan Dinka pada sang suami.


"Sayang kamu gak perlu mikirin urusan mereka berdua, mending kamu mikirin tentang kita dan anak kita nantinya" timpal Melvin. Dinka memanyunkan bibirnya dan berjalan lebih cepat dari Melvin menuju ke kamar. "Sayang, kamu ngambek?" tanya Melvin.


Melvin menyusul langkah Dinka masuk kedalam kamar. "Kamu ngapain nyusulin aku" ketus Dinka. "Kenapa jadi kamu yang ngambek sama aku sih?" Melvin menatap wajah sang istri.


"Engga tuh biasa ajah" Dinka menyilangkan kedua tangannya kedada. Pandangannya langsung beralih ke tempat lain. "Mau makan apa biar aku ambilin ya, biasanya kalau orang lagi hamil tiba-tiba badmood karena dia pasti lapar" ucapan Melvin yang sok tau.


"Kata siapa...aku lagi gak laper kok" kata Dinka yang masih ketus. "Sayang jangan gitu dong, oiya kamu belum minum vitaminnya aku ambilin ya" Melvin segera beranjak pergi mengambil vitamin kehamilan untuk Dinka.


Dengan piring yang berisi irisan buah Melvin membawanya masuk kedalam kamar. Didalam kamar dia mendapati sang istri tertidur pulas. Sebuah kecupan mendarat di kening Dinka tanda ucapan selamat malam.


Melvin turun ke lantai bawah menghampiri sang adik yang masih berada di kamar tamu. Matanya melongok kedalam kamar. Terlihat Reta yang tertidur dengan posisi duduk di kursi dan kepala diletakkan di tempat tidur sambil bersimpuh.


Melvin tersenyum melihat sang adik. Sebagai kakak dia merasa bahwa sang adik sangat mencintai kekasihnya. Tidak hanya baik dan pengertian, Bobby juga lelaki yang cocok untuk disandingkan bersama Reta. Melvin berharap hubungan Reta dan Bobby sampai ke jenjang yang lebih serius. Dia akan ikut berjuang bila sang ayah menjodohkan Reta dengan lelaki lain.

__ADS_1


Mengingat perjodohan Melvin teringat akan kakak angkatnya. Dia juga sedang berusaha ikut mencari kekasih sang kakak. Karena cukup baginya yang merasakan tidak enaknya pernikahan karena perjodohan. Namun lambat laun Dinka berhasil membuat dirinya luluh dan jatuh hati.


__ADS_2