
Sepulang dari butik Clarisa mengajak Alfan makan malam. Tapi Alfan beralasan bahwa dia sangat lelah dan ingin segera pulang. Alfan pun mengantarkan Clarisa sampai di depan gerbang tidak masuk kedalam rumah. "Makasih ya, atau mau mampir dulu" ucap Clarisa. "Enggak" jawab Alfan dengan nada yang malas. "Baiklah sampai ketemu di acara pertunangan kita" Clarisa tersenyum semanis mungkin. Alfan langsung saja melajukan mobilnya.
Melvin telah memesan tiket untuk penerbangan ke singapura. Sore harinya sudah ada beberapa pengawal yang diam-diam diperintahkan oleh Melvin terbang ke singapura. Hanya tinggal menunggu dirinya.
Melvin menghampiri sang istri untuk berpamitan. "Sayang aku ada perjalanan bisnis malam ini, dan mungkin besok akan pulang" ucap Melvin. "Bukannya besok hari pertunangan kak Alfan. Kenapa kamu malah ada perjalanan bisnis" sahut Dinka.
"Aku pergi cuma sebentar saja kok sayang" ucap Melvin dengan nada lembut. "Baiklah kamu hati-hati ya" Dinka meletakkan si kecil ke ranjang bayi. Melvin mengecup bibir Dinka sekilas. Tidak lupa kening sang istri pun ikut di ciumnya.
Melvin berjalan menuju lantai bawah. Langkahnya terhenti karena suara sang ayah. "Mau kemana kamu?" Arya duduk di sofa ruang tamu sambil menyilangkan tangannya. Dia sudah tau tentang tiket pesawat yang dipesan oleh anak kandungnya itu. 'Gawat' batin Melvin. Kemudian dia menoleh pada sang ayah. "Mau kemana malam-malam begini" ucap Arya. "Aku ada perjalanan bisnis yah ke singapura" sahut Melvin.
Arya menunjukan resi pembayaran dari bank untuk penerbangan ke singapura. "Kamu mau pergi ke singapura. Setau ayah perusahaan tidak ada urusan bisnis disana" Arya berkata sambil tersenyum sebelah. "Ah itu, mendadak yah" Melvin mencoba tenang agar sang ayah tidak curiga. "Benarkah" Arya masih saja tidak percaya.
"Benar yah" sahut Melvin. Wajahnya di buat setenang mungkin. "Ayah rasa ada yang di sembunyikan oleh mu" ucap Arya sambil menghampiri sang anak. "Ah itu memang dadakan yah, tadi siang ada telepon aku harus ke singapura untuk ketemu klien" ucap Melvin yang mencoba mencari alasan. "Kamu pikir ayah gampang di bodohi. Kamu mau kesana untuk mencari wanita itu kan" Arya berkata dengan tegas.
__ADS_1
Melvin terkejut, namun dia tidak menampakkan ekspresi wajah terkejutnya. Ini merupakan point utama kelebihan Melvin. Bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya. "Kamu mengirim pengawal kesana secara diam-diam untuk menjemput wanita itu pulang kesini. Kamu pikir kamu bisa melakukannya" ucap Arya. Melvin tidak bisa menjawab. "Pengawal yang kamu kirim kesana sudah ayah gagalkan. Jadi tidak perlu repot-repot kesana lagi. Kamu tinggal duduk manis tenang dirumah bersama istri dan anakmu. Tidak usah ikut campur dengan urusan ayah" ucap Arya panjang lebar.
"Tapi ayah sudah keterlaluan, ini sudah kesekian kalinya ayah ikut campur dengan urusan pribadi kak Alfan. Ayah tidak sepatutnya begitu" sahut Melvin dengan cepat membela sang kakak. "Alfan itu anak ayah sudah sepantasnya dia menuruti kemauan ayah. Lagipula ini demi kebaikannya" ujar Arya dengan suara yang lantang. "Kebaikan ayah bilang, ayah sudah memisahkan antara Enzi dan kak Alfan. Ayah sudah menghancurkan kebahagiaan kak Alfan. Dan ayah bilang itu semua demi kebaikan kak Alfan" Melvin berkata dengan nada yang tinggi.
Seketika tangan Arya hampir menampar sang anak. "Ayah mau menamparku? Silahkan saja" Melvin menyodorkan wajahnya di dekat sang ayah. "Bukankah ayah pernah hampir membunuhku waktu itu" imbuh Melvin. "Ayo tampar tunggu apa lagi, atau ayah mau memukul ku silahkan" Melvin masih terus mendekati sang ayah dengan menyodorkan tubuhnya.
Arya diam sejenak sambil menghela nafasnya dengan panjang. "Kamu masuklah, ayah mau istirahat" Arya segera berjalan pergi menaiki anak tangga. Melvin menatap dengan kesal ayahnya. Dia tidak mengindahkan ucapan sang ayah dan akan pergi menuju ke bandara. Didepan rumah Melvin berpapasan dengan sang kakak yang baru pulang.
Melvin sampai di bandara dan langsung menuju boarding pass. Dia memberikan paspor dan tiket pesawat. "Maaf tuan tiket anda sudah di batalkan" ucap salah seorang petugas bandara. "Apa, coba tolong di cek lagi" sahut Melvin. "Tetap saja tidak bisa" ungkap si petugas.
"Pasti ini ulah ayah" gumam Melvin lirih. Tangannya mengepal karena sangat marah. Mau tidak mau Melvin pun kembali kerumah.
Matahari telah menyinari bumi. Kicauan burung membangunkan Alfan dari tidurnya. "Apa pak Mimin membeli burung lagi. Kenapa suaranya terdengar jelas" gumam Alfan. Suara pintu diketuk dari luar. "Kak Alfan bangun, udah waktunya sarapan" Reta berteriak membangunkan sang kakak. Karena tak kunjung ada jawaban Reta pun berteriak lebih keras. "Kak Alfan buruan sarapannya udah siap" Reta mengetuk pintu dengan cepat. "Iya bawel" sahut Alfan dari dalam kamar.
__ADS_1
Dinka menatap wajah sang suami yang tertidur di sebelahnya. Mata Melvin pun terbuka. Seperti biasa orang yang pertama kali dilihat ialah sang istri. "Kamu katanya mau ke singapura kenapa sudah pulang" ucap Dinka. Melvin tersenyum melihat wajah Dinka. "Ini dulu dong" Melvin menunjukan bibirnya.
Dinka menekan bibir Melvin dengan tangannya. "Ah sakit sayang" gerutu Melvin. "Morning kiss" Melvin meraih dagu Dinka dan mencium bibirnya. "Sudah" Dinka mencoba melepaskan diri.
Semua telah siap duduk di meja makan. Abimanyu dan istrinya pulang ke kampung terlebih dulu. Sedangkan orangtua Dinka masih disana. "Wah nak Melvin tiap hari makin tampan saja" puji Siti. "Itu sudah dari sananya bu" jawab Melvin dengan bangganya. Mereka semua melahap sarapan yang telah siap di meja. "Kamu tidak berencana untuk kabur kan malam ini" ucapan Arya sontak membuat Melvin panik. Karena dia akan menyembunyikan sang kakak dengan cara menculiknya.
"Mana mungkin yah, aku sudah menerima perjodohan ini" sahut Alfan. "Baguslah" timpal Arya. Sarah memandangi wajah Alfan yang sendu. "Kamu benar mau menikahi Clarisa? Sudah memantapkan hati?" tanya Sarah memastikan. "Iya bunda" jawab Alfan. Tapi wajah Alfan muram dan Sarah tau akan hal itu. "Kalau memang terpaksa jangan pernah menikahinya" Sarah menasehati.
"Bunda ini bagaimana sih, anak sulung kita sudah mengiyakan kenapa malah bunda bicara seperti itu" Arya menyela ucapan sang istri. "Namanya juga wanita yah, bunda gak mau kalau Alfan merasa terpaksa untuk menikah. Karena menikah itu sekali seumur hidup dan pastinya dengan orang yang di cintai" jelas Sarah.
Arya memandang Alfan dengan tatapan tajamnya. "Iya aku siap bunda" jawab Alfan yang tau sang ayah memberikan kode agar Alfan menjawab sesuai keinginannya. "Tuh kan apa ayah bilang, Alfan sudah memantapkan hatinya kok" ungkap Arya. Sarah hanya melirik pada sang suami. Yang dilirik pun merasa canggung dan mengambil minumnya.
Melvin memandangi sang kakak dengan rasa iba. Bukan karena kasihan namun lebih tepatnya dia khawatir dengan sang kakak. "Ayo kak kita berangkat" Melvin berdiri dan mengajak Alfan pergi kerja. Tidak lupa mencium kening sang istri dan berpamitan pada yang lain.
__ADS_1