
Takut kalau sang suami akan kerumah sakit Dinka pun menyusul Melvin ke lantai bawah. Terlihat suaminya sedang mengobrol dengan Alfan. Dinka melangkah menuju dapur karena merasa sedikit lapar.
"Sayang kamu bangun?" tanya Melvin. "Aku laper" jawab Dinka. "Aku ambilin makanan ya, kamu duduk disini dulu" Melvin melangkah menuju dapur. Melihat Melvin sudah tidak terlihat Dinka pun segera memberitahu sang kakak ipar.
"Kak gimana dong aku sama sekali gak bisa nahan Melvin lagi, aku gak tega sama dia" ungkap Dinka.
"Kamu tenang aja aku udah bilang bahwa keadaan bunda udah stabil dan Melvin akan ajak kamu pulang besok pagi" jelas Alfan.
"Jadi beneran bunda udah baikan" sahut Dinka dengan sumringah. "Kamu tuh ya, itukan cuma akal-akalan kakak buat Melvin. Keadaan bunda masih tetep sama" Alfan berkata sambil mendekat pada Dinka. Melvin melihat Alfan berbisik-bisik dengan Dinka.
"Lagi bisikin apa nih kayanya seru" Melvin membawa nampan berisi buah dan roti untuk Dinka. "Gak papa kok" jawab Dinka dengan cepat. Dinka menarik tangan Melvin dan menggandengnya." Sayang ayo kekamar" Dinka mengajak Melvin masuk kedalam kamar. Melihat betapa mesranya sang adik dengan adik iparnya membuat Alfan geram. "Iya tau yang udah suami istri mau bermesraan didalam kamar" ledek Alfan.
Dinka tersenyum lebar menanggapi Alfan. "Gak gitu juga kali di depan kakak, gak tau apa kalau aku jomblo" gerutu Alfan.
Melvin menyuapi sang istri. "Maaf ya buat yang tadi" ucap Melvin. Dinka asik memainkan game pou di ponsel sang suami. "Maaf yang apa?" tanya Dinka.
"Aku dah ngomong egois sama kamu" kata Melvin menyuapi sang istri. "Maaf juga karena aku udah egois vin" Dinka memakan buah dari tangan Melvin.
__ADS_1
"Aku tau kamu khawatir sama kondisi bunda, jadi kamu bersikeras pengen kerumah sakit. Aku aja yang kurang pengertian sama kamu vin" ungkap Dinka. 'Maaf juga udah sembunyi masalah ini dari kamu vin' batin Dinka.
"Kamu kenapa kok malah bengong" Melvin mengusap lembut pipi chuby Dinka. "Gak papa" sahut Dinka sembari tersenyum. "Kita tidur ya besok pagikan udah harus terbang ke indo" Melvin meletakkan piring keatas meja. "Kita gak jadi kerumah sakit dulu buat jenguk bunda?" tanya Dinka.
"Kak Alfan bilang kondisi bunda udah stabil jadi gak perlu kerumah sakit, kita langsung terbang ke indo aja" ungkap Melvin. Dinka benar-benar merasa bersalah pada Melvin mengenai rahasianya pada Melvin.
"Sayang maafin aku ya" kata Dinka. Matanya berkaca-kaca menatap sang suami. "Kamu kenapa nangis cengeng banget sih" Melvin mencubit hidung pesek istrinya. "Hidung kamu pesek banget sih" keluh Melvin. Dinka memanyunkan bibirnya. "Iya lebih mancung hidung kamu" gerutu Dinka.
Melvin tersenyum sambil berkata "semoga saja anak kita mirip aku hidungnya, gak kaya kamu pesek". Melvin memegangi dagunya. "Kalo cowok pasti tampannya kaya aku dong dan kalo cewek cantiknya kaya aku juga" ucap Melvin dengan antusias. Dinka membalikkan badannya memunggungi Melvin. "Gitu aja ngambek sih kamu" ledek Melvin sambil tertawa.
"Iya semuanya aja mirip kamu, karena semenjak hamil aku udah sebel banget sama sifat dan watak kamu tau" keluh Dinka. Melvin merasa puas sudah berhasil menjahili Dinka. Dia tidak berhenti tertawa. "Sayang kamu aja udah usil sama aku dengan merias wajah ku pake alat make up kan sekarang gantian dong aku jahilin kamu" sambung Melvin.
Dinka menepis tangan Melvin dari perutnya. "Gak usah pegang-pegang, lama kelamaan pasti tangan kamu nakal naik ke bagian atas" keluh Dinka.
Sinar matahari bersinar masuk melalui kaca. Gordin kamar memang tidak di tutup. Membuat mata Dinka merasa silau. Kancing piyamanya sudah terbuka bagian atas. Pasti itu ulah sang suami tanpa Dinka sadari.
Langkahnya masuk kedalam kamar mandi. "Kan benerkan semua ulah Melvin jadi pada merah begini" Dinka berkaca melihat areal dadanya sudah penuh dengan tato yang dilukis Melvin.
__ADS_1
Setelah selesai bersiap Dinka turun kelantai bawah di ikuti oleh Melvin. Di sana sudah ada Reta dan Bobby dengan beberapa koper. "Kalian kapan kesini?" tanya Dinka. "Kemaren malam kita sampai disini kaka ipar" jawab Bobby.
Reta berlari memeluk Dinka melepaskan rasa kangen. Padahal baru dua hari tidak bertemu. "Kok aku gak lihat kamu sama Bobby ta" ungkap Dinka. "Iya gue semalem kerumah sakit jagain bunda bareng paman Jay. Tapi bukannya Bobby pulang kerumah emang loe gak ketemu" jelas Reta.
"Gue kan langsung masuk ke kamar dan tidur jadi gak ketemu dengan kakak ipar" sahut Bobby. "Gue gak ngomong sama loe" gerutu Reta.
"Kalian ke sini kenapa gak ngabarin kakak?" tanya Melvin pada Reta. "Kita kesini juga buru-buru kak. Aku juga udah ketemu sama kak Alfan dirumah sakit sekarang malah diusir suruh balik ke indo" ungkap Reta.
"Kamu udah melihat bunda. Kondisinya gimana sekarang?" tanya Melvin lagi. "Gimana mau lihat bunda orang aku kerumah sakit gak di bolehin masuk sama paman Jay. Jadi nunggu dari luar" keluh Reta.
"Yang ada didalem cuma ayah" imbuh Reta. Melvin merasa janggal dengan semua ini. Dia merasa ada yang disembunyikan darinya dan Reta. Baru pernah Reta menjenguk bunda tidak boleh melihat kondisinya. Begitu juga dirinya yang sama sekali tidak di ijinkan kerumah sakit oleh Alfan. Tatapan matanya beralih pada sang istri.
"Sayang kamu gak sembunyiin sesuatu dari aku kan?" tanya Melvin memastikan. Melihat gelagat Dinka yang aneh membuatnya curiga. "Mana mungkin sayang" jawab Dinka tersenyum. Tangannya diremas-remas takut ketahuan oleh Melvin.
"Tapi kamu kelihatan sedang menyembunyikan sesuatu dari aku" Melvin mengusap keringat yang keluar dari kening Dinka. Dinka pun berjalan sambil berucap "mana ada sih aku nyembunyiin sesuatu dari kamu". Langkah Dinka diikuti oleh Reta.
"Ka tunggu dong" sahut Reta. Melvin masih mencerna situasi dan kondisinya. Dia merasa sangat janggal pasti sang istri tau sesuatu. "Kakak ipar ayo berangkat" ajak Bobby.
__ADS_1
"Sejak kapan aku jadi kakak iparmu" gerutu Melvin. Tatapan tajam Melvin membuat bulu kuduk Bobby berdiri. "Sungguh sangat menusuk tatapannya" gumam Bobby pada diri sendiri.