
Alfan bangun terlebih dahulu. Kepalanya sedikit pusing karena efek obat. Ditatapnya wajah Enzi yang tertidur nyenyak. Alfan mengambil gelas menuangkan air putih dan meminumnya.
Enzi merasakan nyeri dibagian bawah tubuhnya. Matanya sedikit demi sedikit terbuka. Melihat Alfan dia langsung menjerit. Alfan pun kaget mendengar suara jeritan Enzi. Sontak air yang ada dimulutnya tersembur keluar. "Pak Alfan kenapa bisa ada disini?" tanya Enzi heran. Dia sama sekali belum ingat kejadian semalam.
Alfan menelan sisa air yang ada di mulutnya. "Kamu gak ingat kejadian semalam" sahut Alfan. Enzi melihat ketubuhnya yang tidak mengenakan sehelai benang pun. Tangannya membalut erat tubuh dengan selimut yang dipegang. "Pak Alfan apa kita semalam..." ucap Enzi namun terhenti.
Alfan tersenyum sambil mendekat. "Kamu tenang aja kalau sampai ada apa-apa aku bakal tanggung jawab kok" Alfan meraih kedua tangan Enzi. Terlihat airmata Enzi menggenang di pelupuk mata. Alfan memeluk tubuh Enzi dan mengusap bahunya. Suara tangisan Enzi terdengar.
Siti dan Rama pamit pulang ke kampung halaman dipagi buta. Siti sengaja membujuk suaminya agar cepat kembali kedesa. Padahal mereka berencana kembali beberapa hari lagi. Tapi kepulangannya dipercepat. Bella dan Abimanyu akan mengunjungi kakak Abimanyu yang bekerja dikota itu jadi tidak ikut pulang. Kedua orang tua Dinka di antar pak Mimin dan beberapa bodyguard lainnya sampai ke tempat tujuan. Dengan menggunakan mobil.
Melvin sudah menghadap sang ayah sebelum sarapan. Alfan belum juga ditemukan. Tanpa mengatakan apapun Arya memandangi sang anak. Tatapannya begitu tajam. "Dimana kamu sembunyikan kakak kamu?" tanya Arya.
Melvin tau pasti bodyguard yang semalam sudah memberitahukan semua pada ayahnya. Tapi si bodyguard tidak memberitahukan keberadaan Alfan. Dia melihat wajah ke empat bodyguard sudah babak belur dihajar oleh Arya.
"Masih mau bungkam" ucap Arya dengan nada yang mulai meninggi. Melvin tetap tidak menjawab sang ayah.
Dinka meminta bantuan bunda mertuanya untuk menenangkan ayah mertua. Dia takut Melvin akan dihajar oleh ayahnya. Melvin sudah bercerita semua pada Dinka rencana yang disusunnya.
__ADS_1
"Bunda tolong mas Melvin" pinta Dinka. "Memangnya ada apa dengan Melvin sayang?" tanya Sarah. "Dia dipanggil oleh ayah ke ruang kerjanya, Dinka takut sesuatu terjadi pada mas Melvin bunda" jelas Dinka.
Sarah berjalan perlahan menuju ruang kerja suaminya dituntun oleh Dinka. Benar dugaan Dinka, Melvin sudah mendapat satu bogeman di bagian pipinya.
"Ayah sudah" Sarah masuk tepat pada waktu Melvin akan dihajar lagi. Sarah menghampiri suaminya dan Dinka menghampiri Melvin. "Bunda kan sudah bilang jangan kasar sama anak-anak" keluh Sarah. Arya mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Sayang bawa suami mu keluar dari sinih" ucap Sarah pada Dinka. Dinka pun membawa suaminya keluar dari ruang kerja mertuanya.
"Bun sampai pagi ini pun Alfan belum ketemu juga" sahut Arya sedikit tegas. Sarah mengelus tangan suaminya. "Biarlah Alfan memilih jalannya sendiri yah, dia kabur dari acara pertunangan itu berarti dia gak mau dijodohkan" kata Sarah.
"Tapi bun ayah sudah membuat kesepakatan" sahut Arya. Kini posisinya duduk di sofa. Sarah mengikuti sang suami dan duduk disampingnya. "Mana yang lebih penting antara kesepakatan dengan kebahagiaan anak sendiri?" tanya Sarah sambil menatap suaminya. Arya menoleh dan menatap wajah Sarah.
"Apa ayah mau hal yang menimpa Dinka juga menimpa pada wanita yang dinikahi oleh Alfan karena perjodohan?" tanya Sarah. Arya tetap terdiam. "Bunda tau Alfan tidak seberani dan senekad Melvin namun apa ayah mau membuat Alfan tidak bahagia karena perjodohan itu. Beruntunglah Melvin merusak acara itu yah, walaupun ayah malu tapi setidaknya pertunangan itu gak terjadi" Sarah menasehati suaminya dengan sangat lembut.
Pikiran Arya sedang kacau balau. Tangannya mengusap wajahnya sendiri. "Ayo sarapan bun sudah waktunya sarapankan" ajak Arya sambil merangkul sang istri.
Melvin sudah duduk dikursinya. Mata tajam sang ayah kembali tertuju padanya. Dikunyahnya dengan pelan makanan didalam mulut. Sebelum Alfan kembali pasti Melvin yang akan di incar oleh sang ayah.
__ADS_1
Melvin pun pamit berangkat kerja pada Dinka dan bundanya. Tanpa berani melirik sedikit pun pada sang ayah.
Suara ponsel Arya berbunyi. Ada anak buahnya yang menghubungi melaporkan telah menemukan keberadaan si sulung.
Setelah menunggu waktu yang cukup lama Alfan dibawa pulang oleh bodyguard yang disuruh Arya. Wajahnya ada sedikit lebam bekas pukulan dari bodyguard sang ayah. Arya memang mengijinkan anak buahnya untuk menggunakan cara kasar apabila Alfan menolak dibawa pulang. Sedangkan bodyguard yang disuruh Melvin juga ikut kembali. Mereka dihajar dan dipukul oleh Arya karena sudah membantu rencana anaknya.
"Berani ya kalian membantu Melvin" bentak Arya. Para bodyguard itu pun menunduk dihadapan Arya. "Kalau kalian sampai berani membantu rencana Melvin lagi, kalian akan tau akibatnya!" teriak Arya. Kini tatapan mata tajam Arya beralih pada Alfan. Kemarahannya sudah sampai puncak melihat Alfan.
Alfan pun segera menunduk melihat tatapan tajam sang ayah. Benar-benar bagaikan bom yang akan meledak. "Puas kamu" ucap Arya dengan nada yang tinggi.
Alfan sama sekali tidak berani menjawab. Berkutik sedikitpun tidak berani. "Puas sudah mempermalukan ayah atas kelakuan mu itu" sambung Arya dengan tegas.
"Maaf yah ini semua salah Alfan" sahut Alfan masih menunduk. "Ayah tau ini pasti rencana Melvin, kamu tidak akan berani sampai nekad seperti itu" Arya mengepalkan tangannya namun ditahan. Rasanya dia ingin sekali memukul Alfan. Tapi ditahan karena sang istri sedang memandanginya dari jauh.
"Maaf yah ini semua salah Alfan" ucap Alfan mengulangi kalimatnya. Arya menghela nafasnya dengan kasar. "Pergi dari hadapan ayah" ucap Arya dengan cepat.
Sarah menghampiri si sulung dan mengelus wajah Alfan yang sudah lebam karena pukulan dari anak buah suruhan suaminya. "Ya ampun fan kenapa kamu nekad sekali sih" ucap Sarah. Matanya berkaca-kaca melihat wajah tampan anak angkatnya yang lebam itu.
__ADS_1
Alfan tersenyum sambil meraih tangan sang bunda. "Maaf ya bun" ucap Alfan. Sarah mengajak Alfan masuk kedalam rumah.