
Melvin akhirnya pergi ke rumah sakit sendirian. Kedua mertuanya tidak jadi ikut. Kecepatan mobilnya begitu kencang. Melvin sengaja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena masih dalam keadaan marah. Di lampu merah Melvin menghentikan laju mobilnya. "Sial kenapa aku baru tau tentang foto itu" Melvin memukul kemudi mobil. Dia pun mengambil nafas dalam-dalam agar sedikit rileks.
Karena Melvin tidak mau sang istri melihatnya dalam keadaan marah. Dinka tau persis wajah Melvin saat marah. Dan bisa saja membuat Dinka kembali takut padanya. "Huft tenang vin tenang" ucap Melvin berbicara sendiri.
Lampu lalu lintas kembali hijau. Melvin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kini dirinya sudah cukup tenang. Bibirnya sengaja tersenyum agar wajahnya tidak terlihat marah.
Sampai di rumah sakit Melvin tidak sengaja melihat Ronald bersama Serin. Tapi dia tidak menyapa keduanya. "Ada keperluan apa Ronald kerumah sakit bersama wanita itu" gumam Melvin. Dia menunggu di parkiran sejenak. Agar tidak berpapasan dengan Ronald dan Serin. Baginya sudah muak melihat apalagi bertemu dengan wanita berbisa itu.
Melvin masuk kedalam ruang vvip tempat Dinka diberada. Sang istri sudah di pindahkan ke tempat yang lebih bagus. "Sayang" Melvin mendekat pada sang istri. Dinka memanyunkan bibirnya menatap suaminya. "Kenapa dengan bibirmu? Minta di cium ya" ledek Melvin sambil mendudukan diri.
"Emang kak Alfan gak bilang ya" jawab Dinka. "Dia hanya bilang aku harus segera kesini karena kamu menungguku" sahut Melvin.
Dinka memalingkan wajahnya dan menghadap ke tembok. "Ada yang salah ya?" tanya Melvin dengan nada lembut. "Aku berpesan pada kak Alfan supaya kamu kesini membawa bunga atau coklat" Dinka berkata dengan manja.
"Kamu mau bunga, sebentar ya aku belikan dulu" Melvin bangun dari duduknya. "Gak usah" gerutu Dinka. "Bener nih gak usah" Melvin sudah dalam posisi berdiri. "Atau mau coklat" tawarnya. Dinka menggelengkan kepala. Langkah kaki Melvin kembali mendekati sang istri dan buah hatinya.
__ADS_1
Tangan Melvin beralih pada sang buah hati. "Anak kita dari tadi tidur terus ya?" tanya Melvin sambil menggendong si kecil. "Namanya juga bayi ya tidur terus lah" timpal Dinka. "Iya sayang aku kan tanya baik-baik tapi nada bicara kamu terdengar tidak enak" keluh Melvin sambil menatap istrinya. Dinka sama sekali tidak merespon. Mencoba untuk jual mahal pada suaminya. Tapi Melvin terus merayu Dinka agar tidak marah karena tidak di bawakan bunga dan coklat.
Pak Mimin masuk kedalam ruang rawat Dinka. "Tuan muda sudah datang" ucap pak Mimin. "Pak Mimin kenapa gak ikut pulang bersama kak Alfan" ujar Melvin. "Kalau saya pulang nona muda siapa yang menjaga tuan" jawab pak Mimin.
Melihat mata pak Mimin yang kurang tidur, Melvin pun menyuruh kepala pelayannya itu untuk pulang dan beristirahat. "Karena aku sudah disini lebih baik pak Mimin pulang saja" saran Melvin.
"Apa tidak apa-apa kalau tuan muda menjaga nona sendirian disini?" tanya pak Mimin memastikan. "Ya gak papa dong pak, pak Mimin pulang saja istirahat. Atau kalau engga suruh supir ku mengantarkan bi Nah kesini untuk menemani Dinka" sahut Melvin. "Baiklah tuan" jawab pak Mimin.
Alfan sudah berada di kantor. Dia sungguh sibuk karena pekerjaan Melvin menumpuk dan harus dikerjakan satu persatu. Tumpukan berkas itu membuatnya pusing. Ditambah lagi dia juga kurang tidur. Belum sempat duduk Silma membawakan beberapa tumpuk berkas lainnya. "Astaga kamu tidak bisa lihat, yang ini saja belum di kerjakan kamu sudah membawa lagi" keluh Alfan. Silma yang tidak tau apa-apa kena imbas kemarahan Alfan.
"Iya saya tau" ucap Alfan sedikit keras. "Maaf pak" Silma memasang wajah tidak bersalah. "Terus ngapain masih disini" Alfan sedikit ketus. "Iya pak ini saya keluar" Silma segera keluar dari ruang kerja bosnya.
"Ada apa dengan pak Alfan, masih pagi gini udah marah-marah aja tapi tetep ganteng sih" gumam Silma sedikit keras. Tanpa sadar Alfan di belakangnya dan mendengar. "Kamu ngomong apa" Alfan berkata dengan cepat. Silma tersentak kaget karena suara Alfan. "Eh ada anda ya pak, bukan apa-apa kok pak" Silma mencoba menyangkalnya.
"Kamu sudah dapat rekan belum?" tanya Alfan. "Belum pak" jawab Silma. "Kebetulan adik perempuan ku lagi magang, aku sudah menyuruhnya untuk bekerja dengan mu dia akan datang siang ini" sahut Alfan. "Baik pak siap" timpal Silma. Alfan kembali kedalam ruang kerjanya. Dia mulai mengerjakan satu persatu berkasnya.
__ADS_1
Waktu makan siang tiba. Silma mengetuk pintu ruang kerja Alfan untuk memberikan makanan. "Permisi pak Alfan ini makan siang anda, mungkin anda sibuk jadi saya belikan" Silma menaruh kotak makan siang di meja. "Laporan keuangan bulan ini sudah kamu buat?" tanya Alfan.
"Itu bukannya pak Melvin yang mengerjakan ya pak" jawab Silma. "Dari semua departemen dan cabang perusahaan sudah mengumpulkan laporan keuangannya?" tanya Alfan lagi dengan nada yang serius. "Sudah pak" jawab Silma. Alfan kembali fokus pada pekerjaannya lagi.
Di luar ruangan terlihat ada wanita yang tomboi datang. Di bilang tomboi namun mengenakan rok mini dan make up nya sangatlah menor. "Heh loe yang namanya Silma" ucap si wanita tomboi sambil mengunyah permen karet.
Silma tidak sempat menjawab karena sibuk menatap wanita yang berdiri di depannya itu. Dia sampai heran menatap penampilan wanita tomboi tersebut. "Woiiiii punya mulut gak?" tanya si wanita tomboi dengan ketus namun suaranya cempreng.
Alfan keluar dari ruang kerjanya. Seketika mata Alfan melotot melihat penampilan si bungsu. "Astaga dek, kamu gak salah ke kantor memakai baju kaya gitu" Alfan melotot sambil melihat Reta dari atas sampai bawah. "Bagus ya tingkah kamu, mau buat kakak malu" Alfan mendekat dan menjewer telinga Reta. "Ampun kak, sakit" gerutu Reta.
Silma sampai dibuat melongo oleh kakak beradik itu. "Ini adik anda pak?" tanya Silma. Alfan tidak menggubris pertanyaan Silma, karena fokus memarahi sang adik. "Kamu pikir ini club malam, seenaknya saja memakai kaya gitu. Baju ketat dan rok mini" Alfan menarik baju Reta dan roknya. "Ya habis aku bete sama kakak, aku kan lagi magang di perusahaannya om Armand. Malah di lempar kesini" Reta menyilangkan tangannya kedada. "Kamu disana cuma enak-enakan pacaran aja sama Bobby, emang kamu pikir kakak gak tau apa" ucap Alfan memarahi adik angkatnya.
Wajah Reta menjadi cemberut. "Silma kamu ajari dia" perintah Alfan. "Baik pak" Silma mengangguk. Alfan mengambil tisu dan membersihkan make up Reta yang menor. "Aku bisa sendiri kak" Reta merebut tisu di tangan Alfan. "Malu-maluin aja kamu" gerutu Alfan.
Reta memanyunkan bibirnya berulang kali. Dan meniru setiap ucapan Alfan yang dilontarkan pada dirinya. Silma yang melihat menahan tawanya. Baru kali ini dia melihat adik dari kedua bosnya.
__ADS_1
"Apa lihat-lihat" ucap Reta ketus pada Silma. Seharian ini Silma menjadi korban amarah kakak beradik. Padahal dia pun tidak salah apa-apa.