
Karena merasa matanya belum mau terpejam Melvin mendatangi kamar sang kaka. Melvin mengetuk pintu kamar Alfan. "Apakah kaka sudah tidur?" tanya Melvin dari luar pintu.
Alfan baru akan terlelap namun masih tersadar. Tangannya meraih gagang pintu dan membukanya. "Ada apa?" tanya Alfan.
Melvin tersenyum sambil berkata "maukah kaka menemani ku minum?" tanya Melvin. Dengan antusias Alfan mengangguk. Mereka berjalan beriringan kearah dapur. Dan mengambil beberapa botol wine.
"Sepertinya lebih asik minum diteras belakang rumah" saran Alfan dan diangguki oleh Melvin. Mereka duduk dikursi masing-masing. Karena Melvin lah yang mengajak sang kaka dia menuangkan wine kedalam gelas Alfan.
"Apa ada masalah?" tanya Alfan. Melvin menuangkan wine pada gelasnya sendiri dan menenggak sampai habis. Melvin menghela nafasnya panjang.
"Apakah kaka selama ini tidak merasa kalau aku begitu bodoh?" tanya Melvin balik. Alfan merasa ada sesuatu yang mengganjal dihati sang adik. Apa memang Melvin ini sedang dilanda kegalauan karena hubungannya dengan sang istri.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Alfan sebagai jawaban. "Kak Alfan lihat kan betapa bodohnya aku" jawab Melvin.
Melvin kembali menuangkan gelasnya dan meminum wine sampai habis. "Kau pernah bilang harus ada orang yang melewati batas agar hubungan ku dengan Dinka tidak bermasalah. Selama ini aku begitu bodoh sudah menyia-nyiakan istriku, kenapa aku baru sadar setelah dia begitu banyak merasakan sakit hati". Melvin berucap sampai matanya berkaca-kaca.
Alfan tau persis apa yang dirasakan sang adik. Dirinya jadi merasa bersalah karena sudah menyukai Dinka. Namun demi kebahagiaan Melvin dia akan mengalah. Karena kebahagiaan sang adik lebih penting baginya. Walaupun harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.
Alfan menuangkan gelas Melvin yang sudah kosong. "Bicaralah keluarkan semua unek-unek dalam hatimu, sebelum kau berubah pikiran" sahut Alfan.
Melvin menatap sang kaka dengan mata yang sudah mengeluarkan airmata. Dia menenggak wine secara perlahan. "Aku juga sudah bodoh karena menghianati perasaan orang yang selama ini ada didekatku" Melvin mengaku pada Alfan. Karena Alfan sedang merasa kalut dia tidak tersadar. Alfan lebih fokus pada airmata Melvin.
__ADS_1
"Hei bodoh kenapa kau menangis, kau ini pria tidak malu menangis dihadapan ku" ledek Alfan. Melvin memulas senyuman yang lebar sampai terlihat barisan giginya.
"Kau tau kau itu memang adikku yang bodoh dan bandel. Karena kau aku harus rela berkorban banyak tapi kau selama ini tidak sadar, karena kau memang bodoh sungguh bodoh" goda Alfan. Melvin manggut-manggut sambil tertawa kecil.
"Kau mau kuwalat menertawakan ku" protes Alfan. Melvin kembali menenggak wine. "Awal menikah aku merasa keberatan dengan keputusan ayah dan sangat marah pada ayah, aku melampiaskannya dengan cara menyiksa Dinka. Bahkan dimalam pertama kami, aku memperlakukannya dengan kasar" kata Melvin.
"Aku masih teringat bagaimana Dinka menangis saat malam pertama kami. Belum sampai disitu saja aku bahkan sering melakukan itu dengan kasar padanya" Melvin menggerakan gelas yang sudah berisi wine. Alfan dengan telaten mendengar keluh kesah Melvin.
"Demi bunda terpaksa aku menerima pernikahan itu, aku tidak pernah terpikirkan bisa sampai jatuh cinta pada istriku sendiri. Aku pernah berpikir akan menceraikan Dinka setelah bunda pulih" ungkap Melvin sambil tersenyum masam.
Melvin meraih botol wine dan meminumnya langsung dari botol. "Pelan-pelan tidak ada yang akan merebutnya darimu" Alfan ikut memegangi botol.
Tak terasa Melvin sudah mabuk tapi Alfan belum. Melvin meletakkan kepalanya diatas meja.
"Kau begitu berat vin" gerutu Alfan. Ditaruhnya badan Melvin pada sofa diruang keluarga. Alfan melangkahkan kakinya mencari pak Mimin.
Dengan bantuan pak Mimin Alfan membawa Melvin kedalam kamarnya. Dan menjatuhkan tubuh Melvin diatas ranjang. Alfan tersenyum melihat wajah Dinka yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka.
"Kalian memang sangat merepotkan ku" ucap Alfan lirih namun masih terdengar oleh pak Mimin. "Kenapa tuan?".
"Tidak ada" jawab Alfan. Alfan keluar dari kamar Melvin dan berjalan kearah kamarnya sendiri. Mulai sekarang dia akan kembali mengubur rasa sukanya pada Dinka. Alfan menghela nafasnya panjang dan memejamkan mata.
__ADS_1
+++
Didalam kamar mandi sudah ada dua orang yang sedang melakukan aktivitasnya sebagai suami istri. Melvin ini benar-benar tidak mengindahkan nasehat dari dokter.
Namun Melvin melakukannya dengan lembut dan berhati-hati. Setelah selesai mereka lanjut mandi. Dinka sengaja keluar kamar mandi terlebih dahulu karena jam sudah menunjukan pukul 07.45 pagi.
Sudah saatnya berangkat kuliah karena ada jam pagi. Dinka bergegas turun ke lantai bawah dan memakan sarapannya. Alfan menghampiri sang adik ipar.
"Lah kenapa tidak menunggu?" tanya Alfan. Mulut Dinka penuh dengan makanan. "Maaf kak" ucapnya.
"Kunyah dulu baru bicara" Alfan memberikan air putih pada Dinka. Dengan cepat Dinka menghabiskan sarapannya.
"Aku pergi duluan ya kak" Dinka berlari keluar rumah sambil mengusap mulutnya dengan tisu. "Jangan berlari" teriak Alfan.
Turunlah singa jantan yang sudah rapih dengan setelan jasnya. "Bagaimana sudah merasa baikan?" tanya Alfan memastikan. Melvin mendudukan bokongnya dikursi dan mengambil sendok.
"Sudah mendingan" jawab Melvin. "Itu lah gunanya kamu punya kaka" ucap Alfan dengan bangga. Melvin tersenyum dan mengangguk perlahan.
Mereka berdua berangkat kekantor bersama. "Tadi pagi ayah menelpon ku, ayah bilang akan pulang dalam waktu dekat ini" ucap Melvin. "Baguslah berarti kondisi bunda sudah tidak parah lagi" sahut Alfan sambil menyetir.
"Oiya kau sudah beritahukan tentang kehamilan Dinka?" tanya Alfan. "Belum" jawab Melvin. Alfan mendesah dan berkata "kenapa tidak kau beritahu itu kabar yang bahagia untuk mereka".
__ADS_1
"Hanya saja menunggu waktu yang tepat" jawab Melvin. Alfan kembali fokus mengemudi.