Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
70. Kesabaran berbuah manis


__ADS_3

Sikembar selesai merias wajah Dinka. Dan mengekori Dinka turun kebawah. "Pagi adik ipar" sapa Alfan. Melvin tidak terlihat dimeja makan karena sudah berangkat kekantor. Dinka duduk dikursinya. "Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Alfan.


Dinka memandang Alfan. "Memang terlihat aneh kak?" tanya Dinka balik. "Aneh sedikit tapi tetap cantik" ucap Alfan sambil menggerakan tangannya.


Mata Dinka terlihat sembab namun sikembar menyiasatinya dengan make up agar tidak terlihat jelas. "Apa sesuatu terjadi padamu dan Melvin?" tanya Alfan. Dinka mengangguk dan mengambil buah.


"Kenapa?" tanya Alfan lagi. "Bagaimana perkembangan hubungan kaka dengan Serin?" tanya Dinka balik. Alfan tersedak makanan atas pertanyaan dari Dinka.


Dinka memberikan minuman pada Alfan. Alfan meraih gelas dan meminumnya. "Kenapa kau bertanya tentang Serin?" tanya Alfan. Dinka menatap Alfan dengan serius. "Apakah kaka tidak merasa curiga pada Serin?" tanya Dinka lirih.


"Kaka memang jarang berkomunikasi dengannya apalagi bertemu" jawab Alfan. "Apa kau melihat dia pergi dengan pria lain?" tanya Alfan. Dinka mengangguk dengan cepat kemudian menggeleng.


"Yang jelas mana kenapa kau mengangguk lalu menggeleng?" tanya Alfan. Dinka pikir biarlah Alfan tau dengan sendirinya. Itu jauh lebih baik untuknya. Dinka juga tidak mau ikut campur dengan urusan pribadi Alfan.


Alfan memiringkan kepalanya memandang Dinka. "Kenapa malah diam?" tanya Alfan. Dinka memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "Makan saja kak makan yang banyak biar kuat menghadapi kenyataan" sahut Dinka.


Tangan Dinka mengambil beberapa buah lagi dan membawanya. "Kau tidak sarapan?" tanya Alfan. Dinka yang sudah beranjak dari meja makan berbalik menghadap Alfan.


"Sarapan juga percuma kak karena sarapan tidak bisa mengubah harapan jadi kenyataan" jawab Dinka. Alfan mengernyit dan membuka mulutnya sedikit mendengar ucapan Dinka. "Sejak kapan kata-katanya jadi seperti itu" ucap Alfan pada diri sendiri.


Dinka masuk kedalam mobil hari ini dia diantar oleh pak Iwan. Sembari memakan buah didalam mobil Dinka ingin sekali memastikan sesuatu pada sopir pribadinya Melvin itu. "Pak Iwan boleh aku bertanya sesuatu?".

__ADS_1


Pak Iwan melihat dari kaca spion "boleh non" jawabnya. "Apa pak Iwan tau tentang Serin?" tanya Dinka.


"Nona Serin bukannya tunangan tuan Alfan" jawab pak Iwan. Yang Dinka pikir sopir Melvin ini tau tentang hubungan Melvin dengan Serin. Nyatanya pak Iwan tidak tau apa-apa.


Pak Iwan melihat Dinka terdiam dari kaca spion. "Memang ada apa non?" tanya pak Iwan. Dinka masih asik dengan pikirannya. Tidak terasa mobil sampai di gerbang kampus. Pak Iwan membukakan pintu mobil untuk Dinka.


"Non sudah sampai" ucap pak Iwan. Dinka baru tersadar dari lamunannya. Dinka jadi terlihat linglung. "Oh sudah sampai ya pak" sahut Dinka sembari turun dari mobil.


Bobby dan Reta biasa menunggu di depan kampus. "Nah tuh kaka ipar" ucap Bobby sambil menunjuk Dinka.


"Kenapa loe jadi niru panggilan gue" gerutu Reta. Mereka berdua menghampiri Dinka. Bobby melihat mata Dinka sembab. 'Pasti karena semalam menangis' gumam Bobby dalam hati.


"Apa perasaan mu sudah baikan?" tanya Bobby sembari menatap Dinka. Reta menoleh kewajah Bobby dan berkata "baikan?".


Bobby menggendikkan bahunya tanda tidak tau. Dosen pun datang dan jam kuliah dimulai.


Dinka tidur sepanjang jam kuliah karena matanya masih lelah. Dosen tidak menyadari Dinka tertidur karena dihalangi buku oleh Reta.


Sampai jam kuliah selesai Dinka belum juga bangun. Bobby membawakan beberapa cemilan dan minuman. "Masih belum bangun juga?" tanya Bobby sembari memberikan botol minuman pada Reta.


"Belum" jawab Reta sambil menyilangkan tangannya. Kemudian kakinya juga disilangkan. Sorot matanya tajam menatap Bobby.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi, loe pasti tau sesuatu kan?" tanya Reta dengan tegas. Bobby menarik tangan Reta dan mengajaknya keluar kelas. Bobby pun menceritakan semua yang dia tau pada Reta.


"Jadi hanya itu, tapi apa penyebab Dinka sampai menangis begitu" ucap Reta. Dia menjadi penasaran apa yang sudah menimpa kaka iparnya.


Dinka berjalan keluar kelas mencari Reta dan Bobby. "Kalian disini aku pikir kalian tidak menungguku" ujar Dinka lesu. Wajahnya terlihat pucat. "Loe sakit?" tanya Reta panik. Bobby juga ikutan pani dan memeriksa kening Dinka.


Reta mengibaskan tangan Bobby dengan cepat. "Mau cari kesempatan loe ya" ucap Reta ketus. Bobby hanya cengengesan. Dinka berjalan ke arah kantin tanpa meladeni Bobby dan Reta.


Sesampainya dikantin Sinta dan anteknya sengaja menabrak Dinka dari arah belakang. "Ups sorry" ucap Berta. Sinta sengaja menyiramkan minuman yang dipegangnya pada Dinka. Dinka masih terdiam atas perbuatan Sinta.


"Heh kalian bener-bener kurang ajar ya" Reta langsung berjalan mendekati Dinka. Sinta dan anteknya segera menyingkir. Dinka menghampiri Sinta dan merebut minuman dari tangan Berta.


Byuuurrr


Seketika wajah Sinta jadi basah karena siraman air dari Dinka. "Kamu pikir diam ku ini karena aku terima, kau salah" Dinka berkata dengan tegas sambil melotot.


Reta dan Bobby tercengang melihat aksi Dinka yang tiba-tiba itu. Mata Reta berkedip dengan cepat disertai mulut yang terbuka lebar. Baru pernah Reta melihat Dinka seberani itu.


Dinka mencari tempat duduk kosong dan duduk dikursi. Reta berjalan mendekat dan mengacungkan kedua jempolnya pada Dinka. "Bravo kaka ipar gue salut sama aksi loe tadi" ucap Reta antusias. Bobby juga bertepuk tangan pada Dinka. "Ngapain loe malah disini bukannya pesen makanan" gerutu Reta.


Bobby manggut-manggut dan berjalan kearah depan untuk memesan makanan. Dinka meletakkan kepalanya pada meja dan memejamkan mata. Tangannya dilipat digunakan sebagai sandaran kepala.

__ADS_1


Bayang-bayang kejadian semalam melintas jelas di pikirannya. Bayangan ketika Melvin bergandengan tangan dengan Serin. Bayangan ketika wajah Serin tersenyum menatap Melvin. Dan bayangan wajah Melvin yang terlihat hangat ketika memandang Serin. Bayangan ketika Melvin dan Serin berciuman juga menyelip di pikiran Dinka.


Seketika Dinka meneteskan airmatanya lagi. Reta tidak melihat Dinka menangis karena asik memainkan ponselnya.


__ADS_2