Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
169. Ulah sang adik


__ADS_3

Matahari telah turun dari peraduannya. Waktu telah menunjukan sore hari. Melvin dengan semangat berkemas untuk pulang dan bergegas keluar dari ruang kerjanya. "Silma setelah kak Alfan kembali ke kantor suruh kak Alfan untuk menemui klien sore ini bersama kamu. Oiya proposal yang kamu kerjakan hari ini harus sudah selesai besok ya" perintah Melvin.


"Siap pak, tapi untuk proposalnya..." Silma menengok ke arah meja kerjanya. "Masih menumpuk segitu pak" lanjut Silma cengengesan sambil menunjuk ke arah kertas yang menumpuk. "Ya sudah aku kasih kamu waktu 3 hari dari sekarang, sekalian laporan keuangan juga harus sudah siap" sahut Melvin dengan lugas. "Apa pak? laporan keuangannya juga? Tapi pak, saya kan bekerja sendirian biasanyakan berdua pak" Silma memasang wajah memelas.


"Makanya kamu cepat cari teman pendamping biar tidak lamban kerjanya" ucap Melvin. "Siap pak besok-besok saya akan membuka lowongan pekerjaan untuk bagian sekretaris presdir" Silma berkata dengan semangat. "Tidak usah mencari yang baru minta saja dari bagian lain untuk promosikan ke sini" saran Melvin.


Terlihat dari jauh di depan Alfan berjalan mendekat. "Kemana vin?" tanya Alfan yang melihat Melvin bersiap akan pulang. "Menemui istri kak" jawab Melvin dengan semangat. "Bukannya kamu ada pertemuan dengan klien sore ini?"


"Kakak aja yang menemui, aku jamin pasti kakak akan bersemangat kalau sudah bertemu dengan klien kita" sahut Melvin sambil mengedipkan satu matanya. "Maksud kamu?" tanya Alfan penasaran. Melvin hanya tersenyum tidak menjawabnya. "Bye bye kak" Melvin berjalan sambil melambaikan tangan.


"Dasar bocah tengik, kenapa aku juga yang harus bertemu klien setiap saat. Astaga" Alfan memegang kepalanya karena pusing. Setiap kali ada klien sekarang Alfan yang harus mengurusinya. Harusnya itu menjadi pekerjaan Melvin yang menjadi pimpinan perusahaan. Kini sang adik hanya mengurusi klien yang berasal dari luar negeri.


Alfan sedari tadi mengacak-acak rambutnya. "Pasti kali ini kliennya gak beres lagi kaya tadi siang" gerutu Alfan berbicara sendiri. Silma menikmati pemandangan indah di depannya. Jarang-jarang Alfan yang terlihat sangat rapih dan formal terlihat semrawut. "Wah pak Alfan kalau rambutnya acak-acakan gitu malah tambah ketampanannya" gumam Silma lirih.

__ADS_1


"Kamu kenapa lihatin saya terus" Alfan berkata dengan suara yang cukup keras. Sampai Silma tersentak kaget. "Ah tidak pak maaf" Silma dengan cepat kembali mengerjakan sesuatu. Alfan berjalan menghampiri ke meja kerja sekretaris sang adik. "Kamu sudah menyiapkan prosposal untuk pertemuan nanti kan?" tanya Alfan. "Iya pak sudah" jawab Silma dengan cepat. "Kalau sudah buatkan saya kopi dulu" perintah Alfan.


Silma bergegas membuatkan kopi untuk bosnya. Dia mengetuk pintu dan masuk kedalam ruang asistensi presdir. "Ini pak kopinya" Silma meletakkan kopi di meja. Tapi Alfan segera mengambil kopi di tangan Silma. Matanya fokus memandang pada berkas yang sedang di kerjakan. Tanpa sengaja kopi itu tumpah dan mengenai badan Alfan sendiri. "Astaga kamu ini bagaimana sih" gerutu Alfan. "Maaf pak maaf" Silma segera mengelap kemeja yang dikenakan Alfan. Padahal jelas-jelas itu salah Alfan sendiri yang menumpahkan kopinya karena saking fokusnya pada pekerjaan.


Silma mengambil tisu dan mengusap-usap kemeja Alfan yang tersiram kopi tadi. "Kamu kenapa pegang-pegang" gerutu Alfan. Silma menengadah dan menatap ke atas. "Tidak pak bukan begitu saya hanya..." ucapan Silma terpotong oleh Alfan. "Sudah biar saya sendiri saja" Alfan merebut tisu di tangan Silma. Dan membuka kancing kemejanya. Terpampanglah sebuah roti sobek didepan Silma.


Silma tercengang melihat bentuk tubuh atletis milik Alfan. Dan dengan diam menikmatinya. Otaknya sudah berkeliaran entah kemana. "Kamu kenapa masih disini" Alfan melihat sang sekretaris dengan tajam. "Maaf pak saya akan keluar" Silma bergegas keluar dari ruang kerja bosnya itu.


Alfan telah bersiap untuk pergi makan malam dengan klien di dampingi Silma. "Kamu bawa dasinya Melvin gak?" tanya Alfan. Silma terkejut mendengar Alfan berbicara santai padanya. "Dasinya Melvin ada yang sama kamu gak?" tanya Alfan lagi. "Eh itu ada pak" Silma mengambil tasnya dan memberikan sebuah dasi pada Alfan. Bila dalam keadaan genting Silma selalu siap sedia cadangan dasi untuk bosnya. Terkadang Silma pun harus membawa kaos kaki dan keperluan Melvin yang lainnya.


"Clarisa" panggil Alfan. Dia kaget karena ada teman semasa kuliahnya berada di sana. 'Jadi ini yang dibilang Melvin tadi. Sialan tuh bocah' batin Alfan. "Hai Alfan" sapa Clarisa balik. Alfan dan Silma duduk di kursi. "Kamu keluarkan proposalnya" perintah Alfan. Silma mengeluarkan proposal pembangunan gedung. Alfan dan Melvin memenangkan tunder proyek itu minggu lalu.


'Ada hubungan apa Clarisa dengan pak bambang ini' Alfan bertanya-tanya dalam hati. "Apa sebaiknya kita makan malam dulu saja baru membahas pekerjaan" saran pak Bambang. "Baiklah" Alfan tersenyum. Semakin lama Clarisa bertemu dengan Alfan semakin baik bagi Clarisa.

__ADS_1


"Oiya ngomong-ngomong darimana nak Alfan ini kenal dengan anak saya?" tanya pak Bambang. "Dia ini temen kuliah saya sewaktu di luar negeri pak" jawab Alfan.


"Iya, jadi Melvin dan Alfan kakak beradik yang kuliah bareng aku saat di luar negeri pah" Clarisa ikut menyahuti obrolan. "Dan ini adiknya papih aku fan, lebih tepatnya papah angkat ku waktu kecil. Karena papah Bambang gak punya anak jadi dia mengakui ku sebagai anak" jelas Clarisa. Alfan hanya tersenyum disertai manggut-manggut. Dia tidak tau akan di ketemukan dengan Clarisa. Kalau tau, Alfan pasti akan menolak dengan tegas untuk menggantikan Melvin bertemu klien itu. Sepertinya sang adik turut andil dalam peran mendekatkan Alfan dengan Clarisa.


"Dan ini?" tanya Bambang menunjuk pada Silma. Alfan jadi punya ide menolak Clarisa secara halus yang sedang mengejarnya. "Ini pacar saya sekaligus sekretaris Melvin pak" Alfan memegang bahu Silma. Sang sekretaris dijadikan tameng oleh Alfan.


Silma terkejut mendengar ucapan dari bosnya. Dia hanya bisa ikut berakting dan mengiyakan dengan senyuman. Wajah Clarisa berubah muram mendengar Alfan bisa dengan cepat memiliki pacar kembali. Sampai makan malam selesai Clarisa tidak berucap sepatah katapun.


Silma menjadi bingung dengan ucapan bosnya itu. "Sejak tadi kenapa melihat ku seperti itu" Alfan memandang kedepan sambil fokus menyetir. Kini mereka sudah berada didalam mobil dan perjalanan pulang.


"Tidak ada pak" jawab Silma. "Kamu jangan kepedean tadi aku hanya berakting dan menggunakan kamu sebagai tameng agar perempuan tadi tidak mengejar ku lagi" ungkap Alfan.


"Iya pak" sahut Silma dengan nada kecewa. Padahal dirinya ingin sekali bisa berpacaran dengan Alfan atau Melvin. Namun bila Melvin sudah tidak mungkin. "Aku masih mencintai teman kerja mu yang dulu" celetuk Alfan. Mendengar curhatan Alfan membuat Silma menjadi sedikit senang kembali. Itu menandakan mereka dekat. Karena dia tidak pernah mendengar Alfan mengatakan unek-uneknya. Jadi menurut Silma mereka menjadi lebih dekat walaupun masih sangat jauh untuk menggapai Alfan. "Oh iya pak" sahut Silma.

__ADS_1


Mobil telah sampai di sebuah kontrakan kecil. Silma mengucapkan terimakasih lalu turun dari mobil. Alfan menjadi teringat kembali dengan Enzi saat mengantarkan Enzi pulang dulu.


__ADS_2