Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Mulainya suatu kesalahan


__ADS_3

Dinka langsung berdiri setelah Fahmi duduk disebelahnya. "Hei mau kemana?" Fahmi meraih tangan Dinka tapi kalah cepat dengannya. Dinka tidak menggubris seniornya. Dia langsung mengembalikan buku ke rak asal. Fahmi tak pantang menyerah untuk mengikuti Dinka.


"Mana pengikut setia mu?" tanya Fahmi. Dinka mempercepat langkahnya. Fahmi mensejajarkan dirinya di sebelah Dinka. "Tumben sendirian?" tanya Fahmi lagi. "Maaf aku buru-buru kak" Dinka tidak menatap seniornya sama sekali.


Fahmi mencegat jalan Dinka. "Aku hanya ingin ngobrol dengan mu kenapa harus takut" ucap Fahmi. Dinka hanya menatapnya. Fahmi mengangkat alisnya meminta persetujuan seraya berkata "bolehkan". Dinka menghela nafasnya. "Ada perlu apa?" tanya Dinka.


"Sebentar lagi kampus kita akan mengadakan semacam event gitu, karena kita satu fakultas kamu mau kan jadi pramusaji di coffeshop kita" ungkap Fahmi.


Dinka berdiri mematung. "Hanya seminggu doang kok, kamu bisa datang setelah jam kuliah selesai" pinta Fahmi. Dinka terdiam dan berpikir. "Aku minta izin dulu sama orang rumah" sahut Dinka. Dinka berjalan melewati Fahmi. "Kamu harus bisa ya" teriak Fahmi.


Para senior yang lain sibuk mendiskusikan tentang event yang akan diselenggarakan. Event tersebut memang diadakan setahun sekali oleh pihak universitas sebelum melaksanakan praktek kerja.


Mereka dituntut harus bisa bertanggungjawab mengelolanya. Dana disediakan dari pihak kampus. Mereka juga akan mendapat bayaran yang lumayan atas kerjanya. Bayaran di keluarkan dari keuntungan coffeshop yang mereka adakan.


Sampai dikantin Dinka mencari keberadaan kedua temannya. Dia menengok kesegala arah di dalam kantin. "Reta dimana lagi" gerutu Dinka.


Tiba-tiba saja dari belakang Sinta dan pengikutnya mendekati Dinka. "Eh ada wanita simpanan om-om nih" ucap Berta. Rani dan Sinta merangkul pundak Dinka. Dinka menatap lurus kedepan.


"Udah dapet apa dari om? Dapet tas mewah atau pakaian mewah" Berta menarik lengan baju Dinka.


"Kelihatannya semenjak loe jadi simpanan pria tua baju loe kelihatan mahal" sahut Rani sambil memegang baju Dinka juga.

__ADS_1


"Ini sih gue tau baju ini bukannya buatan seorang desainer ya" timpal Sinta sambil menyilangkan tangannya. "Wah seroyal itukah pria tua ngasih loe" ejek Berta. Dinka masih membungkam mulutnya.


"Heh jawab kalo ada orang nanya!" bentak Rani sambil menepuk pipi Dinka namun sedikit keras.


"Maaf aku gak ada urusan sama kalian" Dinka mencoba melarikan diri. Namun tangan Sinta masih merangkul pundaknya. "Eh mau kemana, sombong amat loe gak mau ngomong sama kita" gerutu Sinta.


"Heh jangan belagu ya mentang-mentang loe kaya sekarang, baru jadi simpanan om-om aja udah bangga banget" sahut Berta. Kata-kata mereka sungguh pedas bila didengarkan. Sangat melukai bila dimasukan kehati.


'Sabar ka sabar' batin Dinka. "Ajarin gue dong biar bisa dapet orang kaya tapi yang masih muda dong, jangan tua kaya loe" pinta Rani bibirnya berucap tepat di wajah Dinka. Sampai suatu cairan keluar dari mulutnya.


"Eh kalo ngomong jangan pake muncrat dong, tuh ludah jorok tau" suruh Sinta. Rani menutup mulutnya sendiri. "Bagusnya kita apakan gaes?" tanya Berta.


Dia kembali mencari kedua temannya. Akhirnya setelah muter-muter kampus Dinka menemukan Reta dan Bobby di taman depan kampus. Mereka duduk di rerumputan sambil asik mengobrol dan memakan eskrim.


"Isshhhh jorok banget itu punya gue kenapa loe makan juga bego" gerutu Reta. Bobby hanya tersenyum cengengesan. Dinka mendengus kesal melihat mereka sedang asik ditaman. Dia menghampiri keduanya.


"Kenapa gak bilang kalau kalian sudah pergi dari kantin" Dinka duduk di sebelah Reta. "Eh kakak ipar" sahut Reta.


"Dia beneran kaka ipar loe?" tanya Bobby. Reta mengangguk dengan cepat. Bobby masih tidak percaya bahwa Dinka sudah menikah.


+++

__ADS_1


Melvin dan rombongan tiba di tempat yang dituju. Mereka tidak menggunakan jalur udara karena Alfan masih sedikit trauma. Kakaknya pernah mengalami turbulensi saat dipesawat. Itu yang membuat Alfan ada trauma karena penerbangan.


"Jadi keinget Dinka nih sewaktu perjalanan ke desanya dia muntah dibaju mu" ucap Alfan tersenyum. "Gak usah inget dia gak penting" keluh Melvin. Dia memasang wajah dinginnya seperti biasa.


Untuk beberapa hari Melvin dan Alfan akan menginap di hotel milik keluarganya. Melvin memang tidak memberitahu pada istrinya tentang perjalanan bisnis tersebut. Untuk apa juga meminta izin pada Dinka pikirnya.


Alfan masuk kedalam kamar. Disebelah kamarnya adalah kamar Melvin. Alfan tidak tau kedatangan Serin ke hotel yang sama dengan mereka. Serin memang sengaja mengikuti Melvin ke hotel.


Kamar hotelnya sengaja dipisah dari area hotel yang ada disekitarnya. Namun masih satu kawasan. Kamar hotel itu memang didesain mewah dan unik menurut selera pribadi si pemilik. Melvin dengan kamar nuansa hitam putih dan abu-abu. Sedangkan Alfan dengan warna yang cerah.


Para pengawal di kamar hotel yang lain. Tapi tidak jauh dari kamar majikannya.


Setelah beristirahat sejenak Melvin memutuskan untuk berenang. Dia berenang dikolam pribadi samping kamarnya. Alfan memutuskan untuk tidur.


Serin berjalan mendekati pintu kamar hotel Melvin. Bunyi suara bel terdengar. Melvin memakai jubah handuknya dan berjalan ke dalam kamar. Dia membukakan pintu kamar hotel.


"Serin" ucap Melvin sedikit terkejut. Serin tersenyum dan menerobos masuk kedalam kamar. "Kenapa kamu tau aku ada disini?" tanya Melvin.


"Sssttt" Serin mendekat dan mengalungkan kedua tangannya di leher Melvin. Wajah mereka begitu dekat. Serin mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Melvin. Namun Melvin membuang wajahnya kesamping.


"Kenapa? Bukannya ini yang kamu mau" goda Serin. "Kaka ada di kamar sebelah kamu bisa menemuinya jika mau" ucapan dari Melvin membuat Serin marah. Namun bukan Serin namanya bila langsung menyerah.

__ADS_1


__ADS_2