Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
62. Ahlinya bikin jantungan #2


__ADS_3

Dinka melihat-lihat rumah Bobby. Mewah seperti rumah suaminya. Bedanya rumah dan taman di rumah Melvin itu lebih luas.


"Loe kalo kesini cuma mau ngajak ribut mending pulang deh" gerutu Bobby. "Gue juga sebenarnya ogah kesini, tapi noh si nyonya Melvin maksa ngajakin kesini" keluh Reta.


Dinka menghela nafasnya kasar sambil menatap Reta. Bobby langsung merasa senang karena Dinka sampai memaksakan Reta untuk datang menjenguknya. Itu berarti Dinka sudah mulai perhatian padanya. Bobby senyam-senyum kepedean sendiri.


Reta melihat Bobby tersenyum. "Eh loe gila ya senyam-senyum sendiri" Reta menyilangkan kedua tangannya kedada. Lagi-lagi Reta membuat darahnya naik. Tiada hari tanpa mendengar celaan dari Reta.


Dinka menyikut lengan Reta. "Gak usah didenger ya ucapan Reta" ujar Dinka. "Gak papa kok udah biasa" sahut Bobby tersenyum.


Pelayan datang membawakan jus orange dan beberapa cemilan. Karena merasa haus Reta langsung meraihnya dan meminum sampai habis.


"Loe laper apa emang suka jus jeruk?" tanya Bobby terheran. "Bi buatin lagi deh jusnya" suruh Bobby.


Reta juga meminum punya Dinka. "Kamu sakit apa? Apa karena kelelahan?" tanya Dinka.


"Karena kelelahan kok, cuma demam sedikit" jawab Bobby dengan nada yang halus. "Udah periksa kedokter?" tanya Dinka lagi. Merasa sangat diperhatikan oleh Dinka, Bobby menjadi salah tingkah menjawab pertanyaannya.


"Em..udah tadi pagi" jawab Bobby tersenyum. Reta berdiri sambil melihat foto besar yang terpajang. "Nih keluarga loe?" tanya Reta.


"Iya" jawab Bobby singkat dan cepat. Reta mendekat ke arah bingkai foto dan melihat secara seksama. "Dinka ini adik Bobby yang mirip sama loe kan?" Reta menunjuk foto.

__ADS_1


Dinka menatap foto yang dimaksud adik iparnya. "Iya itu foto adik gue yang gue bilang mirip sama Dinka" jawab Bobby.


Reta mengambil bingkai foto yang terpajang di meja kecil disudut ruang tamu. Lalu memberikannya pada Dinka. "Mana adik loe suruh kesini dong gue pengen lihat" bujuk Reta.


"Dia masih sekolah belum pulang" jawab Bobby. Mereka berlanjut mengobrol seputar kampus dan kuliahnya.


Dikantor Alfan uring-uringan karena banyak kendala yang menyusahkannya. Alfan menunda beberapa meeting karena memang waktunya tidak mencukupi untuk mengurusinya.


"Begini ya pekerjaan yang harus dipegang oleh Melvin selama ini" keluhnya. Alfan memijat keningnya sendiri. Banyak dokumen dan pekerjaan yang menumpuk tapi tidak ada yang membantunya.


Saking sibuknya makan siang pun tak sempat. Alfan mencoba menghubungi Dinka untuk membawakan makan siang. Sekalian melihat wajah Dinka akan membuatnya fokus dan semangat bekerja lagi. Itu ide yang cukup bagus pikirnya.


Dinka datang bersama Reta ke kantor. "Tumben kak Alfan minta dibawain makanan ke loe, emang tunangannya kemana?" tanya Reta heran. "Aku juga gak tau, kak Alfan ceritanya waktu itu bahwa Serin susah dihubungi" jelas Dinka.


"Hus..kenapa malah kamu mengumpat Serin gak baik tau" Dinka menasehati. "Gimana gue gak sebel sama dia, orang sebaik kak Alfan di sia-siain" sahut Reta. Mereka berdua berjalan kearah pintu lift.


Sampai diruang kerja Alfan Dinka mengetok pintu. Namun Reta nyelonong masuk tanpa kata permisi. Alfan masih fokus pada dokumen ditangannya. Tangan kanannya memegang pena sambil digaruk-garukan ke keningnya.


Reta mendudukan bokongnya ke sofa. Dinka menghampiri dan menyapa sang kaka ipar "Kak Alfan". Alfan mendongak melihat kedatangan Dinka dan Reta.


"Oh kalian sudah datang, duduklah" jawab Alfan tersenyum. Dinka membuka kotak makanan yang dibawanya. "Kak Alfan makan dulu nih aku bawain bekalnya" ujar Dinka. Alfan tersenyum dan mendudukan dirinya ke sofa. "Terima kasih" ucap Alfan.

__ADS_1


Reta menatap Alfan dengan serius. Dari Alfan mulai makan sampai selesai makan. Tangannya disilangkan ke dada. Sebenarnya Reta memang sangat ingin bertanya tentang hubungannya dengan Serin.


Alfan tau maksud dari sikap sang adik. Selesai makan Alfan mengusap mulutnya dengan tisu. Reta masih menatapnya terus. "Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Alfan.


Dinka mengernyit dia kira Alfan bicara padanya. "Hubungan kaka bagaimana dengan Serin?" tanya Reta. "Kenapa malah membahas dia?" tanya Alfan.


"Jawab dulu malah tanya balik sih" gerutu Reta. Alfan menghela nafasnya. "Buruk" jawaban yang singkat padat dan pelit. "Buruknya?" tanya Reta.


"Kau ini penasaran sekali sih" celetuk Alfan sedikit meninggikan suaranya. Reta tidak meneruskan pertanyaannya. Percuma saja bertanya tentang hubungan Alfan dengan Serin. Sudah pasti kakanya itu tidak akan memberitahu.


Waktu tak terasa sudah sore. Mereka sengaja menunggu kepulangan Alfan.


Alfan mengajak mereka mampir ke suatu tempat. "Bagaimana kalau kita jangan pulang dulu?" tanya Alfan. "Mau kemana sih kak" jawab Reta jemarinya sambil memainkan ponsel.


"Kalau time zone bagaimana?" tanya Alfan memastikan. "Boleh tuh, gimana ta?" jawab Dinka sambil menghadap ke Reta. "Ayo" jawab Reta.


Mobil sampai di parkiran mall. Mereka bertiga turun dan masuk kedalam mall langsung menuju time zone. Reta memainkan semua mainan yang ada di area time zone. Dinka yang belum tau cara memainkan permainan disana diajari oleh Alfan.


"Nah begini caranya gampang kok" ucap Alfan. Dinka tersenyum. Tubuh mereka cukup dekat dan mata pun saling bertatapan. Jantung Alfan kembali berdetak tidak karuan.


Alfan mundur beberapa langkah agar jauh dari Dinka. "Kak Alfan kenapa?" tanya Dinka. "Tidak papa" Alfan menggeleng dengan cepat. Tangannya memegang dada sambil menepuknya perlahan. 'Tenang Alfan tenang, jangan sampai Dinka menyadarinya. Bisa-bisa kamu yang malu' batin Alfan.

__ADS_1


Setelah puas main di time zone. Alfan mengajak mereka untuk makan malam. Dan kemudian pulang kerumah. Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan bagi Alfan.


__ADS_2