
Alfan berjalan ke lantai bawah. Badannya sudah rapih dengan setelan jas. Terlihat beberapa pelayan yang sedang menata meja makan. "Bi Melvin sampai jam berapa semalam?" tanya Alfan.
"Sekitar jam sembilan malam tuan" jawab bi Nah. Alfan manggut-manggut mengerti. Bagus lah Melvin pulang jadi dirinya tidak harus lagi merasa pusing karena kerjaan. Otaknya hampir meledak harus menyelesaikan pekerjaan kantor seorang diri. Tapi bagi Melvin semua pekerjaan kantor itu biasa.
Sudah tidak ada waktunya untuk mengajak Dinka pergi berdua lagi. Karena Melvin pasti tidak akan memperbolehkannya pergi bersama Dinka. Alfan menghela nafasnya panjang. Dia mulai sarapan tanpa menunggu Dinka dan Melvin.
Didalam kamar Melvin tidak ada hentinya menuntut hak pada sang istri. Rasanya belum terpuaskan. "Vin cukup" ucap Dinka diselah nafasnya yang terengah-engah.
Dinka kewalahan melayani sang suami yang tidak merasa lelah. Bagi Dinka Melvin ini terlalu kuat untuknya. Dinka sama sekali belum bisa mengimbangi kekuatan Melvin bila berperang diranjang.
Melvin berbisik pada Dinka "sabar masih belum keluar". Dinka menahan rasa perih di area bawah tubuhnya. Air matanya sudah membasahi pipinya sedari tadi.
Sampai akhirnya Melvin sudah menyelesaikan tugasnya dia berguling kesamping. Tangan Melvin mengusap airmata Dinka. "Apakah aku terlalu menyakiti mu sehingga kamu menangis?" tanya Melvin dengan nada lembut.
Dinka menggeleng dengan cepat dan berkata "tidak sama sekali". Melvin menatap dalam bolamata Dinka. Jauh didalam lubuk hatinya sudah mulai terbuka untuk sang istri namun Melvin masih belum menyadarinya.
"Aku lapar bawakan makanan ke sini" ucap Melvin. Dinka mengangguk dan tersenyum. Dia mulai beranjak dari kamar dan mengenakan bajunya.
Rumah terlihat lumayan sepi karena para pelayan sudah selesai membersihkan rumah. Dinka mencari pelayan kembarnya. Alini dan Arini berlari menuju rumah utama karena dipanggil Dinka.
"Apakah masih ada makanan?" tanya Dinka. "Nona mau makan sebentar ya biar saya siapkan" jawab Alini. "Bukan tapi buat Melvin dia mau makan didalam kamarnya" jelas Dinka.
__ADS_1
"Baiklah non saya siapkan dulu makanannya" ucap Alini. Dinka duduk dikursi dapur sambil memakan madu dan buah. Satu ranjang buah dihabiskannya. Makanan pun sudah siap dan Dinka membawanya ke dalam kamar.
Melvin sudah memakai baju santai. Dinka meletakkan nampan berisi makanan diatas meja. "Makannya sudah siap" ucap Dinka.
Melvin duduk disofa dan menepuk sofa disampingnya. "Duduklah temani aku makan" ujar Melvin. Dinka duduk disamping sang suami.
Bunyi ponsel Dinka terdengar. Dia akan berdiri untuk mengambil ponsel namun dicegat oleh Melvin. "Tidak perlu diangkat" ucap Melvin sambil mengunyah. "Tapi mungkin saja itu telepon penting" sahut Dinka.
"Itu telpon dari Reta biarkan saja" jawab Melvin. Dinka pun membiarkan ponselnya berbunyi.
Reta sudah menyerah untuk menghubungi kaka iparnya. Kini giliran Bobby. Sama saja dengan Reta telponnya tidak diangkat.
"Kemana sih kaka ipar kenapa tidak menjawab" gerutu Reta. "Tugas yang waktu itu sama dia ya?" tanya Bobby. Reta mendelik kearah samping. "Sama gue lah tapi kan yang harus mempresentasikan tuh Dinka" keluh Reta.
"Jangan bilang cuma Dinka doang yang ngerjain" sahut Bobby. Reta membalikkan badannya dan berjalan menuju kelas. "Eh malah kabur lagi" teriak Bobby.
Masih ada cukup waktu untuk mereka mempelajari kembali tugas sebelum dosen datang. Nasib baik bagi mereka karena dosennya berhalangan hadir.
Bobby dan Reta bernafas lega. "Kantin yuks gue laper" ajak Reta. Langsung saja tangannya menarik lengan Bobby.
"Suka banget main tarik tangan orang aja" keluh Bobby. Mereka tidak sengaja menabrak Fahmi didepan kantin. "Kalo jalan pake mata dong" bentak Reta. Fahmi kembali berjalan tanpa merespon Reta.
__ADS_1
Pandangannya kembali menuju ke arah Reta. Dia tidak melihat Dinka bersama mereka berdua.
+++
Malam harinya Serin mengajak Melvin bertemu di sebuah restoran mewah. Serin merias wajahnya begitu cantik. Tapi terlihat menor bagi orang yang memandang.
Serin terduduk manis didalam ruang pribadi didalam restoran. Tidak lama kemudian Melvin datang. "Kamu sudah menunggu lama?" tanya Melvin. "Belum" jawab Serin tersenyum.
Mereka memesan makanan dan melahap makanannya. "Vin aku mau bilang sesuatu padamu" ucap Serin kembali membuka pembicaraan.
"Katakanlah" sahut Melvin. "Aku mau membatalkan pertunangan ku dengan Alfan" Serin berkata sambil menunduk.
"Kenapa?" tanya Melvin suaranya terdengar santai. Serin melihat wajah Melvin yang biasa saja. Padahal dirinya berharap Melvin akan senang dengan keputusannya.
"Aku hanya mencintai mu vin aku gak mau menggantungkan Alfan" jelas Serin kembali menunduk agar terlihat sedih. Dihatinya padahal merasa biasa saja. Karena cintanya sudah berpindah pada Melvin setelah tau Melvin lah yang akan menjadi pewaris kerajaan bisnis keluarga Tama. Bukan cinta pada orangnya namun kekayaannya. Itu lebih tepatnya menggambarkan rasa yang ada pada Serin.
Melvin tidak berkata apa-apa lagi. Serin menatap lurus kedepannya. "Pendapat mu bagaimana?" tanya Serin.
"Terserah semua keputusan ada ditangan mu" jawab Melvin dengan santai sambil mengunyah makanan. Namun bibirnya tersenyum tipis dan terlihat misterius.
Serin sama sekali tidak melihat raut wajah Melvin yang senang dengan keputusannya. Bila dia melepaskan salah satu dari Melvin atau Alfan bisa-bisa dia akan rugi. Tapi Serin sebenarnya sudah punya pria cadangan. Kalau saja tidak mendapatkan Melvin dia masih bisa mengandalkan cadangannya itu.
__ADS_1
"Aku akan mempertimbangkan lagi, aku tidak mau membuat om Arya dan tante Sarah kecewa padaku karena memutuskan pertunangan ini secara sepihak" Serin menjelaskan sambil mengeluarkan air mata. Itu cara ampuh baginya untuk mendapat perhatian dari Melvin.
"Habiskan lah makanannya" ucap Melvin. Melvin pun mengantarkan Serin ke apartemennya. Serin memaksa Melvin masuk namun Melvin menolaknya secara halus. Melvin melajukan mobilnya membelah jalanan kota.