Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
Mulainya suatu kesalahan #2


__ADS_3

Serin masih terus bergelayut manja pada Melvin. Mereka terduduk di atas ranjang kamar hotel. "Mau aku puaskan" bisik Serin. Matanya menatap Melvin dengan manja.


Karena merasa tertantang oleh Serin. Melvin membaringkan tubuh Serin secara perlahan. Wajahnya yang dingin masih terpasang. Perlahan bibirnya di dekatkan pada bibir Serin dan tatapan mata Melvin pun terjatuh pada bibir Serin. Jemari Melvin mengusap bibir Serin. Tubuh mereka saling berhimpit.


"Apakah tinggal diluar negeri membuat mu jadi murahan" ujar Melvin dengan senyum tipisnya. Jemarinya masih mengusap bibir tebal nan seksi milik Serin.


"Kau sedang menguji kesabaran ku?" tanya Serin. Melvin beranjak dari ranjang dan membuka kembali pintu kaca menuju kolam renang.


Dia membuka jubah handuknya dan menyeburkan diri ke kolam. Serin mengikuti Melvin ke kolam renang. "Kamu berubah semenjak menikah vin, kamu dah gak sayang aku lagi" Serin berkata sambil menangis.


Itu yang menjadi titik kelemahan Melvin dan Alfan ketika melihat Serin menangis. Mereka tidak akan tega padanya. Melvin selesai dengan renangnya dan membungkus tubuh indahnya dengan jubah handuk tadi.


Dia mendesah dan duduk di sebelah Serin. Tangannya yang kekar menepuk punggung Serin. "Tenang lah jangan menangis" bujuk Melvin. Serin menutup wajahnya dengan tangan. Dia memeluk Melvin sambil meneruskan menangisnya.


"Aku masih sayang kamu vin, sebenarnya aku gak rela kamu nikah dengan wanita lain" jelas Serin. Melvin diam mendengar perkataan Serin.


Malam harinya mereka makan malam bersama. Kedatangan Serin amat sangat membuat Alfan terkejut sekaligus senang. Padahal motif dibalik itu adalah Melvin. Serin sengaja datang untuk Melvin bukan untuk Alfan.


Serin sudah tau persis dimana menempatkan posisi seharusnya. Melvin lah yang akan menjadi pewaris tunggal satu-satunya dari kekayaan keluarga Tama. Jadi dirinya harus bisa bersanding dengan Melvin apapun caranya.


"Kak Alfan makanlah" Serin menambahkan lauk ke piring Alfan. "Terimakasih" ucap Alfan sembari tersenyum. Serin berpura-pura lembut dan perhatian pada Alfan. Tapi bila dibelakang dia suka merayu Melvin.

__ADS_1


Melvin tidak menghiraukan kemesraan didepannya. Dia mengunyah makanannya dengan tenang.


Ponselnya berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk. Melvin membukanya. Pesan singkat dari sang istri yang dinamai dikontaknya wanita desa. ~Kak Melvin apakah sudah makan? Bagaimana perjalanannya? aku harap kak Melvin makan teratur ya~


'Kata-katanya sungguh manis, hm sejak kapan dia pandai merangkai kata-kata seperti itu' batin Melvin. Namun wajahnya masih terlihat dingin.


"Siapa?" tanya Alfan. "Seseorang yang tidak penting" jawab Melvin sambil kembali memasukan makanan kemulutnya. Mereka bersulang untuk mengakhiri makan malam yang terbilang romantis dan mewah itu.


Melvin mengobrol bersama sang kakak sambil menikmati semilir angin malam. "Apakah Dinka tidak menghubungi mu?" tanya Alfan.


"Sudah tadi dia mengirimkan sms" jawab Melvin. Alfan meminum wine nya. "Aku mau kembali kekamar ingin cepat tidur" ujar Alfan. Dia beranjak pergi dan masuk kekamarnya. Melvin pun masuk kedalam kamarnya juga.


Dinka bersiap-siap untuk pergi ke kampusnya. Pagi ini dirinya sarapan seorang diri. Karena menurutnya sepi Dinka mengajak pelayan kembarnya untuk ikut sarapan menemaninya. Selesai sarapan Dinka mencari kepala pelayan.


Dinka meminta izin pada bi Nah untuk mengikuti event yang diselenggarakan dikampusnya. Namun bi Nah juga merasa bingung. Jadi dia mengumpulkan semua pelayan untuk meng-vote keputusannya. Pilihan yang banyak menyuruh Dinka untuk mengikuti acara di kampusnya.


Dinka juga merasa senang bisa ikut andil dalam event tersebut. Reta dan Bobby juga menawarkan diri untuk ikut membantu. "Loe ngapain disini?" tanya salah satu senior pada Bobby.


"Gue bakal bantuin di coffeshop ini" jawabnya. "Kita gak ngebutuhin cowok ajak sekalian tuh temen tomboy loe" suruh kakak senior. Reta mendekat dan berkata "gue udah minta izin sama kak Fahmi dia gak keberatan kok kita disini. Lagian kita kerja juga suka rela".


Mendengar ucapan yang ketus dari Reta senior laki-laki itu menyerah. Tidak melanjutkan perdebatan.

__ADS_1


"Ini silahkan mampir ke coffeshop kita" ucap Dinka mengumbar senyum manisnya. Dia disuruh untuk membagikan selembaran brosur coffeshop.


Para lelaki di jalan sengaja lewat didepan Dinka. Mereka bahkan ada yang sengaja meminta selembar brosur yang dibagikan. Dinka mulai merasa kelelahan karena lumayan lama berdiri di tepi jalan depan kampus.


Pak Iwan datang untuk menjemput istri majikannya. Dia melihat Dinka berdiri sambil membagikan sesuatu. Pak Iwan menepikan mobilnya tidak jauh dari Dinka.


"Ya ampun nona ngapain disini?" tanya pak Iwan. "Ini pak lagi membagikan brosur untuk promosi coffeshop" jelas Dinka. "Oh kegiatan yang dimaksud nona tadi pagi?" tanya pak Iwan.


Dinka mengangguk. "Tapi sepertinya nona lelah sini biar saya bantu" pak Iwan menawarkan diri. "Tidak usah pak Iwan tunggu saja sebentar lagi akan ada yang datang menggantikan ku" Dinka menjelaskan. "Baiklah non saya ikut menunggu disebelah sini ya" sahut pak Iwan.


Akhirnya yang menggantikan Dinka pun datang. Dinka meluruskan kedua kakinya. "Ayo pak kita pulang" ajak Dinka. Pak Iwan membukakan pintu mobil.


Dinka menatap pemandangan diluar kaca mobil. Dia merasa curiga. "Loh pak ini bukan jalan yang mau ke rumah kan?" tanya Dinka.


"Iya memang nona" pak Iwan memandang Dinka lewat kaca spion. "Pak Iwan mau bawa aku kemana?" tanya Dinka heran.


"Ini permintaan tuan muda nona, saya harus membawa nona ke tempat tuan muda berada" jelas pak Iwan. "Tapi....aku... mabuk perjalanan pak, kenapa tidak bilang sebelumnya. Jadikan aku bisa minum obat anti mabuk biar gak muntah" Dinka sedikit kesal.


'Hufftt si Melvin ini kenapa selalu buat aku repot sih' batinnya.


"Maaf nona saya tidak tau kalau anda mabuk perjalanan, lebih baik anda tidur saja" saran dari pak Iwan dituruti Dinka. Selama perjalanan dia tertidur.

__ADS_1


__ADS_2