Gadis Desa bukan Cinderella

Gadis Desa bukan Cinderella
74. Hal yang mengejutkan


__ADS_3

Melvin pergi keluar kantor diikuti oleh kedua sekretarisnya. Alfan berpapasan dengan sang adik di lobby. "Kamu mau pergi?" tanya Alfan. "Iya kak" jawab Melvin.


Melvin masuk kedalam mobil yang berbeda dengan sekretarisnya. Mereka akan pergi untuk meninjau perkembangan di pusat perbelanjaan. Karena ada sedikit masalah yang terjadi.


Bunyi ponsel Melvin terdengar, sebuah panggilan dari Serin. Melvin menyuruh sekretarisnya untuk mengangkat. "Angkatlah telponnya bilang aku sedang sibuk" ucap Melvin sembari tangannya memberikan ponsel.


Dia langsung masuk kedalam mall yang besar. Ada beberapa staff yang menunggu kedatangannya di lobby. "Bagaimana?" tanya Melvin pada sang manager mall.


"Begitu lah pak sudah saya selidiki" ucap si manager dengan gugup. Melvin menoleh matanya tajam menatap kearah bawahannya. "Lalu?" tanya Melvin dengan tegas.


"Saya akan berikan laporan yang sudah di revisi pak" jawab manager. Melvin melangkah kearah eskalator diekori oleh staff yang lain. Suasana didalam mall terbilang ramai.


Melvin mengecek ke bagian perabot rumah. Melihat satu persatu dan memegangnya. Mata Melvin melihat ada goresan kecil pada kulkas yang terpajang. "Apa ini? Kenapa barang seperti ini masih dipajang?" suaranya meninggi.


Sebenarnya Melvin sedang tidak ingin marah. Namun karena pekerjaan bawahannya yang amburadul membuat darahnya naik. "Kalian sudah tidak mau bekerja lagi disini" ucap Melvin sambil berkacak pinggang.


Semua karyawannya menunduk. Langkah kaki Melvin berjalan ke arah lain. Kini kakinya memasuki sebuah toko tas yang bermerk.


Melvin melihat sebuah tas yang cocok untuk sang istri. Tangannya meraih tas selempang yang terpajang. Melvin ingin mendengar pendapat dari sekretarisnya. "Bagaimana menurutmu?" tanya Melvin.


"Bagus pak" jawab Silma sambil tersenyum. Mungkinkah dia akan dibelikan tas yang mahal oleh bosnya. Silma memandang Melvin sembari tersenyum sendiri. Enzi pun menghampiri rekannya. "Kenapa malah senyum sendiri kaya orang gila" bisik Enzi. "Pak bos sepertinya mau membelikanku tas bermerk itu deh" jawab Silma.


Enzi menonyor kepala Silma sembari berkata "heh sadar kamu, buat apa juga kamu dibelikan tas mahal oleh pak Melvin. Sudah jelas itu untuk istrinya".

__ADS_1


Melvin memberikan tas kertas pada Silma. "Bawa ini" perintah Melvin. Silma mengerucutkan bibirnya. "Kenapa dengan bibirmu?" tanya Melvin. "Tidak papa bos" jawab Silma dengan cepat.


Melvin masuk kedalam ruang kerja manager mall. Tangannya membolak-balikan dokumen yang sudah direvisi.


"Bawa ini" Melvin memberikan dokumen laporan keuangan pada Enzi. Selesai dengan urusannya mereka pun kembali kekantor.


Dikampus Reta dan Dinka merasa bosan karena Bobby tidak kuliah. Bagi mereka kurang lengkap bila tidak ada Bobby. "Kamu sudah tanya kenapa Bobby tidak berangkat?" tanya Dinka.


"Dia bilang ada urusan" jawab Reta. Dinka mengajak Reta duduk ditaman kampus. "Mau eskrim" pinta Dinka memasang wajah memelas.


"Iya iya gue beliin" Reta berdiri dan berjalan kearah kantin. Dinka mengambil nafas dengan dalam dan membuangnya perlahan. Tidak lama Reta membawakan empat buah eskrim. Dinka terheran melihatnya.


"Nih harus loe habisin" Reta memberikan tiga bungkus pada Dinka. "Yang bener aja ta" gerutu Dinka.


"Sepi ya gak ada Bobby" ucap Dinka. "Hidup gue jadi tenang kalo gak ada dia" sahut Reta. "Iya kalian selalu berantem sih, ntar lama kelamaan jatuh cinta lagi" ledek Dinka.


"Gak mungkin dan gak akan mungkin" Reta menentang keras perkataan kaka iparnya. "Lagian dia udah punya calon tunangan kok. Dia pernah cerita bahwa dia dijodohkan oleh orangtuanya" ungkap Reta.


"Tunangan?" tanya Dinka. Reta manggut-manggut. Mata Dinka menatap serius kearah Reta. Lalu menyenggol lengan Reta. "Kelihatannya ada yang kecewa nih" goda Dinka.


"Siapa juga yang kecewa" ucap Reta dengan tegas. Dinka tertawa geli atas jawaban Reta. Benar jawaban yang dipikirkan Dinka bahwa Reta pasti mengelak.


"Kenapa malah ketawa" gerutu Reta sambil menggoyangkan tubuh Dinka. "Baiklah aku tidak akan menggodamu lagi" sahut Dinka namun masih menahan tawanya.

__ADS_1


Sehabis kuliah Reta mengajak Dinka ke cafe yang sedang booming. Karena Reta tidak ikut datang waktu itu. Dinka dan Reta menaiki taksi ke cafe. Sesampainya di parkiran terlihat mobil yang tidak asing bagi Reta.


"Ka lihat deh bukannya itu mobil Bobby?" tunjuk Reta kearah parkiran mobil. "Mungkin mobil yang terlihat sama kali" sahut Dinka.


Reta langsung berjalan menuju cafe dengan cepat. Dinka mengikutinya dari belakang. Mata Reta menyapu kesemua sudut cafe. Benar dugaannya terlihat Bobby bersama wanita didalam cafe itu. Dinka garuk-garuk kepala melihat Reta.


Reta bergegas menghampiri Bobby dan siwanita. Seketika Reta tercengang melihat wanita yang bersama Bobby adalah Serin.


"Ngapain loe sama Bobby?" tanya Reta ketus. "Reta" ucap Bobby sambil berdiri. Reta sudah seperti memergoki Bobby berselingkuh. Dirinya terbakar api cemburu melihat Bobby bersama wanita lain. Tanpa sadar Reta memang telah jatuh hati pada Bobby.


Yang membuat Reta sangat marah adalah Bobby bersama dengan Serin. Wanita yang sudah menjadi tunangan dari kakak angkatnya.


Serin pun tidak kalah terkejutnya seperti Reta. Bobby merasa jadi bingung sendiri dengan situasinya. 'Kenapa harus ketahuan secepat ini sih' gumam Bobby dalam hati. Bobby mengacak rambutnya sendiri.


"Loe harus jelasin kenapa loe sama dia disini" teriak Reta. Orang-orang yang berada didalam cafe menengok ke arah Reta dan Bobby. Akan terjadi perang disini. Bobby tidak tau harus menjawab apa.


"Heh buaya betina loe itu sudah punya tunangan tapi masih aja ganjen sama pria lain. Loe mau cari berondong, apa loe emang kekurangan cowok" Reta berucap dengan nada yang tinggi.


"Apa!..barusan loe ngatain gue buaya betina. Heh jaga ya mulut loe" Serin mendorong badan Reta. Reta pun mendorong badan Serin. Bobby hanya diam mematung menyaksikan perdebatan diantara dua wanita.


Dari kejauhan Dinka melihat Serin bersama Bobby. Dinka bergegas menghampiri mereka. Tangannya meraih gelas berisi jus semangka milik Bobby.


Byuuuurrr

__ADS_1


Disiramkannya minuman itu pada wajah Serin. Bobby kaget dengan aksi Dinka yang tiba-tiba. Begitu juga dengan Reta.


__ADS_2